Tampilkan postingan dengan label Cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Pak Jalmo

pak jalmo sombong setelah menjadi orang kaya
Pak Jalmo Sombong Setelah Kaya
Di salah satu pulau yang terletak jauh di sebelah timur Pulau Madura pernah hidup seorang petani sederhana, Pak Jalmo namanya. Ia hidup dengan seorang istri dan dua orang anaknya. Pak Jalmo adalah orang yang sabar, rendah hati, serta suka membantu tetangganya.

Pada suatu ketika, berkunjunglah seorang sahabat Pak Jalmo. Pak Jalmo pun menceritakan kepada sahabatnya itu bahwa hasil panen yang ia dapatkan selalu tidak cukup dimakan selama satu tahun. 

Sahabat yang baik itu merasa kasihan kepada Pak Jalmo. Kemudian, ia berkata, "Hutan di sebelah selatan pekaranganmu ini sebenarnya bisa dibuka untuk pertanian. Tanahnya cukup bagus untuk dijadikan ladang jagung." 

"Tetapi, saya tidak punya biaya untuk membuka hutan," jawab Pak Jalmo. 

"Kalau engkau minta tolong kepada para tetangga, aku kira mereka siap membantumu," kata sahabatnya. 

"Tetapi saya malu minta tolong kepada para tetangga," jawab Pak Jalmo. 

"Kalau engkau malu, biarlah aku akan berbicara dengan mereka. Aku yakin mereka akan sangat senang membantumu." 

Beberapa hari kemudian, orang-orang desa berkumpul di halaman rumah Pak Jalmo. Mereka bekerja menebang pohon-pohon di hutan yang terletak di sebelah selatan rumah Pak Jalmo. Mereka bekerja sambil bernyanyi dengan gembira. Mereka membantu Pak Jalmo dengan hati ikhlas tanpa mengharap imbalan. 

Dua minggu lamanya mereka bekerja menebang hutan, akhirnya terbentanglah tanah ladang seluas empat hektar, Pak Jalmo dan istrinya sangat gembira mempunyai ladang seluas itu. 

"Kini kita menunggu datangnya musim hujan," kata Pak Jalmo kepada istrinya

"Kalau hujan turun, ladang kita itu hendak kau tanam apa?" tanya istrinya. 

"Jagung, ketela, kacang, dan sayur-sayuran," jawab Pak Jalmo. 

Suami istri itu berharap hujan segera turun. Mereka ingin segera mengolah tanah ladangnya menjadi sumber rezeki. Akhirnya, musim hujan pun datang. Pak Jalmo dan istrinya menyambut turunnya hujan dengan hati gembira. Ladang baru itu pun mulai dikerjakan. Karena Pak Jalmo tidak punya sapi untuk membajak, sebagian tetangga membantu membajakkan sawahnya. Demikian pula halnya bibit yang hendak ditanam, karena Pak Jalmo tidak punya persediaan, para tetangga menyumbang bibit padi untuk ditanam. 

Apa pun yang ditanam Pak yang Jalmo di ladangnya, ternyata bisa tumbuh dengan baik, meskipun tidak terlalu subur. Pak Jalmo bersama istrinya tidak bosan-bosannya menyiangi rumput-rumput liar yang dirasa menganggu tanaman. 

Musim panen pun tiba. Hasil panen yang diperoleh Pak Jalmo cukup menggembirakan. 

"Apakah tidak sebaiknya sebagian hasil panen kita itu dijual?" kata istrinya. 

"Untuk apa?" tanya Pak Jalmo

"Untuk dibelikan seekor anak sapi" 

"Usul yang baik," jawab Pak Jalmo sambil tersenyum. 

"Tahun depan, kalau panen baik, kita beli seekor sapi lagi," kata istrinya. "Tiga atau empat tahun lagi setelah anak sapi itu besar, kalau kita hendak membajak tanah tidak perlu pinjam atau minta bantuan tetangga lagi. 

"Terima kasih atas usulmu itu," jawab Pak Jalmo dengan gembira. 

Keesokan harinya, sebagian hasil panen Pak Jalmo dijual. Dari hasil penjualan itu, Pak Jalmo membeli seekor anak sapi. Ia sangat sayang pada sapinya itu. Ia selalu mencarikan rumput yang bagus untuk sapi itu. Tahun berikutnya, hasil panen Pak Jalmo semakin bagus, ia pun membeli seekor anak sapi yang sebaya dengan anak sapi sebelumnya. 

Dua tahun kemudian, Pak Jalmo sudah bisa membajak ladang tanpa bantuan para tetangga. Ia semakin tekun bertani. Kotoran dua ekor sapinya dibakar dengan daun dan rumput, kemudian dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanah. Oleh sebab itu, panen yang diperolehnya semakin melimpah. Kini Pak Jalmo telah menjadi orang berkecukupan menurut ukuran orang di pulau itu. 

Kehidupan Pak Jalmo sekeluarga memang sudah berubah. Akan tetapi, perubahan itu bukan hanya dari miskin menjadi kaya. Dulu, ia dikenal sebagai orang yang rendah hati serta suka membantu tetangga, sekarang ia menjadi orang yang kurang senang bergaul. Ia hanya sibuk mengurus pertaniannya sendiri sehingga tidak sempat membantu para tetangga yang memerlukan bantuannya.

Pada suatu hari, dua orang tetangganya bercakap-cakap di sebuah kebun. Salah seorang berkata," Ketika Pak Jalmo belum punya sapi, setiap hendak membajak ladangnya selalu pinjam sapiku. Sekarang, setelah menjadi petani agak kaya, ketika aku mau pinjam sapinya untuk membajak sawahku, ia tak mau membantu. Katanya, sapinya akan dipakai untuk membajak ladangnya sendiri. Setelah aku selidiki, ternyata hari itu ia tidak membajak."

"Yang aku herankan," jawab yang lain," sebelum ia kaya seperti sekarang, ia sering datang ke rumahku. Ia bersahabat akrab denganku. Tetapi setelah berkecukupan, ia tak pernah datang ke rumahku. Aku mencoba mengalah, aku sendiri yang mendatangi rumahnya pada hari raya yang lalu. Ternyata, ia menyambutku dengan dingin, tidak segembira ketika aku bersilaturahmi ke rumahnya lima atau enam tahun yang lalu."

Itulah antara lain kesan-kesan sebagian tetangga Pak Jalmo. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun berani mengingatkannya. Tahun pun terus berjalan. Pak Jalmo semakin kaya.

Pada tahun kesepuluh sejak ladang baru itu dibuka, panen Pak Jalmo sungguh diluar dugaan. Jagung, ketela, labu, kacang panjang, kacang hijau, dan lain-lain melimpah memenuhi lumbungnya. Pak Jalmo benar-benar menjadi orang kaya di kampung itu.

Sikap Jalmo yang semakin angkuh dengan kekayaannya itu membuat guru mengajinya sewaktu kecil perlu menjumpainya.

Jalmo, kata guru mengaji itu, "apakah engkau masih mengakui aku sebagai gurumu?"

"Ya, Pak, dulu saya memang pernah berguru kepada Bapak," jawab Pak Jalmo.

"Nah, sebagai guru, aku merasa berkewajiban memberi nasihat padamu. Dulu engkau miskin, sekarang engkau telah kaya. Ketika engkau kaya, perbanyaklah engkau memberi kepada fakir miskin supaya kalau engkau jatuh miskin, engkau tetap diperhatikan orang."

"Apakah saya yang mempunyai harta sebanyak ini masih bisa miskin lagi?" tanya Pak Jalmo.

"Bisa saja kalau Allah menghendaki," jawab pak guru tua itu.

"Tidak bisa, Pak Guru," ujar Pak Jalmo dengan angkuh, "tak ada jalan kemiskinan untuk masuk ke pekarangan rumah saya."

Mendengar jawaban bekas muridnya itu, guru mengaji yang bertongkat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka nasihatnya akan ditolak mentah-mentah. Dengan kesal ia segera meninggalkan rumah Pak Jalmo.

Di pulau itu, setiap tahun diadakan selamatan desa. Semua orang berkumpul di sebuah tanah lapang sambil berdoa dan diakhiri dengan makan bersama. Pada saat selamatan desa itu. Pak Jalmo mengadakan pesta sendiri di rumahnya. Ia tidak mau bergabung dengan orang desa yang miskin.

Pak Jalmo tidak banyak mengundang orang, hanya beberapa kuli yang selalu membantunya bekerja di ladang. Meskipun orang yang hadir hanya sedikit, Pak Jalmo yakin orang-orang akan berdatangan ke rumahnya karena ia telah menyiapkan ribuan petasan besar dan kecil untuk menarik perhatian.

"Aku sengaja memesan mercon yang tidak pernah dibakar orang di pulau ini," kata Pak Jalmo sambil menggantung rentengan petasan besar-besar di dahan jambu di halaman rumahnya. Sebagian mercon yang lain diletakkannya di atas tikar di halaman.

Setelah makan sampai kenyang, di mulailah acara pembakaran petasan. Semua orang kagum pada petasan yang besar-besar itu. Seseorang bertanya kepada temannya,"Berapa harga petasan sebesar botol itu?" temannya hanya bisa menggeleng.

Pak Jalmo pun memantik korek api. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi letusan memekakkan telinga. Mereka terkejut. Ada yang mundur jauh-jauh, ada juga yang menutup telinga.

Tiba-tiba sebuah petasan terbang dan jatuh tepat di atas tumpukan petasan di atas tikar. Satu per satu petasan itu meledak. Ada yang terbang ke atas atap. Pak Jalmo panik. Hadirin kebingungan. Beberapa saat kemudian, atap rumah Pak Jalmo sudah di makan api. Orang orang yang hadir semakin takut. mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

" Tolong, toloooong!' teriak Pak Jalmo sekeluarga. Api telah menjalar ke rumah sebelah, ke lumbung, dan akhirnya ke kandang.

Pak Jalmo, Bu Jalmo, dan anak anaknya hanya bisa berteriak sambil menangis. Karena bingung dengan letusan petasan yang berloncatan kesana kemari, mereka tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan harta mereka. Beberapa saat kemudian, seluruh tempat tinggal Pak Jalmo telah menjadi lautan Api. Asap hitam mengepul ke udara, seolah olah memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa ada orang kaya yang jatuh miskin.

Tidak lama kemudian , rumah Pak Jalmo roboh diikuti lumbung dan dapur nya. Pak Jalmo, Bu Jalmo, dan anak anaknya duduk bersimpuh di sudut pekarangan sambil menangis tersedu sedu.

Kesimpulan
Cerita ini mengandung pelajaran bahwa orang yang miskin kemudian menjadi kaya harus tetap ingat akan asalnya. Selain itu, orang kaya tidak boleh menyombongkan kekayaannya. Tuhan Yang Mahakuasa mempunyai banyak bara untuk mencabut kekayaan seseorang. 
 
Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

Senin, 24 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kartini Bagi Lili

Kartini bagi Lili
Siang itu di sebuah rumah singgah di Jakarta, tampak beberapa anak kurang mampu sedang bermain main.
" Siapa yang mau pinjam buku?" tiba tiba seorang anak perempuan berpakaian bagus datang ke rumah singgah.

" Aku mau pinjam, Kak," ujar Dito salah seorang anak di rumah singgah.

" Akh, kamu Dito! Anak-anak di sini kan pada tidak sekolah.  Tidak bisa baca,"ujar Lili, seorang anak tuna netra di rumah singgah. Sesungguhnya, Lili iri. Pasti dalam buku itu banyak cerita menarik. Sayangnya, Lili tak bisa melihat, apalagi membacanya.

" Ya sudah, kalau belum pada bisa membaca, aku bacakan, ya", kata Arin, si anak permpuan berpakaian bagus itu. Arin memang dari keluarga berada. Ia bersimpati pada anak anak di rumah singgah.

" Di sebuah istana tinggallah seorang putri..."

" Yang cantik,baik hati dan penolong," potong Lili." Bosan, ah dengar cerita itu," omel Lili.

" Tapi cerita ini lain, lho. Ini kisah putri yang pemberani dan tangguh,yang berjuang mewujudkan mimpi."

Namun, Lili menukas." Mimpi? Kalau aku bilang, aku ingin melihat dunia, apa itu akan terjadi?"

Arin diam sebentar lalu berkata," Aku bisa membantu. Aku akan membacakan buku setiap hari untukmu. Dari buku kamu bisa melihat dunia," ujar Arin.

Lili akhirnya tersenyum. Tawaran Arin sangat menarik. 

Besok siangnya, Arin kembali untuk membacakan buku untuk Lili, Setelah membaca buku, Arin dan Lili berbincang.

" Kalau besar nanti, aku mau jadi guru," kata Lili sehabis Arin membacakan cerita tentang Ibu Kartini yang mendirikan sekolah untuk para perempuan. " Tapi... mana ada guru yang buta?"

" Tentu saja ada. Kamu, Li," sergah Arin." Aku punya sesuatu buatmu."Arin meletakkan sebuah buku di pangkuan Lili. Lili meraba buku itu. Ada titik - titik membentuk pola dalam lembaran- lembaran buku." Apa ini?" tanya Lili.

" Namanya hruf Braille. Huruf khusus untuk tunanetra. Supaya kamu juga bisa baca buku," Jelas Arin.

" Bagaimana cara membacanya?"

" Sini, aku ajari," ujar Arin membimbing tangan Lili." Yang ini haruf A, lalu B,C..."
Mulut Lili komat kamit menghapal huruf-huruf Braille itu.
" Dari mana kamu tahu huruf ini?" Tanya Lili penasaran.

"Tanteku. Seorang guru yang mengajar anak-anak tuna netra. Kelak, kamu bisa seperti dia," kata Arin. 

Hati Lili berdebar senang. Ia kini punya harapan untuk bisa membaca buku. Tiba-tiba Lili ingat cerita yang dibaca Arin tadi. 

"Arin, kamu adalah Kartini bagiku," ujar Lili. "Berkat kamu, aku yakin bisa menjadi guru kelak." 

Arin tersenyum senang. Hatinya bahagia. 

Hikmah Cerita
Meskipun kau punya kekurangan , tetapi jangan berputus asa. Selalu ada jalan bagi mereka yang ingin maju. Tanggal 21 April diperingati di Tanah Air sebagai Hari Kartini yang memperjuangkan kemajuan wanita dan perbaikan kondisi masyarakat Indonesia. 

Sumber : Kompas Minggu 19 April 2015 
Nusantara Bertutur 
Penulis : Fita Chakra
Ilustrasi : Regina Primalita 
 

Senin, 10 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Sumpit Kertas Membekas

sumpit kertas membekas
Perang tidak saja terjadi di Irak, tapi juga di kelas Sonya. Bahkan, lebih seru karena setiap anak perempuan berteriak-teriak saat pipinya terkena sumpit kertas, plop!. 

Bagaimana cara membuat senjata ini?
Gampang saja, ambil sedotan bekas teh botol sebagai sumpit, kemudian kertas basah yang dibulatkan kecil sebagai pelurunya. Yang lebih menjijikkan lagi, mungkin juga karena malas ambil air hanya untuk membasahi kertas, anak-anak biasa mengulum dulu kertas ini sebelum dipakai. 

Siapa sih pencetus permainan ini? 
Tidak ada yang tahu. Permainan ini telah ada turun temurun. Bahkan orang kita dulu pernah melakukannya. 

Sonya juga suka melakukan permainan ini. Tentu saja, saat tidak ada guru di kelas. Ane, Jean dan Martha lebih berani lagi. Mereka melakukan kapan saja mereka mau. Dengan sasaran siapa saja. Yang lebih berani lagi, Ane menyiapkan peluru berwarna. Sekali tembak langsung membekas. 

"Hari ini pelajaran kosong!" kata Ane bersemangat sekembali dari ruang guru. 

"Hore! Ayo kita main sumpit!" teriak Jean tak kalah semangat. 

Murid-murid tak perlu menunggu waktu lama, kata-kata Jean belum habis, tiba-tiba, plop, sebuah peluru kertas mendarat tepat di pipinya. 

"Au, ulah siapa ini?" katanya sambil meloto. 

Plop, satu lagi peluru mendarat di jidat Jean. Anak-anak tertawa. 

Jean langsung ngumpet di balik meja. Ia menyiapkan peluru berwarna. Dengan bergerak merangkak seperti seorang prajurit, Jean mendekati sasaran, kemudian menyerang tiba-tiba. Plop, plop, plop, bertubi-tubi Jean meniup sumpitnya. Sonya yang tepat berdiri di depannya tidak bisa menghindar. Wajahnya penuh totol merah akibat serangan Jean. 

"Au, aku menyerah!" kata Sonya kelabakan. 
Tapi Jean makin bersemangat. Teman-teman yang lain jadi ikut-ikutan menyerang. Sonya makin kewalahan. 

"Awas ya kalian semua, aku masih punya senjata rahasia!" kata Sonya sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. 

Hoho, Sonya menyiapkan mantera sihir!

"Ini dia sumpit mata seribu!" teriak Sonya sambil memulai serangan. 

Sonya meraup beberapa sedotan sekaligus, kemudian menembak. Keadaan kini terbalik, teman-temannya mulai kewalahan.

Mendadak Pak Kepsek masuk sambil mengeluarkan suara halilintar. 

"Tenang semua!" 

Hihihi, dalam sekejab semua seolah jadi patung. 

"Aku tidak mau dengar ada keributan lagi. Kalian semua bersihkan peluru-peluru kertas ini. Cepat lakukan, atau aku akan menghukum kalian semua berdiri di lapangan!" 

Murid-murid segera melakukan perintah. Pak Kepsek tersenyum puas. Tiba-tiba, plop, sebuah peluru mengenai hidungnya. 
"Maaf, Pak, tidak sengaja. Saya pikir sedotan saya sudah nggak ada pelurunya...." kata Jean terbata-bata. 

Untunglah Pak Kepsek tidak marah. Murid-murid jadi lega. Mereka cekikikan melihat wajah Jean yang pucat pasi. 

Tanpa di duga-duga, plop, sebuah tembakan tepat mendarat di puncak hidung Jean. Siapa yang berani melakukan? 

Hoho, Sonya sempat melihat ujung sedotan di saku Pak Kepsek. 

"Hus, jangan bilang-bilang kalau aku yang nembak ya," kata Pak Kepsek berbisik pada Sonya. "Aku jadi ingat waktu aku sekolah dulu, hihihi." 

"Ah, kenangan lama memang selalu membekas," kata Sonya dalam hati. 

Sumber: Majalah Bobo Edisi 02 tahun III, 27 Mei - 3 Juni 2003
Penulis : Sony 
Ilustrasi : Sabariman Rubianto


Minggu, 02 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Gobe dan Nenek Bici

Gobe dan Nenek Bici
Gobe termenung di kursi reot di depan rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar seruan yang memanggil namanya, "Gobe!". Gobe terkejut. Dari balik semak muncul seorang nenek. Wajahnya sungguh menakutkan. Gobe gemetar memandangi nenek itu. 

"Hehehe.... kau terkejut ya? Namaku Nenek Bici. Kita sekarang tinggal bersebelahan. Aku tetangga barumu yang tinggal di rumah bercat kuning itu," si nenek menunjuk rumah di sebelah rumah Gobe. "Kemarin aku berkenalan dengan Nona Jessy yang tinggal di depan rumahku. Ia sempat bercerita sedikit tentangmu. Katanya kamu pandai membuat kue." 

"Ah, Nona Jessy suka melebih-lebihkan," Jawab Gobe merendah. 

"Gobe,ini kuberikan sekeranjang telur untukmu sebagai tanda persahabatan kita. Telur-telur ini dari peternakanku sendiri," kata Nenek Bici. 

"Wah, terima kasih, Nek," ujar Gobe terkejut dan gembira. 

Gobe kini sibuk di dapurnya menyiapkan bahan untuk membuat kue cokelat stroberi. Gobe tidak lagi takut pada Nenek Bici. Walaupun buruk rupa, Nenek Bici ternyata baik hati. Ia mempunyai peternakan ayam petelur di pinggir kota. Setiap pagi Nenek Bici pergi ke peternakannya, dan sore hari baru kembali ke rumah. Ia tinggal seorang diri di rumah barunya. 

Nenek Bici selalu sibuk di peternakannya. Ia tak punya waktu untuk membuat roti atau kue yang akan dibawanya ke peternakan untuk para pekerjanya. Gobe senang setiap kali mendapat pesanan dari Nenek yang baik hati itu. 

Suatu hari Gobe melihat Nenek Bici berjalan gontai di depan rumahnya. Wajahnya tampak sedih. Gobe segera menghampirinya. 

"Sore ini Nenek tampak lesu. Nenek sakit?" tanya Gobe." 

Nenek Bici memandang lemah ke arah Gobe. "Tidak. Aku hanya sedih." 

"Mengapa?" tanya Gobe lagi. 

"Sudah sebulan ini telur-telur dari peternakanku kurang laku di pasar. Banyak peternak baru yang juga menjual telur di pasar tempat aku menjual telur-telurku."

"Berarti telur-telur itu kini menumpuk di peternakan?" 

"Ya. Aku bingung harus bagaimana. Aku khawatir bila terlalu lama, telur-telur itu akan membusuk." 

Gobe mencari akal untuk membantu Nenek Bici. 

"Nenek Bici, aku akan membantumu menjual telur-telur itu," kata Gobe dengan wajah cerah. 

"Ah, semua pasar di kota ini sudah kudatangi. Hasilnya sama saja!" seru Nenek Bici dengan nada putus asa. 

"Tenang saja, Nek. Aku punya cara sendiri. Yang penting besok aku tunggu telur-telur di rumah. Tapi Nenek baru boleh meminta hasil penjualan itu sebulan kemudian," kata Gobe bersemangat. 

