Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Yusuf, Ketampanan Yang Mengakibatkan Cobaan

Yusuf, Ketampanan Yang Mengakibatkan Cobaan
Anugerah Allah kepada Yusuf berupa ketampanan yang menakjubkan. Zulaihah melihat ketampanan anak angkatnya itu menjadi terpesona. Hingga bergetar hatinya. Naluri kewanitaannya membara.

Setiap saat istri Aziz, seorang menteri raja Mesir, hatinya berdebar-debar memikirkan bagaimana caranya untuk menyampaikan rasa cintanya kepada Yusuf.

Pada Suatu hari, ketika Yusuf berada di dalam rumah dan Aziz sedang menghadap raja Mesir, Zulaihah menggunakan kesempatan itu untuk menggoda dan merayu Yusuf, agar mau membalas cintanya. Setelah wanita itu menutup semua pintu, mulailah ia memperlihatkan keindahan-keindahan tubuhnya kepada Yusuf.

"Kemarilah, mendekat padaku, seluruh jiwa ragaku telah kusiapkan untukmu," kata Zulaihah.

Sejenak tergoda hati Yusuf melihat kemolekan tubuh Zulaihah, akan tetapi segera ia dapat menguasai dirinya.

"Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan dosa. Bagaimana mungkin aku akan melakukan perbuatan itu, sedang suamimu, Aziz adalah tuanku yang telah memuliakan dan berbuat baik kepadaku. Tidaklah patut sama sekali jika suatu kebaikan dibalas dengan pengkhianatan," jawab Yusuf menghindarkan diri.

Akan tetapi hati Zulaihah telah menjadi buta, sehingga ia tidak menghiraukan lagi ucapan Yusuf. Keinginannya tetap membara, dan Zulaihah menarik tubuh Yusuf agar mendekatinya. Jika Yusuf tidak mengetahui cahaya Allah yang dapat dijadikan perlindungan dirinya, pasti ia pun akan menuruti nafsunya.

Tatkala Zulaihah menariknya, Yusuf berusaha melepaskan diri dan lari menghampiri pintu keluar, wanita itu pun segera mengejar dan menarik baju Yusuf dari belakang, maka robeklah baju Yusuf.
 
Tetapi Yusuf tetap berusaha untuk bisa keluar dari ruangan itu. Begitu pintu terbuka, Aziz telah berdiri di muka pintu. Zulaihah dengan cepat menghampiri suaminya dan menuduh Yusuf akan melakukan perbuatan tak senonoh terhadap dirinya. Ia menuntut agar Yusuf diseret ke dalam penjara.

"Apa pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dihukum dengan adzab yang pedih kata Zulaihah kepada suaminya.

Akan tetapi Yusuf menyangkal semua tuduhan itu.

"Sebenarnya dialah yang mencoba mengkhianati Anda sebagai suaminya," jawab Yusuf.

Ketika terjadi saling tuduh antara Zulaihah dan Yusuf, seorang saksi dalam rumah keluarga itu memberi kesaksian.

"Jika baju Yusuf koyak di bagian muka, maka Zulaihah yang benar, dan Yusuf yang berdusta. Dan, sebaliknya, jika baju Yusuf yang koyak bagian belakangnya, maka Zulaihah yang berdusta dan Yusuf yang benar."

Ketika Aziz melihat baju Yusuf koyak bagian belakangnya, ia berkata kepada istrinya.

"Sesungguhnya kejadian ini adalah tipu dayamu, ini adalah tindakan makar seorang istri terhadap suaminya."

Akan tetapi, Aziz lebih suka menyimpan peristiwa cemar itu.

"Lupakanlah peristiwa yang telah terlanjur terjadi dan rahasiakanlah," katanya kepada Yusuf.

"Mintalah ampun pada Tuhanmu atas dosa yang telah kau lakukan itu, dan bertaubatlah kepada-NYA karena engkau termasuk orang-orang yang berdosa," katanya lagi kepada istrinya. 

Peristiwa itu akhirnya tersebar dengan cepat di kalangan kaum wanita di kota itu. Mereka mengatakan, bahwa istri Aziz terpikat dengan hambanya dan merayu untuk menuruti kemauannya. Karena cintanya yang sudah membara sehingga melakukan perbutan yang sesat dan berdosa.

Gunjingan para wanita itu akhirnya sampai ke telinga Zulaihah, perempuan itu menjadi geram karena malu. Namun, ia berencana untuk membalas semuanya itu.

Pada suatu hari, Zulaihah mengundang para wanita di kota itu untuk suatu jamuan makan. Ia menyediakan banyak tempat duduk para tamu. Untuk lebih menyemarakkan dan memuliakan mereka menurut adat kebiasaan orang-orang terhormat.

Setelah semua tamu yang semuanya wanita itu duduk di tempat yang disediakan, Zulaihah menyuruh pelayan-pelayannya menghidangkan makanan. Masing-masing tamu diberi sebuah pisau yang biasa dipergunakan untuk memotong daging atau buah-buahan.

Kemudian mulailah para tamu menikmati hidangan itu dengan rasa gembira, saling bicara dan tertawa. Tiba-tiba Zulaihah menyuruh Yusuf untuk keluar ke ruang jamuan makan itu. Melihat Yusuf, semua tamu wanita itu tercengang  penuh kekaguman menyaksikan ketampanan pemuda itu, sehingga mereka tak sadar telah mengerat-ngerat jari tangannya sendiri ketika memotong makanan dan buah-buahan sambil mengagumi ketampananYusuf.

"Apakah dia itu manusia, kami kira dia adalah seorang malaikat yang mulia. Jika dilihat ketampanan dan kesempurnaannya," gumam mereka.

Ketika Zulaihah mengetahui bahwa seluruh wanita yang diundangnya itu mangagumi Yusuf seperti dirinya, ia merasa bangga dan puas.

"Inilah pemuda yang kalian gunjingkan karena aku mencintainya. Ternyata kalian juga mengagumi ketampanannya, sehingga kalian tak sadar telah melakukan perbuatan yang menyakiti diri kalian sendiri. Dan inilah pemuda yang telah aku rayu, tetapi dia menolak. Dan aku bersumpah di hadapan kalian, seandainya dia tidak menuruti apa yang aku perintahkan, pasti sudah kupenjarakan, agar ia menjadi orang yang terhina," kata Zulaihah.

Menyadari apa yang telah dilakukan, semua wanita undangan itu menjadi tersipu malu. Mereka memaklumi apa yang telah dilakukan Zulaihah, karena Yusuf benar-benar seorang pemuda yang sangat tampan.

Sementara itu, Ketika Yusuf mendengar ancaman Zulaihah, ia tidak menjadi gentar dan kemudian mengadu kepada Tuhan.

"Ya Allah, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakannya untuk melakukan perbuatan maksiat. Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya kecantikan mereka, tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."

Karena gunjingan antara Zulaihah dan Yusuf semakin tersebar ke seluruh pelosok kota, Aziz dan istrinya berpendapat bahwa mereka tidak bisa menghindari gunjingan negatif masyarakat, dan mulut mereka tidak bisa dibungkam kecuali dengan jalan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara dengan tuduhan bahwa Yusuf  yang mencoba mengajak Zulaihah berbuat zina. Meskipun dengan jelas bahwa Yusuf tidak melakukan perbuatan itu.

Dan akhirnya Yusuf benar-benar dipenjara. Allah telah mengabulkan do'anya dan dihindarkan dari perbuatan maksiat. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar do'a yang pasrah.

Sumber: 
Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim.
Penyusun :Kidh Hidayat
Ilustrasi : Ir. Anam
Penerbit: Mitra Ummat, Surabaya



Jumat, 06 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kalung Pengikat Jodoh

kalung pengikat jodoh
Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi ketika berada di Mekah, suatu hari dia merasakan lapar yang amat sangat. Al-Qadhi tak menemukan sesuatu untuk mengganjal perutnya yang keroncongan, dan sepeserpun uang tak dimilikinya.

Tiba-tiba ia melihat sebuah kantung dari sutera yang diikat dengan kaus kaki yang terbuat dari sutera pula. Al-Qadhi kemudian memungutnya dan membawa pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, dibukanya kantung itu. Dan alangkah kagetnya Al-Qadhi ketika mengetahui isi kantung itu, sebuah kalung permata yang tak pernah dilihat seumur hidupnya.

Al-Qadhi kemudian keluar rumah, dan saat itu terlihat seorang lelaki tua yang berteriak mencari kantungnya yang hilang sambil memegang kantungg  kain yang berisi uang.

"Hai, barang sipa yang telah menemukan kantung sutera yang berisi permata milikku, dan mau mengembalikannya padaku, maka aku akan menebusnya lima ratus dinar," kata lelaki tua itu.

Mendengar itu, Al-Qadhi berpikir akan bisa memiliki uang itu jika mengembalikan  kantung sutera yang telah ditemukannya.

"Hai, Pak Tua kemarilah," Panggil Al-Qadhi.

Al-Qadhi kemudian mengajak lelaki tua itu pulang ke rumahnya. Lelaki tua itu kemudian menceritakan tentang kantung sutera, ciri-ciri kaus kaki pengikatnya, dan ciri-ciri permata serta jumlahnya berikut benang yang mengikatnya.

Al-Qadhi kemudian memberikan kantung  itu dan lelaki tua itu pun memberikan uang lima ratus dinar sebagai gantinya. Namun, Al-Qadhi tidak mau mengambil uang itu.

"Memang seharusnya aku mengembalikan barang itu kepada Bapak tanpa harus mengambil upah untuk itu, karena barang itu memang menjadi milikk Bapak," kata Al-Qadhi.

