Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Desember 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Samson (Sam'un Al Ghazi)

Kisah Samson ( Sam'un al-Ghozi)Siapa yang tidak kenal dengan sosok manusia yang menjadi pahlawan, gagah berani, kekuatan tangannya dapat melunakkan besi baja, dan merobohkan bangunan. Mungkin sahabat pernah menonton film Samson yang dibuat oleh orang-orang barat yang sebagian besar ceritanya dimanipulasi atau direkayasa yang hanya menunjukkan sosok manusia yang hebat dan gagah perkasa, tetapi sudah tahukah bahwa Samson adalah seorang nabi Allah.
Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa jumlah nabi menurut hadits yaitu 124 ribu orang, dan rasul berjumlah 312 orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rasul.
Dari Abi Dzar ra. Berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul diantara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).” (Hadits riwayat At-Turmuzy)
Nah lalu bagaimana dengan Samson atau Simson, apakah benar dia adalah salah satu dari 124 ribu jumlah nabi. Samson merupakan salah satu dari ribuan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa. Nabi Sam’un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Cerita Nabi Sam’un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh
sebelum Rasulullah lahir.
Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah saw. berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.
Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Singkat cerita Nabi Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya
dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku
dengan potongan rambutku.”
Akhirnya Nabi Sam’un Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan
kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja. Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi AS berdoa kepada
Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah SWT.
Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam’un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak. Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.
Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasulullah SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?” Rasullah menjawab, “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk kedalam surga, dia adalah Sam’un.”
Demikian kisah Nabi Sam’un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson. Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.

Senin, 03 Desember 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Sunan Bonamg dan Santrinya

Sebagai seorang wali, Sunan Bonang selalu mengembara untuk mengajarkan agama. Seringkali ia berjalan sendirian, menempuh hutan belantara, mendaki gunung yang tinggi, menuruni jurang yang curam, dan mendatangi dusun-dusun yang terpencil di kaki bukit berhutan lebat.
download (2)
Pada suatu hari ia melakukan perjalanan bersama seorang santrinya. Mereka membawa nasi bungkus yang dibeli di warung pada sebuah desa di perbatasan antar Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setelah selesai shalat Dzuhur di tepi sebuah telaga yang bening, kedua orang guru dan murid itu beristirahat pada suatu tempat yang lapang dalam naungan daun-daun sebatang pohon beringin yang rimbun.
Mereka membuka nasi bungkus masing-masing, lalu memakannya karena perut sudah keroncongan. Tentu saja diawali dengan membaca basmalah dan doa syukur kepada Tuhan.
Rupanya, karena nikmatnya, santri Sunan Bonang sampai tidak sadar di pinggir mulutnya ada beberapa butir nasi yang menempel. Ketika selesai makan butir-butir nasi tersebut masih disitu. Sunan Bonang sebagai guru lantas menegur, “Hai santri, jorok kamu.”
“Mengapa guru?” tanya santri heran.
“Orang islam tidak boleh jorok, kebersihan adalah sebagian dari iman.”
“Apa saya jorok?”
“Itu, di tepi bibirmu banyak butir nasi tertinggal,” jawab Sunan Bonang sambil menudung telunjuknya.
Maka sebagai santri yang patuh, anak muda itu pun dengan malu-malu segera mengusap bibirnya dan segera membuang butir-butir nasi itu ke tanah. Tiba-tiba Sunan Bonang menghardik:
“Hai santri. Bodoh kamu! Mengapa kau buang begitu saja sisa-sisa nasi itu?”
Santri tersebut makin tidak paham. Ia pun berdalih, “Bukankah guru mengatakan jorok kepada saya karena ada butir-butir nasi di mulut saya? Maka saya buang nasi itu. Apakah harus saya makan?”
“Tidak, bukan kau makan. Memang ada hadits Nabi yang mengatakan beliau menganjurkan agar makanan yang tersisa di ujung jari pun harus dihabiskan, kalau perlu menjilatnya. Tapi maksudnya bukan harfiah begitu. Beliau bermaksud agar kita tidak menyia-nyiakan makanan, meskipun Cuma sedikit.
“Berarti tindakan saya membuang sisa nasi di mulut saya tadi tidak salah?”
“Tidak.”
“Jadi mengapa guru mengatakan saya bodoh dan marah kepada saya?”
“Karena kamu memang bodoh.”
“Maksud guru?”
“Kau boleh membuang sisa-sisa nasi itu, tetapi harus dengan niat. Yaitu, karena nasi itu sudah tidak mungkin kau manfaatkan lagi, maka buanglah dengan niat supaya bisa dimakan oleh makhuk-makhluk Allah yang lain, seperti semut dan sebangsanya. Sebab, kalau tidak dengan niat begitu, berarti kamu memubazirkan rezeki  Allah, karunia Allah. Dan orang-orang yang suka berbuat mubazir adalah saudara syaitan. Termasuk jika kamu membuang makanan basi ke dalam tempat sampah, niatkanlah agar dimakan anjing atau babi. Mereka juga makhluk Allah yang perlu disayangi. Meskipun mereka hukumnya najis mughalladzah, tidak berarti boleh disakiti atau dianiaya.mereka juga harus diperhatikan nasibnya.”

Minggu, 02 Desember 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Syeikh Maulana Ishak

Benih-benih perpecahan mulai membayang di kerajaan Majapahitsemenjak Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389M. ia tidak mempunyai anak laki-laki dari permaisurinya.maka diangkatlah menantunya, suami Kusumawardhani yang bernama Wikramawardana, sebagai penggantinya. Inilah yang menyebabkan perang Paregreg dengan Blambangan
sunan_giri
Dalam pada itu, dalam perkawinannya dengan putrid Hayam Wuruk tersebut, Wikramawardhana mendapatkan seorang anak laki-lakiyang dicalonkan sebagai putra mahkota.tetapi anak ini meninggal padatahun 1933M. dari selir ia memperoleh putri bernama Suhitayang dikawinkannya dengan seorang pangeran, Bhre Pramesywara.
Akibat rasa keksatriaannya yang sangat terluka menyaksikan kebobrokan-kebobrokan di Majapahit, menantu Wikramawardhana itu mengungsi dari negerinya sesudah mengalami perselisihan dengan bangsawan-bangsawan lainnya. Ia mengembara bersama sejumlah kesatria yang bersetuju hati dengannya, meninggalkan istrinya yang menolak diajak serta.
Akhirnya ia tiba di Tumasuk, Singapura sekarang. Dari pulau ini ia berlayar ke Malaka, menetap disana dan diangkat sebagai kepala penguasa. Dibentuknya sebuah armada kecil untuk menjaga keamanan negeri itu. Karena ternyata tempat itu sangat strategis, terlindung dari angin-angin besar, jadilah Malaka sebuah banar yang ramai. Pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persi, Cina, Majapahit dan lain-lainnya mengunjungi pelabuhan tersebut.
Bhre Pramesywara diangkat menjadi raja dan bergelar Megat Iskandar Syah. Waktu itu ia sudah memeluk agama islam. Hubungannya dengan kerajaan-kerajaan islam di Sumatera sangat erat. Apalagi setelah ia kawin denga putri Sultan Pasai, Zainal Abidin Bahian Syah, kakek Maulana Malik Ibrahim, yang sebelumnya telah dikirimkan ke Jawa Timur untuk memimpin angkatan dakwahnya disana.
Tidak lama Megat Iskandar Syah memegang pemerintahan. Hatinya lebih tersentuh untuk menyebarkan agama islam. Maka diserahkannya kekuasaan kepada penggantinya, dan ia berkelana sebagai Mubaligh sambil menuntut ilmu dengan julukan Maulana Ishak.
Beberapa lamanya ia menetap di Pasai, berguru kepada para ulama dari Parsi dan Gujarat yang banyak membuka pengajian di negeri mertuanya itu. Di situ ia mendengar berita dari Jawa bahwa  saudara iparnya,Maulana Malik Ibrahim.telah meninggal pada tahun 1419M, dan pesantren yang sedang dirintisnya itu sekarang dipimping oleh Raden Rahmat yang bergelar Sunan Ampel, anaknya.
Maulana Ishak berangkat ke Jawa Timur, menumpang perahu dari Gresik yang hendak kembali ke kampungnya. Ia langsung menuju ke pesantren Ampel Denta.
Waktu itu Sunan AMpel sedang bersembahyang Asar. Di situ ia berkenalan denga Wirojoyo, Abu Hurairah, Kyai Bangkuning, serta dengan beberapa santri Sunan Ampel lainnya.
Alangkah gembiranya putra Maulana Malik Ibrahim yang kini bernama Sunan Ampel itu bertemu dengan paman iparnya. Maulana IShak sempat berguru di Ampel beberapa lamanya. Hal ini menunjukkan kebesaran hati dan kerendahan jiwanya. Meskipun dari segi umur dan silsilah ia lebih tua, namun tak segan-segan Maulana Ishak berguru kepada Sunan Ampel.
Sesudah itu, dengan peretimbangan bahwa raja Blambangan masih sedarah dengannya, dari Majapahit, maka ia disarankan untuk bedakwah disana.
Berangkatlah Maulana Ishak di negeri Hindu itu. Mula-mula ia menetap dan menepi di gunung Selangu.
Persis pada waktu itu penyakit menular sedang bercabul di negeri Blambangan. Sudah banyak korban yang jatuh, dan di istana, putrid Raja Minak Sembuju sedang sekarat menghadapi maut. Raja bersumpah, barangsiapa dapat menyembuhkan Dewi Sekardadu, kalau perempuan akan diangkat menjadi saudara, sedang kalau laki-laki akan dijadikan suaminya.
Segera Ki Patih Bajusengoro diperintahkan untuk mencari pendeta atau tabib sakti. Dalam perjalanannya, ia mendapati orang setengah tua berpakaian putih-putih sedang sujud dalam sembahyangnya di puncak Gunung Selangu.
Ki Patih mewakili raja, meminta petolongannya. Maka Maulana Ishak pun bertolak ke Blambangan. Dengan penuh kesungguhan akhirnya putri Sekardau bisa disembuhkannya. Karena itu dikawinkanyalah dia dengan sang putri secara islam.
Setelah jadi menantu raja Hindu itu, Maulana Ishak bukannya terlena dalam kesenangan. Ia tetap giat menyebrkan dakwah. Hal ini menyebabkan raja dan para bangsawan memusuhi dan bermaksud membunuhnya. Atas desakan istrinya yang waktu itu sedang hamil tua, Maulana Ishak meloloskan diri dari kepungan, dan berangkat ke Pasai.
Ia telah berpesan kepada istrinya, disamping kepada Sunan Ampel yang sempat disinggahinya,agar anak yang dikandung itu diberi nama Raden Paku kalau laki-laki, dan terserah nama apa saja kalau perempuan, begantung padakesenangan ibunya.
Di Pasai, MAulana  Ishak membuka sebuah pesantren besar. Akhirnya ia tersohor dengan sebuah sebutan Syaih Awalul Islam sampai wafatnya.

