Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dongeng Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Mei 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Mencari Calon Putra Mahkota

Cerita dongeng, Mencari Calon Putra Mahkota
Ada seorang raja tua yang mempunyai tiga orang anak laki-laki. Raja itu bingung memilih calon pengganti yang akan ditunjuk sebagai putra mahkota. Sebenarnya, bisa saja ia menunjuk salah seorang putra yang ia sukai, Akan tetapi, tetapi ia khawatir bahwa putra pilihannya itu tidak mencintai rakyatnya. Raja yang tidak cinta kepada rakyat tidak akan memikirkan nasib rakyat. Ia akan dimusuhi rakyatnya. 

Akhirnya raja mendapat ilham untuk menguji ketiga putranya. Ketiga putranya dipanggil menghadap. Raja berkata, "Anak-anakku tercinta, saat ini aku akan menguji kalian dengan satu pertanyaan. Siapa yang paling bagus jawabannya, pertanda ia berhak menjadi putra mahkota yang akan kunobatkan menjadi penggantiku. Bagaimana, siapkah kalian bertiga untuk menjawab?" 

"Siap, Ayah!" jawab ketiga putra itu. 

"Pertanyaannya begini, kalau kalian menjadi raja, seperti apa besar cintamu kepada rakyatmu?" 

Putra tertua mengacungkan tangan. Raja mempersilakan anak itu menjawab. 

"Cintaku kepada rakyatku setinggi gunung," jawab putra tertua. 

Kemudian putra kedua menjawab, " Cintaku kepada rakyatku setinggi bintang." 

"Kini, giliranmu untuk menjawab," kata raja kepada si bungsu. 

"Cintaku kepada rakyatku seperti garam," jawab si bungsu. 

"Sekarang aku ingin tahu, mengapa cintamu kepada rakyatmu setinggi gunung?" kata raja kepada putra tertua.
"Gunung itu tinggi dan besar. Di dunia ini tidak ada benda sebesar gunung. Karena itu, tak ada yang bisa menandingi cintaku kepada rakyatku," jawab putra tertua. 

"Di pulau Madura ini tak ada gunung, yang ada hanya bukit-bukit. Di manakah engkau pernah melihat gunung?" tanya raja. 

"Aku belum pernah melihat gunung. Kata orang di Jawa banyak gunung yang tinggi sampai ke awan." 

"Engkau telah membuat perumpamaan benda yang belum pernah engkau lihat," kata raja agak kecewa terhadap penjelasan putra tertua. Kemudian, ia menunjuk putra kedua untuk mengemukakan alasan. 

"Bintang itu benda paling tinggi, jika cintaku kepada rakyatku setinggi bintang, berarti cintakulah yang paling tinggi," kata putra kedua. 

"Mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti garam?" tanya raja kepada si bungsu. 

"Karena hidupku sehari-hari membuat garam bersama orang-orang kecil. Selain itu, setiap manusia di dunia selalu memerlukan garam pada saat makan. Jika cintaku seperti garam, berarti semua orang akan merasakan secara nyata wujud cintaku. Tak seorangpun rakyatku yang tidak mendapat cintaku, Itu maksud cintaku seperti garam," jawab si bungsu. 

Mendengar jawaban si bungsu, raja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Agaknya, raja puas sekali dengan jawaban terakhir itu. Setelah diam sejenak, raja pun berkata, "Sekarang tiba saatnya bagiku memberi penilaian terhadap jawaban kalian. Anakku tertua bermisal dengan benda yang belum pernah dilihat. Pikiranmu terpengaruh pada apa yang engkau dengar dari orang. Jawaban anakku nomor dua yang bermisal dengan bintang menunjukkan bahwa engkau terlalu berpikir tentang benda yang jauh dari bumi, sedangkan benda bumi sendiri kauabaikan. Kemudian, jawaban anakku yang bungsu menunjukkan bahwa engkau berpikir dengan kehidupan nyata yang ada di Pulau Madura ini. Cintamu kepada rakyatmu yang seperti garam sungguh jawaban yang sangat tepat. Hal itu menunjukkan bahwa engkau dekat dengan kehidupan rakyat kecil. Oleh karena itu, aku memutuskan, anak bungsuku yang berhak menjadi putra mahkota." 

Kesimpulan
Cerita ini bisa digolongkan ke dalam dongeng nasehat yang berisi ajaran penting bagi orang-orang yang akan menjadi pemimpin. Menurut cerita ini, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan kehidupan dan kepentingan rakyatnya sehari-hari. 
Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Pak Molla

cerita dongeng anak pak molla
Malam itu Pak Molla mendayung perahu kecilnya yang bercadik menuju laut lepas. Ketika berangkat meninggalkan kampung nelayan yang kecil itu, hujan gerimis membasahi tubuhnya. Jangankan hujan gerimis, hujan lebat pun kadang-kadang ia abaikan untuk memperoleh ikan di laut. 

Pak Molla adalah seorang nelayan di salah satu pulau di Kepulauan Sapeken. Pulau itu dapat ditempuh dengan berlayar selama lima belas jam dari Pulau Madura. Penghasilannya dari memancing ikan tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk belanja sehari-hari. 

Setelah perahunya agak jauh dari darat, Pak Molla mulai membuka layar. Angin sepoi-sepoi membawa perahu itu melaju di atas ombak yang tidak terlalu besar. Kemudian, ia melemparkan pancing ke laut. Ia bernyanyi-nyanyi menunggu pancingnya didekati ikan. 

Setelah dua jam di laut, beberapa ikan tongkol berhasil ditangkap Pak Molla. Hatinya mulai gembira. Gerimis pun mulai reda. 

Pada saat perahunya sedang melaju, tiba-tiba Pak Molla merasakan perahunya menabrak sesuatu. Dalam keadaan gelap, ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Lalu, ia menghentikan perahunya dan menyelidiki sekitar tempat perahunya menabrak tadi. Setelah mencari ke sana kemari, tiba-tiba ia melihat sebilah papan. Setelah diperhatikan agak cermat, ternyata ada orang memeluk papan itu.

"Pasti awak perahu yang kena musibah di laut," pikir Pak Molla menaikkan orang itu ke perahu. Orang yang ditolong itu hampir tidak punya daya. Pak Molla menanyakan sesuatu kepada orang itu, tetapi ia tak bisa menjawab. Agaknya, ia belum sanggup berbicara karena ingatannya belum pulih benar.

Saat itu juga, Pak Molla memutar haluan menuju kampungnya. Setelah tiba di pantai, ia menambatkan perahunya. Lelaki yang ia tolong itu digendong ke rumah. Pak Molla segera mengganti pakaian orang yang belum diketahui dari mana asalnya itu. Kemudian, orang itu ditidurkan di balai-balai.

Pak Molla segera menyuruh istrinya membuat bubur. Setelah matang, bubur itu disuapkan kepada lelaki yang tidak dikenal itu.

"Meskipun tidak enak. Anda harus berusaha makan agar sehat kembali," kata Pak Molla kepada orang itu.

Lelaki itu mulai membuka mulut. Istri Pak Molla menyuapinya. Setelah kira-kira sepuluh sendok, orang itu menggelengkan kepala. Ia merasa sudah cukup.

Setiap hari lelaki tidak dikenal itu mendapat perawatan dan pelayanan yang memuaskan dari Pak Molla dan istrinya. Bahkan sejak di rumahnya ada lelaki itu, Pak Molla tidak pergi memancing ke laut agar ia bisa memberikan pelayanan dan pengobatan yang baik kepada lelaki malang itu.

Empat hari kemudian, lelaki dari seberang itu sudah mulai duduk. Pak Molla sangat senang karena orang yang ditolongnya punya harapan untuk hidup,

"Saya ingin tahu asal-usul Anda," tanya Pak Molla.

"Saya berasal dari Tanah Bugis, Sulawesi," jawab lelaki itu dengan suara hampir tidak terdengar. Kemudian ia melanjutkan. "Saya seorang awak perahu yang sedang berlayar menuju Pulau Jawa. Setelah beberapa hari berlayar, tiba-tiba perahu saya menabrak batu karang pada malam buta. Perahu itu hancur berkeping-keping. Untunglah, saya dapat berpegangan pada sekeping papan. Saya dihanyutkan arus dan dipermainkan gelombang kesana kemari. Entah beberapa malam saya berada di laut lepas sebelum Bapak menemukan saya."

Setelah mendengarkan pengalaman hidup orang itu. Pak Molla bertanya, "Apa maksud Anda kalau sudah sembuh? Apakah Anda tetap mau berkumpul bersama saya di sini atau Anda ingin kembali ke kampung halaman Anda?"

"Saya ingin sekali pulang," kata laki-laki itu, " saya punya istri dan anak. Mereka tentu sangat mengharapkan kepulangan saya. Saya juga sangat merindukan mereka. Tetapi, apa mungkin saya bisa pulang? Kampung halaman saya sangat jauh dari sini, sehingga saya perlu biaya besar, padahal saya sudah tidak punya apa-apa lagi."

"Tenanglah sahabat," kata Pak Molla sambil memegang pundak lelaki yang mulai meneteskan air mata itu. "Berdoalah kepada Tuhan, agar Anda segera berjumpa dengan anak istri Anda."

Setelah seminggu berada di rumah , Pak Molla, orang yang ditemukan di laut itu sehat kembali. Ia bisa berjalan cepat menuju sumur untuk mandi. Ia sangat berterima kasih atas keikhlasan hati Pak Molla merawatnya sampai ia sehat kembali.

Siang itu, Pak Molla mengajak istrinya ke tepi pantai. Istrinya heran karena hal itu jarang dilakukan Pak Molla. Biasanya Pak Molla mengajak istrinya berjalan-jalan ke pantai pada malam bulan purnama, sambil melihat air laut pasang mengantarkan buih-puih ke pantai.

"Ada apa engkau mengajakku ke pantai pada siang hari seperti ini?" tanya istrinya.

"Ada sesuatu yang perlu kurundingkan denganmu," jawab Pak Molla.

"Kenapa kita tidak berunding di rumah saja?" tanya istrinya.

"Kalau dilakukan di rumah akan terdengar orang yang kita tolong itu. Perundingan ini tidak boleh ia ketahui.

"O, begitu," kata istri Pak Molla. "Ayo katakan segera, aku ingin tahu."

"Begini. Aku akan bertanya kepadamu, bagaimana jika seandainya aku dengan perahuku terdampar di sebuah negeri yang jauh? Kemudian, aku tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos, sedangkan aku sangat rindu padamu."

"Aku dan anakmu pasti akan sedih," jawab istri Pak Molla.

"Kemudian, dalam keadaan susah seperti itu, ada seseorang mengulurkan tangan memberi uang secukupnya kepadaku untuk pulang."

"Engkau akan gembira. Aku dan anakmu akan sangat gembira. Kita sangat berterima kasih kepada orang yang memberimu uang itu," kata istrinya.

"Nah, orang yang sangat memerlukan pertolongan untuk bertemu anak istrinya itu sekarang ada di rumah kita. Betapa gembira anak istrinya kalau ia bisa pulang ke kampungnya," kata Pak Molla.

"Apa yang bisa kita bantu? Kita sendiri tidak punya uang," kata istrinya.

"Asalkan engkau mau menolong, bisa saja ia pulang ke kampungnya. Apakah engkau mau menolongnya?" tanya Pak Molla.