Al-Qadhi bersikeras tak mau menerima uang itu, namun lelaki tua itu juga memaksanya. Meskipun dipaksa, Al-Qadhi tetap pada pendiriannya. Akhirnya, setelah mengucapkan terima kasih, lelaki tua itu pergi meninggalkan rumah Al-Qadhi.

Beberapa waktu kemudian, Al-Qadhi pergi berlayar meninggalkan kota Mekah. Di tengah laut, perahu yang ditumpanginya pecah dihantam ombak.

Semua penumpang yang ada dalam perahu itu tenggelam bersama dengan harta benda mereka, hanya Al-Qadhi yang selamat dengan menumpang sebuah papan pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu ia terombang-ambing di tengah laut.

Akhirnya, Al-Qadhi terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Ia kemudian memasuki sebuah mesjid yang ada di pulau itu, dan duduk sambil membaca Al-Qur'an.

Mendengar cara Al-Qadhi membaca Al-Qur'an, beberapa orang penduduk pulau itu datang mendekatai Al-Qadhi.

"Ajarilah kami membaca Al-Qur'an," kata mereka.

Dan Al-Qadhi pun memenuhi permintaan mereka, mengajarinya membaca Al-Qur'an. Dari mereka Al-Qadhi memperoleh uang yang lumayan banyak.

Di dalam mesjid, Al-Qadhi menemukan beberapa lembar mushaf, diambil dan dibacanya.

"Kau bisa menulis?" tanya mereka.

"Ya," jawab Al-Qadhi.

"Kalau begitu, ajari kami menulis."

Mereka pun datang dengan anak-anak serta para remajanya. Mereka diajarinya tulis menulis oleh Al-Qadhi. Dari itu juga ia mendapatkan banyak uang.

"Kami mempunyai seorang putri yatim," kata salah seorang diantara mereka," dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?"

Namun Al-Qadhi menolak tawaran mereka.

"Tidak! Kau harus mau," desak mereka.

Akhirnya Al-Qadhi menuruti keinginan mereka. Ketika gadis itu dibawa ke hadapannya. Al-Qadhi melihat kalung permata yang pernah ditemukannya di Mekah melingkar di leher gadis itu.

Tak ada yang dilakukan Al-Qadhi saat itu, kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata di leher gadis itu.

"Sungguh, kau telah menghancurkan hati gadis yatim ini," kata salah seorang penduduk pulau itu. "Kau hanya memperhatikan kalung itu. Rupanya kau tak mau memperhatikan gadis yang memakainya."

Al-Qadhi kemudian menceritakan kepada mereka tentang kisahnya mengenai kalung itu. Setelah mereka tahu, serentak mereka meneriakkan tahlil dan takbir.

"Ada apa dengan kalian?" tanya Al-Qadhi.

"Tahukah engkau, bahwa orang tua yang pernah kau jumpai di Mekah dulu adalah ayah gadis ini. Dan dia pernah mengatakan, bahwa tidak pernah menjumpai seorang muslim sebaik orang yang telah mengembalikan kalung itu padanya. Maka dia berdoa, agar dipertemukan kembali dengannya untuk dapat menikahkan dengan putrinya. Dan sekarang rupanya hal itu menjadi kenyataan," ujar mereka.

Al-Qadhi kemudian mengarungi kehidupan bersama gadis itu, dan mereka dikaruniai dua orang anak. Ketika istrinya meninggal, kalung permata itu menjadi harta pusaka bagi Al-Qadhi dan dua orang anaknya. 


Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Kamis, 05 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ketaqwaan Yang Membawa Berkah

ketakwaan yang membawa berkah
Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasehati dia dan teman-temannya :
"Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya berkata:
"Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" 

Sambil bergetar ibunya menjawab:
"Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?"
Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namum akhirnya si ibu angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata:
"Ayahmu itu dulu seorang pencuri." 

Pemuda itu berkata: "Guruku memerintahkan kami - murid-muridnya, untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut." 

Ibunya menyela: "Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?"

Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab: "Ya, begitu kata guruku."

Lalu dia pergi dan bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya' dan menunggu sampai semua orang tidur, sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (Syaikh).

Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal menganggu tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya rumah tetangga itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya:
"Ini rumah anak yatim, dan Allah memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim." 

Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya.
"Ha, di sini," Gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya.

Setelah berhasil masuk rumah itu, ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak , dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata: " Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang itu belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu." 

Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran-lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan.

Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri: "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah.

Tiba-Tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat. Istrinya bertanya: "Apa ini?"
Dijawab suaminya: "Demi Allah, aku juga tidak tahu. "Lalu dia menghampiri pencuri itu: "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" 

Si pencuri berkata: "Shalat dulu, baru bicara. Ayo pergilah berwudhu' lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak menjadi imam." 

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata, si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi, Wallahu a'lam, bagaimana bisa shalat. Selesai shalat dia bertanya: "Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" 

Dia menjawab: "Saya ini pencuri."

"Lalu, apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?" Tanya tuan rumah lagi.

Si pencuri menjawab: "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak." 

Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan.Lalu dia berkata: "Hai. ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini gila?"

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal.

Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya. Mereka suami istri dikaruniai seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata; "Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku." 

Ia menjawab; "Aku setuju." 

Di hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah puterinya.


Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Tabah Dari Godaan

tabah dari godaan
Di kalangan Bani Israil, dahulu kala tersebutlah seorang laki-laki yang bernama Juraij, laki-laki itu seorang yang ahli ibadah.

Juraij membangun tempat ibadahnya yang jauh dari perkampungan penduduk. Siang dan malam ia melakukan ibadah di tempatnya yang terpencil itu.

Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut tentang ketekunan ibadah Juraij, sehingga berkatalah seorang pelacur kepada mereka, " jika kalian menghendaki, aku akan memberinya ujian kepada Juraij."

"Baik. Silakan!" jawab mereka.

Maka perempuan lacur itu mendatangi tempat ibadah Juraij, menawarkan diri dan menggoda lelaki itu. Tetapi Juraij tak mempedulikan dan merasa tak tergoda oleh rayuan perempuan itu.

Karena merasa godaannya tak berhasil, perempuan itu kemudian berzina dengan seorang pengembala yang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij.

Karena kekuasaan Allah, akhirnya perempuan itu hamil dan melahirkan seorang bayi.

Orang-orang menjadi gempar, dan bertanya kepada perempuan itu, "Hasil perbuatan siapa ini?"

"Juraij" jawab perempuan lacur itu.

Orang-orang itu kemudian mendatangi tempat Juraij, dan memaksanya keluar. Dengan beringas orang-orang itu menghancurkan tempat ibadah Juraij. Mereka mencaci dan memukuli Juraij hingga roboh bermandikan darah.

"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Juraij tak mengerti dengan sikap orang-orang yang tiba-tiba datang dan memukulinya.

"Kamu telah berzina dengan perempuan, sehingga dia melahirkan seorang bayi," jawab mereka.

"Di mana perempuan itu?" tanya Juraij.

Orang-orang kemudian memanggil perempuan itu bersama bayinya. Juraij kemudian berdiri, shalat dan berdoa. Setelah itu ia menghampiri bayi dalam gendongan ibunya, dan ia mencoleknya dengan jarinya seraya berkata;
"Demi Allah, wahai bayi, siapakah ayahmu?"

"Aku adalah anak seorang gembala," jawab bayi itu. 

Betapa terkejutnya semua yang berada di tempat itu, mereka tak menyangka bayi dapat berbicara. Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah pengakuan bayi itu. Serta merta mereka memeluk Juraij dan minta maaf padanya.

"Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas," kata mereka.

"Aku tak membutuhkan yang demikian, tetapi bangunlah sebagaimana mestinya," jawab Juraij.

Demikianlah kisah Abu Hurairah yang didengarnya dari Rasulullah Shallallahu "alaihi Sallam.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Rabu, 04 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ali Bin Abi Thalib Di Medan Perang

Ali bin Abi Thalib di Medan Perang
Ketika terjadi perang Uhud, mayat-mayat bergelimpangan di segenap penjuru. Tak satupun yang utuh. Di pihak syuhada Muslimin, korban-korban perang bangkai-bangkai yang dimakan binatang buas. Sungguh mengerikan.

Pihak musuh dipimpin oleh dua panglima Quraisy yang gagah perkasa, Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abi Jalal, yang mengamuk bagaikan macan-macan gurun yang haus darah. Rasulullah telah terluka. Hamzah pamannya telah dibantai oleh Wasya, tangan kanan Hindun istri Abu Sufyan. Wasya bukan hanya membunuh pahlawan utama kaum Muslimin itu, bahkan mengorek jantungnya, dan diserahkan kepada majikannya. Oleh Hindun, Jantung Hamzah dikunyah mentah-mentah sebagai pelampiasan dendam lamanya.

Ali bin Abi Thalib terlibat pertarungan dengan seorang panglima musyrik yang tangguh. Ia seorang yang cekatan dan lihai dalam menggunakan pedang, baik di atas kudanya maupun di medan pasir yang terik.

Darah Ali bin Abi Thalib telah membasahi sekujur tubuhnya. Pakaiannya telah tercabik-cabik, perisainya terlempar jauh. Kelebatan pedang lawan menyambar-nyambar bagaikan kilat, maut mengancam jiwanya. Ali benar-benar dalam bahaya yang sangat gawat.

Dalam suatu kesempatan, Ali berhasil menangkis pedang lawan yang mengarah ke lehernya, dan dengan cepat ia berhasil menggunting kaki panglima musyrik itu.