Sabtu, 01 Desember 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Silsilah Para Wali

Para wali adalah penyebar-penyebar agama islam yang dengan tekun dan ikhlas melaksanakan tugasnya. Jumlah mereka banyak sekali di Indonesia, termasuk beberapa orang yang hidup di masa ini dan dipercaya oleh sebagian umat islam sebagai wali juga. Misalnya Mbah Dalhar di Magelang, Mbah Nur di Moga Pemalang, dan beberapa orang sayid dan kiai sepuh lainnya.
walisongo1
Namun, diantara wali-wali itu, yang terbesar dan terkenal sebagai penghulu para wali di Indonesia adalah mereka yang dinamakan Wali Sanga, yaitu yang hidup pada periode akhir Majapahit, pada masa Demak dan pada masa Pajang. Kesembilan wali itu adalah Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Fatahillah atau Sunan Gunung Jati.
Cerita tentang mereka sebetulnya sangat menarik, teteapi ada satu hal yang membuat peminat cerita wali itu agak tersendat-sendat, yakni tentang asal-usul serta silsilah mereka.
Maka,berdasarkan beberapa bacaan serta catatan yang bisa dikumpulkan, kemudian dengan membanding-banding serta menarik kesimpulan yang paling mendekati kemungkinandapatlah dinyatakan bahwa para wali itu, berbeda pendapat sementara ahli sejarah, seluruhnya adalah asli bangsa Indonesia, kecuali Sunan Kudus.
Untuk jelasnya,marilah kita telusuri dari jaman Majapahit terakhir.
Waktu itu kerajaan tersebut sangat kacau, demikian yang disampaikan oleh beberapa pelaut Cina. Para bangsawan salingbermusuhan berebut kedudukan. Keamanan tidak terjamin sehingga masalah-masalah kecil saja bisa menyebabkan tikam-menikam. Ditengah-tengah suasana yang bergejolak itu, menantu Prabu WIkramawardhana, Bhre Pramesywara, yang beristrikan Maharani Suhita, terlibat pertengkaran dengan sejumlah bangsawan lainnya. Atas desakan hati nuraninya ia merasa lebih baik memilih keluar dari Majapahit bersama beberapa pengikutnya, meninggalkan Suhita yang menolak diajak serta.
Mereka mengembara sampai tiba di Tumasik (Singapura), lantas menetap di Malaka dan membangun kerajaan disana. Bhre Pramesywara sudah menganut agama islam. Sebagai Sultan MAlaka ia bergelar Maget Iskandar Syah. Kemudian ia kawin dengan putrid Sultan PAsai, Zainal Abidin Bahian Syah. Putri ini adalah kakak Maulana Malik Ibrahim, putra sultan yang kawin dengan Dewi Candrawulan.sedangkan Dwei Candrawulan adalah adik Dyah Dwarawati, putrid dari Campa yang menjadi istri Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi), ayah Raden Patah.
Pada tahun 1935, sesudah ia mempunyai anak yangkemudian ditinggalkannya di Campa, yaitu Raden Ahmat atau Ali Rahmatullah yang kelak bergelar Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahimdisuruh ayahnya memimpin angkatan dakwah ke Jawa. Salah seorang anggotanya adalah seorang saidagar dari Parsi keturunan Samarkand yang sudah lama menetap di Pasai, yaitu Maulana Malik Ibrahim Asmarakandi, kakek Sunan Kudus.
Maulana Malik Ibrahim wafat dan dimakamkan di Kampung Gapura, Gresik (1419).karena mendengar berita duka ini, Raden Rahmat yang kala itu sudah meningkat remaja berangkat dari Campa menuju ke Jawa. Waktu perahu yang ditumpanginya merapat ke Palembang, ia sempat berkunjung kepada Aria Damar, kakak Raden Patah yang nama aslinya adalah Pangeran Jimbun. Aria Damar adalah adipati Majapahit di Palembang. Sesudah masuk islam hasil bimbingan Raden Rahmat, ia mengubah menjadi Aria Abdillah.
Lalau berangkatlah Raden Rahmat menuju ke Trowulan, Mojokerto, tempatkedudukan kerajaan Majapahit, untuk menemui kakak ibunya, Dyah Dwarawati. Uanya itu dikenal dengan nama Ratu Mas. Perjalanan ini disertai dengan murid barunya, Raden Patah, yang berniat menghadap ayahandanya, Prabu Brawijaya V.
Raden Rahmatmeneruskan perjalanannyake Gresik.ia berziarah dulu ke makam ayahnya. Setelah itu lalu berangkat ke Ampel dan membangun pesantren AmpelDelta yang terkenal itu. Sedangkan Raden Patah diberi hadiah tanah oleh ayahnyadi Demak.
Adapun sultan Malaka, Megat Iskandar Syah, oleh panggilan agamanya menyerahkan kekuasaan kepada penggantinya. Ia aktifmenjadi juru dakwah.namanya dikenal dengan Maulana Ishak.
Perjalanan tablighnya akhirnya sampai ke tanah Jawa. Sesudah berkunjung kepada keponakannya di Ampel, ia disarankan untuk mengislamkan Blambangan. Rajanya waktu itu adalah Minak Sembuju, keturunan minyak bumi ataui Minak Jinggo (putra selir Hayam Wuruk), yangberarti masih ada hubungan darah dengannya.
Di sana ia kawin dengan Dewi Sekardadu, putrid Minak Sembuju. Dari perkawinannya tersebut ia menurunkan anak, Raden Paku, yang kelak tenar dengan julukan Sunan Giri. Olrh suatu sebab yang mendasar, masalah agama, Maulana Ishak berselisih paham dengan mertuanya dan dengan bangsawan-bangsawan lainnya. Sampai direncanakana ia akan dibunuh. Maka, menurut desakan istrinya, ia menyingkir pulang ke Pasai, dan kelak disana ia membangun pesantren besar dan ia tersohor dengan gelar Syeikh Awwalul Islam. Sebelum berlayar, ia singgah dulu kepada Sunan Ampel , memberi tahu bahwa anaknya kelak kalau lahir akan diberi nama Raden Paku.
Dewi Sekardadu pun melahirkan anaknya. Seperti yang dipesan ayahnya, anak itu diberi nama Raden Paku. Ia melarikan diri dari istana karena tidak kuat menderita penderitaan batin akibat peristiwa atas diri suaminya itu. Dalam suatu pertemuan dalam suatu kebetulan dengan Nyai Gede Pinatihatau Nyai Ageng Maloka putri Sunan Ampel, anak itu dititipkannya.
Setelah besar anak itu berguru kepada Sunan Ampel dan akhirnya diangkat menjadi menantunya. Kemudian ia mendirikan padepokan di Giri dan mendapat gelar Sunan Giri.
Sunan Ampel, selain memperoleh anak Nyai Ageng Bela , keponakan Aria Teja, juga mendapat anak Sunan Bonang, yaitu Sunan Drajad,dan seorang gadis yang kelak menjadi istri Sunan Kalijaga.seperti diketahui, Aria Teja adalah perdana menteri Majapahit merangkap adipati Tuban. Ia adalah ayah Sunan Kalijaga.
Adapun putri Sunan Ampel yang kawin dengan Sunan Giri adalah yang dilahirkan Dewi Kharimah anak Ki Wiryo Sarojo, murid pertama yang didapatkan di kembang kuning.
Sedangkan Sunan Kalijaga, selain menjadi menantu Sunan Ampel, juga kawin dengan Dewi Sarah, putra Maulana Ishak dengan sitrinya yang di Pasai. Dari perkawinan ini antara lainmemperoleh anak Raden Umar Said yang nantinya bergelar Sunan Muria.
Wali terakhir dari kesembilan wali itu (wafat pada tahun 1570) adalah Sunan Gunung Jati.ia berasal dari istana Pasai, masih keluarga Maulana Malik Ibrahim dan cucu Maulana Ishak. Sepulang dari Makkah ia berangkat ke Demak pada tahun 1521, pada saat Sultan Trenggono baru saja naik takhta menggantikan Dipati Unus yang berkuasa pada tahun 1518-1521. Ia dikawinkan dengan putri bungsu Raden Patah, adik Sultan Trenggono.
Dari silsilah dan riwayat diatas, sungguh tidak benar mereka yang berpendapat bahwa para wali adalah orang-orang asing , dan yang pribumi adalah Sunan Kalijaga. Sudah tentu semua ini perlu digali oleh para ahli sejarah agar riwayat para wali yang telah diakui sebagai pelopor-pelpor penyebaran islam, di tanah Jawa terutama, tidak dianggap mitos atau sekedar dongeng belaka.