"Mau. Aku akan senang menolongnya," jawab istrinya.

"Kalung yang tergantung di lehermu itu kalau dijual kukira cukup sebagai ongkos pulang ke Tanah Bugis," kata Pak Molla.

"O, ya," ujar istri Pak Molla sambil tersenyum. Kemudian, ia melepaskan kalung itu dari lehernya." Juallah kalung ini, aku akan berbahagia  kalau ia bisa berkumpul dengan anak istrinya.

Hari itu juga kalung itu ditawarkan Pak Mola kepada tetangganya. Untunglah kalung emas itu terjual dengan harga yang pantas.

Keesokan harinya, Pak Molla dan istrinya naik perahu mengantarkan orang dari Tanah Bugis itu menuju pelabuhan Sapeken. Di pelabuhan Sapeken ia dilepas, ikut perahu besar menuju ke Surabaya. Dari Surabaya ia akan menumpang perahu ke Makasar, sekarang bernama Ujung Pandang.

Dua tahun telah berlalu, Pak Molla dan istrinya tetap hidup rukun dan damai. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat keluarga itu agak susah. Sejak membantu orang dari Tanah Bugis itu, rezeki Pak Molla makin berkurang. Jika ia pergi memancing, hasilnya sangat sedikit, tidak sampai sepertiga dari pendapatannya dulu.

"Seandainya kalung Ibu tidak dijual untuk menolong orang Bugis itu, kita tidak akan mengalami paceklik seperti ini," kata anak perempuannya yang sudah remaja.

"Sabarlah, Anakku," jawab istri Pak Molla. "sesuatu yang telah disedekahkan kepada orang tak perlu diingat lagi."

"Ibumu melepaskan kalung itu dengan ikhlas," kata Pak Molla kepada anaknya. "Jangan menggagalkan amal baik yang telah kita perbuat dengan menyesalinya seperti itu. Sepantasnya kita berbahagia karena telah mengorbankan sesuatu kepada orang lain."

Pada suatu malam, saat bulan sedang purnama. Pak Molla tidak pergi memancing karena ia ingin bergembira dengan anak istrinya di pantai. Cahaya bulan yang keemasan terpantul di atas permukaan laut.

Ketika Pak Molla sekeluarga sedang duduk bercanda di atas pasir pantai, tiba-tiba datang seseorang sambil berkata, "Saya ingin menjumpai Pak Molla."

"Ya, saya Pak Molla," jawab Pak Molla agak terkejut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tidak dikenal itu karena orang itu membelakangi cahaya bulan.

"Saya akan menyampaikan kiriman dari orang yang pernah Bapak tolong di tengah laut," kata orang itu sambil menyerahkan kantong yang tidak jelas isinya. "Uang ini mohon dibelikan kelapa. Hasil panen kelapa itu, untuk biaya hidup Bapak sekeluarga."

Setelah menerima kantong itu, Pak Molla segera membukanya. Terlihat uang logam berkilauan di bawah sorotan cahaya bulan.

"Uang emas! Uang emas!" teriak istri Pak Molla.

Agak lama Pak Molla sekeluarga terpana melihat satu kantong uang emas itu, mereka takjub bercampur gembira. Setelah itu, Pak Molla menoleh untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang menyampaikan kiriman itu. Ternyata, orang itu sudah tidak ada di situ. Pak Molla melihat ke sana kemari. Tidak ada orang. Kemudian, Pak Molla dan anak istrinya melihat ke arah laut. Mereka melihat ada orang berjalan di atas permukaan laut menuju arah bulan purnama. Di kejauhan orang itu menoleh dan melambaikan tangan. Sesudah itu, ia tidak tampak lagi.

Beberapa minggu kemudian, Pak Molla telah membeli seribu batang pohon kelapa dan beberapa hektar tanah. Tidak mengherankan kalau Pak Molla kemudian hidup bahagia lahir dan batin.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk dongeng. Hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah orang yang ikhlas beramal untuk kemanusiaan pada suatu ketika akan mendapat berkat dari Tuhan.


Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

Senin, 24 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Para Pedagang Kucing

para pedagang kucing (pulau tikus)
"Di kampung kita ini aku seperti tak bisa berbuat apa-apa," kata Jadrin kepada istrinya. "Berdagang kecil-kecilan sudah kucoba, tetapi rugi terus. Bertani sudah kulakukan, tetapi karena tanah yang kumiliki hanya sedikit, hasilnya hanya cukup dimakan tiga bulan. Kali ini aku akan mengadu untung di Pulau Jawa.

"Pekerjaan apa yang hendak kaulakukan di sana?" tanya istrinya. 

"Telah kupikirkan masak-masak, aku akan menjadi kuli. Pekerjaan apa saja yang diberikan orang kepadaku, akan kukerjakan. Pokoknya aku mendapatkan rezeki yang halal."

"Kalau begitu, aku akan ikut ke Jawa," kata istrinya. 

"Jangan dulu! Kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan dan punya penghasilan tetap, engkau akan kujemput." 

"Baiklah kalau begitu," sahut istrinya. 

Tiga hari kemudian, berangkatlah Jadrin menuju pelabuhan. Di jalan ia bertemu dengan seorang perempuan yang menggendong seorang anak kecil. Baju perempuan itu compang-camping, pertanda bahwa ia orang yang sangat miskin. 

"Tolong, Pak," seru perempuan itu kepada Jadrin, "Kucing-kucing ini tolong dibeli. Anak saya ini yatim. Ia ditinggal mati ayahnya sejak dalam kandungan. Ia sekarang sakit karena kurang makan. Kalau Bapak mau membeli tiga ekor kucing saya ini, anak yatim ini baru bisa makan. 

Jadrin memperhatikan anak busung lapar yang berada dalam gendongan ibunya itu. Wajahnya sangat kuyu dan matanya cekung mengundang rasa kasihan. Jadrin pun memperhatikan ketiga ekor kucing dalam kurungan bambu yang ada di dekat kaki perempuan miskin itu. Kucing-kucing itu tampak meronta kesana kemari, ingin keluar dari kurungan. 

Sebenarnya, Jadrin tidak tertarik membeli kucing-kucing itu. Ia tidak yakin, setibanya di Pulau Jawa ada orang yang mau membeli kucing itu. Akan tetapi, kalau kucing itu tidak ia beli, anak yatim itu tidak akan segera mendapatkan makanan. 

"Berapa harga kucing yang akan ibu jual?" tanya Jadrin.

"Bayarlah lima gobang (1 gobang = 2,5 sen) saja!" 

"Saya hanya membawa sepuluh gobang untuk ongkos berlayar ke Jawa. Kalau Ibu setuju, akan saya bayar tiga gobang." 

Wajah perempuan itu tampak berseri-seri. Ia tidak menyangka kucingnya akan terjual semahal itu. Setelah disetujui, Jadrin pun membayar dengan uang tunai. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan sambil menjinjing kurungan berisi tiga ekor kucing. 

Tiba di pelabuhan, Jadrin langsung naik ke perahu. Di atas perahu, kucing-kucing itu mengeong. Orang-orang menjadi heran karena ada kucing akan dibawa ke Pulau Jawa. Lebih heran lagi setelah mereka mendapat penjelasan dari Jadrin bahwa kucing itu akan dijual. Sejak dulu, di Madura tidak ada orang berdagang kucing.

Perahu yang dinaiki Jadrin kini berada di laut lepas. Angin barat yang kencang membawa perahu layar itu melaju cepat. Para penumpang gembira karena perahu yang mereka naiki akan segera sampai di daratan Pulau Jawa. 

Pada malam harinya, turunlah gerimis bersama angin kencang. Bunyi petir bersahut-sahutan di udara memekakkan telinga. Para penumpang ketakutan. Juru mudi tidak mampu mengendalikan perahu karena angin dan arus yang bergerak ke timur. Seharusnya perahu itu menuju ke Selatan, tetapi untuk keselamatan penumpang, perahu dibiarkan mengikuti arah arus dan angin saja.

Keesokan harinya, mereka melihat daratan. Karena ada peralatan perahu yang perlu diperbaiki, pemilik perahu dan para penumpang bersepakat untuk singgah di pulau itu. Setelah tiba di darat, tahulah mereka bahwa daratan yang mereka singgahi itu bernama Pulau Tikus.

"Mengapa disebut Pulau Tikus?" tanya Jadrin kepada penguasa pulau yang ketika itu berada di pelabuhan.

"Sebab di sini banyak sekali tikus. Penduduk pulau tidak berdaya menghadapi puluhan ribu tikus yang setiap waktu menyerang tanaman dan simpanan makanan di dalam lumbung. Pada mulanya, pulau ini sangat makmur. Akan tetapi, setelah adanya tikus yang sangat banyak itu, hidup penduduk menjadi susah."

Kemudian Jadrin memberi tahu penguasa pulau bahwa ia membawa binatang yang suka sekali memakan tikus. Penguasa pulau sangat tertarik pada binatang yang dibawa Jadrin. Ia pun meminta Jadrin untuk mengambil binatang itu di perahu.

Setelah Jadrin menunjukkan ketiga ekor kucing itu, penguasa pulau dan sebagian penduduk di pelabuhan merasa kagum. Itulah kali pertama mereka melihat kucing. Kucing-kucing itu meronta ingin keluar dari kurungan karena mereka sangat lapar.

"Jika binatang ini benar-benar suka makan tikus, saya mau membeli dengan harga lima dinar (mata uang emas lama) seekor," ujar penguasa pula,"tetapi saya ingin melihat bukti dulu."

Bersama penguasa pulau dan para penduduk, Jadrin membawa kucingnya ke perkampungan yang banyak tikusnya. Kucing-kucing  lapar itu tampak semakin liar setelah melihat tikus. Jadrin pun membuka pintu kurungan. Dengan cepat, ketiga ekor kucing itu mengejar tikus-tikus yang sedang berkeliaran. Setelah melahap seekor tikus, kucing-kucing itu pun mengejar tikus yang lain. Berpuluh-puluh ekor tikus berhasil diterkam dan dicabik kucing-kucing itu. Penduduk yang menonton pun bersorak kegirangan.

Saat ketiga ekor kucing itu memburu tikus, penguasa pulau dan beberapa orang kaya membayar harga kucing itu kepada Jadrin. Jadrin menerima lima belas keping uang emas. Setelah itu, ia kembali ke pelabuhan dengan riang gembira.

Perahu yang dinaiki Jadrin sudah selesai diperbaiki. Beberapa saat kemudian, perahu itu mengangkat sauh dan bertolak menuju Pulau Jawa.

Tiba di Pulau Jawa, Jadrin merasa tidak perlu mencari pekerjaan karena ia telah banyak mengantongi uang emas. Ketika ada perahu yang hendak berlayar ke Madura, ia pun pulang untuk menjumpai istrinya. Ia berniat menetap di kampungnya lagi. Uang emas yang dimilikinya akan dipakai untuk membeli tanah pertanian yang subur.

Satu tahun kemudian, Jadrin telah menjadi orang yang hidup layak. Segala keperluan sehari-harinya terpenuhi karena ia rajin mengerjakan tanah dan ladangnya.