Nenek Bici percaya pada Gobe. Karena itu, ia menuruti saran Gobe. Keesokan harinya empat peti telur telah berada di rumah Gobe. Ia segera membawanya ke dapur. Gobe mengolahnya dengan gembira. Gone membuat banyak sekali kue cokelat stroberi. Siang itu ia mengirimkan semua kue buatannya ke toko-toko kue dan roti di kota itu. Sepulang mengantarkan kue, Gobe membuat kue lagi sampai malam. Esok paginya ia mengantarkan ke toko-toko yang sama. 

Setelah hampir sebulan, telur-telur Nenek Bici mulai habis. Gobe pun menghitung hasil penjualan kuenya. Lumayan juga hasilnya. Aku akan menemui Nenek Bici malam ini, pikir Gobe. 

Nenek Bici sedang merajut pakaian hangat ketika Gobe datang. Saat itu udara sangat dingin. Nenek Bici menyuguhkan secangkir teh hangat. 
"Nek, telur-telur itu sudah habis. Sekarang saya membawa uang Nenek." 

"Kemana kau jual telur-telur itu Gobe?" tanya Nenek Bici gembira. 

"Telur-telur itu tidak saya jual, Nek. Saya gunakan untuk membuat kue cokelat stroberi. Lalu saya jual di toko-toko kue dan toko roti. Ternyata kue buatan  saya disukai orang." 

"Oh, syukurlah Gobe. Nenek senang mendengarnya." 

"Sekarang saya akan selalu memesan telur kepada Nenek untuk bahan kue. Jadi Nenek Bici tidak perlu lagi bersusah payah menjual ke pasar." 

"Oh, terima kasih Gobe. Kau sungguh baik," sambut Nenek Bici terharu. 

Sejak itu Nenek Bici selalu mengirimkan telur-telur dari peternakannya ke rumah Gobe. Gobe pun semakin rajin membuat dan menciptakan kue-kue baru. Dan berkat usahanya, Gobe akhirnya mampu membuka sebuah toko kue yang diberi nama "TOKO KUE GOBE."

Sumber : Majalah Bobo Terbit Tanggal 19 Juni 2003. 
Penulis : Ita D. Novita.

Sabtu, 01 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Sutina

kisah sutina
Sutina adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah desa terpencil dan jauh dari keramaian. Bila senja tiba, warga desa tidak ada satupun yang keluar rumah. Seolah tidak ada kehidupan di sana. Walaupun demikian, warga desa hidup dengan damai tentram dan sejahtera. 

Sutina anak sulung dari empat bersaudara. Jika tidak sedang membantu orang tuanya di sawah, Sutina mengerjakan pekerjaan rumah karena adiknya masih kecil-kecil. Meskipun demikian Sutina tak pernah mengeluh meski sekolah pun tak tamat. 

Suatu ketika datanglah Pak Jaya, orang kaya di desa. "Begini, maksud kedatangan saya adalah ingin mengajak Sutina ke kota. Di sana nanti ia bisa belajar menyanyi dengan serius dan melanjutkan sekolahnya lagi." 

"Tapi Pak Jaya, apa Sutina punya kemampuan seperti itu?" 

"Semalam saat Sutina menyanyi pada hajatan anak saya, saya yakin dia punya bakat. Kalau diasah pasti akan bagus." 

"Saya tidak yakin, Pak," kata Ayah Sutina. 

"Percayalah pada saya, Pak. Saya hanya kasihan pada Sutina yang memiliki bakat bagus, tapi tak bisa dikembangkan. Kalau di desa terus kapan bisa maju?" 

"Saya bicarakan dengan istri saya dulu. Saya juga harus tanya Sutina." 

Pak Jaya memberikan waktu tiga hari untuk berpikir. Sutina sempat menolak karena tak bisa hidup jauh dari keluarganya. Namun orang tua Sutina menyadari, jika Sutina hanya terus hidup seperti ini juga kasihan. 

Akhirnya orang tua Sutina menyetujui saran Pak Jaya. Maka dua hari kemudian, berangkatlah Sutina diiringi isak tangis ibu dan adik-adiknya. 

Sutina tinggal bersama adik Pak Jaya yang memiliki stuidio rekaman. Sutina diajarkan teknik menyanyi, mengatur napas hingga Sutina benar-benar menguasai. 

Sampai enam bulan, Sutina masih rajin memberi kabar. Namun setahun kemudian, dandanan, pakaian, gaya hidup Sutina telah berubah total. Apalagi ia mulai menjadi penyanyi terkenal. Hingga akhirnya ia Sutina melupakan orang tua, adik-adik, dan juga kampung halamannya. 

Sutina pun telah merubah namanya menjadi Inas. Dan setiap kali ditanya asalnya, Sutina tak pernah mau mengatakan, bahkan Sutina mengaku sebagai anak tunggal dan sudah tak memiliki orang tua lagi. Meski orang tua dan adik-adiknya sakit hati, mereka tidak ingin menuntut. Orangtuanya menyadari bahwa Sutina malu berasal dari keluarga miskin dan mereka yakin suatu saat Sutina akan sadar akan kekeliruannya. 

Sumber : Majalah Bobo Edisi 02 Thn III 
Terbitan : 27 Mei - 3 Juni 2003.

Senin, 13 Maret 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Hikmah Ulang Tahun

cerita anak / hikmah ulang tahun
Di sebuah rumah di Jakarta, seorang anak kelas 6 SD bernama Evi malam itu sedang melamun di ruang keluarga. Besok lusa hari ulang tahunnya. Evi lalu tersenyum-senyum sendiri.

"Kenapa tersenyum-senyum sendiri, Evi ?" tanya Papanya heran. Mamanya juga ikut memperhatikan sikap Evi.

Evi tak langsung menjawab. Ia lalu mengambil tasnya. "Lihat, Pa, Ma, tas Evi talinya hampir putus. Ulang tahun ini Evi dibelikan tas saja, ya? Saat hari ulang tahun Evi ingin ke sekolah pakai tas baru." pinta Evi penuh harap.

"Tentu saja boleh, sayang," jawab Papa.

"Horee, terima kasih, Pa, Ma," Evi pun girang.

"Ya sudah, Papa-Mama kan sedang sibuk, jadi biar Evi sendiri saja besok yang beli tas barunya, ya?" kata Papanya kemudian sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas pada Evi. Evi pun melonjak kegirangan.

Esok paginya, Evi pun menjemput Ruri teman sekelasnya untuk berangkat Sekolah. Ruri tinggal bersama ibunya yang sehari-harinya berjualan kue. Ayah Ruri sudah lama meninggal dunia. Ruri muncul dengan wajah kusut seperti belum mandi.

"Lho, jam segini belum siap, Ruri?" Evi terheran-heran.

"Aku tidak bisa sekolah hari ini," ujar Ruri dengan wajah sedih.

"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Evi heran.

"Ibu yang sakit. Demam tinggi," lirih Ruri," Aku nitip surat izin untuk Pak Guru, ya?"

Evi pun mengangguk . Saat ia berjalan ke sekolahnya, ia memikirkan Ruri yang seorang diri menunggui ibunya yang sakit. Dari mana pula uang untuk biaya berobat?

Usai sekolah. Evi yang sebelumnya berencana ingin membeli tas baru di supermarket, ternyata langsung pulang. Diam-diam ia lalu sibuk mengerjakan sesuatu di kamarnya. Ilmu Prakarya yang diajarkan Bu Guru Tika di kelas diterapkannya.

Esok paginya, saat hari ulang tahun Evi tiba, Papa dan Mamanya kaget melihat Evi ternyata tak mengenakan tas baru saat akan berangkat sekolah.

"Lho, Evi, katanya ulang tahun mau pakai tas baru ke sekolah?' tanya Papanya. Evi memang masih memakai tas lama, tapi talinya yang hampir putus tampak sudah dijahit.

"Maafkan Evi, Pa, Ma. Uang dari Papa kemarin tidak Evi belikan tas.

"Terus?" Mamanya kali ini yang bertanya.

"Uang itu Evi berikan Ruri kemarin sore," jawab Evi.

"Kenapa?" tanya Papanya.

"Ibunya Ruri sakit, perlu uang untuk berobat." Evi lalu menceritakan kondisi Ibunya Ruri. "Tidak masalah, Evi masih pakai tas yang lama. Ternyata bisa Evi jahit lagi dan masih layak pakai."

Papa dan Mamanya terharu dan bangga. Putri mereka ternyata mau peduli menolong sahabatnya yang sedang kesulitan.

Hikmah Cerita
Berbuat baik dan suka menolong terhadap sesama yang kesulitan adalah perbuatan yang mulia. 

Sumber : Kompas Minggu, 8 Maret 2015. 
Penulis : Suhamdani 
Ilustrasi : Regina Primalita

Kamis, 02 Maret 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Misteri Pohon Rambutan

Misteri Pohon Rambutan
Untuk kesekian kalinya, Edi merasa heran bercampur jengkel ketika melihat halaman depan rumah yang akan disapunya. Kulit, biji, dan sisa sisa buah rambutan bertebaran. Sudah hampir seminggu ini, setiap hari selalu ada sampah buah rambutan di tempat yang sama, di bawah pohon sawo duren yang tumbuh di halaman depan.

SEKARANG memang musim rambutan. Pohon rambutan di belakang rumah Edi berbuah lebat dan sebagian sudah berwarna merah siap dipetik. Siapa yang mengambil rambutan dan membuang sampahnya disini.? Edi merasa gemas dan ingin tahun siapa yang melakukan ini. 
"Aku harus menyelidiki hal ini," pikir Edi. 

Setelah naik ke kelas empat atau sekitar tiga bulan lalu, Edi mendapat tugas dari Ayah, menyapu halaman depan sebelum berangkat ke sekolah. Edi senang mengerjakan tugas itu. Setelah menyapu, Edi mandi dan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah diantar Ayah naik motor. 

Pagi itu, saat sarapan bersama Ayah dan Ibu, Edi menyampaikan keinginannya. "Ayah, aku ingin menyelidiki siapa yang mengambil rambutan di pohon kita dan membuang sampahnya di halaman depan. Rambutan itu pasti diambil malam hari ketika kita tidur karena pada sore hari saat aku pulang mengaji, sampah itu belum ada." 

Ayah tersenyum mendengar ucapan Edi. Ia kemudian menoleh ke penanggalan yang tergantung di dinding rumah dan berkata. 
"Baiklah, besok sabtu malam, kita selidiki pelakunya. Kebetulan bulan sedang purnama, kita tidak membutuhkan senter. Tolong kamu siapkan tikar, baju hangat, bantal dan selimut. Kita akan tunggu si pelaku beraksi. "Ayah memberi ide dengan bersemangat.  

Ibu tak mau tinggal diam. "Ibu akan bantu misi ini dengan menyiapkan makanan kecil dan minuman hangat, serta krim anti nyamuk," katanya sambil mengedipkan mata ke Edi. 