Orang kafir itu menjadi terkejut, ia tak menduga akan mendapat serangan semacam itu, maka ia terguling jatuh dan pedangnya terlepas yang segera di tendang jauh oleh Ali. Kemudian pahlawan kaum Muslimin muda itu dengan gesit melompat keatas tubuh lawannya. Dicabutnya pisau pendek dari pinggangnya, dan tangannya yang sudah terangkat tinggi siap untuk menghunjamkan pisaunya ke jantung musuh yang telah tak berdaya.

Namun tiba-tiba, tatkala dalam beberapa detik lagi pisau Ali yang berkilat-kilat ditimpa sinar matahari akan menghabisi nyawanya, orang musyirik itu meludahi muka Ali tepat mengenai mata, hidung dan mulutnya.

Ali mengurungkan niatnya. Tangan yang memegang pisau diturunkan kembali. Ia sangat jijik dan marah, wajahnya merah padam, dadanya nyaris meledak karena murka. Ludah orang itu bukan main busuknya, hampir saja Ali muntah-muntah.

Yang sangat mengherankan, dalam keadaan darahnya bergolak panas karena merasa dihina dan direndahkan. Ali bin Abi Thalib justru melemparkan pisaunya ke samping. Lalu ia segera berdiri dan menyuruh lawannya itu pergi.

Orang musyirik itu menjadi heran dan terbengong-bengong.

"Mengapa engkau melepaskan diriku? Kenapa engkau tidak jadi membunuhku? Gilakah dirimu, padahal seandainya tadi posisiku sepertimu, pasti kau sudah mampus!" kata orang musyirik itu dengan nada tidak percaya.

"Untuk membunuhmu bisa diselesaikan lain kali," jawab Ali seraya mengusap debu yang menempel di bajunya. "Tetapi, kalau aku membunuhmu sekarang, itu bukan karena Allah semata-mata, melainkan karena aku marah karena kau ludahi. Berbeda dengan sebelumnya saat aku benar-benar bertempur dengan dasar keyakinan untuk membela agama yang benar. Aku tidak mau mengotori tangan dan perjuanganku dengan darah manusia karena alasan hawa nafsu, betapapun besarnya kemarahanku karena kau hina dengan perbuatanmu meludahi wajahku tadi."


Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Senin, 02 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Nabi Ayyub

kisah nabi ayyub

Tabah Menerima Cobaan

Nabi Ayyub adalah seorang Nabi yang sangat kaya raya. Istananya megah, rezekinya berlimpah, istri dan anaknya sehat walafiat.  Yang lebih penting dalam kemakmurannya itu, Ayyub tetap menjadi seorang hamba Allah yang Saleh dan kuat ibadahnya.

Kekayaannya yang melimpah ruah dan rumah tangganya yang sakinah, tidak menjadikan Ayyub lalai atau mabuk. Dia bahkan semakin tekun dengan bersujud dan berbakti. Demikian juga istrinya yang bernama Rahmah.

Para malaikat sampai kagum melihat ketaatan  Ayyub. Namun, sebaliknya.Iblis Hatinya merasa panas dan ingin mencoba menggoda Ayyub dan keluarganya.

"Ayyub berbakti kepada-Mu karena hartanya banyak, istananya megah, kebunnya luas dan subur. Biri-biri serta dombanya berkembang biak terus, dan anak-anaknya sehat wal afiat. Dia menyembah-Mu karena takut jatuh melarat," kata iblis yang dengki itu kepada Allah.

Iblis pun kemudian turun menghancurkan segala milik Ayyub. Semua kebun dan tanahnya yang dulu subur kini menjadi kering dan terbakar. Binatang ternaknya terserang wabah yang kemudian mati semua.

Setelah itu, Iblis datang menemui Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua yang nampak bijaksana.

"Tuhan yang engkau sembah setiap hari ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku sangat kasihan padamu, Ayyub. Cobalah kau mencari Tuhan lain yang mungkin dapat menolongmu," katanya.

Mendengar bujukan-bujukan Iblis itu, Ayyub tidak tergoda sama sekali, bahkan semakin tekun dia bersujud. Dia percaya, segala kenikmatan yang telah direguknya adalah pemberian Tuhan, dan Tuhan berhak mengambilnya sewaktu-waktu dan kapan pun.

Melihat semua itu, Iblis menjadi kecewa dan marah, dia menghadap Tuhan dan berkata;
"Ayyub masih taat kepada-Mu karena dia masih punya anak. Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Barulah nanti kau tahu bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya."

Maka Iblis-iblis itu segera menyebarkan wabah penyakit dan bencana. Semua anak Ayyub meninggal, istana tempat tinggal mereka hancur hingga menjadi puing-puing karena gempa.

Melihat kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, Ayyub hanya memandangnya dengan meneteskan air mata. Dari mulutnya hanya keluar ucapan tawakal dan pasrah diri.

Datanglah kembali Iblis yang menyamar sebagai orang tua itu.
"Begitukah balasan Tuhan atas ketaatan dan kekhusyukan ibadahmu? Kau memuji-muji keagungan-Nya dengan tak henti-henti, tetapi apa yang kau dapatkan? hanya bencana dan kesengsaraan."

"Dia lah yang memberi, dan Dia pulalah yang mengambil. Dia yang menghidupkan, Dia juga yang mematikan," jawab Ayyub.

Iblis menjadi semakin berang. Kembali dia menghadap Tuhan.

"Ayyub tetap taat kepada-Mu karena dia sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak lagi. Kalau dia sakit parah, sehingga lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dari-Mu.

Iblis kembali turun, menularkan penyakit yang sangat berbahaya pada sekujur tubuh Ayyub. Kudis bernanah terdapat di kepala hingga ke kaki, dan baunya sangat busuk sekali.

Namun, Ayyub masih tetap tabah dalam iman dan taqwa. Dia hanya menyerahkan nasib kepada Allah. Tak seorang pun tabib yang dapat mengobatinya, hingga tak mampu lagi ia berobat karena tak ada biaya.

Semua orang tak ada yang mau menjenguk atau mendekatinya, karena bau tubuh Ayyub bisa membuat orang muntah-muntah, dan juga karena takut tertular penyakit yang menjijikkan itu.

Hanya Rahmah, istrinya, yang dengan sabar mendampingi Ayyub, merawatnya dengan baik. Kudis bernanah yang penuh dengan ulat dicucinya tiap hari. Padahal semua orang yang lewat harus mendekap hidungnya, karena tak kuat mencium bau busuknya.

Akhirnya, sampailah penderitaan Ayyub dan istrinya pada puncaknya. Orang kampung berduyun-duyun mendatangi rumah Ayyub. Dengan paksa dan disertai ancaman mereka mengusir Nabi Ayyub dan istrinya agar segera keluar dari kampung mereka. Dengan susah payah Rahmah mengendong suaminya dan tinggal di sebuah gubuk kecil terpencil di tepi hutan.

Tiap hari Rahmah keluar menjual sisa-sisa barang miliknya untuk dibelikan makanan. Hingga akhirnya sisa barang yang dimilikinya ludes. Dalam keadaan kelaparan, Rahmah kemudian mencari pekerjaan, dia diterima di sebuah pabrik roti. Tetapi, ketika diketahui bahwa dia adalah istri Ayyub. Pemilik pabrik roti itu buru-buru memecatnya, takut kalau nanti rotinya tidak laku.

Karena merasa putus asa, Rahmah kemudian memotong rambutnya yang panjang dan ikal untuk dijual dan sekedar digunakan membeli roti.

Ketika pulang, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang tabib.

"Hai Rahmah, engkau istri Ayyub, bukan? " sapa tabib itu. Suamimu akan bisa sembuh jika dia mau minum sebotol arak. Bawalah ini, berikan kepada suamimu."

Tanpa pikir panjang lagi, Rahmah menerima arak yang disodorkan tabib itu. Dengan perasaan gembira ia pulang dengan mempercepat langkahnya.

Sesampai di rumah, Rahmah langsung menemui Ayyub. Dan betapa terkejut dan marah Ayyub ketika melihat kepala istrinya yang telah dipotong rambutnya untuk dijual. Lebih marah lagi ketika Rahmah menceritakan pertemuannya dengan seorang tabib di tengah jalan tadi.

"Dia memberikan obat agar kau dapat sembuh dari penyakitmu," kata Rahmah.

"Obat apa itu?" tanya Ayyub tidak senang.
"Arak."

"Haram!!" teriak Ayyub dengan murka. " Apakah kau akan menyeret aku ke neraka, Hah! Keluar kamu dan pergi dari sini! Awas, bila nanti badanku sudah sembuh, akan kucambuk kau seratus kali!"

Sambil menangis Rahmah keluar. Hatinya sangat sedih bukan karena diusir, tetapi karena memikirkan suaminya. Seandainya dia pergi, siapa yang akan merawatnya?. Dengan bingung dan gelisah Rahmah berkeliaran ke sana ke mari seharian. Menjelang sore, ia tak tahan lagi. Karena sangat cintanya kepada suami, ia cepat-cepat kembali ke gubuknya.

Begitu memasuki gubuk, Rahmah jadi terkejut, Ayyub tidak lagi berada di atas pembaringannya. Kemanakah dia? Siapakah yang membawanya? Sebab tidak mungkin suaminyanya itu bangun sendiri dari tempat tidurnya.

Rahmah menangis sedih sambil duduk bersidekap, dua telapak tangannya menutup wajahnya. Tiba-tiba sebuah tangan seorang laki-laki mengelus pundaknya dengan mesra dari belakang. Rahmah jadi terkejut, ia menoleh sambil menjerit. Di belakangnya telah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Meskipun wajahnya mirip dengan suaminya ketika masih sehat dulu. Laki-laki itu nampak gagah, bersih dan sehat. Bau tubuhnya pun sangat harum.