Kehidupan Jadrin yang berubah menjadi baik itu membuat heran para tetangganya. Ada yang bertanya langsung kepada Jadri, dari mana dan bagaimana bisa memperoleh harta sebanyak itu. Jadrin mengaku dengan jujur bahwa kekayaan itu didapatnya dengan menjual kucing ketika perahu yang ditumpanginya dihanyutkan arus ke Pulau Tikus.

Secara diam-diam, tiga orang tetangga Jadrin mulai membeli kucing ke kampung-kampung di sekitarnya. Ada  yang berhasil membeli dua puluh lima ekor, dua puluh ekor, dan tiga puluh dua ekor. Semua kucing itu mereka beli dengan dengan harga sangat murah.

Kemudian, mereka bertiga menyewa sebuah perahu untuk mengangkut kucing-kucing itu ke Pulau Tikus. Dalam perjalanan, tidak hentinya mereka membicarakan keuntungan yang akan mereka dapat. Bahkan, mereka sempat pula merencanakan rumah yang akan dibangun, serta memilih sawah yang hendak mereka beli. Deru ombak tidak mereka perhatikan lagi.

Setelah tiga hari tiga malam berlayar, sampailah mereka ke Pulau Tikus. Kurungan-kurungan kucing diturunkan ke darat. Kemudian mereka menjumpai penguasa pulau dan menyampaikan maksud bahwa mereka membawa tujuh puluh tujuh ekor kucing untuk dijual.

"Perlu kalian ketahui bahwa tikus di pulau ini sekarang sudah habis," kata penguasa pulau dengan suara tenang. "Setahun yang lalu, kami membeli tiga ekor kucing. Kucing-kucing itu membantu kami sehingga tikus-tikus punah. Kalaupun masih ada, sudah tinggal sedikit. Jadi, penduduk pulau ini sudah tidak memerlukan kucing lagi."

Ketiga pedagang kucing itu terkulai bagai orang letih. Mereka tidak menyangka akan rugi besar seperti itu. Mereka pun pulang ke Pulau Madura dengan penuh rasa kecewa.

Kesimpulan
Cerita yang bisa digolongkan dalam dongeng ini berisi aneka macam pelajaran, antara lain, orang yang senang membantu anak yatim dan orang yang sedang mengalami penderitaan akan mendapat bantuan tidak terduga. Selain itu, setiap kebaikan di balas Tuhan dengan kebaikan pula. Cerita ini juga menyarankan bagi orang yang akan berdagang atau bekerja untuk tidak berbuat hanya karena latah. Orang yang bekerja hanya karena latah, tanpa perhitungan matang dan seksama, akan tidak memperoleh keuntungan yang diharapkan.


Sumber : Buku Cerita Dari Madura
Penulis: D. Zamawi Imron 
Penerbit : Grasindo

Sabtu, 15 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Payung Sakti

payung sakti
Pak Esmo sering mendapat ke berbagai negara. Kini setelah tugas-tugasnya selesai, Pak Esmo dan keluarganya kembali ke tanah air. Pak Esmo dikaruniai dua orang anak. Soraj dan Meyko. Kedua anak ini lahir di luar negeri. 

Pada saat liburan panjang, Pak Esmo mengajak istri dan anak-anaknya mengunjungi Keraton Vohig, milik leluhur mereka. Soraj dan Meyko sangat gembira mendengar rencana liburan itu. Keluarga mereka yang tinggal di Keraton Vohig juga sangat gembira. Sebab mereka pun telah lama tidak berjumpa dengan Pak Esmo yang sering berada di luar negeri. 

Hari yang ditunggu-tunggu Soraj dan Meyko akhirnya tiba juga. Mereka kini tiba di depan gerbang Keraton Vohig. Pertama-tama mereka harus menghadap Pak Edfo, penasehat keraton itu. Pak Edfo tersenyum ramah. Walau sudah lama tidak berjumpa, ia masih mengingat nama Pak Esmo dan istrinya. 
"Esmo dan Eyda, senang sekali bisa melihat kalian lagi. Selamat datang di Keraton Vohig ini." 

Kini keluarga Esmo bisa bebas memasuki semua wilayah keraton. Beberapa prajurit keraton mengawal mereka. Namun Soraj dan Meyko tidak diizinkan masuk ke Kastil Yeik, tempat tersimpan rahasia pusaka Keraton Vohig. 

Pada suatu hari, Soraj dan Meyko bermain bersama sepupu mereka. 
"Hei, Digha!Tolong antar kami ke kastil Yeik, ya!" bujuk Soraj. 

"Untuk apa ? Kamu kan belum diwisuda. Hanya anggota keluarga yang sudah diwisuda yang boleh ke Kastil Yeik. Disitu disimpan payung sakti milik leluhur kita," ujar Digha melotot. 

"Waaah, kamu pelit Digha. Oylu, kamu saja deh yang mengantarkan kami," Soraj kini membujuk Oylu, adik Digha. 

"Aku tidak berani. Kalian kan belum di wisuda," jawab Oylu. 

"Malamnya, Soraj bercerita dan mengeluh pada ayahnya.

"Pak, kata Digha, aku dan Meyko harus di wisuda dulu baru bisa masuk ke Kastil Yeik. 

"Diwisuda apa sih?" Seperti kuliah saja!" 
"Oh, wisuda yang dimaksud Digha adalah wisuda di Keraton Vohig. Anggota keluarga yang sudah di wisuda berhak memakai gelar bangsawan. Juga ikut memiliki segala kekayaan Keraton Vohig," kata Pak Esmo. 

"Termasuk boleh ke Yeik tempat rahasia itu ?" tanya Meyko. 

"Iya," jawab Pak Esmo singkat. 

Agar anaknya tidak penasaran, Pak Esmo mengajak mereka berkeliling wilayah kekuasaan keraton. Mereka berjalan didampingi pengawal keraton. Mereka mengunjungi peternakan, juga perkebunan sayur mayur. Lalu mengunjungi pantai dan gunung yang masih berada di wilayah kekuasaan keraton. Di sepanjang pantai terdapat benteng dan meriam-meriam kuno. 

Ketika malam pertama, bulan purnama tiba,  Keraton Vohig mengadakan wisuda. Kali ini untuk memberi gelar kepada Soraj dan Meyko. Wisuda kali ini memang agak unik. Sebab wisuda biasanya dilaksanakan tidak lama setelah si bayi lahir. Soraj dan Meyko pun bisa melihat pusaka di Kastil Yeik. 

Pada puncak acara wisuda, Soraj dan Meyko diizinkan melihat kastil Yeik. Pak Edfo, penasehat keraton menerangkan pada mereka. 
"Inilah payung pusaka leluhur kita. Payung ini terbuat dari kulit binatang. Jari-jarinya terbuat dari tiga anak panah yang ujungnya dari emas putih. Jika payung ini dikembangkan, bisa menghentikan hujan. Jika dikuncupkan bisa mendatangkan hujan. Benda pusaka ini hanya digunakan jika diperlukan saja. Dan kesaktiaannya hanya di sekitar wilayah Keraton Vohig. 

Kini Soraj dan Meyko baru mengerti, mengapa Digha dan Oylu dulu tidak mau mengantar mereka ke Kastil Yeik. Pusaka leluhur mereka itu ternyata hebat sekali. Berbahaya kalau jatuh ke tangan orang jahat. 

Keesokan paginya, Soraj dan Meyko minta diantar oleh pengawal untuk berkeliling desa. Di desa, kedua anak itu melihat penduduk desa mengangkut dari sungai. Anak-anak seumur mereka juga tampak giat mengangkut air. Air itu digunakan untuk menyiram kebun buah-buahan dan sayuran. 

"Pak, mengapa tidak mengambil air dari sumur?" Meyko bertanya pada salah seorang petani. 

"Ini musim kemarau, Nak. Sumur kami kering. Sudah lama hujan tidak turun," jawab si petani. Mendengar itu Soraj dan Meyko jadi sedih. Kasihan petani itu. Kasihan juga anak-anak di desa ini. Di saat liburan, mereka harus bekerja keras mengangkat air. Timbul keinginan Soraj dan Meyko untuk menolong penduduk desa. 

"Meyko, ayo kita kuncupkan payung sakti agar hujan turun," kata Soraj kepada adiknya. 

"Aku setuju, ini kan untuk kepentingan orang banyak, " jawab Meyko. 

Malam harinya, kakak beradik itu masuk ke Kastil Yeik. Mereka menguncupkan payung sakti. Baru saja mereka menguncupkan payung itu, terdengar suara petir menggelegar. Soraj dan Meyko lega karena hujan turun membasahi wilayah Keraton Vohig. Pagi harinya mereka segera mengembangkan payung sakti itu. Hujan pun berhenti. 

Soraj dan Meyko kembali berkeliling desa, para petani tampak sudah mengambil air dari sumur. Dan, anak-anak bermain riang di sungai. 

Sumber : Majalah Bobo Tanggal 19 Juni 2015. 
Penulis : Hernadi Setiawan

Kamis, 13 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kisah Raja Minos dan Minotour

kisah raja minos dan minotour
Di sebuah pulau yang bernama Pulau Kreta, hiduplah seorang putra dewa. Ia sering dipanggil dengan nama Minos, putra Dewa Zeus, dewa tertinggi di negeri knossus dengan Dewi Europa, dewi tercantik di antara dewi-dewi yang lain.

Setelah dewasa, Minos diangkat menjadi raja untuk memimpin negeri Knossus. Semenjak Minos menjadi raja, ia sangat ditakuti dan disegani. Beberapa bulan kemudian, Minos mempersunting putri Helios salah satu dewa. Sang permaisuri yang bernama Pasiphae dibawa ke istananya yang mewah dan indah di Knossus. Dari perkawinannya itu, Raja Minos dikaruniai empat anak. Mereka adalah Andragonis, Blancus, Ariadne dan Phaedra. Semasa Minos meniliki seorang Abdi "Daedalus", seorang seniman ulung dan cerdas. 

Dengan keahliannya, Daedalus mampu menciptakan berbagai keperluan istana. Dari mulai senjata, patung, bahkan membuat puri pemujaan terhadap Dewi Aphrodite, dewi kecantikan yang sangat indah. 

Suatu ketika Raja Minos mendapat hadiah seekor banteng dari Dewa Poseidon, dewa penguasa lautan. Melihat keelokan banteng jantan ini, Permaisuri Pasiphae terpesona. Ia pun memerintahkan seniman ulung Daedalus, untuk membuat banteng betina yang tak kalah eloknya. Uniknya, permintaan itu sang banteng harus bisa hidup seperti layaknya banteng yang lain. 

"Tolong buatkan aku seekor banteng betina. Aku ingin banteng betina itu bisa hidup," kata permaisuri Pasiphae.

Daedalus terkejut mendengar permintaan permaisuri Pasiphae. Namun, ia tak berani menolak. Untuk memuaskan sang permaisuri, Daedalus segera mempersiapkan peralatan untuk bekerja membuat banteng betina. Dengan berpuasa dan memohon pada dewa, agar banteng ciptaannya bisa hidup. Setelah dirasa selesai, Daedalus berdoa memohon pada dewa. 

Ajaib!

Hanya dalam waktu singkat perlahan-lahan banteng betina dari kayu mulai bergerak. Hal itu membuat sang permaisuri sangat gembira. Beberapa bulan kemudian setelah, setelah dikawinkan dengan banteng putih Raja Minos, banteng betina itu melahirkan seekor anak yang sangat aneh. Atau lebih tepatnya mirip monster. Makhluk yang berkepala banteng, namun berbadan manusia. Oleh sang Permaisuri monster itu diberi nama Minotour.