Edi senang karena mendapat dukungan dari Ayah dan Ibu. 

HARI sabtu sepulang sekolah dan makan siang, Ibu meminta Edi tidur siang agar tidak mengantuk saat penyelidikan. 

Kata Ayah, penyelidikan akan dilakukan setelah shalat Isya dan makan malam. 

Tikar digelar di halaman yang kering, menghadap ke pohon rambutan. Bantal, Selimut, makanan dan minuman diletakkan dengan rapi diatas tikar. Ibu membantu mengoleskan krim anti nyamuk ke tangan dan kaki Edi. 

Menunggu malam agak larut, Edidan Ayah duduk sambil bertukar cerita tentang kegiatan-kegiatan di sekolah dan di tempat kerja. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ayah meminta Edi berbaring di atas tikar, tidak berbicara lagi, mengamati pohon rambutan, sambil menikmati keindahan bulan purnama dan bintang-bintang yang bertaburan di langit. 

Setelah 20 menit berbaring. Tiba-tiba dari langit utara terlihat beberapa kelelawar terbang menuju pohon rambutan. Makhluk kecil berwarna hitam dan bersayap lebar itu beterbangan di sekitar pohon, mengeluarkan suara mencicit, dan menimbulkan gemirisik. 

Edi terenyak, matanya tak bisa lepas dari pemandangan yang ada di hadapannya. Cahaya bulan memberikan sinar yang cukup terang sehingga Edi bisa mengamati kesibukan di pohon rambutan itu, 

KELELAWAR mencari buah rambutan yang ranum dan memetiknya dengan mulut, lalu terbang menjauh. Ayah meminta Edi bangkit dan memakai sandalnya. Tanpa suara, Edi mengikuti Ayah menuju halaman depan. Di sisi samping rumah yang gelap, Ayah berhenti dan merapat ke dinding. Ayah berbisik kepada Edi untuk mengamati satu batang pohon sawo yang tinggi, tempat kelelawar berada. Kelelawar-kelelawar tampak bergantungan sambil menikmati buah rambutan. Dengan mulut, mereka mengupas kulit, memakan buah, dan menjatuhkan bijinya di halaman. 

Ada kelelawar yang kurang hati-hati sehingga buah rambutan yang akan dimakan terjatuh. Edi dan Ayah terus mengamati kelelawar-kelelawar itu sampai semua terbang menjauh menuju arah selatan. 

AYAH mengajak Edi kembali duduk di tikar di halaman belakang. Edi berbisik bertanya kepada Ayah. "Mengapa kelelawar memakan buah rambutan di pohon sawo duren dan tidak memakan langsung di pohon rambutan?" 

Ayah menerangkan dengan suara perlahan bahwa terkadang kelelawar memakan buah yang matang langsung di pohonnya. Karena itu, kita sering menemukan buah pepaya atau jambu yang matang di pohon, tetapi sudah tidak utuh lagi. 

Jika ukuran buah tidak terlalu besar, mereka akan membawa buah matang ke pohon lain, mencari tempat bergantung yang nyaman dan aman untuk makan. Pada saat yang sama, kelelawar juga menebarkan biji-biji buah di tempat baru, jauh dari pohon asalnya. 

 Ayah  menunjuk ke langit arah utara, serombongan kelelawar datang lagi ke pohon rambutan di hadapan Edi. Namun, setelah membawa buah di mulutnya, kelelawar tidak terbang ke pohon sawo di halaman depan, tetapi terbang ke tempat lain. 

Edi senang, penyelidikannya berhasil. Kini ia tahu siapa mengambil buah rambutan dan membuang sampahnya di halaman depan. Edi tidak akan kesal lagi dengan sampah buah rambutan yang bertebaran di halaman yang disapunya setiap pagi. 

Sumber : Kompas minggu, 22 Februari 2015
Penulis : Retno Widowati 
Ilustrasi : Lintang Pandu Pratiwi

Jumat, 23 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Buyung Arai dan Koto Ayam Jago

buyung arai dan koto ayam jago
Dahulu kala, hiduplah seorang anak laki-laki cerdik dari Desa Lubuk Silau, Sumatera Barat. Buyung Arai, namanya. Seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya, Angku Ketek. Buyung Arai tidak dapat dipisahkan dari Koto si ayam jago, warisan mendiang kedua orangtuanya.

Banyak orang mencari Buyung Arai, mereka ingin memiliki Koto karena konon ayam jagonya itu dianggap yang terhebat. Kokok nyaringnya benar-benar ampuh untuk membangunkan orang-orang yang malas bangun pagi. 
Namun, Buyung Arai selalu menggeleng tegas setiap kali datang padanya saudagar-saudagar kaya  yang ingin menukarkan banyak uang dengan ayam jago miliknya. 

"Huk...Huk...Huk." 
Buyung Arai terkejut. Ia sedih melihat Angku Ketek sakit. Padahal, tidak ada uang untuk membeli obat. Selama Angku Ketek sakit, tugas mencari kayu bakar dikerjakan Buyung Arai sendirian. Buyung Arai lalu berjalan ke pasar untuk menjual kayu bakar. Ternyata di pasar ada pengumuman sayembara dari Raja. Buyung Arai bertekad mengikutinya. 

Hari ini, Buyung Arai berada di istana untuk mengikuti sayembara Raja, barang siapa berhasil mengubah kebiasaan bangun siang Pangeran Bonai menjadi bangun pagi. Raja akan menghadiahkan sekantong emas. 

Buyung Arai duduk bersimpuh di hadapan Raja Tuo dengan Koto di sampingnya. 
"Hmmmm, ayam jago," Raja Tuo menggelengkan kepala. "Istana punya banyak ayam jago. Namun, tidak satu pun suara kokok ayam jago mampu membuat Pangeran Bonai bangun di pagi hari. 

"Benar, Yang Mulia. Sesungguhnya tidak ada seekor ayam jago pun yang mampu membangunkan seseorang untuk bisa bangun di pagi hari," kata Buyung Arai. 

Raja Tuo mengerutkan dahi. 

"Selama ini, orang-orang menganggap kokok ayam jago ini yang membangunkan mereka di pagi hari. Namun, hamba pikir, bukan. Ada orang-orang yang mendengar kokok ayam jago ini, mereka tetap saja tidur. Sedangkan di tempat lain, orang-orang yang tidak pernah mendengar ayam jago ini berkokok, mereka tetap bisa bangun pagi." 

Raja Tuo tampa mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, apa sesungguhnya yang bisa membuat orang mempunyai kebiasaan bangun pagi?" tanya Raja Tuo. 

"Tanggung jawab. "Orang yang biasa bangun pagi karena ia bertanggung jawab akan tugas-tugasnya."

Pangeran Bonai memerah wajahnya mendengar penjelasan Buyung Arai. Selama ini, ia malas bangun pagi, padahal ia adalah calon raja penerus tahta ayahnya. 

Buyung Arai memenangkan hadiah sekantong emas yang dipergunakan untuk membeli obat buat kakeknya. 

Hikmah Cerita

Jadilah anak yang selalu bertanggung jawab terhadap tugas maupun kewajiban yang diamanatkan kepada kita. Banyak kebaikan yang akan kita petik dengan bertanggung jawab.


Sumber: Kompas terbit 7 Desember 2014
Penulis: Pupuy Huriyah 
Ilustrasi: Regina Primalita

Selasa, 20 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Nasi Menangis

nasi menangis
"Ayo Noe habiskan nasinya, tidak baik loh membuang-buang makanan terus-menerus," Ibu selalu membujuk Noe untuk menghabiskan makanannya karena Noe suka sekali menyisakan makanan yang dia makan.

"Ah ibu, Noe sudah kenyang. Noe tidak mau menghabiskannya lagi," kata Noe bersikeras untuk tetap tidak mau menghabiskan nasinya tersebut.

"Ya sudah, kalau begitu. Tetapi lain kali jangan seperti ini lagi ya," Kata Ibunya sambil membereskan piring dan membawanya masuk ke dapur.

Noe, hanya diam dan tidak memperdulikan perkataan ibunya, Ia memang selalu seperti itu, padahal di luar masih banyak orang yang kekurangan makanan.

Setelah makan Noe langsung tertidur pulas karena kekenyangan, tapi tiba-tiba ia mendengar suara tangisan dari dapur, Ia pun bergegas untuk menghampirinya, dan ingin tahu siapa yang menangis di dalam dapur.

"Hiks...hiks... kamu jahat Noe, kenapa kamu membuangku? Padahal kan masih banyak yang membutuhkan aku, masih banyak orang yang kelaparan di luar sana," Ternyata suara itu adalah tangisan nasi yang tadi Noe makan dan Noe tidak menghabiskannya. Noe terus saja memperhatikan nasi itu.

"Kalau kamu memang tidak suka memakanku, aku tidak akan berada dalam rumah ini lagi, biarlah kalian semua kelaparan," Teriak Nasi itu marah dan terus menangis.

Noe langsung menghampiri nasi tersebut dan meminta maaf atas kesalahannya, karena bagaimana kalau di rumah itu tidak ada nasi, oh pasti dia akan sangat menderita.

"Maafkan aku nasi, tetaplah di sini karena kamu adalah makanan pokok yang harus aku makan setiap hari," Noe memohon dengan harapan nasi akan memaafkan perbuatannya.

"Aku akan memaafkanmu, tetapi kamu harus berjanji tidak akan menyisakan makanan yang sedang kamu makan, dan tidak akan membuang-buang makanan lagi," Nasi membuat kesepakatan dengan Noe.

Noe pun berjanji, Ia akan selalu menghabiskan makanannya dan tidak akan membuang-buangnya lagi.


Sumber: Buku "Kisah Dari Negeri Dongeng" 
Disusun oleh: Mulasih Tary 
Penerbit: Pustaka Anak-Yogyakarta.

Jumat, 09 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Jejak Kebaikan

jejak kebaikan
Nah, bersiap semua. Konsentrasi penuh!" Bu Neneng memberi aba-aba. Kami yang sudah duduk melingkar dengan kelompok masing-masing, menunggu dengan hati berdebar. Nining ketua kelompokku memegang amplop putih berisi selembar kertas folio bergaris. Di dalamnya, ada satu kalimat. Nah, kalimat itul akan menjadi kalimat pembuka karangan kami. Kertas itu akan digilirkan pada setiap anggota, kemudian ia harus menuliskan satu kalimat lanjutannya. Bu Neneng, memberi waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan tugas kami semua.

Saat ini, kelas kami terbagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok terdiri dari enam orang. Kelompokku sendiri hanya beranggotakan 5 orang. Biaz, sahabatku, hari ini tidak masuk karena sedang keluar kota.

"Mulai!" kata Bu Neneng sambil menyalakan penghitung waktu, Nining membuka amplop, lalu membacakan isinya untuk kami.
"Melakukan satu kebaikan setiap hari, sesungguhnya sangat mudah." Itu kalimat pembukanya. Nining mulai menulis satu kalimat lanjutan. Lalu Raisa, Yenni, aku, kemudian kembali kembali ke Nining. Begitu seterusnya. Ternyata seru juga. Aku merasa tertantang untuk menemukan satu kalimat lanjutan yang tepat.