"Siapa engkau ? Sungguh kurang ajar dirimu yang tak memiliki kesopanan!" teriak Rahmah dengan marah.

"Aku Ayyub, suamimu," jawab laki-laki itu sambil tersenyum.

"Ayyub........?

Ya. Ketika engkau pergi, tiba-tiba terpancar air di depanku. Hawanya panas dan berbau belerang. Aku diperintahkan Allah untuk mandi dengan air tersebut, membersihkan badanku. Selesai mandi beberapa saat, sedikit-demi sedikit kudis yang menempel di kulitku rontok. Kulitku kembali bersih seperti dulu. Dan inilah aku sekarang. Suamimu."

Betapa gembira dan bahagianya Rahmah melihat suaminya sembuh dari penyakitnya. Mereka kemudian berpelukan merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang.

Setelah itu, Ayyub mengambil dahan ranting kecil sebanyak seratus batang, lalu diikat menjadi satu. Rahmah dipukulnya sekali untuk membayar ancamannya ketika marah kepada istrinya beberapa waktu lalu. Selanjutnya mereka hidup bahagia serta menurunkan Nabi-Nabi di belakang hari.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya


 

 

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Nabi Luth

kisah nabi luthHancurnya Kota Sadum

Nabi Luth tinggal di desa Sadum, yang terletak di wilayah Palestina. Nabi Luth tinggal di desa itu dengan seorang istri dan dua orang anak perempuannya.

Perangai penduduk desa Sadum sangat jahat dan kotor. Nabi Luth sudah berkali-kali mengajak mereka agar menempuh jalan hidup yang baik, namun seruannya selalu sia-sia. Mereka tak mau mengubah tingkah lakunya yang sesat. Penduduk Sadum suka menipu, memperdaya orang lain, merampok, dan jika perlu membunuh.

Dan yang lebih keterlaluan lagi, kaum lelaki bukannya mengejar kaum wanita, tetapi mereka lebih tertarik kepada lelaki yang muda dan bersih. Mereka lebih senang melepaskan nafsu berahinya dengan sesama jenis.

Kaum wanita hanya sekedar dipergunakan untuk menyambung keturunan. Laki-laki tidak mau menggauli wanita dengan mesra, hanya seperlunya saja. Karena itu, kaum wanita pun akhirnya mencari kepuasan pada sesama jenis juga.

Perbuatan terkutuk itu dipelopori oleh istri Nabi Luth sendiri. Bahkan, dia yang selalu memberikan informasi kepada laki-laki di desanya apabila ada seorang pemuda asing yang tampan lewat desanya, atau ada calon korban perampokan yang bisa dijadikan mangsa. Sebagai imbalan, ia akan menerima gadis-gadis belia untuk dijadikan pelampias birahinya.

Sudah puluhan tahun Nabi Luth memeras keringat untuk menyadarkan mereka, termasuk istrinya sendiri. Namun, kejahatan mereka semakin hari semakin bertambah menjadi-jadi. Melalui firman-firman Allah disampaikan janji-janji surga dan kebahagiaan abadi bagi mereka yang mau taat, dan ditakut-takuti dengan ancaman neraka bagi mereka yang selalu melakukan perbuatan tercela.

Tetapi, peringatan itu bukannya digubris, malah dicemoohnya. Yang paling mengejek dan ingkar di antara mereka justru istri Nabi Luth sendiri.

Karena merasa sudah kehabisan daya upaya, akhirnya Nabi Luth mengadu ke hadirat Allah;
"Ya, Allah tunjukkanlah kepada kaum kami yang sesat ini. Andaikata petunjuk itu masih juga ditolak, turunkanlah kepada mereka nasihat yang bukan hanya berupa kata-kata atau ancaman saja. Datangkanlah azab yang dahsyat agar mereka mau kembali. Jika semuanya itu masih tak diindahkan oleh mereka. Musnahkanlah mereka sama sekali. Sebab sudah tak ada gunanya lagi mereka hidup, mereka cuma akan menambah sengsara dan kerusakan di atas bumi ini." 

Doa Nabi Luth dikabulkan oleh Allah. Maka turunlah dua malaikat dari langit. Mereka singgah di tempat Nabi Ibrahim dengan menyamar sebagai manusia.

Setelah dihormati layaknya tamu biasa, barulah kedua malaikat Allah itu menerangkan siapa sebenarnya mereka. Nabi Ibrahim merasa ngeri setelah mendengar penuturan malaikat itu tentang azab yang bakal diturunkan kepada penduduk Sadum, kaum Nabi Luth itu.

Dengan menyamar sebagai pemuda yang tampan dan berkulit halus. Kedua malaikat itu kemudian meninggalkan rumah Nabi Ibrahim, berangkat menuju desa Sadum yang penduduknya amat durhaka.

Di pinggiran desa Sadum, terlihat ada seorang gadis tengah mengambil air minum, kedua malaikat itu segera menhampirinya, dan meminta agar mereka diterima sebagai tamu di rumah gadis itu.

Dengan ketakutan gadis itu menceritakan tabiat penduduk Sadum yang suka membunuh karena memperebutkan anak muda yang tampan. Diberitahukan pula bahwa mereka senang sekali memperkosa lelaki muda dengan cara yang amat kotor dan mesum. Tetapi, dua malaikat yang menyamar itu bersikeras ingin bertamu.

Gadis yang ternyata adalah putri Nabi Luth, tidak berani menerima mereka sebelum ada ijin dari ayahnya. Maka pulanglah gadis itu.

"Ayah, di batas desa ada dua orang lelaki muda yang sangat tampan. Belum pernah kulihat lelaki setampan mereka. Mereka ingin bertamu dan menumpang tidur di rumah kita. Bagaimana, Ayah ? Apakah kita akan menerima mereka ?"

Mendengar penuturan anak gadisnya, Nabi Luth menjadi terkejut dan bingung. Bila diterima permintaan kedua pemuda itu, ia kuatir bakal terjadi bencana atas kedua pemuda itu. Tak dapat dibayangkan, penduduk desa Sadum itu pasti akan datang berebutan untuk memperkosa mereka. Tetapi kalau ditolak, kepada siapa lagi mereka bisa menumpang?

Akhirnya, dengan sembunyi-sembunyi Nabi Luth menemui kedua pemuda itu. Setelah bersalaman dan bertutur kata sejenak, Nabi Luth kemudian memberitahukan cara-cara agar kedatangan mereka jangan sampai diketahui oleh penduduk. Mereka harus berhati-hati sekali, jangan sampai rahasia mereka terbuka.

Ketika hari telah gelap, mereka mengendap-ngendap memasuki desa Sadum, dan langsung ke rumah Nabi Luth. Namun, alangkah terkejutnya Nabi Luth, begitu tiba di rumahnya, penduduk desa Sadum sudah berkerumun dengan wajah beringas. Ternyata, istri Nabi Luth sendiri yang telah membocorkan rahasia itu.

"Hai Luth, serahkan kedua pemuda itu kepada kami," teriak para penduduk." Jangan kau habiskan sendiri makanan yang lezat itu."

Mendengar teriakan-teriakan histeris itu, berdiri bulu kuduk Nabi Luth. Dengan keberaniaanya selaku Nabi, lalu dia keluar dan berbicara dengan kaumnya.

"Hai kaumku sekalian! bertobatlah kamu dari perbuatan keji ini. Kembalilah pada aturan yang ditetapkan Allah, dan takutlah kepada siksaan-siksaanNYA yang dahsyat!"

Seruan Nabi Luth itu hilang tertelan oleh teriakan-teriakan kemarahan. Sebagian penduduk itu sudah bergerak hendak menyerbu ke dalam rumah. Melihat keadaan yang semakin gawat, Nabi Luth segera masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Dari sebuah jendela ia berbicara lagi kepada kaumnya.

"Hai saudara-saudaraku! Kembalilah kalian kepada perempuan-perempuan yang telah dihalalkan sebagai istri yang sah. Hiduplah yang wajar sebagai fitrah laki-laki. Apabila kalian tak mau mendengar nasihat-nasihatku ini, aku takut siksaan Allah akan segera membinasakanmu."

Jika nafsu telah berada di puncaknya, dan birahi telah sarat dengan rangsangan, apalagi yang dapat menghalangi, kecuali iman? Sedangkan mereka tak memiliki iman sama sekali. Oleh sebab itu seruan Nabi Luth itu tak diacuhkan sedikitpun. Bagaikan binatang buas yang menginginkan mangsanya, mereka mendobrak masuk untuk merebut kedua pemuda tampan itu.

Dengan tenaga tuanya, Nabi Luth berusaha mempertahankan kehormatan rumahnya. Namun, seberapa besar kekuatan orang tua untuk menghadapi manusia-manusi yang sudah kerasukan setan itu? Disaat-saat yang mengkhawatirkan, kedua pemuda itu berkata;
"Hai Luth, janganlah kau khawatir dan takut. Kami berdua adalah malaikat yang diutus Allah untuk mengabulkan doamu. Mereka tak akan mampu menganggu kita. Bahkan sebentar lagi mereka akan dihancurkan. Ayo ikuti kami, kita pergi dari tempat ini. Ajak kedua anak perempuanmu yang shalehah, dan tinggalkan istrimu yang durhaka, sebab dia termasuk yang harus dimusnahkan.