Kabar tentang banteng yang melahirkan monster membuat Raja Minos marah. Segera Raja Minos memanggil Daedalus. Ia dianggap telah membuat kesalahan besar. Daedalus dan keluarganya dipenjara. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Daedalus tak menyangka, kalau perbuatannya justru menimbulkan petaka bagi keluarganya. Selama di penjara Daedalus berupaya untuk meloloskan diri. Berbekal keahliannya, ia membuat peralatan untuk bisa meloloskan diri.

Dalam beberapa hari, ia berhasil menciptakan beberapa pasang sayap yang disambung dan direkatkan dengan lilin. Dengan menggunakan tali, sayap kayu itu diikatkan ke tangan dan tubuhnya. Usaha untuk meloloskan diri berhasil. Daedalus keluarganya dapat terbang ke angkasa, tanpa sepengetahuan penjaga penjara. Namun malang bagi Ikaria, anak Daedalus. Karena kegirangan ia terbang melambung tinggi hingga melewati matahari.

"Anakku! Jangan terlalu tinggi! Marilah segera turun di tempat yang aman!" tegur Daedalus.

"Sedikit lagi, Ayah. Aku ingin menikmati kebebasan ini," bantah Ikaria.

Ikaria terlalu menikmati penerbangannya, hingga lupa diri. Segala nasihat ayahnya tak dihiraukan. Tanpa disadari sayap yang dilumuri lilin itu pun kian lama kian meleleh, terkena sengatan matahari. Dalam waktu singkat keseimbangan Ikaria goyah. Ia tidak bisa mengendalikan sayapnya. Dan akhirnya jatuh di sebuah laut dan tenggelam di dasar laut.

Konon laut di mana anak Daedalus terjatuh dinamakan laut Ikaria.

Sementara itu, monster Minotour telah membuat penduduk negeri itu ketakutan. Karena setiap hari monster itu memakan manusia. akhirnya, masa kejayaan dan pemerintahan Raja Minos musnah bersama hilangnya peradaban Pulau Kreta dan binasanya monster minotour.

Sumber : Majalah Bobo Edisi 02 Thn III, 27 Mei - 3 Juni 2003
Diceritakan kembali oleh : Mazsoes
Ilustrasi oleh : Supriyanto

Senin, 10 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ting Gegenting

ting gegenting
Seorang anak yatim tinggal dengan ibunya. Mereka hidup sebagai petani. Tinggalnya di suatu dusun di tepi hutan. 

Pada suatu hari, sang anak kelaparan. Ia berkata kepada Ibunya, "Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan mau makan." 

"Ibunya menjawab, "Tunggulah, anakku, sebentar, Ibu mau menebas ladang dulu." 

Setelah ibunya selesai menebas ladang, si anak bangun dari tidurnya dan merengek kembali, "Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan, mau makan!" 

Sekali lagi ibunya menjawab,"Tunggu, Nak, Ibu mau membakar ladang dulu." 

Karena lemah, sang anak tidur lagi. Setelah ibunya selesai membakar ranting-ranting dan daun-daun di atas ladang, si anak pun terjaga karena lapar perutnya. 

"Ting, gegenting, perutku sudah genting kelaparan, mau makan," tangisnya. 

Ibunya menjawab, Tunggu, Nak, Ibu mau menanam padi dulu." 

Si anak pun tertidur lagi. Setelah ibunya selesai menanam padi, si anak pun terbangun lalu menangis minta makan. 

"Ting, gegenting, perutku sudah kelaparan, mau makan!" 

Lagi-lagi ibunya menjawab, "Tunggu, Nak, Ibu masih mau merumput (membersihkan rumput yang tumbuh) dulu." 

Mendengar ini si anak tertidur kembali. Tidak lama kemudia si anak bangun dan menangis. 
"Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan, mau makan!" 

"Tunggu sebentar, Nak, padi sudah berbuah." 

Si anak pun tertidur kembali. 
"Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

Jawab Ibunya, "Tunggu, Nak, padi kita sudah menguning ujungnya." 

Si anak pun tertidur kembali. Setelah tidur cukup lama, si anak terbangun lagi dan merengek. 
"Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

Lagi-lagi si ibu menjawab. "Tunggu, Nak, padi kita sudah masak, Ibu mau memotong padi dulu." 

Mendengar janji ini, si anak segera tertidur. Tiba-tiba si anak bangun kembali dan menangis. 
"Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

"Tunggu, Nak, Ibu masih mau mengirik (memisahkan padi dari tangkainya) padi dulu." 

Anak pun tertidur kembali. Lewat beberapa waktu si anak pun bangun.
"Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

"Tunggu sebentar, Nak, Ibu mau menampi gabah dulu," 

Si anak tidur dengan hati gelisah. Perutnya yang lapar tak lama pun membangunkannya. Ia merasa lapar lagi. Ia menangis lagi. 
"Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

Ibunya menjawab," Tunggu, Nak, Ibu mau menjemur gabah dulu." 

Oleh karena kecewanya, si anak pun tidur lagi. Ia bangun dan menangis lagi. 
 "Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

Ibunya menjawab, " Tunggu Nak, Ibu mau menumbuk gabah dulu." 

Selesai menumbuk gabah, terdengar lagi suara anaknya merintih sedih," "Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

Jawab Ibunya, " Tunggu, Nak, Ibu mau menampi beras dulu." 

Setelah ibunya selesai mencuci beras, anaknya sudah terjaga sambil menangis, "Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan!"

"Sabar, Nak, Ibu masih mau menanak nasi dulu," jawab ibunya. 

Si anak yang sudah lemah badannya segera tertidur. Tak lama ia bangun lagi. Ia terus merengek dan menangis ...suaranya terengah-engah. 
"Ting ge....genting ... pe ... rutku ... suuu ... dah genting, ke ...laparan, mau maa....kaannn." 

Akhirnya ibunya menjawab," sebentar lagi, Nak. Ibu mau menempatkan nasi di piring dulu." 

Akan tetapi, ketika si anak bangun mau makan, tiba-tiba tingnggngng ... putuslah perutnya yang sudah genting karena sudah kelaparan, sehingga tidak dapat lagi melanjutkan hidupnya di dunia ini. 

Sang Ibu dengan hati sedih mendekati anaknya. Ia menangis sedih. 

Kesimpulan
Dongeng terdapat di daerah Endikat (Lahat) di Palembang dan diceritakan kepada anak-anak yang tidak suka makan agar mau makan. 
Dongeng ini mengajarkan kepada kita agar jangan rewel pada waktu makan, karena harus diingat, bahwa di dunia ini banyak sekali anak-anak yang mati kelaparan karena tidak ada persediaan makanan. 
Di samping itu dongeng ini juga sangat menarik, karena dapat membuktikan kepada kita bahwa untuk menghasilkan sepiring nasi saja tidak mudah, karena harus melewati berbagai tahap yang cukup memakan waktu dan tenaga. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali meremehkan nasi, yang setiap hari disajikan kepada kita oleh orang tua kita. 

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

Jumat, 31 Maret 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Pengorbanan Alexander

Pengorbanan Alexander
Malam itu Yuri dan Anna, istrinya, dalam perjalanan pulang dari kota. Dmitry, bayi mereka tidur lelap di pelukan. Mobil tua bak terbuka milik Yuri menderu-deru di tengah lebatnya salju. Ketika sudah dekat rumah, lampu mobil menyorot benda berbulu tergeletak di jalan. Yuri turun untuk memeriksa. Ternyata seekor beruang. Jantungnya masih berdenyut. Yuri menaikkan beruang itu ke bak belakang dan menyelimutinya dengan karung bekas gandum.

Setiba di rumah, Yuri segera membasuh dan membalut luka-luka beruang itu. "Bagaimana kalau ia kita beri nama Alexander?" Yuri meminta pendapat istrinya. Anna mengangguk setuju. 

Tiga hari kemudian, Alexander mulai pulih. Ia sudah bisa leluasa bergerak, bergulungan di salju. Yuri dan Anna sangat kagum, ternyata beruang itu sangat lembut dan bersahabat. Alexander lebih sering menyembunyikan kuku-kukunya yang tajam dibalik tebalnya bulu-bulunya. 

Yuri dan Anna menganggap Alexander sebagai anggota keluarga mereka. Anna mengajari beruang itu cara menggoyang-goyang boks Dmitry dan memegangi botol susunya. Alexander melakukan semua itu dengan sempurna. 

Pada mulanya, orang-orang di sekitar mereka menganggap tindakan keluarga Yuri sangatlah berbahaya. Mereka buru-buru menutup pintu rumah jika melihat Alexander bermain-main di luar. 

"Kau harus membuktikan bahwa kau seperti mereka kira, Alexander," kata Yuri sambil mengelus-ngelus bulu Alexander. 

Alexander seperti mengerti perkataan Yuri. Ia menunjukkan kasih sayangnya pada lingkungan sekitarnya. Ia bercanda dengan Angus si sapi. Serta menggiring Olga domba ketika Yuri hendak memangkas bulu-bulu mereka untuk dibuat wool yang hangat. Ow, Alexander juga membantu Pak Tua Oliver mendorong gerobak jeraminya menaiki tanjakan. 

"Ouf, terima kasih, Alexander," kata Pak Tua Oliver sambil menyeka peluhnya. Pak Tua Oliver lalu memberikan Alexander sebuah apel.

Lambat laun, orang-orang mulai menerima Alexander di tengah-tengah mereka. Ia tidak lagi dianggap sebagai binatang buas berbahaya. 

Suatu malam, Yuri dan Anna diundang ke sebuah pesta agak jauh di kota. Dmitry ditinggal di rumah ditemani Alexander. Pintu rumah dikunci dari luar agar tidak dimasuki orang jahat. Yuri sangat percaya pada Alexander. 

Melihat Dmitry tidur nyenyak, Alexander merebahkan tubuhnya di dekat boks bayi. Semua keperluan Dmitry telah disiapkan di dekatnya. Jika bayi itu terbangun, Alexander tinggal memberikan botol susu, atau menggoyang-goyangkan boks bayinya. 

Ketika sedang terkantuk-kantuk. Hidung Alexander mencium bau benda terbakar. Ya ampun, ternyata api telah berkobar di dapur. Dan mulai menjilat gorden dan benda-benda mudah terbakar lainnya. Alexander agak panik. Untunglah ia teringat untuk menyelamatkan tuannya. Alexander segera mengangkat Dmitry dan menggendongnya di pundak. Di pecahkannya kaca jendela dan melompat keluar. Api yang mengganas membuatnya semakin takut dan berlari tak tentu arah. Tanpa sadar ia telah jauh masuk ke dalam hutan yang dihuni kawanan serigala. 

Kekalutan makin mencekam. Serigala-serigala pembunuh itu mengepung Alexander dan Dmitry . Arrgh! Alexander berulang kali mengeluarkan auman yang menakutkan. Serigala-serigala itu menggonggong sambil memamerkan tajamnya taring-taring mereka. 