Tiba-tiba, pintu kelas diketuk seseorang. Pak Rahwini, guru matematika kami, berdiri di depan pintu. Pak Rahwini membisikkan sesuatu pada Bu Neneng. Setelah Pak Rahwini pergi, Bu Neneng berdiri di depan kami. Wajahnya tampak berkabut.

"Anak-anak, ada kabar duka," Bu Neneng terdiam sejenak. Tangannya gemetar menghapus air mata yang menetes. Kami menunggu dengan cemas. Kabar duka apakah?
"Teman kita, Biaz, meninggal dunia karena kecelakaan," begitu lemah suara Bu Neneng ketika mengatakan itu. Tetapi, karena suasana kelas demikian hening, suara itu terdengar sangat jelas.

Aku terhenyak, kemarin, kami masih main bola bersama sepulang sekolah. Lalu sore hari, aku bermain ke rumahnya. Biaz hendak meminjamkanku sebuah buku ensiklopedi. Saat itu, Biaz bercerita bahwa hari ini ia akan ke Solo bersama ayahnya. Pamannya akan menikah. Ibu Biaz sudah lebih dahulu berangkat ke Solo.

Sekarang, Biaz telah meninggal. Meninggal berarti pergi dan tak akan kembali. Seperti ibuku dulu. Aku mulai merasa sedih dan kehilangan. 

"Setelah jam istirahat, kita sama-sama ke rumah Biaz. Sekarang untuk mengenang Biaz, mari kita buat tulisan tentangnya," kata Bu Neneng.

Lalu, Bu Neneng menuliskan satu kalimat di papan tulis: Biaz adalah teman istimewa kami. 
"Mulailah dengan kalimat itu, lalu tuliskan lanjutannya di kertas masing-masing," kata Bu
Neneng.

Kami mulai menulis. Rahisa terdiam lama, matanya berkaca-kaca. Yenni bahkan menulis sambil berkali-kali mengusap air mata. Aku gemetar memegang bolpoin. Banyak yang ingin kuungkapkan tentang kebaikan-kebaikannya.

Sejak kelas tiga hingga kelas enam sekarang, aku sebangku dengannya. Biaz memang teman yang baik. Aku ingin menuliskan semua kenanganku bersamanya. Aku ingin ibunya tahu, bahwa Biaz sungguh istimewa.

Tiga puluh menit kemudian, Bu Neneng memecah kehingan kelas."Adakah yang bersedia membaca tulisannya".

Tidak ada satu pun yang mengacungkan tangan. Bu Neneng mendekatiku. "Haikal, tolong bacakan tulisanmu, ya?"
 Aku maju ke depan kelas. Aku menarik nafas panjang sebelum membaca.

"Biaz adalah teman istimewa kami. Sudah hampir empat tahun kami duduk bersama, tak pernah ia usil padaku. Biaz pandai menghiburku saat sedih. Suatu hari, ketika aku kehilangan jam tanganku, ia menghiburku dengan berkata,"Kamu pasti akan dapat ganti jam yang lebih baik. Seperti aku, ketika kehilangan topi dulu.
Walau pintar, Biaz tidak pernah sombong. Ia selalu mau mengajari pelajaran-pelajaran yang aku tidak mengerti. Biaz juga cepat memaafkan, sehingga tidak pernah mendendam. Semoga aku bisa meniru semua kebaikannya...."

Selesai. Kelas sungguh hening. Suara isak tangis teman-teman perempuanku terdengar. Kami semua kehilangan teman terbaik. Walaupun demikian, aku yakin, Biaz akan selalu kami kenang. Jejak kebaikannya akan selalu membekas di hati kami.

Oleh: Umi Kulsum 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 32, Terbit tanggal 14 November 2013.

Senin, 28 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Toko Kue Persahabatan

cerita anak, toko kue persahabatan
Sudah seminggu Ajeng tidak masuk sekolah. Katanya Ajeng sudah tiga bulan menunggak uang sekolah. Aku yang teman sebangku Ajeng pun menjadi khawatir. Ajeng itu pintar dan lucu. Sungguh bosan bila Ajeng tidak masuk sekolah.

Siang ini, aku berniat menjenguk Ajeng. Berbekal kertas alamat yang kudapat dari tata usaha, aku naik ojek ke rumahnya. Setelah nyasar hampir setengah jam, akhirnya ketemu juga!

Rumah Ajeng yang kecil terletak di sudut gang yang sumpek. Penerangannya kurang karena tertutup oleh pohon yang lebat daunnya.

Ajeng terlihat kaget saat aku datang. Ia memang tidak pernah mengajak kami main ke rumahnya. Ia terlihat kikuk, namun segera mempersilakan aku masuk.
"Maaf, rumahku kecil. Kamu mau minum?"
Aku menggeleng dengan cepat.
"Ajeng, kamu kapan masuk sekolah? Nggak ada kamu rasanya sepi sekali."
Ajeng yang lucu itu hanya terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaanku.
"Aku juga ingin segera sekolah, Ra. Tapi sudah tiga bulan aku tidak bayar SPP. Ibuku belum punya uang."
"Ibumu tidak bekerja?" tanyaku penasaran.
"Ibuku berjualan kue, Ra. Tapi sepi. Sekarang Ibu sedang membersihkan kebun orang. Ibu bekerja apa saja."
"Jualan kue dimana?"
Ajeng menunjuk ke ruang tamu keluarga yang pintunya memang sengaja dibuka. Ada etalase kecil yang sudah berdebu, terisi beberapa potong kue.
Jelas saja sepi, Tidak terlihat dan gelap begini, tak akan ada orang yang tahu kalau ada kue di sini. Kue yang dipajang pun tidak menarik.

Aku mendekati etalase itu. Hanya ada lima potong kue yang dipajang. Ditaruh di piring plastik yang kusam.
"Ambil saja kalau kamu mau, Ra. Biasanya ada beberapa rasa, tapi karena tidak laku, sekarang Ibu hanya membuat satu macam."
"Ini barang jualan, Jeng, biar aku bayar ya," dengan cepat aku selipkan sepuluh ribuan ke saku Ajeng. Ajeng tidak menolak, hanya mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Aku ambil sepotong kue itu, lalu aku makan. Enak sekali! Teksturnya sungguh lembut dan gurih. Di dalamnya ada krim keju manis yang lumer saat digigit. Sayang sekali kalau kue selezat ini tidak ada pembelinya!

Sore itu, sepulang dari rumah Ajeng, pikiranku dipenuhi berbagai cara untuk membantu Ajeng. Saat Mama pulang kerja, aku ceritakan semuanya. Juga tentang toko kue Ajeng dan kue yang lezat itu. Aku berharap Mama bisa membantuku.
"Mama bisa membantu. Tapi, tapi Mama butuh bantuanmu dan Ajeng."
"Bantuan apa, Ma?" tanyaku bersemangat.

Ternyata, Mama bersedia mendesign logo dan papan nama untuk toko kue Ajeng secara gratis. Aku dan Ajeng harus membantu memotong dahan pohon yang terlalu lebat. Dengan begitu, orang bisa melihat papan nama toko kue Ajeng. Supaya lebih terang, Mama juga menugaskan kami memasang lampu. Tak lupa, mempermanis etalase toko dan membagikan brosur di depan gang. Aku sangat setuju dengan ide Mama. Tunggu sampai Ajeng dengar kabar ini besok!

Keesokan harinya, aku datang lagi ke rumah Ajeng. Mulanya Ajeng nampak ragu mendengar berita dari aku. Ia juga takut biayanya mahal. Tetapi, segera kujelaskan bahwa Mama akan membantu secara cuma-cuma. Akhirnya Ajeng setuju.

Selama seminggu penuh, aku dan Ajeng bekerja keras bersama. Kami memotong dahan pohon yang lebat, memasang lampu, dan mempermanis etalase. Kami mengelapnya dan mengganti piring plastik kusam itu dengan piring cantik warna warni.

Mama Ajeng akan memanggang lebih banyak kue dan kami akan menaruhnya di dalam plastik supaya lebih higienis. Brosur sudah kami bagikan, dan sebagain kami masukkan ke kotak-kotak surat.

Hari kelima, Mama datang dengan papan nama yang cantik sekali. Ada tulisan"Toko Kue Persahabatan" yang ditulis besar-besar. Berwarna merah muda. Ada gambar kue yang lezat sekali di samping tulisan.

Kami tidak menyangka kalau sekarang toko kue ini sungguh berbeda. Cantik, bersih, dan terang. Kami berdua puas sekali.
"Mungkin berikutnya aku bisa pasang musik dan menaruh kursi," kata Ajeng bersemangat.
"Setuju!" Aku menimpali."Siapa tahu, ini bisa jadi kafe terkenal."
Kami berdua terkikik.

Di hari pertama Toko Kue Persahabatan resmi dibuka, banyak pengunjung yang datang. Benar saja, kue Mama Ajeng yang lezat itu dalam sekejap mata langsung ludes! Ajeng dan Mamanya sampai kelabakan, karena tamu masih saja datang, padahal kuenya sudah habis.

Setelah beberapa hari, Ajeng kembali masuk sekolah. Ia tersenyum saat melihatku."Ini kue spesial untukmu dan mamamu. Mamaku sekarang berjualan kue lagi. Toko kue kami semakin ramai. Sebentar lagi aku pasti bisa melunasi SPP-ku yang tertunggak." matanya berkaca-kaca."Terima kasih Rara..."
Aku memeluk Ajeng. Indahnya persahabatanku dengan Ajeng, manis dalam suka dan duka.

Oleh: Rika Hajasi 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 28 Terbit 17 Oktober 2013


Selasa, 22 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Nona Rumah Yang Baik

cerita anak: nona rumah yang baik
"Besok Tante Indri mau main ke sini," kata Mama sambil sibuk menyiapkan makan malam.

"Besok? Ria berhenti mengelap piring makan. "Dengan Moza?"

Mama tersenyum, memandang Ria. "Tentu saja."

Ria meneruskan membantu Mama menyiapkan makan malam. Tetapi pikirannya tak lagi berpusat pada kegiatan yang dikerjakannya. Ria memikirkan besok. Memikirkan Moza.

Besok, aku bisa bilang pada Mama, sudah ada janji ke toko buku dengan Penny. Ria tersenyum senang. Tetapi mendadak Ria ingat sesuatu. Baru kemarin ia ke toko buku. Pasti Mama tak mengizinkan. Hmmm, aku akan bilang pada Mama, mau antar Bella ke rumah neneknya. Setiap Minggu Pagi, Bella, kan ke rumah neneknya.

Tetapi, Ria menjadi ragu. Mama tahu, Ria tak suka berlama-lama di rumah nenek Bella.