Dengan cara diluar kekuasaan manusia, Nabi Luth dan kedua anaknya beserta beberapa orang yang beriman dan kedua malaikat itu sendiri, meloloskan diri dan selamat hingga keluar dari desa terkutuk itu.

Setelah orang-orang yang shaleh tak ada lagi di desa Sadum, tinggallah pendurhaka-pendurhaka yang tengah dihinggapi nafsu setan itu, turunlah azab Tuhan yang telah dijanjikan.

Mula-mula bumi bergoyang, semua bangunan bergetar dan runtuh. Matahari yang semula memancarkan sinarnya, tiba-tiba menjadi gelap seketika, laksana malam tanpa bintang.

Penduduk Sadum menjerit-jerit ketakutan. Mereka berlari  kesana-kemari tak mengenal arah, menabrak-nabrak apa yang ada dihadapannya. Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar, gunung-gunung meletus, sungai meluap, gelombang di laut mengganas. Kemudian turun hujan batu berbungkah-bungkah, sehingga Desa Sadum beserta penghuninya terkubur, rata dengan tanah.

Demikian kisah kaum yang dimushkan oleh Allah karena perbuatan-perbuatan mereka yang amat durhaka.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya


Minggu, 01 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Teguh Dalam Iman

teguh dalam iman
Ketika terjadi perang melawan tentara Romawi, tiga orang bersaudara dari negeri Syam (Syiria) yang menjadi tentara Islam tertawan. Mereka bertiga dihadapkan kepada raja Rhoma yang terkenal kejam.

"Jika kalian mau mengikuti agamaku dan menjadi tentaraku, kalian akan kuberi kedudukan yang tinggi dan akan kukawinkan dengan putriku yang cantik," kata Raja Roma itu.

Namun tawaran dari sang Raja yang cukup menyenangkan itu ditolak oleh tiga bersaudara itu dengan tegas.

"Meskipun Baginda memberi janji dengan kedudukan maupun kemewahan dengan imbalan agar kami mengikuti kehendak paduka, kami menolak. Dan kami tetap memilih Islam sebagai agama kami serta muhammad sebagai panutan kami.

Merasa tawarannya ditolak mentah-mentah oleh ketiga ketiga tentara islam itu. Baginda Raja Roma menjadi murka. Diperintahkan prajuritnya untuk memanaskan minyak dalam kuali yang sangat besar, terbuat dari besi baja. Hal itu menteror mental ketiga prajurit bersaudara itu.

Hari pertama dipanggilnya si sulung untuk diinterogasi. Tetapi pemuda itu tetap teguh pada pendiriannya, ia tidak ingin berpaling dari islam dan tetap sebagai umat Muhammad.

Sang raja menjadi jengkel, ia menyuruh pengawalnya untuk memasukkan pemuda itu ke dalam kuali yang berisi minyak panas mendidih, dan tewaslah pemuda itu.

Kebiadaban raja itu juga dilakukan kepada pemuda kedua, yang juga mati syahid menyusul kakaknya.

Ketika tiba giliran si bungsu, seorang pengawal berkata kepada rajanya.
"Ampun Baginda, rasanya kita tak akan berhasil dengan menggunakan cara kekerasan. Serahkan pemuda itu kepada hamba. Biarkan hamba menggunakan cara yang halus untuk membujuknya, akan hamba buat dia ingkar dari agamanya."

Bagaimana caranya?" tanya sang raja.

"Hamba mengerti dengan kebiasaan seorang pemuda. Ia akan mudah terpikat oleh seorang wanita. Biarkan putriku merayu dan membujuknya." jawab pengawal itu.

"Hm baiklah, kusetujui usulmu. Kau kuberi waktu 40 hari untuk melakukan itu, jika dalam waktu yang kutetapkan itu kau tidak berhasil, bawa dia kembali kesini. Kita habisi saja pemuda bodoh ini."

Maka, si pemuda dibawa oleh pengawal itu pulang ke rumahnya. Putrinya yang cantik diminta untuk membujuknya. Namun ternyata rayuan dan bujukan wanita cantik tak mampu menggoyahkan  iman pemuda itu.

Siang hari pemuda itu selalu berpuasa, dan bila malam hari ia selalu shalat tahajud. Karena usahanya tak berhasil pengawal raja dan putrinya kehabisan akal.

"Pemuda itu telah kehilangan kedua saudaranya. Penolakan itu barangkali karena ia selalu teringat kedua kakaknya," kata putri itu kepada ayahnya.

"Mungkin benar apa yang kau katakan itu, anakku."

"Tapi aku tak akan berputus asa, Ayah. Mintalah perpanjangan waktu kepada Baginda raja, akan kubawa dia ke suatu tempat untuk membujuknya."

Baginda raja menyetujui perpanjangan waktu itu. Meskipun demikian putri pengawal itu masih saja gagal membujuk pemuda itu. Hingga suatu hari perempuan itu akhirnya menyerah.

"Kau begitu teguh beriman kepada Tuhanmu. Aku sangat simpati kepada dirimu, kau yang benar-benar teguh dalam memegang keyakinan. Maka, mulai saat ini kuputuskan untuk mengikutimu, termasuk agamamu, "kata putri pengawal itu.

Mendengar pernyataan itu. Si pemuda menerimanya dengan tangan terbuka. Tapi ia sangat mengkhawatirkan keselamatan perempuan itu.

"Aku adalah seorang tawanan. Setiap saat hidupku akan berakhir oleh keputusan Baginda raja. Dan jika kau mengikutiku, keselamatanmu pun akan terancam." kata pemuda itu.

"Aku tak peduli apapun yang terjadi pada diriku. Kita berdua bisa lari sejauh mungkin, akan kusediakan kuda untuk kita berdua."

Setelah mempersiapkan semuanya, akhirnya dua orang laki dan perempuan itu melarikan diri dengan menunggang kuda. Bila malam hari mereka meneruskan perjalanannya, dan bila siang hari mereka bersembunyi untuk menghindari pengejaran pasukan raja.

Suatu malam, ketika dua orang itu meneruskan perjalanannya, mereka mendengar suara derap kuda mengejarnya. Tetapi, pemuda itu justru menghentikan lari kudanya.

"Aku mendengar suara derap kuda dibelakang kita. Aku yakin mereka adalah saudara-saudaraku," kata pemuda itu.

"Tapi, bukankah dua saudaramu itu telah meninggal dibunuh oleh Baginda raja?" kata puteri pengawal itu tak mengerti.

"Benar, tapi jelas mereka adalah saudaraku." jawab pemuda itu penuh keyakinan.

Apa yang dikatakan oleh pemuda itu ternyata memang benar. Dua kakaknya yang telah mati syahid itu tiba-tiba muncul mendekat menyampaikan salam bersama malaikat yang mengantarnya.

"Bagaimana kakak berdua begitu tahan menerima siksaan dari raja Romawi yang kejam itu?" tanya si pemuda kepada saudaranya.

"Siksaan itu memang sangat menyakitkan, tetapi hanya sebentar kami rasakan. Setelah itu kami langsung dibawa oleh malaikat ke surga," jawab mereka.

"Dan sekarang, apa maksud kedatangan kakak berdua menemuiku?"

"Kami ingin menyaksikan pernikahanmu dengan gadis yang shaliha ini."

Setelah menikahkan adiknya dan memberikan ucapan selamat, kedua kakak beradik yang telah mati syahid karena siksaan raja yang kejam itu kembali ke surga. Sementara, sang adik bersama istri yang baru dinikahinya itu meneruskan perjalanannya menuju negeri Syam untuk menetap di sana. Dan berbahagialah mereka berdua berkat keyakinannya.


Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Jumat, 30 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Akibat Minuman Keras

akibat minuman keras
Diceritakan, Barshiha adalah seorang Ulama yang karena alimnya, selama 200 tahun dalam kehidupannya tak pernah berbuat maksiat, meski hanya sekejab. Diceritakan pula, berkat ibadah dan kealiman Barshiba sampai-sampai para malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.

"Apa yang kau herankan terhadapnya. Sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang kamu ketahui. Dan sesungguhnya Barshiha adalah dalam pengetahuan-Ku" kata Allah atas kekaguman malaikat kepada Barshiha. Diakhir hayatnya Barshiha yang terkenal karena alimnya itu berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya hanya karena minum khamr (minuman keras).

Iblis yang mendengar ramalan itu merasa menemukan kunci kelemahan Barshiha. Dan memang pekerjaan iblislah untuk menggoda manusia agar masuk neraka bersama-sama mereka.

Maka datanglah iblis ke biara Barshiha dengan menyamar sebagai seorang alim dengan mengenakan pakaian zuhudnya berupa kain tenun.

"Siapa kau ini?" tanya Barshiha," dan apa keperluanmu?"

"Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu dalam penyempurnaan mengabdi dan menyembah Allah," jawab iblis.

"Siapa yang hendak mengabdi dan beribadah kepada Allah, hanya Allah yang menolong dan bukan dirimu," kata Barshiha dengan hati yang mantap.

Merasa mangsanya tak termakan oleh bujuk rayunya, iblis melancarkan cara lain. Selama tiga hari tiga malam, iblis menyembah Allah tanpa makan dan minum.

Melihat tamunya beribadah sekhusyuk itu, hati Barshiha mulai goyah. Dia sangat kagum atas kekhusyukan tamunya yang terus menerus beribadah selama tiga hari tiga malam tanpa tidur, makan dan minum sedikitpun. "Bagaimana dia bisa melakukannya. Sedangkan aku yang seperti ini masih tetap memerlukan makan dan tidur bila beribadah kepada Allah," suara mengusik di dalam hatinya.