Jumat, 30 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ratu Balqis

ratu balqisSelaku nabi yang dipercaya Tuhan untuk membimbing manusia kepada tauhid, Sulaiman diberi mukjizat yang berbeda dari nabi yang lainnya, yaitu kekuasaan untuk memerintahkan alam, termasuk jin, udara, dan satwa-satwa bumi. Ia pun bisa memahami bahasa mereka.
Kemakmuran negeri dan kesejahteraan rakyatnya dapat dilihat dari istananya yang megah, terbuat dari kaca permata. Kekayaannya melimpah, tentaranya banyak dan perkasa.
Dalam pada itu, di Jazirah Arab bagian selatan, diapit oleh Laut Qalzum dan Samudera Hindia, terdapat sebuah kerajaan besar benmam Saba’ yang diperintahkan oleh seorang ratu cantik, Balqis binti Hidhad bin Tuba’.
Mendengar kabar di bagian utara erdapat kerajaan sangat megah di bawah pemerintahan Raja Sulaiman, Balqis yang gandrung kepada kemewahan mengerahkan jin-jin jahat untuk mencuri dari mana saja permata dan benda-benda berharga lainnya itu. Termasuk sebuah mutiara besar yang berada di istana Sulaiman. Alangkah gembira hatinya ketika jin tersebut berhasil melaksanakan tugasnya dengan sempurna.
Sebagai penganut agama Majusi yang menyembah matahari, segera diselenggarakan pemujaan kepada Sang Surya untuk mengungkapkan terima kasih dan syukur mereka. Upacara itu dilakukan dalam sebuah kuil yang sangat indah, dibangun di puncak bukit yang pemandangannya menakjubkan.
Raja Sulaiman telah berkali-kali menerima pengaduan dari negeri-negeri kecil di sekitarnya tentang merajalelanya jin-jin jahat merampoki kekayaan mereka. Ini pasti perbuatan Ratu Balqis.
Maka pada suatu hari yang telah diperhitungkan raja Sulaiman mengerahkan tentaranya dari berbagai makhluk, manusia, jin, dan binatang-binatang, untuk meluruk kea rah selatan dengan tujuan menaklukan kerajaan yang rakus itu.
Sesudah mengarungi lautan pasir berhari-hari, mereka melewati lembah semut. Salah seekor semut merah berkata kepada gerombolannya, “Wahai, seluruh semut. Masuklah buru-buru ke dalam liang masing-masing agar Sulaiman dan tentaranya tidak menginjak-injak kamu tanpa mereka sadari.” (Alquran, Surah An-Naml : 13).
Sulaiman tersenyum karena ia bisa memahami bahasa semut. Untuk itu ia amat bersyukur kepada Allah. Sampai akhirnya ujian Tuhan datang. Pada sebuah lembah yang jaraknya berhari-hari dari lembah semut itu, mereka terjebak di suatu kawasan yang kering kerontang. Tak setetes air pun mereka dapati. Sulaiman sudah memerintahkan jin untuk menggali sumur. Namun, apa daya. Memang tidak ada air di lahan gersang itu.
Harapannya kini tertumpu kepada burung hudhud. Tetapi, ternyata burung tersebut tidak berada di tempatnya. Entah ke mana perginya, tak satu pun yang tahu.
Tidak seperti yang diduga jelek, ternyata burung hudhud sangat cerdas dan setia. Menyadari Sulaiman dan anak buahnya kehabisan persediaan air, ia terbang mencari wadi yang subur. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan burung hudhud dari selatan. Mereka saling bertegur sapa. Setelah mengetahui maksud burung hudhud utara tangan kanan Raja Sulaiman itu sedang melacak mata air, hudhud selatan dengan sukarela menuntunnya terbang ke tempat yang airnya melimpah. Hudhud utara tercengang menyaksikan kesuburan wadi yang diperlihatkan hudhud selatan itu.
“Engkau akan lebih kagum lagi kalau melihat kerajaan Ratu Balqis yang akan kalian serang itu. Ayo, ikuti aku. Kebetulan Ratu Balqis dan rakyatnya sedang menjalankan penyembahan kepada matahari.”
Tiba si kuil indah itu, Hudhud utara keheranan memperhatikan Ratu Balqis yang ayu sedang memuja matahari, dan bukan memuja Allah. Upacara itu dilaksanakan bersama seluruh punggawa dan rakyatnya.
“Mumpung istana sedang kosong, ayo kita melihat-lihat di dalamnya,” ucap hudhud utara.
Betul sebagaimana dibualkan hudhud utara. Istana Ratu Bilqis amat megah.
“Tengoklah mutiara raksasa itu. Indah sekali, bukan?” ujar Hudhud selatan dengan bangga.
Hudhud utara terperanjat. Ia bertanya, “siapakah yang memberikan mutiara mahal ini?”
“Jin anak buah Ratu Balqis.”
“Kalau begitu mutiara ini pasti milik rajaku yang dicuri oleh jin itu dari tangan jin kami yang langsung mengambilnya dari dasar samudera.”
Sesudah itu, hudhud utara bergegas-gegas terbang balik ke selatan untuk mengahdap Raja Sulaiman. Tadinya Sulaiman akan murka kepadanya. Namun, setelah dikisahkan semua pengalaman hudhudnya, Sulaiman tersenyum penuh kasih sayang.
“Jika demikian, bawalah sepucuk surat kepada Ratu Balqis. Sehabis itu, menghindarlah kamu jauh-jauh. Perhatikan apa yang akan mereka perbuat,” ujar Sulaiman.
Surat yang berisi ancaman itu diterima Ratu Balqis di balariung tanpa menyadari siapa yang telah mengantarkannya. Ratu bingung dan takut. Ia sudah mendengar kehebatan Sulaiman dan tentaranya.
“Paman Menteri,” titahnya kepada wazir. “Tidak ada raja yang memasuki sebuah negeri lawan tanpa merusaj bahkan menghancurkan. Aku tak ingin rakyatku sengsara akibat kekeraskepalaan kita. Jelas kita tak kan mampu menandingi tentara Sulaiman. Karena itu, aku akan mengirimkan upeti bagi Sulaiman. Bila kedatangannya sekadar mencari kesenangan dan kekayaan, ia pasti akan menerimanya dengan suka cita. Kalau ia menolak, berarti Sulaiman seprang raja yang teguh pendiriannya dan berwibawa. Untuk raja semacam ini aku rela menyerah bersama negeriku kepadanya. Bagaimana pendapatmu, Paman?”
Wazir mengangguk-angguk setuju. Karena memang tindakan itulah yang paling bijaksana.
Sulaiman betul-betul raja yang agung. Upeti yang berpeti-peti itu, diantarkan oleh khalifah yang panjang, ditolak dengan sopan dan dikembalikan. “Maaf, kekayaan ini terlalu kecil dibandingkan dengan keimanan kepada Allah Yang Mahatunggal.”
Burung hudhud utara yang masih bersembunyi di dalam istana mendengar niat Ratu Balqis hendak menghadap dan menyerahkan diri kepada Sulaiman. Ia cepat terbang kembali dan menceritakan niat ratu cantik itu kepada junjungannya.
“Kalau begitu, wahai para jin sekalian, dirikan sebuah istana untuk menyambut kedatangan Ratu Balqis.”
Dalam tempo semalam istana itu pun telah siap. Lantainya pualam mengkilat sehingga dari pemandangan sepintas lalu bagaikan sebuah danau yang airnya amat bening berkilauan.
“Segera engkau berangkat ke istana Ratu Balqis, dan ambillah singgasananya sebelum ratu itu tiba disini,” perintah Sulaiman kepada jin yang paling pandai.
Tugas itu dalam beberapa saat telah berhasil dikerjakan. Sehingga pada waktu Ratu Balqis memasuki istana untuk bertatap mata dengan Sulaiman, ia ter[eranjat menyaksikan singgasananya sudah terletak di situ.
“Bukankah itu singgasanamu, wahai Ratu yang cantik?”
Balqis mengangguk.
“Engkau tahu apa artinya?”
“Saya datang untuk menyerah kepadamu bersama negeri dan seluruh rakyatku,” jawab Balqis merendah.
“Ternyata engakau seorang wanita yang baik. Maka dari itu, engkau bebas memerintahkan kembali negerimu. Hanya aku berpesan, jalankan hukum sesuai dengan agama yang benar, yaitu agama Allah.”
Ratu Balqis tidak keberatan. Bahkan dengan kesadaran yang matang ia memberikan kesaksian bahwa Allah itu satu, dsn Sulaiman adalah utusan Tuhan.
Demikianlah sejak saat itu, kedua kerajaan tersebut terikat oleh keimanan yang sma dan cinta yang menyatu, di bawah naungan agama Allah menuju kesejahteraan abadi, dunia dan akhirat. Sebab tidak ada perpaduan lebih tulus kecuali dalam kesamaan akidah dan ibadah.

Kamis, 29 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Seperti Ibrahim dan Nuh


Seperti Ibrahim Dan Nuh
Dalam pemerintah di Madinah, Rasulullah mengangkat Abubakar sebagai pembantu utamanya. Barangkali setingkat dengan perdana menteri. Sedangkan Umar bin Khattab menjabat wakil perdana menteri. Dan sejumlah sahabat lain diberi tugas-tugas tertentu sesuai dengan keahlian masing-masing.
Demikianlah yang dijalankan oleh Nabi sehingga pemerintahan berlangsung dengan lancer dan bersih. Semua peraturan baru tidak keluar begitu saja dari Nabi, tetapi dirundingkan dulu denganpara pembantunya. Setelah disepakati, barulah diundangkan.
Sementara itu, umat Islam belum terbebas sepenuhnya dari guncangan-guncangan. Orang-orang musyrik dari Makkah masih sering merongrong dengan berbagai maker jahat dan komplotan-komplotan pengacau.
Beberapa petani di daerah Badar melapor kepada Rasulullah bahwa kebun dan tanaman mereka diserobot oleh orang-orang musyrik. Nabi pun segera memerintahkan pasukan berkuda untuk mengejar mereka. Namun, sebelum pecah pertempuran, gerombolan liar itu sudah lari terbirit-birit. Inilah yang disebut perang Badar Assughra, Perang Badar Kecil.
Dalam bulan Ramadhan tahun berikutnya, barulah meledak perang Badar Al-Kubra. Tentara kedua belah pihak, Islam dan musyrikin, beradu laga di dekat sebuah perigi milik seorang penduduk yang bernama Al-Badar.
Sebelum berangkat, Rasulullah menetapkan dirinya akan berada di lini depan, memimpin pasukan-pasukan perintis.
Muadz bin Jabal keberatan. Ia menyanggah, “Tidak, wahai Rasulullah. Engkau akan menjadi sasaran senjata musuh. Hal ini berbahaya bagi kelangsungan syiar agama Allah. Sebaiknya, kamilah yang membuat pagar semacam cungkup. Engkau berada di tengah-tengahnya untuk memeberikan aba-aba dan komando. Dalam keadaan terlindung engkau bisa memantau situasi pertempuran sehingga dapat mengatur taktik dan siasat.
Melalui perdebatan keras, akirnya Nabi mengalah. Ia terpaksa mengikuti Muadz bin Zabal, mengurungkan niatnya hendak maju ke garis depan. Dalam perang tersebut umat Islam berhsil merebut kemenangan yang gilang-gemilang lantaran mereka denganpenuh disiplin yang tinggi bersedia mematuhi segala perintah Nabi. Padahal, jumlah pasukan musuh tiga kali lebih besar daripada tentara Islam.
Mereka kembali ke Madinah membawa tujuh puluh orang tawanan kaum musyrikin. Hal ini menjadi masalh pelik, sebab berlangsung perdebatan sengit tentang bagaimana cara memperlakukan para tawanan itu. Kalau ditahan, mereka akan menjadi beban umat Islam. Bila dilepaskan, mereka boleh jadi akan bergabung dengan kaumnya dan memperbesar peluang untuk menghancurkan kota Madinah.
Umarlah yang mula-mula mengajukan sarannya . “Mereka telah cukup membikin susah kita. Diasa mereka me;I;it sekujur badan, dan kaki sampai ke ubun-ubun. Bunuh habis saja tawanan-tawanan itu.”
Banyak sahabat yang menyetujui saran Umar ini, sebab mereka telah mengalami penyiksaan kaum musyrikin semasa masih tinggal di Makkah.
Tetapi Abubakar berpendapat lain, “Jangan begitu, wahai Rasulullah. Mereka telah menyerah meskipun penyerahan mereka dilakukan karena terpaksa.”
“Jadi, bagaimana pendapatmu, Abubakar?” tanya Rasulullah.
“Kurungkan mereka, dan bebaskan jika keluarganya membayar tebusan. Ini bakal menguntungkan kita, memperbesar jumlah dana yang kita butuhkan. Siapa tahu mereka insaf dan masuk Islam. Golongan ini wajib kita lindungi keselamatannya,” ujar Abubakar.
Sesudah bermusyawarah beberapa lama, akhirnya dikeluarkan keputusan tentang perlakuan atas ketujuh puluh tawaran itu. Ketetapan itu berisi, setiap tawanan yang mampu menebus dirinya, segera dilepaskan. Semua tawanan yang bisa mengajarkan tulis baca kepada sepuluh anak umak Islam, dibebaskan. Tetapi, akhirnya tidak ada yang ditahan lagi karena para tawan miskin pun dilepaskan juga.
Menanggapi sikap bertentangan antara Abubakar dan Umar, Rasulullah bersabda, “Abubakar itu seperti Ibrahim. Menghadapi kaumnya yang banyak membangkang Ibrahim Cuma berkata, ‘barangsiapa mengikuti ajaranku, dia termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakai aku, kuserahkan nasibnya kepada Allah Ynag Maha Pengasih lagi Penyayang.’”
“Bagaimana pendapatmu tentang Umar?” tanya sahabat pula.
“Umar bin Khattab itu sama dengan NUh. Karena jengkelnya kepada kaumnya yang durjana, Nuh berdoa, ‘Ya Allah. Jangan sisakan seorang pun dari orang-orang kafir itu untuk tingaal di bumi.’ Akibatnya, banjir dunia menenggelamkan seluruh umat Nuh, kecuali yang mau naik perahunya.”

Rabu, 28 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Nabi Zulkifli Mengalahkan Iblis

Kisah Islamiah pada malam ini tentang kisah Nabi Zulkifli as dan Iblis.
Nabi Zulkifli as memiliki rahasia khusus untuk mengalahkan iblis Laknatullah. Ia melawan tipu daya iblis dengan keteguhan dan kesabaran, dan dengan 2 hal tersebut, ternyata iblis berhasil dikalahkan oleh Nabi Zulkifli as.
 