Aha! Ria menjentikkan jari. Besok aku akan ikut Papa ke bengkel. Tadi Ria sempat mendengar pembicaraan Mama dan Papa soal mobil yang harus di bawa ke bengkel. Tetapi, lagi-lagi Ria Ragu. Apa Iya Papa mau mengajaknya ke bengkel?

Hu-uh! Ria bingung sendiri dengan rencana-rencananya. Bagaimana besok saja, deh! Ria menyerah.

Sebenarnya Ria senang setiap kali Tante Indri datang. Tante  Indri adalah sepupu Mama. Jadi, dan Moza masih bersaudara. Setiap kali datang, Tante Indri membawa cerita-cerita menyenangkan. Tante Indri bekerja di stasiun televisi. Ada saja cerita-cerita lucu yang diceritakannya saat mewawancarai seseorang.
Tetapi Moza....

"Ria." Mama memanggil Ria yang mematung di dekat jendela kamar. "Tante Indri dan Moza sudah datang."

Ops! Ria mengangguk pada Mama setelah akhirnya memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana hari Minggu ini. Ria memutuskan untuk menjadi nona rumah yang baik bagi Moza.

"Ya ampun, Ria.... Kamu tambah hitam aja sih." Moza berseru begitu tiba.

Ria tersenyum kalem. "Hitam-hitam kereta api. Biar hitam banyak yang menanti."

Moza tak menghiraukan gurauan Ria. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, mengikuti Mama dan Tante Indri.

Sementara Mama menemani Tante Indri, Ria menemani Moza.

"Ih! Ini boneka kamu? Moza menunjuk boneka beruang tua di sudut sofa.

Ria mengambil boneka beruang tua dan memeluknya."Ini boneka kesayanganku."

Moza mengendikkan bahu, jijik. Lalu Moza bercerita," Kamu tahu, kemana Mama Papa mengajakku liburan sekolah kemarin?"
Ria menggeleng.
"Negeri Kincir Angin."
"Wow, menyenangkan sekali!"
"Kamu belum pernah ke sana, kan?"
Ria tersenyum menanggapi ucapan Moza.

"Uh! Panasnya Moza mengeluarkan kipas dari tasnya. Ia sibuk berkipas-kipas sambil berkeluh kesah tentang cuaca panas.

Ria ingin terbahak-bahak melihat tingkah Moza yang angkuh, tetapi ia menahannya. "Ya, cuaca hari ini memang agak panas," senyum Ria.

"Di rumahku, tidak sepanas ini karena setiap ruangan ada AC." Moza masih sibuk dengan kipasnya.

"Kalau kamu mau, pakai kipas angin aja ya," Ria berdiri hendak mengambil kipas angin.

"Ah nggak usah." Moza menepiskan tangan.

Ria menawarkan es sirup dan kue pada Moza.
"Kue apa ini?" Moza menunjuk kue berbalut daun pisang.
 "Ini kue pisang. Terbuat dari tepung beras dan pisang uli. Mama dan aku yang membuatnya. Coba, deh." Ria menyodorkan piring kue pada Moza.

Moza menggeleng.
"Ini ada biskuit." Ria membuka kaleng biskuit.
Lagi-lagi Moza menggeleng.
"Atau ini?" Ria mendekatkan piring kue lapis legit ke arah Moza.
"Uh! Bosan, deh. Lapis legit lagi, lepis legit lagi."
"Maaf, enggak ada yang lain."

Moza tak menghiraukan kata-kata Ria. Ia mengambil gelas sirup. "Uh! Kurang manis!" Moza cemberut.

"Biar kutambah sirupnya, ya."Ria menawarkan
"Nggak usah," geleng Moza sambil meneguk habis es sirup.

Ria menutup mulut rapat-rapat, khawatir tawanya meledak melihat tingkah Moza yang sombong.

Hampir dua jam Ria menemani Moza. Saat Tante Indri dan Moza berpamitan, Ria dan Mama mengantar ke depan rumah.

"Terima kasih, Tante. Terima kasih Moza," ujar Ria.

Tante Indri mengecup kedua pipi Ria, sementara itu, Moza melompat ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa. Saat Mobil yang membawa Tante Indri dan Moza berbelok di tikungan, Ria menarik napas lega.

Mama yang berdiri di samping Ria, tersenyum. Mama merangkul bahu Ria. Jelas terpancar kebanggaan di wajah Mama atas sikap Ria sebagai nona rumah.

Oleh: Pupuy Hurriyah
Sumber: Majalah Bobo Edisi 09, Terbit 6 Juni 2013.





Senin, 21 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Memancing Belut

cerita anak: memancing belut
Kletok!
Bagas meletakkan stick PlayStation. Sudah dua jam lebih ia memainkan Winning Eleven terbaru setelah makan siang tadi. Ia bosan bermain sendiri.

Liburan sekolah kali ini, hanya ia isi dengan bermain game. Ayah dan Ibunya sangat sibuk berjualan di pasar. Tak ada acara piknik keluarga ke tempat wisata. Akhirnya, Bagas memutuskan keluar rumah untuk menghilangkan kejenuhan. Ia mengambil sepeda di garasi.

Semenjak di belikan PlayStation oleh Ayah, Bagas tak pernah lagi bermain di luar rumah dengan teman-teman sebaya. Ayah dan Ibunya senang Bagas selalu berada di rumah. Mereka tak bisa selalu mengawasi Bagas karena terlalu sibuk di pasar. Itulah alasan mereka membelikan Bagas PlayStation.

Di tengah jalan, Bagas berpapasan dengan Rudi dan Tono. Di tangan mereka masing-masing ada sebuah ember. Juga ada sebilah lidi enau yang dipasangi tali senar dan kawat pancing.

"Mau kemana?" tegur Bagas.
"Memancing Belut," jawab Tono
"Memancing belut?"
"Iya. Mau ikut?" tawar Rudi.
Bagas mengangguk. Daripada tidak tahu harus ke mana, lebih baik ikut mereka. Ia juga penasaran, ingin tahu cara memancing belut. Kalau memancing ikan nila dan ikan mas, ia pernah ikut Ayah ke kolam pemancingan. Ayahnya memang hobi memancing.

Bagas menitipkan sepeda di rumah Tono. Mereka langsung menuju sawah yang tak terlalu jauh dari perkampungan. Mulanya Bagas ragu menginjakkan kaki di lumpur. Ia takut kotor. Bagas hanya berdiri di pematang.

"Ayo! Tidak apa-apa," kata Rudi.
Bagas menurut. Ia turun dengan pelan. Bagus tidak takut lagi celana pendeknya kotor. Nanti bisa dicuci di sungai. Bagas meminta Tono menjelaskan cara memancing belut.

"Mula-mula, temukan lubang kecil di permukaan lumpur," Jelas Tono."Setelah itu, jentikkan jari di permukaan lubang. Jika airnya naik, berarti ada belutnya. Tinggal kita ulurkan pancing kita."

Bagas mengangguk mengerti. Ia mencari-cari lubang di atas lumpur. Tak berapa lama, ia menemukannya, Ia tampak senang.


"Hei, di sini ada lubang!" teriak Bagas. Tono dan Rudi segera mendekat.
"Coba jentikkan jarimu,"Suruh Rudi.
Bagas menjentikkan jarinya di permukan lubang. Tiba-tiba, air dalam lubang naik dan meluber keluar.
"Iya, itu lubang belut. Cepat, ulurkan pancingmu." Tono bersemangat.

Karena Bagas belum tahu cara memancing belut, maka Rudi yang melakukannya. Ia melambung-lambungkan umpan di atas permukaan air pada lubang. Air dari lubang naik ke permukaan.
Cuuuuup!
Umpan disambar dan ditarik ke dalam lubang. Setelah mendiamkan beberapa detik, Rudi menariknya.
"Kena!" jerit Rudi. Ia menarik senar dengan kuat. Belut pun terayun-ayun keluar dari lubang.
"Wah belutnya besar sekali!" seru Bagas kagus.
Tono dan Rudi tak kalah senang. Ini tangkapan pertama mereka.

Dengan penuh semangat, mereka mencari lubang-lubang belut yang lain. Bagas kembali menemukan sebuah lubang di pinggiran pematang.
Ia mengulurkan pancing. Dan ... cuuppp! Umpannya langsung disambar. Begitu senar berhasil ditarik, Bagas terlonjak kaget dan melompat ketakutan. Ternyata, yang ia pancing bukan lubang belut, melainkan lubang ular.

Tono dan Rudi meminta maaf karena tadi lupa menjelaskan, bahwa tak semua lubang di sawah itu lubang belut.
"Untung bukan tanganmu yang digigit," kata Tono. Bisa ular tanah memang tak sehebat bisa ular cobra. Tetapi, ular tanah juga berbahaya.

Tak terasa, hari sudah sore. Ember sudah penuh puluhan belut. Bagas senang sekali. Ternyata memancing belut lebih menyenangak daripada bermain game. Ketika Tono mau memberikan jatah Bagas, Ia menolak. Bagas tak pernah makan belut. Tak ada yang bisa memasaknya di rumah.

Ketika Bagas makan malam bersama Ayah dan Ibu, Tono datang bertamu menenteng rantang.
"Apa ini?" tanya Bagas.
"Belut hasil tangkapan kita yang dimasak ibuku dengan sambal kuning."
Ayah dan Ibu saling pandang. Mereka juga tak pernah makan daging belut. Karena penasaran, mereka mencicipi.
"Wah, enak sekali!" Puji Ibu.
Ayah dan Bagas juga tak ketinggalan memberikan pujian. Mereka baru tahu, ternyata daging belut enak sekali.

Ayah Bagas lalu meminta Bagas dan Tono mengajaknya memancing belut besok. Ibu juga berjanji akan belajar cara memasak belut yang enak pada Ibu Tono.

Bagas gembira. Akhirnya orang tuanya punya waktu menemaninya. Pasti menyenangkan memancing belut bersama Ayah, pikir Bagas. Ia tak sabar menunggu hari esok tiba.

Oleh: Muhammad Saleh
Sumber: Majalah Bobo

Jumat, 18 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Kakek dan Kucing

cerita dongeng, kisah kakek dan kucing

Hujan turun dengan deras. Kakek Bun meringkuk rapat-rapat di balik tumpukan kardus di sudut sebuah jalan. Ia mendesah keras, merasa dirinya amat malang. Terlunta-lunta sendirian di jalan saat hujan angin menerpa kota.

Di dalam hati, ia kesal pada penduduk kota yang tidak membantunya. Kakek Bun rupanya tak sadar, kalau selama ini penduduk kota sering membantunya. Hanya, Kakek Bun saja yang tidak berterima kasih, Jika ada warga yang membantunya, Kakek Bun tak pernah mengucapkan terima kasih, apalagi tersenyum.
Tiba-tiba,....
"Meooo... meoooo ....," terdengar suara eongan kucing yang begitu lemah sampai tak bisa mengeong sampai selesai.
Kakek Bun memejamkan mata tanpa peduli. Ia merapatkan mantel penuh tambalannya. 
"Meoooo ... meeee...," suara si kucing terdengar semakin lemah.
"Astagaaa! Menganggu orang tidur saja!" gerutu Kakek Bun. Dari dulu Kakek Bun benci hewan, apalagi kucing! kucing itu makhluk manja yang bisa mendesis garang dan mencakar. Hih! Kakek Bun bergidik. Andai ia belum terlanjur nyaman meringkuk di balik kardus. Pastilah kucing itu akan ditendangnya jauh-jauh.