Didorong rasa penasaran, Barshiha lalu bertanya kepada tamunya, bagaimana dia bisa beribadah sampai sedemikian rupa.

"Aku pernah berbuat dosa, bila teringat dosaku itu aku menjadi tak bisa makan, minum dan tidur," kata iblis mulai melancarkan muslihatnya.

"Bagaimana caranya agar aku bisa beribadah seperti dirimu?" tanya Barshiha yang mulai terpikat oleh taktik iblis itu.

Melihat mangsanya mulai masuk dalam perangkapnya, iblis lalu menyarankan agar Barshiha sekali waktu melakukan perbuatan maksiat kepada Allah, dan kemudian bertobat kepada-Nya. Dengan demikian, Barshiha akan dapat merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.

"Apa yang harus kukerjakan ?" tanya Barshiha lagi. Benteng keimanannya semakin goyah.


"Berzina!" jawab iblis spontan.


"Itu tidak mungkin ! Aku tak akan melakukan perbuatan maksiat itu. Sungguh suatu dosa besar!" sahut Barshiha.


"Jika tak mau melakukan itu, membunuh orang saja. Bagaimana?" ujar iblis itu.


"Tidak! Aku tak berani melakukannya. Perbuatan itu sangat dikutuk Allah!"


"Bagaimana kalau minum khamr, yang dosanya lebih ringan?" desak iblis semakin gencar melakukan godaan.

"Aku memilih minum khamr. Tapi, dimana aku akan mendapatkannya?" tanya Barshiha yang telah termakan oleh bujukan iblis itu.

"Pergilah ke desa ini," menunjukkan nama dan tempat yang dimaksud.

Atas saran iblis, pergilah Barshiha menuju desa yang dimaksud. Disana ia bertemu dengan seorang wanita cantik yang berjualan khamr. Ia membelinya dan langsung meneguknya.

Karena tak biasa minum-minuman keras, Barshiha menjadi mabuk, ia kehilangan kontrol. Dengan nafsu ia memaksa perempuan penjual khamr untuk diajaknya berzina. Dan saat ia memperkosa itu, suaminya datang memergokinya. Barshiha menjadi takut dan bingung, dengan gelap mata dipukulnya suami perempuan penjual khamr itu hingga tewas.

Saat Barshiha kepayahan, iblis yang menyamar sebagai orang yang alim itu berubah menjadi orang biasa. Ia melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dan Barshiha sebagai terdakwanya.

Oleh pengadilan  Barshiha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali karena minum khamr, dan 100 kali hukuman cambuk karena berbuat zina atau memperkosa. Sedangkan karena membunuh suami perempuan penjual khamr tiu, Barshiha dijatuhi hukuman gantung sebagai ganti darah.

Saat Barshiha digantung, datanglah iblis menghampiri.
"Bagaimana keadaanmu, Barshiha?" tanya iblis.

"Siapa yang mengikuti ajakan orang jahat beginilah akibatnya," jawab Barshiha menyesali diri.

"Selama 200 tahun aku telah berupaya untuk menggodamu sampai berhasil hari ini dan hingga kau digantung. Aku dapat menolongmu, menurunkan dirimu dari tiang gantungan. Tapi ada syaratnya..." kata iblis itu yang masih saja berusaha memperdaya korbannya.

"Apa syaratnya?" tanya Barshiha.
"Kau harus bersujud padaku."

"Bagaimana aku bisa bersujud padamu, sedangkan leherku terikat tali gantungan?" ujar Barshiha yang sudah kehilangan benteng keimanannya.

"Tak perlu bersusah payah. Kau cukup bersujud dan beriman kepadaku dalam hati saja," kata iblis.

Tanpa pikir panjang lagi, Barshiha bersujud dalam hatinya menurut saran iblis. Maka matilah Barshiha dalam kekafiran menyembah iblis. Masya Allah!

Iblis punya seribu satu cara untuk menggoda manusia, ia tak akan mundur memburu mangsanya sebelum berhasil. Makin teguh iman yang dibujuknya, semakin canggih pula cara yang ditempuhnya. Dengan keuletan iblis itu, jatuh pulalah benteng keimanan Barshiha, manusia alim yang tiada tara.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Rabu, 28 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Khalifah Umar bin Abdul Azil; Menjaga Milik Rakyat

khalifah umar bin abdul aziz
Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang jujur, adil dan bijaksana. Kekuasaan di tangannya berarti kemakmuran bagi rakyatnya, bukan untuk dirinya atau keluarganya.

Ia sangat hati-hati menggunakan uang negara, agar tak sampai bocor serta jatuh kepada yang bukan haknya. Rakyatnya hidup dalam kerukunan yang damai, tanpa kebimbangan dan rasa takut menyampaikan keluhan atau kesulitan hidup mereka. Terutama terhadap tindak-tanduk para pejabat pemerintah yang sering melakukan perbuatan tanpa mempertimbangkan baik buruknya bagi rakyat dan wibawa pemerintah.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz tak ingin melihat rakyat berbuat tidak senonoh karena diawali oleh perbuatan para pemimpinnya. Karena itu ia tidak segan-segan menjatuhkan hukuman kepada siapapun yang berbuat salah, termasuk kepada orang-orang kepercayaannya atau keluarganya.

Pada suatu malam, ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz berada di ruang kerjanya, memeriksa catatan keluar masuknya dana Baitul Mal, terdengar ketukan di pintu.

Ruang kerja itu diterangi lampu minyak sekedarnya, hanya cukup terang untuk membaca di dekatnya, tetapi tidak terlalu terang untuk bercermin di kaca. Khalifah tidak pernah bercermin kecuali kepada keteladanan Rasulullah dan para sahabat Nabi.

"Siapa di luar?" tanya Khalifah tanpa membuka pintu
"Saya Ayah," terdengar suara seorang pemuda.
"Ada keperluan apa?" tanya Khalifah
"Saya disuruh ibu, untuk membicarakan tentang beberapa masalah."
"Masalah apa?"
"Buka pintu dulu, Ayah. Izinkan saya masuk," jawab anaknya mendesak ingin masuk.

"Terangkan dulu, apa masalahnya? soal keluarga, soal masyarakat atau soal negara?" tanya Khalifah masih tetap tidak membukakan pintu untuk anaknya.

"Tentu saja urusan keluarga kita, Ayah," jawab anaknya keheranan melihat sikap ayahnya.

"Kalau begitu tunggu sebentar," sahut Khalifah dari dalam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz kemudian bangkit dari tempat duduknya mendekati satu-satunya lampu minyak di kamar itu, dan kemudian meniupnya hingga padam. Ruang kerja itu berubah menjadi gelap gulita. Lalu Khalifah membuka pintu dan anaknya disuruh masuk.

Pemuda itu semakin heran melihat tingkah ayahnya. Masak berbicara dalam ruangan yang gelap seperti ini? Apakah ayahnya sudah bingung atau berubah ingatan? Apakah karena terlalu bekerja keras, tindakannya menjadi aneh, di luar kebiasaan orang waras?

Dengan agak was-was dan sedikit rasa takut, pemuda itu bertanya ingin tahu kepada ayahnya.

"Ayah, di ruangan ini cuma ada satu lampu, mengapa ayah padamkan? Apakah kita akan berbincang-bincang dalam gelap?"

"Benar. Kalau kita berbicara di dalam kamar ini, kita akan berbicara dalam keadaan gelap," jawab Khalifah.

"Mengapa, Ayah?"

"Siapakah ayahmu?"

"Amirul Mukminin. Khalifah, seorang pemimpin negara,"  jawab anak muda itu semakin tak mengerti. Bahkan ia menjadi curiga ayahnya telah mabuk kekuasaan, sehingga hilang akal sehatnya.

"Itulah jawabannya. Karena ayahmu seorang peminpin, maka kita akan berbicara tanpa lampu penerangan di ruangan ini.

"Mengapa?"

Yang akan kita bicarakan adalah masalah keluarga. Sedangkan lampu  itu, minyaknya dibeli dengan uang negara, uang rakyat, aku tidak mau urusan keluarga sampai merugikan milik rakyat, kepunyaan negara. Ruangan ini adalah kamar kerja untuk kepentingan rakyat dan negara. Tidakkah kau tahu bahwa kekuasaan adalah amanat yang akan dimintai pertanggung jawab oleh Allah kelak di Hari Pembalasan?"

Mendengar penjelasan ayahnya, barulah pemuda itu mengerti tentang apa yang dilakukan ayahnya. Yang tak mau merugikan rakyat dan negara karena urusan pribadinya.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Selasa, 27 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ganjaran Bagi Yang Syahid

ganjaran bagi yang syahid
Ketika tentara Islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah mengepung benteng Khubar, beliau bertemu dengan seorang pengembala kambing. Pengembala itu bernama Aswad ar-Ra'i yang mengembalakan kambing milik orang Yahudi. Aswad ar-Ra'i sudah sedikit mengenal Islam, namun ia belum menjalankan shalat.

"Ya Rasulullah, berilah pengertian padaku tentang Islam," kata Aswad sambil mendekati Nabi.

Rasulullah kemudian memberi pengertian tentang Islam dan beberapa ajarannya kepada Aswad, hingga pengembala itu membaca syahadat. Maka masuklah Aswad ke dalam agama Islam dan bergabung dengan tentara muslim untuk mengepung benteng Khubar.

Tetapi, dalam diri Aswad ada ganjalan dan kegalauan dalam pikirannya, karena kambing-kambing yang digembalakan itu adalah milik orang Yahudi. Dan tuannya itu berada di dalam benteng Khubar.