Kisahnya.
Nabi Zulkifli ini merupakan seorang pemuda yang teguh pendirian serta sabar.
Nabi Zulkifli as ini sebenarnya memiliki nama asli Basyar, dan beliau tinggal di sebuah negara yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana.
Pada suatu hari, raja tersebut mengumpulkan semua rakyatnya.
“Siapakah yang sanggup berlaku sabar, jika siang hari berpuasa dan jika malam hari beribadah?” tanya raja tersebut.
“Untuk apa wahai Paduka?” tanya salah seorang rakyatnya.
“Aku sudah terlalu tua memimpin negeri ini. Aku ingin menunjuk penggantiku, akan tetapi orang itu harus sesuai dengan kriteriaku,” jelas sang raja.
Nabi Zulkifli as Menjadi Raja.
Rakyatnya diam seribu bahasa. Mereka hanya bisa saling pandang tanpa mengatakan kesanggupannya.
Dalam keheningan tanpasuara itu, ada salah seorang pemuda ynag mengacungkan tangan dan ia sanggup melakukan apa yang diminta rajanya.
Dialah seorang pemuda yang bernama Basyar.
“Saya sanggup wahai Paduka,” kata Basyar.
“Benarkah apa yang engkau katakan wahai anak muda?” tanya raja.
“Aku sanggup berlaku sabar, jika siang hari berpuasa dan jika malam hari beribadah,” jawab Basyar.
Sejak saat itulah dia dipanggil dengan sebutan Zulkifli yang artinya “Sanggup”.
Dan beliau akhirnya diangkat menjadi raja.
Zulkifli benar-benar bisa melakukan syarat yang diminta rajanya. Bila waktu malam telah tiba, ia beribadah dan di waktu siang hari, Zulkifli selalu berpuasa.
Melihat keteguhan iman dan kesabaran Zulkifli ini, iblis laknatullah seolah tak rela.
Bukan iblis namanya kalau dia merelakan suatu kebaikan.
Iblis Mengganggu.
Ketika iblis mengetahui Zulkifli hanya tidur dalam waktu yang tidak terlalu lama di malam hari, iblis berusaha mengganggu tidur Zulkifli yang haya sebenatar itu.
Iblis berpikir bahwa bila ia berhasil membuat Zulkifli tidak tidur di waktu tersebut (malam hari), maka iblis yakin kalau Zulkifli akan kesulitan beribadah di tengah malam.
Iblis memiliki siasat untuk menghadapi Zulkifli dengan menjelma menjadi seorang kakek.
Kakek itu datang dan berpura-pura mengadukan nasibnya kepada Zulkifli.
“Hamba seorang musafir, barang-barang hamba dirampok di perjalanan,” kata kakek itu.
“Datanglah besok pagi, akan kuputuskan masalahmu dalam sidang,” jawab Zulkifli.
Tipu Daya Iblis.
Namun, pada keesokan paginya, kakek itu tidak datang.
Setelah ditunggu hingga sore di rumah sidang, kakek itu juga tak kunjung nongol. Namun, ketika malam harinya, saat Zulkifli hendak beristirahat,kakek itu datnag lagi menghadap.
“Mengapa engkau baru datang, bukankah engkau berjanji akan datang pagi hari?” tanya Zulkifli.
“Orang yang merampok saya cerdik Tuanku. Jika waktu sidang dibuka, barang saya dikembalikan, dan jika sidang hendak ditutup, barang saya dirampasnya kembali,” jawab kakek itu.
Pada suatu malam, Raja Zulkifli sangat mengantuk.
Ia telah berpesan kepada para penjaga agar menutup semua pintu dan menguncinya. Saat hendak membaringkan diri, terdengar suara pintu kamarnya diketok orang.
“Siapa yang masuk? tanya Zulkifli kepada prajurit penjaganya.
“Tidak ada seorang pun yang masuk Tuanku,” jawab prajurit.
Zulkifli heran, jelas-jelas tadi ia mendengar suara pintu diketuk.
Lalu Zulkifli memeriksa sekeliling rumah, dan ternyata dia menemukan kakek yang bermasalah tersebut. Ia merasa heran, padahal semua pintu jelas telah terkunci rapat.
“Engkau bukan manusia, engkau pasti iblis,” kataZulkifli.
“Ya, aku memang iblis yang ingin menguji kesabaranmu. Ternyata memang benar, engkau orang yang dpat memenuhi kesanggupanmu dulu,” jawab iblis.
Karena siasatnya tidak berhasil, iblis pun akhirnya pergi.
Nabi Zulkifli as memang terkenal memiliki kesabaran yang tinggi dan selalu mempergunakan akal sehatnmya.
Itulah rahasi Nabi Zulkifli as dalam mengalahkan iblis.


Senin, 26 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Pertemuan Nabi Musa a.s dan Nabi Khidir a.s

Pertemuan Nabi Musa a.s dan Nabi Khidhr a.s.Pada suatu ketika Nabi Musa a.s. tengah berceramah dengan fasih dan lancar di hadapan kaumnya Bani Israil, dan dalam ceramahnya itu beliau pandai mengatur tutur bahasa yang digunakan sehingga banyak di antara kaumnya yang terharu sehingga ceramah beliau begitu meresap ke lubuk hati para pendengarnya.  Setelah ceramah selesai, tiba-tiba berdiri salah seorang di antara kaumnya, dia adalah seorang yang telah tua renta dan dengan beraninya dia berkata, “Wahai Musa, adakah orang lain yang lebih pintar dari engkau..?” dengan tangkas dan beraninya Nabi Musa a.s. menjawab, “Saat ini, tidak ada orang lebih pandai dari aku..!”
Dan nampaknya jawaban dari Nabi Musa a.s. dapatlah dimengerti oleh kaumnya, dengan alasan Nabi Musa a.s. dapat membawa kaumnya Bani Israil yang telah tersesat menuju ke jalan yang terang benderang.  Nabi Musa a.s. dengan tongkatnya dapat membelah lautan dan mengalahkan Fir’aun, juga dapat mengalahkan semua tukang sihir dari bangsa Mesir, disamping itu juga Nabi Musa a.s. dapat membongkar akan rahasia gelap mengenai pembunuhan kejam. Belum lagi Nabi Musa a.s. beristirahat duduk untuk menjawab semua pertanyaan dari kaumnya, turunlah wahyu dari Allah SWT untuk Nabi Musa a.s. yang berisi teguran bahwa sesungguhnya Ilmu Pengetahuan itu luas sekali serta pengetahuan itu tidak hanya milik para Rasul, akan tetapi siapa saja dapat memiliki pengetahuan yang luas atas kehendak Allah SWT.
Setelah menerima wahyu dari Allah SWT tersebut, Nabi Musa a.s. tergerak keinginannya untuk menjumpai orang yang lebih pintar dari dirinya, seraya memohon, “Ya Allah.. siapakah orang yang lebih pintar dari diriku dan dimanakah tempat tinggalnya..? Aku ingin sekali menjumpainya dan akan belajar darinya, mudah-mudahan aku dapat menyauk lubuk ilham dan memetik ilmu serta keyakinan darinya”.  Permohonan Nabi Musa a.s. kemudian dijawab oleh Allah SWT, “Wahai Musa engkau bisa menjumpai orang itu di tempat bertemunya dua lautan (yaitu antara lautan Roma dan lautan Persia)”.  Kemudian Nabi Musa berkata lagi kepada Allah SWT, “Ya Allah.. tunjukkanlah untukku jalan menuju ke sana”.  Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa a.s. supaya membawa seekor ikan, dan jika ikan itu telah menghilang maka di situlah beliau dapat bertemu dengan orang itu.
Maka dengan segera Nabi Musa a.s. meminta salah seorang pemuda dari kaumnya untuk menemaninya dalam perjalanan dan menyiapkan seekor ikan sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, menurut para ahli tafsir pemuda yang menemani Musa dalam perjalanan adalah muridnya sendiri yang bernama Yusya bin Nun.
Akhirnya Nabi Musa a.s. bersama Yusya bin Nun melakukan perjalanan serta berjanji, bahwa dirinya tidak akan kembali sebelum bertemu dengan orang dicarinya, meskipun dalam perjalanannya itu membutuhkan waktu yang lama atau pun bertahun-tahun.  Peristiwa ini di kisahkan dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 60.

Minggu, 25 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Dialog Rasulullah S.A.W dengan Gunung

Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu dekat dengan umatnya, terbukti dengan seringnya Beliau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu desa ke desa lainnya agar lebih mengenal umatnya.
Dalam perjalanan yang dilakukan kali ini, Rasulullah SAW mengajak salah satu sahabatnya yang bernama Uqa’il bin Abi Thalib untuk menemani.
Di perjalanan, ada seorang nenek yang tergeletak lemah di jalanan, wajahnya yang tua renta semakin terlihat menyedihkan akibat pucat dan lemas kondisi tubuhnya.
“Apa yang terjadi dengan engkau Wahai Ibu?” tanya Rasulullah SAW.
Nenek yang kondisinya lemah itu pun menjawab,
“Ak…akkkuuuu laaa…paar..”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah yang pada saat itu membawa bekal secukupnya, langsung memberikan bekalnya, hingga habislah bekal Rasulullah SAW kala itu.
Dialog Rasulullah Dengan Gunung
Meskipun tanpa bekal sedikit pun, Rasulullah SAW dan Uqa’il tetap melanjutkan perjalanan. Setelah perjalanan panjang ditempuh dengan melewati gurun yang panas dan kering, kondisi Rasulullah SAW dan Uqa’il menjadi melemah karena banyak sekali tenaga yang terkuras untuk melewati hamparan pasir dan panasnya yang membuat dahaga semakin hebat.
KEHAUSAN.
Sesampainya di daerah pegunungan, Rasulullah SAW merasa sangat haus dikarenakan jauhnya perjalanan melewati gurun. Lalu Beliau menyuruh Uqa’il untuk mencari minuman dan buah untuk megisi perut.
Uqa’il pun menuruti perintah Nabi, ditelusurinya gunung untuk mencari sumber air dan pepohonan untuk diambil buahnya, namun Uqa’il tidak mendapati sumber air dan hanya buah-buahan saja yang ia dapat.
“Ya Rasul, aku tidak mendapati air di gunung ini, padahal aku sudah mengelilinginya, namun belum aku temukan juga,” ujar Uqa’il.
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Rasululullah SAW bersabda,
“Hai Uqa’il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan ‘Jika padamu ada air, berilah aku minum’,” tutur Rasulullah.
Mendengar jawaban Rasulullah yang tidak masuk akal itu, membuat Uqa’il kebingungan dan tidak mengerti.
namun Uqa’il tetap pergi melaksanakan perintah sembari bertanya-tanya dalam hati,
“Apakah Rasul bersungguh-sungguh dengan ucapannya, apa yang harus aku lakukan, menyampaikan salamnya ataukah hanya diam dan balik ke Beliau lagi,” ujar Uqa’il dalam hati.
Walaupun pikirannya penuh dengan keheranan, Uqa’il tetap mendaki gunung. Di tengah pendakian, Uqail mendengar suara asing, dan berkata,
“Uqa’il, pergilah mendaki gunung, patuhilah perintah Beliau,” perintah suara yang asing itu yang tak lain adalah Malaikat Jibril.
Uqa’il akhirnya sampai pada puncak gunung lalu menyampaikan salam Rasulullah SAW kepada gunung perihal air yang dibutuhkan dia dan Rasulullah.
Setelah menyampaikan salam, Uqa’il pun kembali menuju tempat Rasulullah SAW.
RASUL MEMERINTAH GUNUNG.
Sesampainya di dekat Rasulullah SAW, betapa kagetnya Uqa’il ketuka melihat Rasulullah berbicaradengan gunung.
“Wahai tauladanku Muhammad, maafkan aku dikarenakan menghambat perjalanan engkau dengan tidak menyediakan air ketika engkau datang.
Aku takut engkau tidak memaafkanku, jika itu terjadi pasti aku merasakan panasnya api neraka,” ungkap gunung itu.
Mendengar suara yang berasal dari gunung, membuat Uqa’il semakin bingung dan sekaligus takjub kepada Rasulullah, dikarenakan salah satu ciptaan Allah yang tidak bernyawa itu dapat berbicara dengan Beliau.
“Aku akan memaafkan kamu, tapi bolehkah aku minta sedikit air untuk membasahi tenggorokanku,” tutur Rasulullah.
“Dakilah gunung ini hingga sampai puncaknya, setelah sampai, berjalanlah berbelok menuju tempat yang dipenuhi dengan bebatuan besar yang melingkar, di tengahnya terdapat sumber air dan buah-buahan untuk bekal engkau, Wahai Rasulullah,” jelas gunung itu kepada Rasul.
Uqa’il berserta Rasulullah SAW akhirnya mendaki gunung itu kembali dan Beliau berjalan sesuai dengan perintah gunung. Sesampainya di tempat yang dijelaskan gunung tersebut, Uqa’il sangat terkejut karena ketika mengelilingi gunung itu tadi, Uqa’il tidak mendapati tempat seindah itu yang terdapat sumber air sangat jernih dan banyaknya pohon yang berbuah segar dan nikmat.