Susah payah Alexander mencoba mengadakan perlawanan. Untuk pertama kalinya ia menggunakan cakar-cakarnya untuk mengusir serigala yang menyerangnya. Sementara sebelah tangannya erat memeluk Dmitry. Beberapa cakaran sempat bersarang di tubuh serigala-serigala itu. Namun, karena jumlah yang tak seimbang, justru Alexanderlah yang lebih banyak terluka. Dengan auman terakhir yang sangat keras, ia memaksa kawanan serigala itu lari tunggang langgang. Tak kuasa menahan pedihnya luka-luka di sekujur tubuhnya, Alexander roboh ke tanah yang diliputi salju. 

Orang-orang desa membantu keluarga Yuri memadamkan api di rumahnya yang sebagian besar telah hangus. Mereka menemukan keranjang Dmitry kosong tanpa pemiliknya. 

"Oh...Yuri! Di mana Dmitry, anak kita?" Anna menangis histeris. 

Tiba-tiba seseorang dari mereka berteriak, "Hei! Ada jejak Alexander di salju!" warga desa sepakat mengikuti jejak-jejak itu. 

Dari kejauhan sayup-sayup terdengar tangis kecil Dmitry. Ketika ditemukan, ia dalam pelukan Alexander yang hangat. Ada bercak-bercak darah di wajah Dmitry, namun tak ditemukan sedikitpun luka padanya. Tapi sungguh tragis, si beruang sahabat warga desa itu tak dapat diselamatkan nyawanya. Ia telah kehilangan banyak darah. 

Alexander dikuburkan tak jauh dari peternakan. Pemakamannya dihadiri orang-orang yang pernah ditolong dan disapanya tiap pagi. Semua terharu akan pengorbanan seekor beruang untuk sahabat manusianya. 

Sumber : Majalah Bobo Terbitan 19 Juni 2003
Diterjemahkan oleh Tatas Ajidharma

Jumat, 03 Maret 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ulat Hijau Di Daun Widuri

Ulat Hijau Di Daun Widuri
Miko adalah ulat hijau pertama yang tinggal di tanaman widuri. Tanaman itu hanya ada di negeri peri. Setiap musimnya, ia hanya berbunga sekali. Bentuk bunga tanaman widuri sangat cantik. Warnanya putih. Kelompaknya berumpak seperti mawar. Aromanya sangat harum. Dahannya menyamping ke berbagai arah. Tumbuhnya pun tidak terlalu tinggi.

Miko sudah lama tinggal di sana. Ia merasa bahagia sekali. Apalagi kalau angin berhembus. Bunga itu akan menebarkan keharuman yang khas. Miko akan menciumnya dalam-dalam.

Rasa Daun Widuri enak sekali. Miko sering memakannya sampai kenyang. Daun yang tua saja begitu enak. Apalagi pucuknya yang jauh lebih segar. Miko biasa meminum titik embun yang menempel di daunnya di pagi hari.

Miko pun selalu merasa aman. Ia tahu cara menyelamatkan diri. Tiap para peri memetik bunga, ia selalu sembunyi di balik dedaunan yang lebat. Sebagai satu-satunya penghuni tanaman itu, Miko sangat senang.

Tetapi, pagi itu ada seekor ulat lain naik ke atas pohon widuri.

"Hai, kamu siapa?" tegur Miko.

"Aku Nomi. Aku kelaparan. Bolehkah aku makan dan tinggal di pohonmu?" Miko diam sebentar, tetapi akhirnya ia tersenyum.

"Namaku Miko. Aku penghuni lama di sini. Kau boleh makan daun ini sepuasnya, Nomi. Persediaan banyak sekali. Tetapi jika para peri datang, kau harus sembunyi agar tidak dibuang atau dibunuh.

"Iya, Terima kasih Miko. Kau baik sekali," jawab Nomi gembira.

Mereka berdua pun mendiami tanaman widuri.

Namun keesokan harinya, ada ulat hijau kurus di dahan lain. "Maaf, aku susah mencari tanaman widuri. Bolehkah aku makan dan diam di sini?"

Miko mempersilakan. Tetapi setiap pagi, siang, dan malam, para ulat baru datang, Bahkan beberapa ulat cokelat memelas ingin tinggal . Miko pun mengatur semuanya agar mereka tidak kehabisan sumber makanan. Tetapi para ulat tidak mengikuti aturan. Mereka makan sepuasnya. Habis di cabang satu, mereka makan di cabang lainnya. Mereka semua sangat rakus, tidak bisa diatur. Akibatnya, daun pada tanaman itu hanya tersisa sedikit, meskipun bunga-bunganya tetap tumbuh indah.

Miko menjadi sedih, ia kemudian mendatangi Nomi. Ia menceritakan kesedihannya.

"Nomi, pendatang-pendatang itu kelewatan, mereka tidak bisa diatur. Mereka menumpang di rumah kita, tetapi  mereka serakah. Lihat, daun-daun habis tak tersisa. Aku tak mau mati kelaparan bersama mereka. Dan juga, sebentar lagi para peri akan datang mengambil bunga-bunga di taman."

Miko diam sebentar untuk berpikir. Sementara, Nomi serius menunggu. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Ia hanyalah ulat hijau yang masih kecil.

"Besok malam, aku akan pergi mencari tanaman widuri lain. Apakah kau akan ikut?" ajak Miko. "Aku mengajakmu karena kau sopan dan baik. Kau mengikuti aturan untuk makan teratur. Tidak seperti mereka."

"Ya, aku ikut denganmu. Biarpun mencari tanaman itu susah dan lama, aku akan ikut." tekad Nomi.

Maka, ketika malam tiba, Miko dan Nomi pun pergi.

Ulat Hijau Di Daun Widuri
Besok paginya, para peri tertawa-tawa di taman. Namun, mereka begitu kecewa. Tanaman kesayangan mereka tak berdaun lagi. Mereka melihat para ulat sedang tidur di sana. Mereka marah sekali.

"Kalian membuat bunga-bunga kesayangan para peri tak berdaun lagi," marah salah satu peri.

Ulat-ulat itu panik, lalu berusaha kabur. "Lari! Ayo lari! Bahaya!"

Sayang, mereka kurang sigap. Tubuh mereka semua kegemukan. Mereka tak mampu berlari cepat. Akhirnya, mereka hanya pasrah.

Pada peri kemudian menghitung ulat-ulat yang berhasil mereka tangkap. "Satu, dua, tiga, empat ... dua belas!"

Lalu, mereka memasukkan ulat-ulat itu ke ember, kemudian menghanyutkannya ke sungai.

Para peri kemudian memetik  bunga widuri untuk mandi.

Sementara itu, Miko dan Nomi terus berjalan, mencari pohon untuk tempat tinggal baru.

Akhirnya, mereka menemukan sebatang pohon widuri kecil.

"Akhirnya!" seru mereka berbarengan. Mereka pun berdiam di pohon itu dan makan secukupnya.

Dengan sabar, mereka menunggu daun-daun enak itu menguncup, sehingga mereka tak akan kehabisan persediaan makanan lagi.

Sumber: Majalah Bobo Edisi 02 
Terbit Tanggl 18 April 2013
Penulis : Dewi Iriani


Sabtu, 25 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Hutan Donoloyo

Hutan Donoloyo
Sejak Zaman dahulu, Donoloyo adalah sebuah hutan jati yang subur di Jawa Tengah. Banyak sekali burung betet dan ayam hutan yang cantik tinggal di sana. Para penduduk di sekitarnya mencari kayu Bakar dari ranting-ranting kering yang berjatuhan. Mereka hidup cukup makmur karena hasil sawah cukup melimpah.

Hingga suatu hari, datanglah Pak Bringgo, seorang pengusaha kayu dari kota. Pak Bringgo membujuk para warga untuk menebang pohon dari hutan. Semula warga menolak. Tetapi, seorang warga yang bernama Tanto bersedia karena Pak Bringgo berani membayar mahal untuk satu batang pohon yang ditebang.

Melihat Tanto mendadak kaya dari hasil menebang pohon di hutan, warga pun akhirnya tergoda. Mereka mendatangi Pak Bringgo untuk ikut menebang hutan.

"Kalian boleh menebang pohon sebanyak mungkin. Aku akan membayarnya mahal," kata Pak Bringgo.

"Sungguh, Pak? Mulai besok kami akan menebang pohon untuk Bapak.

"Bukan itu saja. Kalau kalian menangkap ayam hutan dan burung betet, saya juga akan membelinya dengan harga mahal," lanjut Pak Bringgo.

Warga pun senang mendengarnya. Akhirnya mereka beramai-ramai menebang hutan, menangkap burung betet dan ayam hutan. Dalam waktu singkat, Hutan Donoloyo menjadi gundul dan tak lagi asri. Tak ada lagi kokok ayam hutan dan suara burung betet yang merdu.

Karena hasil sudah tidak ada lagi. Pak Bringgo pun meninggalkan daerah itu, kembali ke kota dengan keuntungan yang melimpah.

Beberapa bulan kemudian, harta para penduduk dari hasil menebang pohon yang dijual ke Pak Bringgo pun segera habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Ketika musim kemarau tiba, sumur-sumur penduduk menjadi kering, dan udara sangat panas. Padahal sejak zaman dahulu, kampung mereka tidak pernah kekeringan.

Sawah-sawah pun gagal panen karena tidak cukup air. Ranting-ranting untuk kayu bakar pun sangat sulit dicari. Hidup mereka menjadi susah. Hutan Donoloyo yang mereka banggakan kini menjadi gundul. Mereka sangat menyesali keserakahan yang mereka lakukan.

Akhirnya seluruh penduduk kampung menyadari kesalahan mereka. Lalu, mereka bergotong royong  menanam kembali hutan Donoloyo, meskipun akan perlu waktu yang lama untuk bisa mengembalikannya seperti semula. Namun mereka kini sudah menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hutan.

Setelah hutan Donoloyo kembali hijau, kini tak ada lagi penebangan liar di sana. Seluruh warga kampung bahu membahu untuk menjaga kelestarian lingkungan hutan.

Hikmah Cerita
Selamatkan hutan kita dari ancaman penebangan liar atau penggundulan. Mari selalu menjaga kelestarian lingkungan. 

Sumber: Harian Kompas, Minggu 15 Februari 2015. 
Penulis: Fransiska Rina Milansi 
Ilustrasi: Regina Primalita

Kamis, 23 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Cerita Rakyat dari Bengkulu, Raja Api dan Putri Sulita

Cerita Rakyat dari Bengkulu, Raja Api dan Putri Sulita
Pada Zaman dahulu kala, di suatu negeri tersebutlah seorang raja bernama Api. Raja api ini tinggal di istana yang sangat indah. Hidupnya sangat senang karena negerinya aman, makmur, dan sentosa. Di setiap halaman istananya terdapat pengawal bersenjata lengkap.

Tetapi, anehnya, di istana itu tidak tampak seorang wanita pun. Semuanya laki-laki, kecuali permaisuri yang sedang hamil tua dan para dayang.

Hewan yang amat disenangi oleh raja adalah seekor burung gagak buta. Raja menyenanginya karena burung gagak itu sangat setia, jujur, dan pandai berbicara.

Pada suatu hari, berkatalah Raja Api kepada permaisurinya yang bernama Putri Hijau, "Permaisuriku tercinta, aku akan berangkat ke luar kota melaksanakan kunjungan kerja. Jika engkau sudi, ada tiga hal yang aku minta kepadamu."