"Apa yang harus saya lakukan, Rasulullah? Kambing-kambing ini merupakan amanat dan menjadi tanggung jawab saya," kata Aswad.

"Kembalikan kepada orang yang berhak," jawab Rasulullah.

"Kalau aku mengembalikan kambing-kambing ini kepada pemiliknya yang berada di dalam benteng itu, pasti aku akan ditawannya."

"Cambuk kambing itu dari sini, mereka pasti akan lari dan kembali ke kandang pemiliknya."

Benar juga apa yang disarankan Rasulullah. Setelah Aswad mencambuk kambing-kambing itu, mereka lari dan kembali ke dalam benteng tempat pemiliknya berada.

Aswad ar-Ra'i yang telah bergabung dengan tentara Islam kemudian menembus benteng Khubar. Dalam penyerbuan itu, Aswad terbunuh akibat lemparan batu besar musuh. Padahal, Aswad belum pernah melakukan shalat sama sekali.

Jenazah para tentara Muslim yang gugur dalam penyerbuan itu disemayamkan di belakang barisan Rasulullah dengan ditutupi selimut, termasuk juga jenazah Aswad.

Rasulullah menolehkan pandangan ke arah jenazah bersama dengan para sahabat yang lain. Tetapi, beliau cepat-cepat melemparkan pandangannya ke arah lain.

"Ya, Rasulullah, mengapa Anda membuang muka, melempar pandangan ke tempat lain?" tanya salah seorang sahabat.

"Kulihat Aswad sedang duduk bersanding dan bercengkrama dengan seorang bidadari yang menjadi istrinya," jawab Rasulullah tersipu.


Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Umar Bin Khatab: Al Faruq Singa Padang Pasir

Umar bin Khatab: Al Faruq Singa Padang Pasir
Selain Bergelar Al Faruq yaitu orang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, Umar Ibnul Khathab juga dijuluki Singa Padang Pasir. Kecepatan pedangnya bagaikan kilat yang membelah angkasa, sehingga sangat ditakuti oleh penduduk Kota Mekah. Rasulullah sampai pernah berdoa, andaikata Allah berkenan, Umar bin Khathab yang diharapkan untuk segera masuk Islam di antara orang-orang yang memusuhinya.

Semasa belum memeluk agama Islam, Umar merupakan seorang yang kejam. Banyak darah yang dianggap musuh dihirupnya dan banyak nyawa melayang di ujung pedangnya. Bahkan begitu kejamnya saat itu, anak perempuannya sendiri yang masih kecil dikubur hidup-hidup demi memelihara wibawanya sebagai pemuka Suku Quraisy yang terpandang.

Umar adalah seorang saudagar yang berhasil. Ia putra Nufail dari Bani Adi, sebuah suku Arab yang sangat terpandang. Umar terkenal sangat gagah perkasa, garang dan kejam. Dan ia sangat teguh dengan keyakinan yang dianutnya serta rela berkorban apa saja, demi menjaga martabatnya selaku orang Quraisy dan sesuai dengan kepercayaan jahiliyah.

Umar bin Khatahab masuk Islam pada tahun kelima Bi'tsah atau lima tahun setelah Rasulullah menyerukan dakwahnya, dan ia memperoleh gelar Al Faruq dari Nabi, artinya orang yang mampu memisahkan kebenaran dan kebatilan.

Peristiwa Umar masuk ke dalam agama Islam sangat menarik, yang mencerminkan kepribadian Umar yang jujur dan berhati lembut, meskipun ia memiliki sifat yang kasar dan fisiknya kelihatan keras. Ada yang berpendapat bahwa keislaman Umar terjadi karena Mukjizat Alquran.

Kejadian yang mengharukan itu berlangsung di Makkah Almukarromah. Kekejaman Umar bin Khathab ketika berada pada puncaknya. Kemana-mana ia selalu menghunus pedangnya untuk membunuh Rasulullah. Seluruh warga kota sangat ketakutan melihat keberingasan wajah Umar.

Suatu ketika Umar berjalan ditengah terik matahari yang menyengat. Ia memergoki Laila dan Suaminya, Amir bin Rabiah, yang hendak menaiki untanya untuk pergi ke negeri Habsyi.

"Hei, hendak kemana kalian?!" teriak Umar.

"Engkau telah menganiaya kami dan seluruh kawan-kawan yang mengikuti seruan Muhammad dengan kejam. Sekarang kami mau mengungsi ke bumi Allah, ke tempat dimana kami dapat beribadah dengan tenang tanpa terganggu lagi," jawab Laila dengan pasrah.

"Hm, mudah-mudahan Allahmu yang tak kelihatan itu menyertai kalian," sahut Umar dengan sebal. Kemudian ia pun pergi sambil mulutnya menyumpah-nyumpah.

Di persimpangan jalan, Umar bertemu dengan Saad bin Abi Waqash, salah seorang sahabat dekatnya.

"Mau kemana kau, anak Khathab. Mengapa kau menghunus pedangmu?" sapa Saat bin Abi Waqash.

"Aku hendak mencari Muhammad, si budak celaka itu. Akan kucincang tubuhnya dengan pedangku ini sampai lumat. Si bodoh itu sungguh berani mendirikan agama baru, sehingga terputuslah hubungan persaudaraan kita. Orang-orang kita dianggapnya tolol, berhala-berhala kita dicaci-maki, agama nenek moyang kita dicemoohnya, dan masih bertumpuk-tumpuk lagi kejahatannya. Akan kuhabisi nyawa si bedebah laknat itu!"

"Ah, Umar! Kau ini lebih kecil dan lebih hina dari Muhammada," kata Saad, seperti tak melihat wajah Umar yang merah padam menahan amarah. "Bagaimana kau akan membunuhnya? kau kira semua keluarga keturunan Abdul Muthalib akan diam berpangku tangan. Mereka pasti akan memburu dan membunuhmu."

Sejenak Umar melongo, ia tak menyangka bahwa sahabatnya akan berkata seperti itu kepada dirinya. Dengan kasar kemudian ia membentak.
"Rupanya kau sekarang telah berani terhadapku, Saad! Ini petanda kau juga telah berganti agama. Benar apa yang kukatakan?!"

Saad bin Abi Waqash diam hanya mengangguk.

"Kurang ajar!" teriak Umar dengan gusar. "Jadi kau sudah mengikuti ajakan Muhammad itu? Hm, dengan demikian antara kita halal untuk saling menumpahkan darah, Saad. Akan kuhabisi nyawamu sekarang juga!"


"Hai Umar! kepada orang lain dan sahabatmu kau berani bersikap kejam, tapi kepada adik dan iparmu kau diam saja!" kata Saad seraya mencabut pedangnya untuk menghadapi serangan Umar.

"Apa yang kamu katakan?!" teriak Umar memelototkan matanya. "Apakah Fatimah dan suaminya juga menjadi pengikut Muhammad?"

"Apakah kamu berpura-pura tak tahu, atau memang tahu bahwa mereka telah lama menjadi pengikut Muhammad yang taat?"

"Kurang ajar!" gemeletuk gigi Umar menahan geram. Tak disangka adik dan suaminya juga telah memeluk islam. "Akan kubunuh mereka berdua. Akan kupotong kepala mereka!"

Dengan cepat Umar meninggalkan Saad untuk menuju rumah adiknya dengan masih menghunus pedang. Didobraknya pintu rumah Fatimah dengan keras, yang saat itu bersama suaminya, Said bin Zaid, tengah belajar Al Quran dari Khabab bin Art, bekas budak Umar sendiri.

Jika tiba-tiba ada geledek, barangkali tidaklah sekaget Fatimah dan suaminya, serta Khabab saat itu. Mereka sangat ketakutan dengan kedatangan Umar yang nampak marah-marah.

"Kudengar kau dan suamimu telah bertukar agama. Kuharap berita itu tak benar, Fatimah!" tanya Umar dengan nada tinggi.

Fatimah dan suaminya diam tak menjawab.

Melihat hal itu Umar semakin melonjak darahnya. Ia melompat ke arah Said bin Zaid, dipukulnya suami adikny itu hingga terjerambab. Tak sampai disitu Umar menendang perutnya berkali-kali seperti kesetanan.

Fatimah yang selama ini sangat menghormati kakaknya, melihat hal itu spontan ia menerjang ke arah kakaknya, namun segera tangan Umar menampar mukanya. Darah menetes dari sudut bibir Fatimah, tapi seperti tak dirasakannya, ia membusungkan dadanya dan berkata;
"Hai, seteru Allah. Bunuhlah kami! Kami adalah pengikut Muhammad, kami tak gentar sedikitpun menghadapi kematian. Silakan kau aniaya diri kami sepuasnya, tapi seujung rambut pun kami tak akan berbalik langkah. Kami tetap mengikuti ajaran Muhammad, yang menjadi Nabi Allah, sampai akhir hayat kami."

Mendengar ucapan adik perempuannya yang sangat berani dan penuh keteguhan, hati Umar tergetar. Ia sangat heran melihat sikap adiknya saat ini. Padahal biasanya, adik yang disayanginya itu begitu patuh dan selalu mendengar apa yang diucapkannya tanpa berani membantah. Tetapi hari ini telah berubah. Apalagi ketika dilihat bibir Fatimah berlumuran darah, hatinya menjadi luluh, seakan menyesal apa yang telah diperbuatnya.

Perlahan Umar menolong adik iparnya, Said bin Zaid, untuk berdiri dan membantunya duduk di kursi.

Saat Umar sedang bimbang, tak tahu apa yang selanjutnya dilakukan, ia melihat lembaran kulit kambing yang digenggam Fatimah.