Kamis, 22 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah teladan Unta Abdullah


Kisah Tauladan Onta Abdullah

Abdullah adalah seorang ayah yang mempunyai 3 orang anak. Mereka hidup bahagia dan mempunyai beberapa onta yang selama ini bisa dijadikan sumber penghidupan sehari-hari. Suatu hari diketahui bahwa ada tetangganya yang lebih membutuhkan uluran tangannya karena keluarga tersebut tidak mempunyai onta seperti keluarga mereka yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupan sehari-hari. Abdullah tersentuh hatinya apabila melihat ketulusan dan kesholehan tetangganya itu. Akhirnya Abdullah memberikan onta terbaiknya tersebut kepada tetengganya itu karena dia teringat pesan dalam Al Qur’an bahwa memberi hendaklah yang paling bagus dan paling disayangi. Onta yang diberikan yang benar-benar paling bagus dan harganya yang paling mahal. Dan mulai saat itu kehidupannya tetanganya dapat terbantu karena onta yang diberikan Abdullah benar-benar sangat melimpah susunya sehingga anak-anaknyapun dapat terpenuhi kebutuhannya.
Pada suatu waktu ketika musim panas tiba dan semua orang berlomba-lomba mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan ternaknya. Mereka mencari air di goa-goa atau di tempat-tempat yang curam dan sulit dijangkau dengan cara biasa, karena sumber air biasanya memang keluar dari tempat-tempat tertentu saja.
Dari kondisi yang seperti itu membuat keluarga Abdullah dan 3 anaknya berangkat mencari sumber air. Mereka berjalan menyusuri padang pasir dan mengamati tempat-tempat yang dimungkinkan di sana ada tersimpan air. Akhirnya mereka menemukan tempat yang diyakini bahwa ada ada sumber air akan tetapi jauh di bawah goa. Maka turunlah Abdullah ke dalam goa yang gelap gulita dan jalannya berliku-liku. Sementara itu sang anak memanggil-manggil ayahnya. Mulanya masih terdengar jawaban ayahnya saat dipanggil tapi lama kelamaan tidak ada jawaban lagi. Anak-anaknya masih tetap menunggu sampai lewat tengah malam dan terus memanggil manggilnya, tetapi tidak terdengar lagi jawaban.
Menjelang pagi hari, ketiga anaknya mulai menduga-duga jangan-jangan ayahnya telah meninggal dunia dan dimangsa binatang goa. Akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah dengan keyakinan bahwa sang ayah telah meninggal dunia.
Tiga hari kemudian ketiga anaknya mulai menghitung-hitung harta warian peninggalan ayahnya. Akhirnya mereka jadi teringat kepada onta yang pernah diberikan ayahnya kepada teangganya itu. Dia merasa bahwa onta terbaik yang telah diberikan ayahnya kepada tetanganya dapat dijadikan andalan untuk sumber susunya.
Akhirnya mereka sepakat akan meminta kembali onta tersebut dan menggantinya dengan anak onta yang harganya paling murah. Benar, mereka mendatangi tetangganya itu dan mengambil onta yang banyak susunya pemberian dari ayahnya dan ditukar dengan anak onta yang harganya murah dan susunya sedikit.
Kepada anak-anaknya itu, tetangga itu bertanya : “Mengapa pemberian ayahmu kamu minta kembali ?”
“Itu adalah hak kami, kami sebenarnya tidak setuju.”Anak-anak itu menjawab :
“Kami sangat menghormati orang tua saya” begitu anak-anaknya menambahkan.
“Lalu sekarang ayah kamu dimana? ” Tanya tetangganya itu.
Anak-anak itu mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal dunia pada saat bersama-sama mengambil air di goa. Mendengar cerita anak-anaknya itu akhirnya tetangga yang pernah diberi onta itu meminta ditunjukan tempat dimana ayahnya hilang. Maka ditunjukannyalah tempat dimana arah tempat dan tanda-tanda ayah mereka hilang. Kemudian tetangga itu berangkat sendirian tanpa ditemani anak-anak itu.
Setelah ditemukan tempatnya sesuai dengan tanda dan arah yang ditunjukan anak-anak itu, tetangga Abdullah itu turun dan masuk melewati lorong-lorong goa yang jauh berliku-liku. Dengan membawa obor api, tetangga itu menemukan Abdullah dalam keadaan buta matanya karena terkena benturan batu. Kemudian Adullah dipapah keluar dari goa dan selamat sampai di atas. Tetangga itu bertanya “Bagaimana Anda bisa bertahan hidup selama 2 minggu dalam goa yang gelap gulita dan tidak ada makanan sama sekali ?”.
Abdullah menjawab “Setiap kali saya lapar, yaitu tiga kali dalam sehari, tangan saya meraba-raba ke sekeliling tempat di mana saya duduk, saya mendapatkan genangan air lalu saya minum dan …ternyata adalah air susu segar seperti baru saja diperah, itu mungkin yang membuat saya bugar dan sehat. Saya tidak tahu dari mana datangnya susu itu karena tempat di mana saya duduk adalah kering dan bebatuan. Tetapi aneh, sejak tiga hari yang lalu saya tidak lagi mendapatkan susu itu, saya hanya mendapatkan air. Karena hanya minum air, maka badan saya menjadi lemas dan tidak bertenaga lagi.”
Tetangga itupun menangkap hikmah penting dari apa yang telah diceritakan oleh Abdullah. Maka diapun akhirnya menceritakan apa yang telah dirasakan dan terjadi dengan kelakuan anak-anak Abdullah. “Bahwa onta yang diberikan Bapak waktu itu benar-benar menghasilkan susu yang luar biasa banyaknya dan bermanfaat bagi banyak keluarga. Karena itulah Alloh SWT mengirim susu untuk Bapak. Tetapi sejak tiga hari yang lalu onta yang diberikan Bapak itu telah diambil kembali oleh anak-anak Bapak dan diganti dengan anak onta, mungkin itulah, Bapak tidak lagi menikmati susu dalam goa.”
Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan menuju desa terdekat untuk menyembuhkan mata Abdullah yang bengkak menutup kelopak matanya dan baru sore harinya pulang ke rumah. Sampai di rumah, Abdullah bertanya kepada anak-anaknya ” Mengapa kamu semua tidak mencari ayah, kamu menganggap ayahmu sudah mati, tapi justru tetangga kita yang mencari dan menolong Ayah .?” Mereka bertigapun menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Abdullah memaafkan kesalahan ketiga anaknya itu, tetapi Abdulllah telah berketetapan hati bahwa hartanya yang setengah akan diberikan kepada tetangganya yang hatinya lebih baik dari pada anaknya sendiri dan sisa yang setengah lagi diberikan kepada ke tiga anak-anaknya.

Rabu, 21 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Nabi yg di Gergaji Yahudi

Setelah Bani Israil ditinggal sangat lama dengan kematian Nabi Sulaiman, Allah kemudian mengutus Nabi Yesaya (Isaiah). Ketika beliau diutus, Bani Israil pun tengah dipimpin seorang raja yang saleh, Hizkia (Hezekiah). Itulah salah satu masa kedamaian bangsa Yahudi di Yerussalem.

Yesaya hadir memberikan nasihat kepada mereka. Ia juga menjadi penasihat bagi Hizkia, memberikan saran baik ataupun melarang hal buruk bagi kerajaan Yahudi. Sang nabiyullah pula yang mengambil keputusan segala urusan bagi Bani Israil.

Suatu hari, Raja Hizkia ditimpa sebuah penyakit. Kakinya terkena infeksi yang berat sangat. Kematian sudah ada dihadapannya. Sementara raja sakit, rombongan pasukan Raja Babilonia,  Sennacherib (Sinharib) dikabarkan tengah menuju Yerussalem. Mereka bermaksud menyerbu negeri pimpinan Hizkia dengan 60 ribu pasukan.

Raja Hizkia pun kebingungan. Ia khawatir rakyatnya tewas sia dan negerinya porak poranda. Namun ia tak dapat melakukan apa-apa dengan penyakit yang tengah dideritanya. Ia pun meminta nasihat kepada Yesaya, apa yang harus ia lakukan.

“Apakah Allah memberikan wahyu kepada Anda mengenai pasukan Sanherib?” Tanya raja, lemas.

“Allah belum memberikan wahyu apapun kepadaku tentang itu,” jawab Yesaya.

Setelah beberapa hari, Yesaya mendapat perintah dari Allah agar Hizkia bersedia turun tahta dan mengangkat raja baru sebagai penggantinya untuk menghadapi serangan Babilonia. Pasalnya, takdir ajal telah dekat dengan Hizkia. Dengan berat hati, Yesaya pun mengatakannya pada sang raja. Namun raja dengan lapang dada menerimanya.

Raja Hezkia kemudian segera menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangan berdoa. Dengan hati yang tulus, sang raja memanjatkan doa, “Ya Tuhan dari segala Tuhan, Ya Raja dari segala raja…. Ya Tuhan yang penuh kebajikan dan penyanyang, Yang tidak tidur dan tidak mengantuk, Yang dapat mengalahkan segala sesuatu… Ingatlah hambaMu ini atas apa yang telah hamba perbuat bagi bangsa Israel. Dan Engkau tentu lebih mengetahuinya, Engkau mengetahui setiap perbuatan hamba dan segala rahasia hamba,” ujar Raja Hezkia, menangis, meminta belas kasih dari Allah Ta’ala.

Allah pun menjawab doa raja yang saleh itu. Kepada Yesaya Allah berfirman bahwa Dia sangat senang Hezkia memanjatlkan doa kepadaNya. Allah pun memperpanjang usia Hizkia hingga 15 tahun lagi. Mendapat wahyu itu, Yesaya pun segera member kabar kepada sang raja dengan gembira.