"Apakah tiga hal yang hendak engaku minta kepadaku, wahai Kanda? Katakanlah terus terang, mungkin aku bisa membantu," sahut sang permaisuri.

"Baiklah. Dengarkan baik-baik! Pertama, jagalah dirimu baik-baik. Jangan pergi kemana-mana.
Kedua, jangan lupa memberi makan burung gagak buta kesayanganku itu,
Ketiga, jika engkau melahirkan anak lelaki segera kabarkan kepadaku, tetapi jika engkau melahirkan anak perempuan, segera dibunuh!'

Setelah menyampaikan pesan itu, berangkatlah sang raja dengan kereta kuda beserta para pengawal dan penggiringnya menuju daerah yang akan ia kunjungi.

Selama sang raja dalam perjalanan, permaisurinya sering termenung dan gelisah. Kandungannya semakin besar, berarti saat melahirkan sudah semakin dekat. Hal yang sangat menggelisahkan permaisuri adalah perintah suaminya untuk segera membunuh anaknya jika yang dilahirkan anak perempuan.  Kegelisahan itu pula yang menyebabkan ia lupa memberi makan gagak buta kesayangan raja.

Pada suatu hari, lahirlah anak yang dinanti-nantikan oleh permaisuri. Bayi itu cantik sekali. Kulitnya putih. Rambutnya ikal, hitam dan lebat. Bayi perempuan itu diberi nama Sulita. 

Dengan penuh rahasia, permaisuri memanggil para dayang dan pembantu pribadinya. Permaisuri berpesan kepada mereka agar nanti mengatakan kepada raja bahwa anak perempuan yang dilahirkannya itu telah dibunuh dan dihanyutkan di sungai yang sangat deras alirannya, yang mengalir di pinggir ibukota kerajaan.

Dua minggu kemudian, pulanglah sang raja dari luar kota. Setelah tiba di istana, sang raja langsung menemui permaisurinya yang kebetulan sedang terbaring di tempat tidur. Berkatalah sang raja, "Apa kabar permaisuriku? Mengapa engkau berbaring di tempat tidur?"

"Kanda Raja yang tercinta, keadaanku baik-baik saja. Kandunganku sudah kempis. Bayi perempuan yang aku lahirkan sudah kubunuh dan kubuang ke sungai."

"Kalau begitu, bahagia sekali aku mendengarnya," ujar Raja Api dengan gembira. Kemudian raja berkata, "Bangkitlah dari pembaringanmu. Aku ingin bersantap denganmu. Aku membawa daging rusa yang lezat sekali."

Ketika mereka bersantap, tiba-tiba bersuaralah gagak buta dari dalam sangkarnya, "Makanlah yang enak Tuan, biarlah aku dalam sangkar kelaparan! Hiduplah dengan enak, tetapi bayi perempuan yang dilahirkan, disingkirkan ke luar kota.

Raja Api tampak kaget mendengar kata-kata burung gagak yang tidak terduga itu. Raja merasa sangat gelisah. Setelah selesai makan, raja langsung bertanya kepada permaisurinya, "Hai permaisuriku, bicaralah dengan sebenarnya. Dimana bayi perempuan yang kau lahirkan itu sekarang?"

"Tuanku Raja yang tersayang, sesungguhnya bayi perempuan yang aku lahirkan itu telah tiada," jawab permaisuri.

"Permaisuriku, ingatlah. Apabila para pengawal kerajaan dapat menemukan bayi perempuan itu, engkau akan mendapat hukuman yang berat," tegas raja sambil berlalu menuju ruang peraduan.

Tidak terasa, lima belas tahun pun berlalu. Suasana telah banyak berubah. Bayi perempuan yang dipelihara oleh Dayang Santi di sebuah desa terpencil itu sudah beranjak menjadi seorang gadis jelita. Wajahnya semakin cantik, perilakunya baik serta memiliki pengetahuan dan keterampilan. Yang lebih menarik lagi adalah ia pandai mengobati berbagai macam penyakit.

Pada suatu hari, di istana Raja Api yang selama ini tenang dan damai, tiba-tiba dikejutkan sebuah berita bahwa sang raja jatuh sakit. Para tabib dan dukun istana telah bersusah payah mengobati raja, namun penyakit yang ia derita belum juga sembuh. Oleh karena itu, diumumkanlah kepada khalayak bahwa dukun atau tabib yang mampu mengobati penyakit sang raja, baik kepada orang yang menemukan dukun maupun dukun itu sendiri, akan memperoleh hadiah yang besar dari sang raja. Selain itu, keselamatan hidupnya juga akan dijamin.

Pengumuman itu tersebar kemana-mana. Mendengar berita itu, timbullah keinginan Putri Sulita untuk mencoba mengobati penyakit yang diderita oleh raja.

Pagi-pagi benar, berangkatlah Putri Sulita bersama pengasuhnya, Dayang Santi. Tepat ketika matahari sepenggalan, sampailah mereka di istana raja. Seorang pengawal langsung menghampiri mereka dan menanyakan apa maksud dan tujuan kedatangan mereka. Sementara itu, pengawal-pengawal yang lain memperhatikan gerak-gerik kedua wanita yang baru saja datang itu. Maklum, selama kerajaan berada di bawah kekuasaan Raja Api, jarang kaum wanita bisa keluar masuk istana.

"Begini, Tuan. Kami mendapat berita bahwa Yang Mulia Raja Api dalam keadaan sakit keras," ujar Dayang Santi, "Kami ingin mencoba mengobati penyakit yang diderita Tuan Raja."

"Oooo ..., kalau begit, silakan masuk!" ujar salah seorang yang tampaknya menjadi pemimpin para pengawal istana raja. Kemudian Putri Sulita dan Dayang Santi dibawa masuk ke kamar tempat sang raja sedang terbaring lesu.

Tidak terlalu lama, selesailah pengobatan yang dilakukan oleh tabib wanita muda yang sangat cantik jelita itu. Perlahan-lahan raja mulai sadarkan diri. Kemudian, raja mulai melihat ke kanan kiri. Sejenak kemudian, ia bangkit dari pembaringan dan bersandar di tempat tidur. Wajahnya mulai berseri-seri. Sang raja merasa terharu dan bahagia karena bisa sehat kembali seperti sediakala. Beliaupun merasa sangat berhutang budi kepada dukun yang telah mampu mengobatinya.

Sesuai dengan pengumuman yang disebarkan, sang raja meminta agar Putri Sulita dan Dayang Santi tinggal bersama raja di istana. Setelah itu berkatalah sang raja, "Sebagai tanda terima kasihku, mulai hari aku nyatakan bahwa Putri Sulita, tabib wanita yang telah menyelamatkan nyawaku, aku angkat sebagai anak kandungku yang berhak mendapat gelar dan akan menjadi ratu bila saatnya tiba.

Mendengar ucapan raja itu, Permaisuri sangat bahagia. Demikian pula Dayang Santi. Sejak itu, mereka menetap di istana, mendapat perhatian dan jaminan keselamatan hidup dari Raja Api yang dahulu terkenal sangat bengis dan galak.

Kesimpulan
Kejujuran dan kebaikan budi seseorang dapat menaklukkan kebathilan dan kelaliman 

Sumber: Buku Cerita Rakyat Dari Bengkulu
Oleh: H. Syamsuddin ZA, M. Ikram, Zaharuddin, M. Halimi, Zainuddin Yusuf
Penerbit, PT. Grasindo, Jakarta

Kamis, 16 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Aryo Menak dan Tunjung Wulan

aryo menak dan tunjung wulan
Aryo Menak seorang pemuda Madura yang gagah. Ia amat suka mengembara. Seluruh waktunya dihabiskan dengan keluar masuk hutan. Ia ingin menimba pengalaman sebanyak-banyaknya dari kejadian demi kejadian yang dijumpainya.

Malam itu bulan purnama. Bulan tampak bundar di langit. Aryo Menak  berjalan menyusuri hutan sembari tak bosan-bosannya memandangi kecantikan bulan.

"Hm, malam ini sangat indah,' desah Aryo Menak. Tiba-tiba ia mendengar sayup-sayup suara perempuan. Ia merasa tertarik. Lalu, ia berjalan mencari asal suara itu.

Aryo Menak tiba di sebuah telaga. Air telaga sangat jernih. Bayangan bulan tampak bermain-main di permukaan air telaga. Sementara itu, suara-suara perempuan itu terdengar semakin ramai.

Aryo Menak berjalan mengendap-ngendap. Kemudia, ia bersembunyi di balik sebatang pohon besar dan mengintip. Ohoo, ternyata ada beberapa bidadari cantik sedang mandi di telaga! Mereka tak tahu kalau Aryo Menak ada di situ. Mereka tetap asyik mandi sambil bercanda gembira.

Tanpa sadar Aryo Menak berjalan semakin mendekat. Matanya berbinar saat ia melihat pakaian berserakan di tepi telaga.

"Aku akan menyembunyikan selembar baju itu," bisik Aryo Menak. Lalu ia menyambar selembar pakaian dan menyembunyikannya di tempat aman.

Tak lama kemudian, terdengar suar ribut di telaga. Para bidadari itu kembali terbang ke kayangan. Namun, seorang bidadari cantik tetap berendam di telaga. Wajahnya tampak sedih.

Aryo Menak mendekat ke tepi telaga. Ia menyapa dengan lembut,"wahai bidadari kenapa kau bersedih hati?"

Paras bidadari itu berubah merah. Kemudian, ia menuturkan kesedihannya, "Pakaianku hilang sehingga aku tak bisa kembali ke kayangan."

Aryo Menak menatap paras cantik bidadari itu. Lalu ia menghiburnya,"Mungkin dewata menghendaki kau harus hidup di bumi. Maukah kau tinggal di rumahku?"

Dewi Tunjung Wulan, bidadari yang cantik itu, tak punya pilihan lain. Akhirnya, ia menerima kebaikan hati Aryo Menak dan bersedia mengikuti kemauan Aryo Menak. Lebih daripada itu ia bahkan bersedia menjadi istri laki-laki itu.

Tak lama kemudian, Aryo Menak dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak laki-laki inilah yang kelak akan menurunkan raja-raja Madura.

Sejak menikah dengan Tunjung Wulan, hidup Aryo Menak menjadi bertambah makmur. Sawahnya berhektar-hektar dan hasil panennya selalu memuaskan.

Sementara itu, isi lumbung padi Aryo Menak seakan tak pernah berkurang sedikit pun.

"Aneh sekali," pikir laki-laki itu. "Padahal aku dan keluargaku selalu makan nasi, tetapi padi dalam lumbung rasanya tidak berkurang. Lagipula seingatku, istriku juga tak pernah menumbuk padi. Apakah dia seorang bidadari?"

Lama-lama Aryo Menak menjadi penasaran sendiri. Ia ingin tahu mengapa semua itu bisa terjadi.

Suatu pagi, istri Aryo Menak pamit, "Kak, aku akan pergi ke sungai. Selama aku pergi jangan sekali-laki engkau ke dapur, sebab aku sedang menanak nasi."

"Baik, Dik," jawab Aryo Menak. Tunjung Wulan pun berangkat ke sungai. Sementara itu, diam-diam Aryo Menak mempunyai pikiran lain. Ketika bayangan istrinya susah tak tampak, bergegas ia pergi ke dapur. Lalu, dibukanya tutup periuk tempat menanak nasi.