"Meee ... meeee,..." si kucing mengeong lagi.
Kakek Bun mengeratkan genggamannya pada sebotol susu miliknya di balik mantel.
"Jangan sampai kucing itu mencium bau susuku. Bisa disambar!" Kakek Bun bergumam sendiri. Sebotol susu itu rencananya akan ia minum untuk sarapan besok.

Beberapa waktu berlalu. Hujan turun semakin deras. Angin bertiup semakin kencang. Kucing itu tidak bersuara lagi. Kakek Bun jadi penasaran. Ia mengintip dari balik kardus.
Kucing itu tergeletak tak berdaya di tepi jalan. Muka si kucing menghadap ke Kakek Bun. Matanya terpejam.
Tubuhnya bergetar kedinginan. Tiba-tiba kucing itu membuka matanya dengan lemah. Ternyata kucing itu memiliki warna mata yang berbeda. Mata kanan berwarna biru, mata kiri berwarna hijau.Aneh sekali. Dan sepasang mata aneh itu menatap Kakek Bun seperti meminta tolong.
Kakek Bun membuang muka dan merapatkan jaketnya. Berusaha melupakan tatapan kucing itu. Ia memejamkan mata. Namun, perasaannya tidak enak. Kakek Bun tak bisa menjelaskan, apa yang membuatnya tidak enak. Akhirnya, beberapa saat kemudian, ia berdiri dan menghampiri si kucing sambil mengomel.
"Enak saja kau menganggu istirahatku! Aku ini orang tua yang malang! kenapa kamu minta tolong padaku, kucing nakal!" omel Kakek Bun.

Tangannya mengangkat si kucing. Dibawanya ke pojoknya yang hangat di balik kardus.
"Hiiih... Kau basah pula! Membuat kardusku basah!" gerutu Kakek Bun lagi, tetapi sambil melepaskan jaket luarnya. Ia menggunakan jaketnya untuk mengeringkan tubuh si kucing.

"Meee....," kucing itu mengeong lemah. Nafasnya kembang kempis.
"Nah, sekarang kau pasti minta makan!" marah Kakek Bun."Padahal ini susu sarapanku besok! Enak saja meminta-minta!" Kakek Bun terus mengomel, tetapi tangannya membuka botol susu dan menuangkan isinya ke dalam tutup panci.

Susu itu terasa hangat karena sedari tadi digenggam erat oleh Kakek Bun. Kucing itu menjulurkan lidahnya dan mulai melahap susu milik Kakek Bun.

Mulanya, Kakek Bun hanya menuang setengah botol susu, tetapi setengah botol itu habis dengan cepat. Setelahnya si kucing menatap setengah botol susu sisanya dengan tatapan lapar. Akhirnya, Kakek Bun menuang seluruh isi botol.
"Betul-betul hewan cilik yang nakal! menghabiskan seluruh susuku! Bagaimana aku besok pagi?" tuntut Kakek Bun.

Usai minum susu, kucing kecil itu mendorong kepalanya ke perut Kakek Bun. Aneh, bulu kucing sudah kering. Cepat sekali, pikir Kakek Bun bingung. Tetapi, dia senang juga karena terasa kucing itu kini memberi kehangatan. Ragu-ragu, dibelainya bulu si kucing yang kini tampak menggayut manja kepadanya.

Kakek Bun mengerutkan dahinya, ada sesuatu yang kini berbeda. Hujan tetap turun, Ia tetap miskin dan terlunta-lunta, bahkan tidak punya susu untuk sarapan besok. Namun, hatinya terasa hangat.

Kakek Bun meraba-raba wajahnya. Ada yang berbeda di situ. Ya, Kakek Bun kini tersenyum. Semakin ia membelai si kucing, dan semakin kucing itu menggosok-gosokkan kepalanya dengan manja ke tangan Kakek Bun, Kakek Bun merasa semakin  hangat dan semakin lebar senyumnya, Malam itu, Kakek Bun tertidur sambil memeluk si kucing.

Keesokan paginya, penduduk kota menemukan Kakek Bun meninggal dalam tidur. Wajahnya tampak damai dan penuh senyuman. Sama sekali berbeda dari Kakek Bun yang diingat penduduk kota. Ia tidak tampak seperti pengemis bermuka masam, tak tahu terima kasih, dan suka menendang hewan.

Ya, pada malam sebelum meninggal, Tuhan memberinya kesempatan untuk meninggalkan dunia dengan hati hangat. Anehnya penduduk kota tak pernah melihat kucing bermata aneh yang ditolong Kakek Bun malam itu.

Oleh Pradikha Bestari 
Sumber Majalah Bobo
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kaleng Harta Karun

kaleng harta karun
Anak-anak biasanya kurang suka jika hujan turun. Mereka jadi tidak bisa bermain di luar rumah. Namun, Mimi justru menyukai hujan. Di saat hujan turun, bunda Mimi biasanya akan mengeluarkan kaleng tua miliknya.

Mimi menyebutnya kaleng harta karun. Bunda menyimpan banyak benda tua menarik di dalamnya. Ada kancing dengan berbagai bentuk dan ukuran, potongan karcis yang sudah lusuh, piring dan gelas mini dengan motif bunga cantik dan banyak lagi barang yang Mimi tidak pernah jumpai sekarang.

Diantara itu semua, Mimi paling suka pada boneka kertas yang warnanya sudah menguning temakan usia. Ada lemari kecil dari kayu untuk meletakkan berbagai baju ketas boneka itu. Cara bermainnya tinggal mengaitkan ujung baju tersebut di pundak boneka kertas, lalu di lipat sedikit ke belakang.
 Mimi betah bermain berjam-jam dan lupa pada hujan. 

Suatu hari, Priska membagikan  undangan. Undangan bersampul merah jambu dengan hiasan peri. Orangtua Priska memang cukup berada. Priska bisa mengundang seluruh anak di kelas Mimi.

"Kalian harus datang ke pesta ulang tahun. Bakalan  ada kue cokelat yang besar sekali, dipesan langsung dari Jakarta. Ada ibu peri, tukang sulap, dan permainan. Yang menang dapat hadiah. Boleh nonton film Madagascar 3 juga. Nyesel  kalau kalian nggak datang ," kata Priska meyakinkan.

"Tukang sulap, Pris?  Seperti di tivi?" Dion bertanya penuh harapan.
Priska mengangguk." Dan masih ada ibu peri," katanya menambahkan.
"Di pestamu nanti, aku boleh nambah kuenya?" Joni yang paling gemuk, bertanya. Priska hanya terkikih.
"Tentu, kalau yang lain sudah makan dan masih ada sisa, kamu boleh tambah."
"Ada permainan apa? Makan kerupuk, ya?" tanya Nunik.
"Bukan, lomba itu hanya untuk 17 Agustusan. Pokoknya ada deh. Aku nggak bisa kasih tahu, tapi di jamin seru. Aku bocorkan sedikit, ada hadiah satu set pensil berwarna."

Semua ank berdecak kagum. Mimi sendiri menelan ludah. Ia tidak pernah menghadiri pesta ulang tahun yang kedengarannya begitu mewah. Tidak apa bila tidak bisa nambah kue atau menang lomba. Mimi ingin sekali menonton film kartun Madagascar 3. Kata saudara sepupunya yang tinggal di Jakarta, film itu lucu sekali. Di kota Mimi tidak ada bioskop, dan tidak semua orang punya DVD player.

Pesta ulang tahun Priska menjadi pembicaraan yang seru. Mimi sendiri sudah menyiapkan baju terbaiknya. Bunda sudah menjahitkan dompet koin cantik untuk hadiah.

Sayang, ketika hari Minggu yang ditunggu-tunggu itu tiba, hujan deras mengguyur seluruh kota. Mimi sudah berpakaian lengkap, dan ia memandang kesal dari jendela ruang tamu.

"Bun, Mimi boleh pergi, ya?" bujuk Mimi. "Mimi bawa payung, deh!"

"Boleh pergi kalau hujannya sudah berhenti," jawab Bunda. "Kalau sekarang tidak boleh. Berbahaya sekali bersepeda sambil memakai payung, Mi."

"Tapi Mimi harus pergi sekarang, Bun," Mimi menahan tangis. Sebentar lagi mereka pasti akan potong kue, lalu filmnya akan segera di putar. Mimi pengen sekali nonton, Bun. Boleh ya, Bun?"

Sayangnya Bunda tetap menggeleng.

Mimi sungguh kesal. Ia ingin menangis. Ia marah pada Bunda, kok, nggak mengerti perasaan Mimi! Memangnya Bunda tidak pernah jadi anak-anak.? Bunda Payah!

Bunda menyodorkan kaleng harta karun untuk bermain. Kaleng jelek! Dengus Mimi. Mimi ingin nonton Madagascar 3, bukan main dengan mainan jelek ini! Mimi mengambil boneka kertas dengan kasar, lalu diremasnya dengan kesal.
Tiba-tiba...Breeeeet.....
Kepala Boneka kertas itu putus. Mimi kaget, tetapi Bunda terlihat lebih kaget. Belum pernah Mimi melihat Bunda begini sedih.

"Bun, maafkan Mimi. Nanti Mimi belikan Bunda boneka kertas yang lain," Mimi menangis.

Bunda tidak menjawab. Diambilnya boneka kertas itu dengan penuh kasih sayang.
"Dimanapun, tidak ada boneka yang seperti ini lagi, Mi!" Bunda duduk di sebelah Mimi.

Bunda lalu bercerita. Semua ini adalah mainan Bunda sewaktu kecil. Mainan itu penuh dengan kenangan almarhum kakak Bunda, Dodi. Ketika Bunda ulang tahun, Dodi memberikan hadiah boneka kertas itu. Tak lama setelah itu, Dodi pergi untuk selama-lamanya. Ia meninggal ketika sedang berenang di sungai sewaktu hujan.
Boneka kertas itu adalah peninggalan terakhir dari Dodi. Bunda begitu sayang pada mainan itu. Karena Mimi adalah putri kesayangan Bunda, maka Bunda ingin berbagi kenangan itu dengan Mimi.

Mimi menyesal telah marah-marah tadi. Kini, film Madagascar 3 tiba-tiba tidak menarik hatinya lagi.
"Karena Mimi marah, Mimi menjadi kasar. Karena kasar, Mimi melukai hati Bunda. "Maafkan Mimi, Bun. Mimi berjanji akan menjadi anak yang sabar dan tidak pemarah lagi."