Mendengar kabar tersebut, Raja Hezkia pun segera menyungkur sujud dan memanjatkan syukur. “Ya Tuhan, Engkau memberikan kerajaan bagi siapa yang Engkau kehendaki. Engkau mengangkat kedudukan siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau mengetahui segala hal ghaib dan nyata. Engkau adalah Al Awwal dan Al Akhir, Engkau memberikan rahmat dan menjawab orang-orang yang kesulitan,” ujar Hezkia memuji Tuhan seluruh alam.

Usai sujud syukur, Yesia meminta sang raja untuk mengusap kaki yang infeksi dengan sari daun Ara. Dengan kehendak Allah, penyakit raja sembuh seketika. Tak hanya menyembuhkan oenyakit raja, Allah pun menolong Bani Israil dengan mengalahkan tentara Sanherib. Tiba-tiba di pagi hari, seluruh pasukan mati tergeletak, kecuali sang Raja Sanherib dan kelima tangan kanannya, termasuk Nebukadnezar.

Mereka dibelenggu selama 70 hari, kemudian dipulangkan ke Babilonia. Saat kembali, Raja Sanherib pun menanyakan hal aneh yang terjadi pada mereka. Para tukang sihir negeri itu pun mengatakan kepadanya, “Kami bercerita tentang Tuhan dan nabi mereka, tapi Anda tak pernah mendengarkan kami. Mereka adalah bangsa yang memiliki Tuhan,” ujar para tukang sihir. Sang raja Babilonia pun berkidik, ia kemudian merasa sangat takut akan Allah.

Sementara di Yerussalem, setelah perpanjangan usia yang diberikan Allah, Raja Hezkia pun menemui ajalnya. Pasca meninggalnya Hezkia, Yerussalem porak poranda. Kondisi Bani Israil sangat buruk. Yesaya yang masih hidup di tengah mereka pun tetap mendakwahkan tauhid dan menyeru Bani Israil agar tetap di jalan Allah. Ia mengingatkan Bani Israil untuk tetap mengingat Allah meski kondisi negara carut marut.

Namun salah satu sifat Yahudi adalah menentang para nabi. Meski Yesaya selalu menjadi wali bagi mereka, bangsa Israil itu justru marah kepadanya. Mereka geram dengan ceramah Yesaya. Mereka pun kemudian memusuhi nabiyullah dan berencana membunuhnya.

Hingga suatu hari, Yesaya tengah melewati sebuah pohon. Sementara Bani Israil mengejarnya untuk membunuhnya. Lalu tiba-tiba pohon yang dilewati sang utusan Allah itu terbuka. Yesaya pun masuk dan berlindung di dalam pohon. Namun Syaithan melihat Yesaya masuk ke dalam pohon. Syaithan pun kemudian membuah jubah sang nabi terjepit sehingga terlihat oleh Bani Israil. Melihatnya, Bani Israil pun segera mengambil gergaji kemudian menggergaji pohon itu. Yesaya pun wafat dibunuh oleh umatnya sendiri.

Kisah Nabi Yesaya tersebut tak tercantum dalam Al Qur’an, pun tak dikabarkan oleh Rasulullah. Dalam ajaran Islam, nama Yesaya juga tak termasuk dalam nama 25 nabi yang harus diketahui. Hanya saja, Ibnu Katsir memasukkan kisah Yesaya tersebut dalam kitabnya “Qashshashul Anbiya”.

Menurut Ibn Katsir, mmengutip dari riwayat Muhammad Ibn Ishaq, Nabi Yesaya merupakan nabi yang muncul sebelum era Nabi Zakaria dan Yahya. Beliau bahkan salah satu nabi yang bernubuat mengenai Nabi Isa dan Nabi Muhammad Rasulullah. Silahkan merujuk kembali kitab Ibn Katsir tersebut.

Rabu, 14 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Nabi Hud A. S

kisah nabi hud a'laihissalam
Nabi Hud AS. adalah putra Sam bin Nuh AS, berarti beliau adalah cucu Nabi Nuh AS. beliau diutus kepada kaum ‘Ad di negeri Ahqaf, yaitu suatu kaum yang berada di sebelah utara Hadramaut dari negeri Yaman.
Mereka tinggal di rumah-rumah yang memiliki tiang-tiang yang besar sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“(Yaitu) penduduk Iram (ibu kota tempat tinggal kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi–Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al Fajr: 7-8)
Kaum ‘Ad dikenal dengan perawakannya yang besar dan kuat, memiliki harta yang berlimpah dari hasil bumi dan kebun-kebun mereka, sehingga mampu membangun rumah-rumah dan istana yang indah sebagai tempat tinggal mereka. Berkat karunia Allah ini mereka hidup makmur dan dalam waktu singkat mereka berkembang pesat dan menjadi suku terbesar diantara suku-suku lainnya.
Tetapi sayang, mereka menganggap bahwa apa yang mereka dapatkan itu bukan berasal dari Allah, sehingga mereka tidak mau beribadah kepada Allah dan hanya mau mengabdi kepada berhala-berhala yang mereka agungkan. Adalah kecenderungan manusia selalu lalai. Bila kemakmuran dan kemewahan sudah tercapai, mereka lupa diri dan hanya memperturutkan hawa nafsunya yang tak kenal puas.
Nabi Hud AS menyeru mereka agar beribadah kepada Allah SWT, supaya hidup mereka bertambah berkah dan jauh dari kesesatan. Namun kaum ‘Ad tidak mau mendengarnya, bahkan mereka semakin durhaka dan melampaui batas. Mereka juga berani menantang datangnya azab dari Allah SWT.
Ketika semakin bertambah kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap para hamba Allah. Mereka berkata:
مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً
“Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” (Fushshilat:15)
Selain itu, kaum ‘Aad juga melakukan kesyirikan terhadap Allah dan kedustaan terhadap para rasul. Maka, Allah mengutus Nabi Hud ke tengah-tengah mereka untuk mengajak mereka agar menyerahkan semua ibadah hanya untuk Allah satu-satunya dan melarang dari perbuatan syirik dan kesewenang-wenangan terhadap hamba-hamba Allah. Beliau mengajak kaumnya dengan segala cara dan mengingatkan mereka akan berbagai nikmat yang telah Allah berikan berupa kebaikan dunia, kelebihan rizki dan kekuatan tubuh. Tapi mereka menolak seruan tersebut dan menampakkan sikap sombong, tidak mau menyambut seruan Nabi Hud. Mereka bahkan mengatakan:
يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ
“Wahai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata.” (Hud: 53)
Mereka telah melakukan kedustaan dengan pernyataan ini. Karena tidak ada satu nabi-pun, melainkan pasti telah Allah berikan ayat-ayat, yang semestinya dengan ayat itu semua orang akan beriman. Seandainya tidak ada yang menjadi ayat-ayat (tanda-tanda kebenaran) para rasul tersebut kecuali ajaran agama yang mereka bawa itu sendiri, itu pun sudah cukup menjadi dalil atau bukti paling utama bahwasanya ajaran agama ini adalah dari sisi Allah. Di samping kokoh dan sistematisnya untuk kemaslahatan manusia, kapan dan di mana saja, sesuai dengan situasi dan kondisi. Kebenaran berita yang ada dalam agama ini berupa perintah terhadap semua kebaikan dan larangan dari segala kejahatan, turut menjadi bukti kebenaran para rasul. Juga masing-masing rasul itu membenarkan rasul yang datang sebelumnya dan menjadi saksi akan kebenaran dakwahnya. Sekaligus membenarkan dan menjadi saksi pula bagi rasul yang akan datang setelahnya.
Nabi Hud sendirian dalam berdakwah, menganggap mimpi-mimpi kaumnya sebagai suatu kebodohan dan menyatakan mereka sesat, serta mencela sesembahan mereka. Sementara kaum Nabi Hud adalah orang-orang yang tubuhnya sangat kuat dan suka berbuat sewenang-wenang. Mereka menakut-nakuti Nabi Hud dengan sesembahan mereka. Bila beliau tidak berhenti, niscaya Nabi Hud –menurut ancaman mereka- akan ditimpa penyakit kegilaan dan kejelekan. Namun Nabi Hud justru terang-terangan melemparkan tantangan kepada mereka, dan berkata:
إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
مِن دُونِهِ ۖ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan, dari selain-Nya. Sebab itu jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Rabb-ku dan Rabb kalian. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 54-56)
Maka ayat mana lagi yang lebih besar dari tantangan Nabi Hud kepada musuh-musuhnya yang sangat menentang seruan beliau dengan berbagai macam cara. Ketika kejahatan mereka telah melampaui batas, Nabi Hud meninggalkan dan mengancam mereka dengan turunnya adzab Allah. Maka datanglah adzab tersebut menyebar di seluruh cakrawala. Mereka dilanda kekeringan yang parah dan sangat membutuhkan siraman air hujan. Di saat mereka dalam keadaan bergembira dan berkata:
هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا
“Inilah awan yang akan menurunkan hujan.” (Al-Ahqaf: 24)
Allah pun berfirman:
بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ
“(Bukan)! Bahkan itulah adzab yang kalian minta supaya datang dengan segera.” (Al-Ahqaf: 24)
Yaitu, kalian minta disegerakan dengan ucapan kalian: “Datangkanlah apa yang engkau janjikan kepada kami kalau engkau orang yang benar.”
Allah berfirman:
رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ
“(Yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu.” (Al-Ahqaf: 24-25)
Yakni, menghancurkan semua yang dilaluinya. Allah berfirman:
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
“Yang Allah timpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (Al-Haqqah: 7)
فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
“Maka jadilah mereka tidak ada yang terlihat lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (Al-Ahqaf: 25)
Semua itu terjadi di saat mereka dahulunya senantiasa tertawa gembira, kemuliaan yang baligh (nyata), kemewahan dunia yang berlimpah, dan seluruh kabilah dan daerah-daerah di sekitarnya tunduk kepada mereka. Kemudian tiba-tiba Allah kirimkan kepada mereka angin yang sangat kencang dalam beberapa hari secara terus-menerus agar mereka merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Padahal sungguh adzab akhirat itu lebih menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.
وَأُتْبِعُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا إِنَّ عَادًا كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِّعَادٍ قَوْمِ هُودٍ
“Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini, dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Aad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Aad (yaitu) kaumnya Hud itu.” (Hud: 60)
Allah menyelamatkan Nabi Hud serta orang-orang yang beriman bersama beliau. Sesungguhnya di dalam kisah ini benar-benar terdapat ayat yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan pemuliaan-Nya terhadap para rasul dan para pengikut mereka, pertolongan Allah kepada mereka di dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). Juga ayat tentang batilnya kesyirikan, dan kesudahannya yang sangat buruk dan mengerikan, dan juga di dalamnya terdapat ayat atau bukti atas kehidupan sesudah mati dan dikumpulkannya seluruh manusia. Beberapa pelajaran penting dari kisah Nabi Hud Sebagaimana juga dalam kisah Nabi Nuh, di dalam kisah ini terdapat beberapa faedah yang sama pada semua rasul. Faedah-faedah itu antara lain:
1. Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya mengisahkan kepada kita berita umat-umat yang bertetangga dengan kita di Jazirah Arab dan sekitarnya.
Al Qur’an telah menyebutkan metode paling tinggi dalam memberikan pelajaran atau peringatan. Allah juga telah menerangkan berbagai pelajaran dengan keterangan yang sebenar-benarnya. Tentunya tidak diragukan lagi bahwa di daerah-daerah lain yang lebih jauh dari kita, di Timur atau di Barat, telah Allah utus seorang Rasul kepada mereka. Begitu pula telah dipaparkan bagaimana sambutan, penolakan, atau pemuliaan serta akibat yang mereka terima. Tidak ada satu umat pun melainkan telah Allah utus kepada mereka seorang Rasul.
Sangat bermanfaat bagi kita untuk mengingat keadaan daerah-daerah di sekitar kita serta apa yang kita terima dari generasi ke generasi. Juga apa yang dapat kita saksikan dari peninggalan mereka ketika kita melewati (bekas-bekas) tempat kediaman mereka setiap saat dan kitapun memahami bahasa mereka, dan tabiat mereka lebih dekat kepada tabiat yang ada pada kita. Tentu saja manfaat ini sangat besar, dan lebih pantas kita ingat daripada memaparkan keadaan umat yang belum pernah kita dengar tentang mereka, yang tidak kita kenal bahasa mereka dan tidak sampai kepada kita keadaan mereka seperti yang Allah ceritakan kepada kita. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengingatkan orang dengan sesuatu yang lebih dekat dengan pemahaman mereka, lebih sesuai dengan keadaan mereka serta lebih mudah mereka dapatkan, akan lebih bermanfaat bagi mereka dibanding yang lain.
Tentunya lebih pantas untuk disebutkan dengan cara yang lain meskipun juga mengandung kebenaran. Namun kebenaran itu bertingkat-tingkat. Seorang pengajar atau pendidik bila dia menempuh cara ini, dan berupaya keras menyebarkan ilmu dan kebaikan kepada manusia dengan jalan-jalan yang mereka kenal, tidak membuat umat lari dari dakwah atau dengan suatu metode yang lebih tepat untuk menegakkan hujjah terhadap mereka, niscaya akan bermanfaat. Allah telah mengisyaratkan hal ini pada bagian akhir kisah bangsa ‘Aad. Firman Allah:
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُم مِّنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ
“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu, dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang.” (Al-Ahqaf: 27)
Yakni telah Kami sebutkan berbagai macam ayat atau tanda kekuasaan Kami:
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Supaya mereka kembali (bertaubat).” (Al-Ahqaf: 27)
Yaitu agar lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran.
2. Menjadikan bangunan-bangunan yang besar dan megah sebagai suatu kebanggaan dan kesombongan serta perhiasan dan menindas hamba-hamba Allah dengan sewenang-wenang adalah perbuatan yang sangat tercela dan merupakan warisan generasi yang melampaui batas sebagaimana diterangkan Allah dalam kisah bangsa ‘Aad yang diingkari oleh Nabi Hud:
أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ
“Apakah kalian mendirikan bangunan pada tiap-tiap tanah yang tinggi untuk bermain-main.” (Asy-Syu’ara: 128)
Secara umum bangunan untuk istana, benteng, rumah dan bangunan lainnya, mungkin saja dijadikan tempat tinggal karena memang dibutuhkan. Kebutuhan itu sendiri beraneka ragam dan berbeda-beda tingkatnya. Semua ini adalah perkara mubah (dibolehkan) dan justru menjadi wasilah (jalan) kepada kebaikan apabila disertai dengan niat yang lurus. Atau dapat pula dijadikan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh dan menjaga keamanan suatu daerah atau manfaat lain bagi kaum muslimin. Ini juga termasuk rangkaian jihad di jalan Allah, berkaitan dengan perintah harus berhati-hati terhadap musuh. Namun bisa saja itu semua dimanfaatkan demi kesombongan dan kekejaman terhadap hamba-hamba Allah, atau pemborosan harta yang sebetulnya dapat digunakan di jalan yang bermanfaat. Ini tentu saja merupakan hal yang sangat dicela oleh Allah pada bangsa ‘Aad atau yang lainnya.
Faedah yang lain, bahwa akal pikiran ataupun kecerdasan dan yang mendukung semua itu serta hasil atau pengaruh yang ditimbulkan. Betapapun besar dan luasnya tetap tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya kecuali bila ia mengimbangi dengan keimanan kepada Allah dan para rasul-Nya. Sedangkan orang yang menentang ayat-ayat Allah, mendustakan para rasul Allah, walaupun dia mendapatkan kesempatan atau diberi tangguh untuk menikmati kehidupan dunia, kesudahan yang akan dia hadapi nanti sangatlah buruk. Pendengaran, penglihatan dan akalnya tidak akan dapat membelanya sedikitpun jika datang keputusan Allah. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam kisah ‘Aad:
وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka perolok-olokkan.” (Al-Ahqaf: 26)
Dalam ayat lain:
فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ لَّمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ
“Karena itu tidaklah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sesembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabb-mu datang. Dan sesembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (Hud: 101)