"Astaga!" seru Aryo Menak terkejut, ketika dilihatnya hanya sebutir padi dalam periuk itu. "Hm, aku mengerti sekarang. Rupanya istriku hanya membutuhkan sebutir padi untuk menghasilkan seperiuk nasi. Pantas padiku tak pernah berkurang. Pantas pula ia juga tidak pernah kelihatan menumbuk padi. Namun, mengapa Tunjung Wulan harus merahasiakan semua ini?"

Aryo Menak tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri, ia lalu bergegas keluar meninggalkan dapur.

Tak lama kemudian, Tunjung Wulan pulang. Rambutnya yang basah semakin mempercantik wajahnya. Dengan tergesa-gesa ia menuju dapur. Tunjung Wulan membuka tutup periuk! Betapa kaget dan sedihnya dia melihat padi dalam periuk itu belum berubah menjadi nasi. Padahal biasanya tidak demikian. Wanita itu segera memahami apa yang telah terjadi.

"Pasti suamiku telah melanggar pantangan yang kuberikan," ucapnya sedih. "Itu berarti, sejak saat ini aku harus bekerja keras. Aku harus menumbuk padi sebelum menanak nasi. Aku juga tidak bisa menghasilkan seperiuk nasi hanya dari sebutir padi. Berarti lumbung itu akan menjadi cepat berkurang isinya.

"Oh, musim panen masih lama. Padi dalam lumbung ini sudah hampir habis," keluh Tunjung Wulan suatu pagi. Tengah ia mengaduk-ngaduk isi lumbung itu, tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang menyembul di antara onggokan padi.

"Sepertinya itu ujung kain selendangku," desah Tunjung Wulan. Ia segera menarik ujung kain itu. Benar! Ternyata, benda itu adalah selendangnya.

"Mungkin, pakaian bidadariku pun disimpan di dalam lumbung ini," pikirnya lagi. Lalu, terus dicarinya pakaian bidadarinya. Ternyata pakaian itu memang ada di situ.

"Hm, jadi Aryo Menak yang mencuri pakaianku," gumam Tunjung Wulan. Ia lalu memandang ke angkasa sambil berkata," Terima kasih, Dewa. Kini, hamba bisa kembali ke kayangan lagi."

Tunjung Wulan bergegas mengenakan pakaian bidadarinya. Ia tampak amat cantik. Kemudian, ia pergi menemui Aryo Menak. Ia berkata gembira,"Kak, pakaian bidadariku sudah kutemukan. Kini, aku akan kembali ke Kayangan."

Aryo Menak sangat terkejut. Lalu ia memohon," Jangan pergi, Dewi! Jangan tinggalkan aku dan anakmu!"

"Sayang sekali, aku harus pergi, Kak. Asuhlah putra kita baik-baik. Kalau kau rindu padaku, pandanglah bulan. Aku akan menghiburmu dari sana," tutur Tunjung Wulan. Lalu, ia terbang ke Kayangan.

Aryo Menak menangis sedih. Ia menyesali segala perbuatannya. Andai dulu ia bisa menahan diri. pasti istrinya yang tercinta tidak akan pergi meninggalkannya.

Kesimpulan
Cerita ini disebut dongeng, karena cerita ini tak punya bukti jelas dan hanya dituturkan dari mulut ke mulut. 
Dongeng ini serupa dengan dongeng Jaka Tarub yang amat terkenal di wilayah Jawa Timur. Bangsa Indonesia memang terdiri dari berbagai suku, sehingga jumlah dongeng-dongeng kita amat banyak, walaupun beberapa diantaranya terkadang inti ceritanya hampir sama. 
Hikmah dari dongeng ini; Bahwa janji itu sebaiknya selalu ditepati, sebab janji adalah cermin dari kepribadian kita. Kita tak akan dipercaya orang kalau kita selalu ingkar janji. Kita mungkin juga akan mengalami akibat yang tidak menyenangkan karena mengingkari janji kita sendiri. 


Sumber: Buku Ceri Rakyat Dari Jawa Timur 
Oleh: Dwianto Setyawan 
Penerbit PT. Gramedia Widisarana Indonesia, Jakarta 1997

Kamis, 09 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Asal Mula Pohon Enau/Aren

Asal Mula Pohon Enau/Aren
Menurut cerita suku Rejang, pada zaman dahulu di sebuah desa terpencil tinggal tujuh orang bersaudara. Mereka menjadi yatim piatu sejak si bungsu lahir. Ketujuh bersaudara itu terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang perempuan. Kebetulan yang perempuan adalah si bungsu. Mereka hidup sebagai petani yang menggarap sebidang tanah di tepi hutan. 

Si bungsu bernama Putri Sedaro Putih. Ia sangat dicintai keenam saudaranya. Mereka selalu berusaha melindunginya dari segala sesuatu yang akan membahayakan dirinya. Apapun yang terjadi, mereka siap berkorban demi adik yang sangat mereka cintai itu. 

Pada suatu malam, ketika Putri Sedaro Putih sedang tidur nyenyak. Ia bermimpi serasa didatangi oleh seorang laki-laki tua yang mengatakan bahwa ia adalah kakek dari tujuh bersaudara itu. Kedatangannya memberitahukan kepada Putri Sedaro Putih bahwa ajal Putri telah dekat. Oleh karena itu, ia dinasehati supaya bersiap diri menghadapinya. Apabila telah dikuburkan nanti, dari pusaranya akan tumbuh sebatang pohon yang belum pernah ada pada masa itu. Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia. 

Putri Sedaro Putih sangat terkesan akan mimpi itu, sehingga setiap hari ia selalu terbayang akan kematiannya. Makan dan minum terlupakan olehnya. Hal ini mengakibatkan tubuhnya menjadi kurus dan pucat. 

Saudara sulung sebagai pengganti orang tuanya sangat memperhatikan Putri Sedaro Putih. Ia menanyakan apa sebab adiknya sampai bersedih hati sehingga perlu segera diobati? Jangan sampai terlambat diobati sebab akibatnya menjadi parah. 

Dengan menangis tersedu-sedu Putri Sedaro Putih menceritakan semua mimpi yang dialaminya beberapa waktu yang lalu. Kata Putri Sedaro Putih, "Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu." 

"Tidak, Adikku. Jangan secepat itu kau tinggalkan kami. Kita akan hidup bersama, sampai kita memperoleh keturunan masing-masing sebagai penyambung generasi kita. Lupakanlah mimpi itu. Bukankah mimpi sebagai hiasan tidur bagi semua orang?" kata si sulung menghibur adiknya.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Mimpi itu pun telah dilupakan Putri Sedaro Putih. Ia telah kembali seperti semula. Seorang gadis periang yang senang bekerja di huma. Hasil panen pun telah dihimpun sebagai bekal mereka selama semusim.

Pada suatu malam, tanpa menderita sakit terlebih dahulu Putri Sedaro Putih meninggal dunia. Keesokan harinya keenam saudaranya menjadi gempar dan meratapi adik kesayangannya itu. Mereka menguburkannya tidak jauh dari rumah kediaman mereka.

Seperti yang telah diceritakan oleh Putri Sedaro Putih, di tengah pusaranya tumbuh sebatang pohon asing. Mereka belum pernah melihat pohon seperti itu. Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Pohon itu mereka beri nama Sedaro Putih.

Di samping pohon itu, tumbuh pula pohon kayu kapung yang sama tinggi dengan pohon Sedaro Putih. Pohon itu pun dipelihara sebagai pohon pelindung. 

Lima tahun kemudian, pohon sedaro putih mulai berbunga dan berbuah. Jika angin berhembus, dahan kayu kapung selalu memukul tangkai buah sedaro putih sehingga menjadi memar dan terjadilah peregangan sel-sel yang mempermudah air pohon sedaro putih mengalir ke arah buah. 

Pada suatu hari, seorang saudara Putri Sedaro Putih berziarah ke kubur itu. Ia beristirahat melepaskan lelah sambil memperhatikan pohon kapung selalu memukul tangkai buah pohon sedaro putih ketika angin semilir berhembus. 

Pada saat itu, datang seekor tupai menghampiri buah pohon sedaro putih dan menggigitnya sampai buah itu terlepas dari rangkaiannya. Dari tangkai buah yang terlepas, keluarlah cairan berwarna kuning jernih. Air itu dijilat tupai sepuas-puasnya. Kejadian itu diperhatikan saudara Putri Sedaro Putih sampai tupai tadi pergi meninggalkan tempat itu. 

Saudara Putri Sedaro Putih mendekati pohon itu. Cairan yang menetas dari tangkai buah ditampungnya dengan telapak tangan lalu dijilat untuk mengetahui rasa air tangkai buah itu. Ternyata, air itu terasa sangat manis. Dengan muka berseri, ia pulang menemui saudara-saudaranya. 

Semua peristiwa yang telah disaksikannya, diceritakan kepada saudara-saudaranya untuk dipelajari. Cerita itu sungguh menarik perhatian mereka. Lalu, mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon sedaro putih. 

Tangkai buah pohon itu dipotong dan air yang keluar dari bekas potongan ditampung dengan tabung dari seruas bambu yang disebut tikoa. Setelah satu malam, tikoa itu hampir penuh. Perolehan pertama itu mereka nikmati bersama sambil berbincang bagaimana cara memperbanyak hasil sadapan. Mereka pun sepakat untuk menyadap tangkai buah yang lain. 

Agar pekerjaan tidak gagal, mereka melakukan urutan kejadian yang disaksikan oleh saudaranya ketika berziarah ke kubur Putri Sedaro Putih. Urutannya sebagai berikut. Pertama, menggoyang-goyangkan tangkai buah pohon sedaro putih seperti dilakukan oleh angin. Lalu, memukul tangkai buah itu dengan kayu kapung sepeti yang terjadi ketika kayu kapung di hembus angin. Akhirnya mereka memotong tangkai buah seperti dilakukan oleh tupai. Ternyata, hasilnya sama dengan sadapan pertama. 

Perolehan mereka semakin hari semakin banyak, karena beberapa tangkai buah yang tumbuh dari pohon sedaro putih sudah mendatangkan hasil. Akan tetapi, timbul suatu masalah bagi mereka karena air sadapan itu akan masam jika disimpan terlalu lama. Lalu, mereka sepakat untuk membuat suatu percobaan dengan memasak air sadapan itu sampai kental. Air yang mengental itu didinginkan sampai keras membeku dan berwarna coklat kekuningan. 

Semenjak itu, pohon sedaro putih disebut pohon enau atau pohon aren. Air pohon yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira, sedangkan air nira yang dimasak sampai mengental dan membeku di sebut gula merah. 