"Fatimah, apa yang kau pegang itu. Coba kau bawa kemari, aku ingin melihatnya sebentar," kata Umar.

"Tidak boleh! Kau adalah seteru Allah, kau tak boleh melihatnya. Kau nanti pasti akan merobek-robeknya!" jawab Fatimah dengan ketus.

"Aku bersumpah tak akan merusaknya. Jika kau tak mau memperlihatkannya padaku, coba kau bacakan untukku."

Perlahan-lahan Fatimah membaca lembara Al-Qur'an surat Thaha ayat 1 sampai 8. Dengan penuh perhatian Umar mendengarkan, hatinya begitu terpesona oleh keindahan bahasa dan keagungan isi ayat yang dikumandangkan adiknya. Ia benar-benar terbuai.

"Thaha. Kami tidak turunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar engkau menjadi berat, tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut. Diturunkan oleh Allah yang menciptakan bumi dan langit. Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayan di atas Arasy. Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, dan semua yang terdapat diantara keduanya, serta semua yang terpendam di bawah tanah. Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya. Dia mengetahui rahasia dan semua yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dia yang memiliki nama-nama sempurna." 

Tergetar hati Umar. Singa Padang Pasir itu lunglai sekujur tubuhnya, dan menetes air matanya. Mulutnya yang biasa mencaci dan mengumpat, saat itu ia bergumam dengan ucapan penuh kekaguman.

"Oh, betapa indah dan mulianya."

Dan kemudian sekonyong-konyong ia berteriak dengan lantang;
"Asyhadu alla illaaha illallah, wa asyhadu anna muhammad Rasulullah." 
Kemudian ia berpaling ke arah Fatimah. "Dimana Muhammad sekarang? Aku harus bertemu dengannya. Aku akan berikrar dihadapannya."

Melihat keadaan saat itu menjadi berbalik. Khabab yang sejak tadi menggigil ketakutan, sekarang berani menjawab, "Beliau berada di rumah Al Arqam, sedang berdakwah.

"Di mana rumah Al Arqam?" tanya Umar.
"Di kampung Shafa."

Umar bin Khathab dengan segera ke luar rumah adiknya masih dengan pedang terhunus. Kali ini bukan untuk membunuh Rasulullah, melainkan untuk melindungi keselamatannya.

Sejak itu Umar memeluk agama Islam. Hal itu membuat sahabat-sahabatnya yang dulu semasa kafir, menjadi sedikit segan untuk menganggu Rasulullah.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Senin, 26 Desember 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Wanita Pertama Yang Masuk Surga

wanita pertama yang masuk surga
Suatu ketika, Fatimah bertanya kepada Rasullullah. Siapakah perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, dia adalah seorang wanita yang bernama Mutiah.

Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rasulullah sendiri? Maka timbullah keinginan Fatimah untuk mengetahui siapakah gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah diperbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib. Fatimah berangkat mencari rumah kediaman Mutiah. Putranya yang masih kecil bernama Hasan diajak ikut serta.

Ketika tiba di rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam,"Assalamualaikum....!"

"Wa Alaikumsalam ! Siapa di luar?" terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.

"Saya Fatimah, putri Rasulullah," sahut Fatimah kembali.

"Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rasulullah, sudi berkunjung ke gubuk saya," terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

"Sendirian, Fatimah," tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, yaitu Mutiah seraya membukakan pintu.

"Aku ditemani Hasan,' jawab Fatimah.

"Aduh, maaf ya," kata Mutiah. Suaranya terdengar menyesal. "Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki."

"Tapi Hasan kan masih kecil?" jelas Fatimah.

"Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya?, saya akan minta izin dulu kepada suami saya," kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah datang lagi ke rumah Mutiah, kali ini ia ditemani oleh Hasan dan Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah, Mutiah bertanya:
"Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin."

Ya, juga ditemani oleh Husain," jawab Fatimah.

"Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga," dengan perasaan menyesal, Mutiah kali ini juga menolak.

Hari ini Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Mutiah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu di rumahnya.

Keadaan Rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehingga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

"Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya," kata Mutiah sambil mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga di taruh di atas nampan.

"Suamimu bekerja di mana?" tanya Fatimah.

"Di ladang,"jawab Mutiah.
"Pengembala?" tanya Fatimah lagi.
"Bukan, Bercocok tanam."
"Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?"

"Oh, itu?" sahut Mutiah dengan tersenyum. "Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak? kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi, kalau dia bilang tidak cocok. Cambuk itu akan saya berikan padanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya. "

"Apakah itu kehendak suamimu?" tanya Fatimah keheranan.

"Oh, bukan ! Suami saya adalah seorang yang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami."

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia minta diri, pamit pulang.

"Pantas kalau Mutiah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama masuk surga," kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalanannya pulang, "Dia sangat berbakti kepada suami dengna tulus. Perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudakan wanita oleh kaum lelaki. Tapi, merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.

Sumber: Buku 30 Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Muslim
Penyusun: KidhHidayat, MB. Rahimsyah
Diterbitkan oleh: Mitra Ummat Surabaya

Jumat, 25 November 2016

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Sang Maling Dipaksa Alim

maling dipaksa alim
Saya teringat sebuah cerita, Sang Maling yang berubah kehidupannya menjadi Sang Alim. Berawal dari sebuah peristiwa ketika Maling ini memasuki rumah Kyai di sebuah desa. Sang Maling ini menggondol sebuah peti yang ia kira berisi harta. Setelah ia buka di rumahnya, ternyata isinya adalah kitab-kitab kuning berbahasa Arab milik Sang Kyai. Malang nian nasib si Maling ini dalam aksinya kali ini. Harta yang diinginkan, tak ia dapat. Dalam penyesalannya, ia terpaksa mengambil kitab-kitab tersebut dan memajangnya di ruang tamu.

Sebagai Maling profesional, ia tak pernah beraksi di desanya sendiri. Di tempat tinggalnya ia dikenal sebagai warga biasa, dan bergaul dengan bermasyarakat. Suatu ketika, ada tetangganya yang lewat di depan rumahnya. Mendapati sebuah lemari ruang tamu yang di dalamnya berjejer kitab-kitab kuning bertulis kaligrafi Arab yang merupakan judul kitab tersebut. Lalu bertanya si tetangga tersebut padanya, apakah dulunya ia seorang santri. Tanpa ragu dan menjawab dengan penuh bualan, si Maling ini menjawab panjang lebar bahwa ia dulunya pernah nyantri di Pesantren A pada Kyai Fulan. Sambil mencari-cari penjelasan untuk meyakinkan si tetangga tersebut.

Pada suatu hari, si tetangga yang pernah bertanya pada si Maling mempunyai persoalan tentang masalah hukum waris. Ia tidak sungkan bertanya pada si Maling ini untuk diberikan jawabannya dari kitab-kitab yang ia miliki. Dengan perasaan serba salah, si Maling meminta padanya agar ia kembali setelah 3 hari dengan alasan bahwa masalah ini sangat sulit. Dalam kebingungannya, ia berpikir bahwa ia harus bisa menjawabnya agar ia tidak malu. Ide pun datang, ia berinisiatif untuk menanyakannya pada Kyai yang tempo dulu ia masuki rumahnya di desa sebelah.
Si Maling ini pun datang ke rumah Sang Kyai dengan membawa semua kitabnya. Ia datang menyamar sebagai orang yang ingin mendalami ilmu agama. Sang Kyai melihat kitab-kitab yang dibawanya, ingat betul bahwa itu adalah kitab-kitab miliknya yang hilang. Tanpa ingin mengecewakan dan merendahkan perasaan, Sang Kyai mendoakan agar si Maling ini mendapatkan hidayah.

Lalu, dialog tanya jawab antara mereka berdua berjalan panjang. Sang Maling yang berpura-pura tersebut, mencatat seluruh keterangan Sang Kyai. Jawaban yang ia butuhkan, ditulis lengkap dengan rujukan dari kitab-kitab yang dibawanya. Akhirnya ia pulang dengan perasaan puas, bahwa ia dapat menemukan jawaban dari masalah hukum waris yang ditanyakan tetangganya itu.

Hari yang ia janjikan pada tetangganya pun tiba, keduanya berbincang dengan penuh bijak. Seolah Sang Maling ini benar-benar alim menguasai masalahnya. Tetangga yang bertanya padanya tersenyum puas, ia sangat bangga. Lalu dari mulut ke mulut, tersebarlah cerita bahwa di desa ini ternyata ada orang alim yang tidak menampakkan ilmunya. Setelah kejadian tersebut, banyak dari warganya bertanya kepada Sang Maling. Ia pun selalu menjanjikan pada warga yang bertanya untuk kembali padanya setelah 3 hari. Tidak ingin ketahuan identitas aslinya, bahwa selama ini ia hanya orang bodoh dan berbohong. Dalam sela waktu 3 hari itu, Sang Maling terpaksa selalu bolak-balik bertanya pada Sang Kyai akan masalahnya.

Dalam keterpaksaannya harus memberikan jawaban masalah-masalah agama, Sang Maling lama kelamaan menjadi insaf dan bertaubat. Sang Maling, kini ia telah berubah menjadi Sang Alim. Keterpaksaannya berguru pada Sang Kyai, merubah jalan hidupnya. Doa Sang Kyai agar Sang Maling ini mendapat hidayah, Allah mengabulkannya seiring berjalannya waktu. Kini, terkenalah di desa tersebut seorang Alim yang dulunya berprofesi maling.



Oleh: Ayabi Ayumi 
Sumber: Kompasiana.com