Sabtu, 10 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Tangis Rasulallah dimalam Perang Badar

http://daulahislam.com/wp-content/uploads/2013/09/perang-badar1.jpg
“Jibril telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata kepada beliau,”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Mereka adalah orang muslim terbaik.” Maka, Jibril berkata, “Begitu pula dengan malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka termasuk muslim terbaik.”
DETIK-detik Perang Badar. Diketahui jumlah kekuatan kaum muslimin saat perang tersebut hanya sekitar 313 sampai 317 orang. Mereka terdiri dari kaum Muhajirin 82 atau 86 orang, Bani Aus 61 orang, dan kalangan Khazraj 170 orang. Mereka berja­lan dengan hanya membawa 2 kuda dan 70 unta. Maka, setiap dua orang atau tiga saling bergantian dalam mengendarai satu unta.
Sangat berbeda jauh dengan jumlah yang di miliki oleh kaum kafir Qurais, Jumlah mereka mencapai 1.300 orang. Mereka membawa 100 tentara berkuda, 600 tentara berbaju besi, dan sejumlah unta yang sangat banyak jumlahnya. Pasukan bangsa Quraisy ini dipimpin oleh Abu Jahal.
Sa’ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshar-pun saat itu angkat suara. Maka, ia pun segera bangkit dan berkata, “Demi Allah, Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu. Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar. Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.
“Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper­temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari. Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu. Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Allah.”
Ibnu Katsir rahimahullah menggambarkan keadaan Nabi saw pada malam perang badar. “Pada waktu malam perang badar , Rasulullah saw melakukan shalat di dekat sebatang pohon. Dalam sujudnya beliau memperbanyak, ‘Ya Hayuu, Ya Qayum.’ Beliau mengulang-ngulangi ucapan itu , dan menekuni sholat tahajud sambil menangis dan berdoa terus menerus sampai pagi, dalam doanya Beliau berkata; ‘Ya Allah aku mengingatkan-Mu akan janji-Mu, Ya Allah jangan Engkau meninggalkanku, Ya Allah jangan Engkau membiarkanku, Ya Allah jangan Engkau menyianyiakanku. Ya Allah ini adalah orang Qurais, mereka telah datang dengan kesombongan mereka. Mereka telah menentang dan menuduh bohong utusan-Mu. Ya Allah mana pertolongan-Mu yang Engkau janjikan.’ Beliau berdoa hingga jubahnya terjatuh.
“Datanglah Abu Bakar sahabat yang selalu menemaninya dikala suka dan duka, Sahabat yang menemani Rasulullah ketika di kejar bala tentara musuh di gua Tsur. Sahabat yang memiliki hati yang begitu lembut, dengan air mata yang menetes ia mengambil jubah Rasulullah saw yang terjatuh kemudian mengembalikan ke pundaknya dan Beliau mengikuti di belakang Rasulullah saw. Dia berkata, “Wahai Nabi Allah cukup bagimu mengingatkan Tuhanmu akan janji-Nya. Karena Ia akan memberikan kepadamu apa yang Ia janjikan. Maka Allah swt menurunkan firman-Nya,” Agar Allah swt menetapkan yang hak ( Islam ) dan membatalkan yang batil ( syirik ) walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” ( QS; Al-Anfal : 9 ). Allah pun menolongnya dengan mengirim malaikat-Nya dalam perang Badar.”

Kamis, 08 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Pengemis Buta dan Kemuliaan Rasulullah S.A.W