Bunda memeluk Mimi. Mimi lalu mengajak Bunda untuk mengelem kepala Boneka itu. Boneka pemberian Paman Dodi. Paman yang belum sempat Mimi kenal.

Oleh: Rika Hajasi 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 07 Terbit 23 Mei 2013






Rabu, 16 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Handphone

cerita anak: handphone
Seisi rumah tiba-tiba heboh ketika Amir minta hp kepada Bapak.
"Hp?" Bapak mengeryitkan kening.
"Handphone, pak!" jelas Tuti sambil menatap cemas wajah Bapak.
Marahkah, Bapak?
Sebagai tukang bakso keliling, penghasilan Bapak tidak banyak. Untuk membiayai keluarganya, Bapak harus bekerja keras dari pagi sampai malam.

Tuti juga ingin punya handphone, seperti Amir, adiknya. Sudah lama dia memendam keinginan. Ketika Amir tiba-tiba membuat heboh dengan permintaan itu, timbul harapan di hati Tuti.

"Semua teman Amir punya hp. Cuma Amir yang belum. Belikan, ya, Pak?" pinta Amir penuh harap. Tuti mengangguk, seolah dia yang mengutarakan keinginan itu.

Bapak menggaruk kepala, sementara Emak memandangi Bapak. Emak, Amir dan Tuti menunggu jawaban Bapak. Tuti berharap, kalau Bapak membelikan hp untuk Amir, dia bisa meminjamnya sekali-kali untuk menghubungi teman-temannya. Hampir semua temannya di kelas memilik hp.

Sebenarnya, Bapak ingin membelikan hp untuk kedua anaknya itu. Tetapi, darimana uangnya?

"Yang bekas juga tidak apa-apa, Pak. Yang penting punya hp," harap Amir. Lagi-lagi Tuti mengangguk.

"Memangnya, penting sekali punya hp?"

Amir terlihat ragu. Tuti cepat menyambar,"Penting sih, tidak, Pak. Cuma malu, dikatakan gaptek sama teman-teman."

"Gaptek?" Kening Bapak mengerut.

"Gagap teknologi, artinya ketinggalan jaman," jelas Tuti.

Bapak mengangguk-angguk. Kemudian Bapak memandang Emak. "Menurut Emak?"

"Emak kepingin anak-anak punya hp, supaya tidak malu pada teman-teman mereka. Tetapi, terserah Bapak. Emak, kan, tidak punya uang."

"Kalau kamu bagaimana Tut?"

Tuti mengangguk."Tuti juga kepingin Amir punya hp, supaya bisa pinjam."

Bapak mengangguk-angguk, terlihat berpikir keras. "Jadi, kalian semua mendukung keinginan Amir?"

Emak dan Tuti mengangguk.

"Kalau begitu, kita semua yang akan membelikan hp untuk Amir?"

"Kita?"

Bapak menggangguk, kemudian masuk kamar. Tidak lama kemudian Bapak keluar. "Bapak pergi dulu. Kalian tetap disini sampai Bapak pulang."

Ketiga orang itu menunggu sambil menduga-duga, apa yang Bapak lakukan di luar.

Tidak lama, kemudian Bapak muncul membawa celengan ayam dari plastik.

"Bapak beli ini di warung."

"Yaaa, Amir kira...." seru Amir agak kecewa.

"Mulai hari ini, celengan ini Bapak taruh diatas bufet. Kita semua harus mengisinya setiap hari sampai cukup untuk membeli hp."

"Horeee!!" Amir bersorak senang. Tuti diam-diam mengagumi Bapak yang bisa memecahkan masalah dengan bijaksana.

"Bapak yang pertama memasukkan uang ke celengan ini. "Bapak memasukkan uang sepuluh ribu.

"Emak menyusul." Emak memasukkan uang lima ribu rupiah.

"Sekarang, aku!" Tuti berlari ke kamar.
Ia mengeluarkan uang jajan yang dikumpulkan di dalam tas. Selama ini, ia tidak pernah jajan di sekolah. Tadinya, ia mau membeli majalah anak-anak. Tetapi sekarang ia berubah pikiran. "Mulai sekarang, aku akan memasukkan uang jajanku ke celengan ini"

Amir masih tidak bergerak. Emak, Tuti dan Bapak memandanginya. Amir berkata dengan malu, "Hari ini, uang jajanku habis kupakai untuk main PS. Tetapi, aku janji, besok akan mengisi celengan itu."

Sebulan berlalu. Bapak mengumpulkan anggota keluarganya untuk membuka celengan. Banyak sekali uang yang berserakan di lantai ketika Bapak mengosongkan isi perut ayam plastik itu.

Selama satu bulan ini, Emak mengambil cucian dari rumah mewah di ujung jalan. Lalu, sebagian upahnya dimasukkan celengan itu. Tuti juga setiap hari membantu mencuci piring di warung makan milik ibu temannya. Upahnya dimasukkan celengan. Amir setiap pulang sekolah, pergi ke stasiun kereta yang tidak jauh dari rumah mereka. Ia menyemir sepatu. Pendapatannya dimasukkan celengan.

"Dengan uang ini, Bapak bisa membelikan hp buat Amir. Sisanya bisa disimpan untuk keperluan sekolah kalian," kata Bapak.

"Karena hp-nya milik bersama, aku akan memakainya bergantian dengan Tuti," kata Amir. Tuti mengangguk dengan wajah berseri.

"Itu yang Bapak harapkan," kata Bapak sambil tersenyum. "Tetapi Bapak Punya satu permintaan."

"Apa, Pak?" tanya Emak, Amir dan Tuti serentak.

"Bagaimana kalau mengisi celengan ini kita jadikan kebiasaan sehari-hari? Amir dan Tuti tidak perlu bekerja sepulang sekolah. Cukup memakai sebagian uang jajan. Setuju?"

"Setuju!" sahut mereka serempak.

Permintaan Bapak tidak aneh-aneh, kan?

Oleh: Kemala P 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 09. Terbit 6 Juni 2013.

Senin, 14 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Sahabat Keypad

cerita anak: sahabat keypad
Namaku Nira. Aku anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan bernama Pondok Merah Jambu. Aku punya sahabat keypad. Versi email-emailannya sahabat pena, maksudnya he he he... Nama sahabat keypad-ku Monika.

Kami berteman lewat internet. Aku suka memasukkan tulisan-tulisanku di sebuah website majalah anak. Monika sering me-like dan mengomentari tulisan-tulisanku. Ia mengirimkan pesan ke email-ku. Ia bilang ia kagum dengan segala macam pengalamanku.

Aku jadi semakin semangat menulis karena punya pengagum. Aku menulis semakin banyak tentang berbagai tempat yang unik dan eksotis. Tadinya hanya di dalam negeri, lama-lama aku menulis juga tentang pengalamanku pergi ke Singapora, ke Korea, sampai ke Amerika. Semakin heboh pengalaman yang kutulis, semakin banyak pengagumku.

Yang monika dan semua pengagumku tidak tahu... aku belum pernah sekalipun pergi pesiar. Ya, anak panti asuhan seperti aku, bisanya ke mana, sih? Paling hebat ke Dufan. Itu juga kalau ada penyandang dana yang baik hati. Monika bahkan tidak tahu aku ini anak panti asuhan. Ia pikir, aku anak orang kaya yang homeschooling jadi bisa bebas ikut papaku dinas ke luar negeri.

Kami pernah bertukar foto. Monika mengirimiku foto close-up berkostum penari balet. Sedangkan aku....Hmmm... Monika meminta fotoku saat liburan. Akhirnya, aku mengiriminya fotoku di pantai Belitung. Sssst... Foto itu hasil rekaan dengan photoshop yang susah payah aku buat!

Oh iya, Monika juga banyak menulis di website itu. Ia menuliskan banyak hal tentang latihan menarinya. Betapa ia sulit menguasai satu gerakan, tetapi terus berlatih. Ia juga menuliskan tentang pertunjukan tarinya. Cerita-ceritanya juga seru.

Suatu hari, Kak Yana, salah satu kakak asuhku mendapat surat. Surat itu dari Bu Sofyan, Ia salah satu penyandang dana Pondok Merah Jambu. Ia mengabari akan mengunjungi Pondok Merah Jambu pada hari ulang tahun putrinya. Sekalian ia ingin minta putrinya di doakan.

Alangkah kagetnya aku pada saat Bu Sofyan memperkenalkan putrinya. Nama putrinya Monika. Wajahnya pun sama persis dengan wajah Monika  sahabat keypad-ku. Namun yang bikin aku paling kaget, Monika putri Bu Sofyan itu lumpuh akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Padahal Monika, sahabat keypad-ku kan....

"Nira?" anak di kursi roda itu menyapaku dengan wajah yang tak kalah kagetnya. Astaga, iya! Bagi Monika, aku kan, bukan anak panti asuhan!

Yap, hari itu semua terbongkar. Monika jadi tahu yang sebenarnya. Seperti aku jadi tahu yang sebenarnya tentang dia. Sama seperti aku yang menginginkan petualangan melalang buana, Monika pun ingin bebas menari. Sama seperti aku yang terhalang kenyataan aku ini yatim piatu, Monika terhalang kenyataan ia lumpuh.

"Maafkan aku, aku sudah membohongimu. Aku sama sekali tidak bisa menari. Aku ingin sekali jadi penari, tapi hanya bisa menuliskannya," sesal Monika.

"Enggak apa-apa. Aku mengerti kok. Aku juga minta maaf telah berbohong," sahutku sama menyesalnya.

Kami lalu berpandangan, lalu mulai tertawa.

"Tapi foto kamu tuh ya! Menipu banget! Jago banget, sih!" meledak tawa Monika.

"Kamu juga! Pantesan saja foto kamu foto close up! Bukan foto saat berpose menari!" Aku ikut tertawa.

"Aduh, dua penipu cilik!" gemas Kak Yana.

Akhirnya, aku dan Monika sama-sama mengaku di website kalau kami tidak benar-benar mengalami semua petualangan dan pentas tari itu. Kami juga menceritakan tentang kondisi kami yang sebenarnya.

Ternyata teman-teman di website itu banyak yang memuji kami.

"Woow...Tulisan Kak Nira bagus banget. Imajinasi Kakak keren banget!" Puji Dian.

"Kalau sudah besar, Kak Nira pasti bisa jadi penulis hebat dan melalang buana beneran!" tulis Santika.

"Kak Monika hebat banget. Kakak lumpuh, tapi tulisan Kakak bagus banget!" begitu komentar Tia.

"Biarpun Kak Monika enggak bisa menari , tapi tarian jemari Kakak di atas keypad keren!" puji Ranti.

Aku dan Monika sama-sama tersenyum melihat komentar-komentar itu. Saat ini, kami memang mengalami keterbatasan. Namun, kami yakin, dengan mimpi, persahabatan dan kerja keras, suatu saat nanti kami bisa mengepakkan sayap kami dan menjadi hebat!

Oleh: Pradhika Bestari 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 14 Terbit 11 Juli 2013.