Kesimpulan
Pohon enau atau pohon arena termasuk pohon yang banyak jasanya bagi manusia. Oleh karena itu untuk memuliakannya diciptakan sebuah legenda tentang Putri Sedaro Putih.
 Manfaat pohon enau atau pohon aren antara lain sebagai berikut:  
  1. Ijuknya dibuat sapu, tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat. 
  2.  Buahnya (disebut beluluk atau kolang kaling) dapat dibuat manisan yang lezat. 
  3. Tulang daunnya dibuat sapu lido dan senik (tempat meletakkan kuali/periuk)
Sumber: Buku Cerita Rakyat Dari Bengkulu
Oleh: H. Syamsuddin ZA, M. Ikram, Zaharuddin, M. Halimi, Zainuddin Yusuf
Penerbit, PT. Grasindo, Jakarta

Senin, 06 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Sepasang Rajawali Putih

Sepasang Rajawali Putih
Seorang raja yang amat kejam mempunyai putri yang cantik jelita, bernama Putri Sehati. Parasnya cemerlang teduh, bak sinar bulan purnama, Sang putri juga amat baik hati. Raja tidak menginginkan putrinya dipersunting oleh siapapun. Bila ada yang meminang Putri Sehati. Baginda menjadi murka dan dicarinya jalan untuk membunuhnya. 

Pada suatu malam sang Putri bermimpi. Ada seorang satria tampan yang turun dari kayangan dengan mengendarai burung rajawali putih. Satria itu diperintahkan oleh para dewa untuk menjemputnya. Dalam mimpi, satria itu mengulurkan tangannya dan bertanya apakah Putri mau bersamanya. Sebelum Putri Sehati menjawab ia sudah terjaga dari tidurnya. Semenjak itu Sang Putri menjadi murung. Wajah satria tampan itu selalu bermain dalam benaknya. 

Ketika raja mengetahui akan hal ini beliau amat murka. Diperintahkan para prajuritnya untuk menangkap satria yang menggoda dalam mimpi Putri Sehati. Mereka tidak diperbolehkan pulang sebelum membawa satria itu hidup atau mati. Tentu saja para prajurit itu tidak akan dapat menemukannya karena satria yang mengendarai burung rajawali putih itu hanya ada dalam mimpi. 

Bersamaan dengan mimpi sang Putri, seorang satria muda dari kerajaan rajawali juga bermimpi. Satria muda itu bernama Kantaka. Dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang putri cantik berada dalam cengkraman ular naga raksasa yang ganas. Lidahnya seperti api menjulur-julur hendak menelan mangsa. Sang Putri tidak berdaya. Ia berkeinginan untuk menolongnya, namun baru saja mengulurkan tangan ia terjaga dari mimpinya. Keesokan harinya Kantaka pergi berkelana mencari tahu di mana sang Putri berada.

Bertahun-tahun telah berlalu, prajurit yang mencari satria mengendarai rajawali putih tak kembali. Sementara Putri Sehati hampir putus asa. Baginda bertambah geram. Ditangkapnya semua pemuda yang tampan di kerajaan itu lalu dipenjarakan. Mereka disiksa agar mau mengaku sebagai satria yang datang dalam mimpi Putri Sehati. Untuk menghindari korban lebih banyak , Putri Sehati selalu menyertai ayahnya dalam penjara dan cepat-cepat mengatakan bahwa pemuda itu bukan pemuda yang dimaksud. 

Akhirnya, kabar kekejaman Baginda terdengar pula oleh Kantaka. Segera ia menuju ke sana. Ia ditangkap di perbatasan lalu diserahkan kepada raja. Alangkah terkejutnya Kantaka ketika melihat Putri Sehati, karena itu adalah Putri dalam mimpinya Demikian pula Putri Sehati, ketika melihat Kantaka, ia pun sangat terkejut. Kantata adalah satria yang mengendarai rajawali putih dalam mimpinya. 

Tetapi, ketika Baginda menanyakan kepada Kantaka bahwa apakah dia adalah satria yang mengendarai rajawali putih? Kantaka menjawab bukan. Ia datang ke Kerajaan ini dengan maksud melamar sang Putri. Baginda berkata," Anak Muda urungkan niatmu! Engkau terlalu tampan untuk mati muda." 

"Saya sudah siap Baginda," jawab Kantaka. 

"Apakah engkau tahu akibat dari perkataanmu itu?" tanya Baginda semakin geram. Kantaka hanya mengangguk. Mendengar itu, Putri Sehati. Mendengar itu, Putri Sehati merasa khawatir, maka ia memohon agar Baginda tidak melaksanakan hukuman terhadap Kantaka. 

Baginda bertambah murka karena mengetahui putrinya menaruh hati kepada Kantaka. Lalu sabdanya,"Kantaka, aku ingin kau mati perlahan-lahan di hadapan putriku yang cantik ini. Panjatlah pohon Gurda di halaman istana ini!" 

Putri Sehati tidak dapat berkata apa-paa. Tubuhnya lunglai, wajahnya pucat pasi. Kantaka berkata, "Jangan khawatir Adinda, kumpulkan tubuhku yang terputus di atas sehelai kain putih, karena air matamu akan menghidupkanku kembali"

Pohon Gurda adalah bukan sembarang pohon. Ia tumbuh di halaman istana sebagai lambang kekejaman. Bentuknya seperti pohon kaktus raksasa, pipih, tajam seperti pedang serta berduri seperti jarum. Pohon ini digunakan untuk menghukum siapa saja yang berani meminang Putri Sehati. Mereka yang memanjat pohon itu, tubuhnya akan putus sedikit demi sedikit dan akhirnya akan jatuh ke tanah dan mati mengerikan.

Hukuman segera di laksanakan. Kantaka mulai memanjat pohon. Putri Sehati menggelarkan selembar cita putih persis di bawah pohon. Pada dahan pertama hingga ketujuh belum ada tubuh yang putus oleh ketajaman dahan gurda, hanya darah yang menetes deras. Selanjutnya mulailah sepotong demi sepotong tubuh Kantaka berjatuhan. Putri Sehati mengumpulkan potongan tubuh Kantaka.

Setelah mencapai puncaknya, tubuh Kantaka jatuh ke bumi menjadi satu dengan tubuh yang lain, dan ajaib, tubuh itu berubah menjadi burung rajawali putih yang gagah. Demikian pula Putri Sehati juga berubah ujud mejadi rajawali putih yang cantik. Lalu, keduanya ke angkasa sambil mengepak-ngepakkan sayapnya dengan bahagia.

Kesimpulan
Penindasan terhadap sesama manusia bagaimanapun kejamnya akan dapat dilawan oleh keinginan untuk merdeka. 

Sumber: Buku Putri Limaran, Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah
Penulis: Sri Sulistyowati
Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1996

Minggu, 05 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Gadis Dengan Bintang

Gadis Dengan Bintang
Dahulu kala, ada sebuah bintang yang jatuh cinta kepada seorang gadis cantik anak petani. Bintang kagum akan kepribadian gadis tersebut. Ia sederhana, tekun bekerja, serta lembut tutur katanya. Oleh karena itu, timbul keinginan di hati Bintang untuk mengajak Gadis bermain-main di angkasa sambil menyaksikan keindahan alam. 

Pucuk dicinta ulam tiba, rupanya Gadis juga telah lama mencintai Bintang, karena terpikat oleh kecermelangan sinarnya. Ajakan Bintang itu diterimanya dengan senang hati. 

Sejak saat itu, setiap malam mereka berdua selalu bercengkerama memadu kasih. Gadis meninggalkan bumi terbang ke angkasa dan Bintang meninggalkan orbitnya. Mereka terbang melayang-layang mengikuti jalannya malam. Begitulah yang yang mereka lakukan setiap malam, tanpa mengenal lelah.

Bila dilihat dari kejauhan, mereka tampak sangat bahagia. Sang Bintang nampak membimbing Gadis agar dapat terbang di angkasa. Gadis menopang semangat Bintang agar dapat bertahan tidak jatuh ke bumi. Mereka juga sangat dihormati oleh para petani karena jasanya dalam memberi petunjuk cara bertani dan tak henti-hentinya memberi semangat agar mau bekerja keras, sehingga mencapai hasil yang diharapkan. 

Sayangnya tidak semua orang mengetahui bahwa sebenarnya Bintang dan Gadis menganggung derita yang amat berat. Mereka ingin selalu bersama-sama setiap saat, tetapi hal ini sangat tidak mungkin, karena masing-masing mempunyai tugas yang harus dilaksanakan sepanjang hari. Mereka tidak bisa saling membantu. Bintang tidak bisa mencangkul di sawah, sedangkan Gadis juga tak dapat bersinar cemerlang di angkasa. 

Oleh karena itu, Bintang menghendaki agar Gadis tetap menjadi gadis yang manis menunggu Bintang datang di tepi telaga. Pada saat Bintang bekerja di langit, Gadis bisa melihat Bintang di air telaga sambil menunggu kedatangan Bintang untuk menjemputnya untuk terbang. Jalan ini ditempuh Bintang karena selama ini ia merasa terkekang dan berkeberatan bila sepanjang malam harus terbang bersama Gadis, sementara bintang-bintang yang lain juga butuh bantuan. 

Demikian pula Gadis sering-sering kena marah orang tuanya karena sepanjang malam selalu bersama Bintang. 

Bintang ingin melamar Gadis untuk dijadikan istrinya, agar sepanjang waktu dapat selalu bersamanya, namun hal ini sangat ditentang oleh bintang-bintang yang lain. "Di sini sudah tidak adal tempat lagi bagi orang lain. Kita sudah merupakan satu kesatuan yang sulit untuk ditambah maupun dikurangi, bila itu dilakukan akan mempengaruhi kestabilan edar seluruh keluarga bintang dan jagad raya. 

Bintang sangat sedih memikirkannya, apalagi ia sudah diancam akan dibunuh bila berani lagi meninggalkan orbitnya. 

Nasib Gadis tak lebih baik dari Bintang. Ia tidak diperbolehkan kawin dengan Bintang, apalagi ia akan tinggal di angkasa, karena ayahnya sudah tua dan sangat membutuhkan bantuannya. 

Demikianlah persoalan cinta kasih mereka yang tidak akan dapat mencapai tujuan, menyebabkan mereka berdua diselubungi duka yang berkepanjangan. Lama kelamaan mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak salah, tetapi karena latar belakang mereka lah yang berbeda. 

Kini Gadis sudah tidak dapat menemani Bintang lagi karena ia dikawinkan dengan pemuda dari desanya. Hati gadis sangat sedih tetapi tidak berdaya sama sekali. Untuk mengusir kesedihannya, setiap siang ia melukis air telaga dengan warna yang beraneka ragam, sehingga indah dipandang mata. Pada malam hari, air telaga ia bersihkan kembali agar bening seperti kaca, supaya bila bintang lewat diatasnya akan terlihat jelas di permukaan air. Pada saat itu Gadis akan tersenyum dan melambaikan tangannya. Walaupun sesudah itu, Gadis kembali ke rimbun pohon menyembunyikan air matanya. Air mata itu kini menjadi mata air yang mengalir jernih membentuk sungai kecil. 

Dan sejak saat itu Bintang tak seterang dulu lagi. Sinarnya memudar dan kian memerah hampir tak terlihat lagi. Para petani mulai tidak mengacuhkannya lagi, dan mereka mencari petunjuk lain dari Bumi yang lebih dapat dipertanggung jawabkan untuk meningkatkan hasil pertanian. 

Kesimpulan
Tidak semua cita-cita dan keinginan kita dapat tercapai. Jika hal itu terjadi, maka kita harus tetap tabah serta mendekatkan diri kepada Tuhan agar kita memperoleh kekuatan untuk berdiri kembali.

Sumber: Buku Putri Limaran, Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah
Penulis: Sri Sulistyowati
Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1996