Banyak kita temui di dunia maya/internet kisah tentang “Rasulullah Dan Seorang Pengemis Yahudi Buta”, bahkan kisah itu sudah sangat masyur karena telah dipublikasikan oleh salah satu situs media dakwah Islam sejak tahun 2010, bahkan saya lihat ada salah satu blog yang sudah memposting sejak tahun 2008. Terlebih lagi saya dengar dari teman bahwa kisah ini pernah dibawakan oleh salah satu Ustadz di acara di sebuah stasiun TV swasta nasional.
Apakah kisah ini benar adanya? apakah hadits yang menjadi rujukan kisah ini ada?
Ternyata setelah dicari-cari kami TIDAK menemukan kisah itu didalam salah satu kitab hadits para Imam dan ulama ahli hadits yang bisa dipercaya, alias kisah itu adalah cerita fiksi yang bersumber dari hadits PALSU. (hadits=berita tentang ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW)
Memang sepintas hadits ini berisikan tentang kemuliaan akhlak Rasulullah Muhammad SAW, tetapi ada misi tertentu yang mungkin sengaja ingin disebarkan oleh si pengarang hadits/kisah itu. Yang kami tangkap salah satu misinya adalah agar kita lebih bisa bertoleransi atau bermesra-mesra kepada ummat non-muslim khususnya yahud.
Untuk lebih jelasnya kami akan ungkapkan kepalsuaan kisah/hadits tersebut.
Kecacatannya :
1.      Kisah tersebut tidak jelas Sanad-nya, sumbernya tidak ada, perawi tidak ada, derajat hadits-nya juga tidak jelas, dan tidak akan kita temukan di kitab-kitab para ahli hadits.
2.      Tertulis di kisah itu bahwa kejadian itu terjadi di Madinah pada masa akhir kehidupan Rasulullah SAW, padahal kita ketahui bahwa masa itu Madinah telah lama dikuasai oleh Umat Muslim, dan Rasulullah SAW sebagai pimpinannya. Jadi tidak mungkin seorang Yahudi secara terang-terangan menghina Rasulllah SAW di depan orang banyak/pasar.
3.      Matannya bertentangan dengan firman Allah SWT  di Al-Qur’an Surat Al-Fath 29: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . .” (QS. Al-Fath: 29)
4.      Matannya bertentangan dengan firman Allah SWT  di Al-Qur’an Surat Al-Maidah 54: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Maidah: 54)
5.      Matannya bertentangan dengan hadits yg lebih kuat tentang Ka’ab bi Asyraf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang bersedia membunuh Ka’ab al-Asyraf untuk saya.”Muhammad bin Maslamah saudara Bani Abdul al-Asyhal berkata, “Saya bersedia melakukannya untuk anda ya Rasulullah. Saya akan membunuhnya.” Beliau berkata, “Lakukanlah jika engkau mampu.” Ia berkata, “Ya Rasulullah, kita mesti mengatakan.” Beliau berkata, “Katakanlah oleh kalian, ‘Apa yang tampak bagi kalian, kalian bebas dalam hal itu.’ (Ket : Dikeluarkan al-Bukhari hadits no.2510, 3031, 3032. dalam kitab ringkasannya hadis no.4037. Muslim hadits no.1801 dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu. Barangsiapa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kisah Ka’ab bin al-Asyraf dapat merujuk kitab “Al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu katsir, jilid IV/6-10. Fathul Bari (V/169), (VI/184-185) dan (VII/ 390-395). Syarah Muslim an-Nawai (XII/403) dan kitab rujukan lainnya.
6.      Matannya bertentangan dengan hadits yg lebih kuat yang Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, beliau menuturkan, pernah ada seorang lelaki buta memiliki seorang budak wanita, dan budak ini mengandung anaknya. Ia sering sekali mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencelanya. Lelaki tadi melarangnya, namun wanita tersebut tidak mau berhenti; dan dia mencegahnya, namun budak wanita tadi tidak bisa dicegah. Kemudian pada suatu malam wanita tadi mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencacinya. Maka si lelaki tadi mengambil Mighwal (pedang tipis) dan meletakkannya di atas perut wanita tadi, lalu menindihnya sehingga dia terbunuh. Tapi bersamaan dengan kematiannya, bayi yang ia kandung keluar dari kedua selangkangan kakinya. Farji perempuan itu penuh dengan darah. Esoknya, kejadian itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau mengumpulkan para sahabatnya dan bersabda, “Aku bersumpah kepada Allah untuk mencari lelaki yang telah melakukan apa yang dilakukannya, dan aku berkewajiban untuk menghukumnya, kecuali jika dia memberikan hujjah.” Kemudian seorang lelaki buta datang dan berjalan melewati orang-orang dengan badan gemetar sehingga ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejenak dia berkata, “Ya Rasulullah, aku-lah pemilik budak itu. Dia selalu mencaci dan mencelamu. Telah kularang dia, tapi tetap saja dia tidak mau berhenti. Dan telah kucegah dia, tapi dia tidak dapat dicegah. Aku memiliki dua orang anak dari hubunganku dengannya seperti dau buah permata, dan dia pun sangat sayang padaku. Namun semalam, dia kembali mencaci dan mencelamu. Lalu kuambil pedang dan kuletakkan di atas perutnya. Kemudian kutindih dia sehingga dia mati terbunuh.” Mendengar kesaksiannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Saksikanlah oleh kalian semua bahwa darahnya tumpah sia-sia.” (HR. An-Nasa’i dan Abu Dawud)
7.      Matannya bertentangan dengan hadits yg lebih kuat: Ibnu ‘Abbas berkata, “Seorang wanita dari kabilah Khathamah, bernama Asma’ binti Marwan, mengejek nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  melalui syairnya. Mendengar ejekan tadi, Nabi berkata kepada para sahabatnya,“Siapa yang siap menyelesaikan urusan wanita itu untukku?” Seorang lelaki bernama Umair bin Adi bin Al-Khatami berdiri, “saya” Lalu ia pergi mencari wanita tadi dan lalu membunuhnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia langsung kembali dan melaporkan kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam. Beliaupun kemudia bersabda, “Kambing betina sudah tidak bisa lagi menanduk.” Umair lalu menuturkan, “Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling kepada para sahabat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian berkata, “Apabila kalian ingin melihat seorang lelaki yang menolong Allah dan Rasul-Nya secara diam-diam dan tidak diketahui orang, maka lihatlah kepada Umair bin Adi.” (Disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 95)
8.      Selain itu artikel itu di akhir cerita menceritakan bahwa Abu Abu Bakar Ash-shidiq berbohong, apakah bisa dipercaya orang se-level Abu Bakar Ash-shidiq r.a berbohong? lihat penggalan kisah itu: Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan ketus “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.” Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.”
Demikian penjelasan singkat ana, Wallahu’alam bishawab
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Sumber : Pengemis Buta dan kemuliaan Akhlaq Rasulullah S. A. W

Selasa, 06 November 2018

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Cerita singkat Tentang Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW.Merupakan Nabi terakhir yang diutus ke muka bumi.
Masa Kelahiran NabiMuhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW. Lahirdari kandungan ibu Aminah dan berayahkan Abdullah pada hari Senin 12Rabi’ul Awwal Tahun Gajah dan bertepatan pada 22 April 571 M. dalamkeadaan yatim. Pada kelahiran nabi Muhammad SAW. Terjadi peristiwadimana tentara Abraham akan menghancurkan Kabah yg kemudian gagalkarena Allah SWT. Mengutus Burung Ababil untuk membawa Krikil Sijjildengan paruhnya, yg dilemparkan kepada tentara gajah tersebut hinggatembus ke dalam sampai Mati. Peristiwa itu diabadikan dalam Al – QuranSurat Al – Fiil ayat 1 – 5.
Kebiasaan MasyarakatJahiliyyah
Contoh kebiasaan Jahiliyyah: Mabuk, berjudi, Maksiat, Merendahkan derajat Wanita.
Masa kanak – kanak NabiMuhammad SAW. Hingga masa kerasulan
Nabi Muhammad SAW. Disusuioleh ibunya hanya beberapa hari, oleh Tsuaibah 3 Hari, dan dilanjutkanoleh Halimah Sa’diyah. Keistimewaan Nabi Muhammad SAW. : umur 5 bulansudah dapat berjalan, 2 th sudah menggembala Kambing, 6 tahun NabiMuhammad ditinggal oleh ibunya Aminah, oleh karena itu Nabi tinggal diKakeknya Abdul Mutholib. Usia 8 th 2 bln 10 hr Abdul Mutholib wafat,kemudian diasuh oleh Abu Tholib (Paman). Usia 12 th nabi diajakberdagang ke Syam, usia 25 th nabi berjualan dagangan milik SitiKhodijah ke Syam. Nabi menikah dengan Khodijah yg berumur 40 th danNabi berumur 25 th dengan mas kawin 20 ekor Unta muda. Yang dianugrahi6 putra putri : Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum danFatimah.
Masa Kerasulan NabiMuhammad SAW.
Pada usia 35 th adaperistiwa yaitu Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke BaitulHaram yang kemudian Kakbah diperbaiki oleh arsitek yg bernama Baqum(orang Romawi). Usia 40 th nabi diangkat menjadi Rasul. Beliau menerimawahyu yang pertama kalinya di Gua Hira dengan perantara malaikat Jibrilyaitu QS. Al Alaq ayat 1 sampai 5.
Rasulullah berdakwah
Dalam keadaan menggigil danketakutan Nabi menerima Wahyu yg kedua : QS. Al Muddasir ayat 1 – 7.
Menyiarkan agam islamdengan sembunyi sembunyi
Beliau berdakwah secarasembunyi sembunyi dengan mengajak keluarganya dan sahabat sahabtnyauntuk masuk islam. Orang orang yg pertama masuk islam :
v SitiKhadijah (Istri Nabi SAW)
v Alibin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)
v Zaidbin Haritsah (Anak Angkat NAbi SAW)
v AbuBakar As Siddiq (Sahabat dekat Nabi SAW)
Orang orang yg masuk islamperantara Abu Bakar As Siddiq :
  • Utsman bin Affan                                             
  • Zubair bin Awwam 
  • Sa’ad bin AbiWaqqash                                  
  • Abdurrahman binAuf      
  • Thalhah binUbaidillah                                       
  • Arqam bin AbilArqam       
  • Fathimah bintiKhattab                                   
  • Abu Ubaidillahbin Al Jarrah
Dan mereka yg namanya diAtas semua disebut Assabiqun Al Awalun.
Menyiarkan Agama Islamsecara terang terangan
Dakwah secara terangterangan di perintahkan oleh Allah SWT melalui turunnya surat Al Hijr :94. Agama Islam meluas ke Habasyah (Etophia), Thaif dan Yastrib(Madinah). Pada tahun 10 Kerasulan pada saat “Ammul Khuzni” yaitu tahunduka cita dengan wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah. Dan terjadiperistiwa Isra Mi’raj dengan perintah shalat 5 Waktu.
Sifat sifat Rasulullah SAW. 
  •  Siddiq(Jujur)                                 
  • Amanah(Dipercaya)
  • Tabligh(Menyampaikan)                 
  • Fathonah (Cerdas)
Haji Wada RasulullahSAW
Pada Tahun 10 H, nabiMuhammad SAW melaksanakan Haji Terakhirnya (Haji Wada) dengan 100.000jamaah yg ikut serta.
Nabi Muhammad SAW rahmatanlil ‘Alamin
Nabi Muhammad SAW diutusuntuk memberikan bimbingan kepada manusia agar menjalani hidup yg benarsehingga dapat memperoleh kebahagiaan dunia dan Akhirat.
Misi Misi Nabi Muhammad SAW
v MenyiarkanAgama Islam
v MenyampaikanWahyu Allah SWT
v MenyampaikanKabar gembira dan peringatan kepada umat Manusia
v MenyempurnakanAkhlaq yaitu Akhlaq Qurani
Adab Rasulullah SAW saatMakan dan minum
v Berupayauntuk mencari makanan yg Halal
v Hendaklahmencuci tangan sebelum Makan
v Hendaklahmemulai makan dan minum dengan membaca Bismillah dan diakhiri denganHamdallah
Adab Rasulullah SAW saatsebelum tidur dan bangun tidur
v Berintrospeksidiri / Muhasabah sesaat sebelum tidur
v Tidurdini
v Disunahkanberwudlu sebelum tidur
Adab Rasulullah SAW saatberpakaian dan berhias
v Memakaipakaian bersih dan bagus
v Pakaianharus menutup aurat
v Pakaianlaki laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya
Keutamaan Shalawat Nabi
Makna Shalawat dari AllahSWT kepada Hambanya : Limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemuliaandan keberkatan dari-Nya.
Hukum bershalawat WajibApabila :
v MembacaTasyahud (Tahiyat)
v Setiapmenyebut, menulis, mendengar nama Rasulullah SAW
Arahan Membaca Shalawat
Allah Memulai shalawatkeatas Nabi diikuti Malaikat kemudian dianjurkan kepada musliminmengamalkannya.
Kelebihan Shalawat
v Apabilamengucapkan shalawat kepadaku 1x maka Allah akan bershalawat bagi-Nya10x
v Digugurkan10 kesalahannya (Dosa) nya
v Ditinggikandrajatnya
Shalawat paling Afdhol(Utama)
Yaitu Shalawat yg dibacaselepas Tasyahud Akhir setiap shalat.
Waktu utama Bershalawat
v Ketikamendengar orang menyebut nama Nabi SAW
v Selesaiberwudhu sebelum membaca do’a
v DiakhiriQunut dalam shalat
Hikmah dan Fadhillahmemperingati kelahiraan Nabi SAW
Hikmah :
v Mendorongorang untuk membaca shalawat
v Ungkapankegembiraan dan kesenangan dengan beliau
v Menengahkankembali kecintaan kepada Rasulullah SAW
Fadilah :
v Akanmendapatkan pahala bagi orang yang mengadakan dan menghadirinya
v Akandiberikan syafaat pada hari Akhir
v Barangsiapa yg memberikan infak 1 dirham untuk mesmperingati kelahiran NabiMuhammad SAW maka akan menjadi temanku masuk Surga
Dalil dalil bolehnyamemperingati Maulid Nabi
v KitabMadarij As – Suhud Syarah Al – Barzanji hal. 15 :
Rasulullah Bersabda :“Barang siapa yg menghormati hari lahirku tentu aku akan memberikansyafaat kepadanya di hari akhir.”
v Dalildalam Madarid As -  Suhud Hal 16
Umar Mengatakan : “Siapa ygmenghormati hari lahir Rasulullah sama artinya menghidupkan islam”