Tampilkan postingan dengan label Cerita fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita fabel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Mei 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Keli Si Kelinci Kecil

Keli Si Kelinci Kecil
PAGI yang cerah di hari Minggu seperti hari biasanya, Keli si kelinci kecil yang lucu mulai membantu mamanya memungut sisa-sisa wortel yang telah di panen. Keli mulai bosan dengan apa yang telah dikerjakan. Dia kemudian duduk di sudut ladang wortel dekat pondok yang didirikan oleh si pemilik kebun. Ia mulai menatap langit cerah sambil bergumam, "Hmm, kenapa ya kelinci kerjanya cuma memungut wortel sisa panen manusia? Kenapa tidak seperti hewan yang lainnya yang mencari makanan yang berbeda?"

Lama ia melihat langit cerah yang tidak ada awannya. Tiba-tiba ia melihat elang terbang di langit membawa seekor anak ayam. "Kemarin bawa ikan, sekarang bawa anak aya. Huh, enak banget hidup si elang," gumamnya lirih.

Tanpa ia sadari, mamanya memperhatikan semua gerak-geriknya. Mama Keli mulai mendekati anaknya. "Nak, elang itu dikasih tuhan sebuah kelebihan yakni punya sayap, sehingga ia bisa terbang dengan sayapnya dan mencari makanan."

"Tuhan nggak adil ma. Masa elang saja yang dikasih sayap. Kenapa kelinci nggak dikasih sayap juga?" jawab Keli.

"Kata siapa Tuhan itu nggak adil. Tuhan itu adil terhadap ciptaannya. Setiap hewan diberikan kelebihan masing-masing. Elang dikasih sayap untuk terbang, harimau dan singa dikasih taring dan kecepatan untuk berlari juga untuk menangkap mangsanya. Kancil dikasih kecerdasan yang luar biasa sehingga ia bisa memecahkan setiap permasalahan yang ada di hutan." ujar mamanya menerangkan dengan panjang lebar.

"Lalu kelinci dikasih kelebihan apa sama Tuhan ma?"

Mamanya berpikir sejenak. "Kelinci dikasih kelincahan dalam berlari dan juga wajah yang lucu dan manis, Sama kayak Keli."

"Ihh mama, cuma dikasih itu saja? Keli pengen juga dikasih sayap kayak elang, pengen nangkap ayam dan ikan, ingin kayak harimau dan singa yang selalu ditakuti semua binatang di hutan."

Mendengar keluhan Keli, mamanya hanya tersenyum tipis.

Keesokan harinya, setelah memilih wortel di ladang yang berbeda. Keli berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba datanglah pemburu. Ia mulai menembak elang yang sedang terbang. Tembakannya tepat mengenai badan si elang. Burung pemangsa itupun tumbang ke tanah. "Ha, ini dia si elang yang mencuri anak ayam saya dan ikan saya yang ada di kolam," gumam si pemburu.

Keli yang ketakutan, bersembunyi di balik pohon tepat di belakang si pemburu.

Setelah menembak elang, pemburu pun langsung memasukkan elang ke dalam karung dan dibawanya. Perjalanan pemburu itu pun dilanjutkan. Karena penasaran, Keli mengikuti sang pemburu dari belakang. Tiba-tiba pemburu melihat harimau. Dia bergumam, "Ini dia harimau yang mencuri kambing saya. "Pemburu itu langsung menembak si harimau. Door, harimau pun mati terkapar.

Karena terkejut, Keli terpeleset dan langsung mengenai tubuh si pemburu. Keli pun takut, takut kalau ia juga akan dibunuh seperti elang dan harimau. Si pemburu bergumam sambil tersenyum. "Ini dia si kelinci yang baik yang telah membantu saya memungut sisa wortel di kebun sehingga saya tidak merasa rugi."

Tiba-tiba si pemburu langsung menggendong Keli sambil menciumnya. "Kau kelinci yang manis, bulumu lembut, kau pantas hidup.

Lalu, si pemburu melepaskan kelinci. Keli berlari sekencang-kencangnya ke rumah. Sesampai di rumah Keli langsung terduduk di tempat tidur. Mamanya heran melihat kelakuan anaknya. Rupanya Keli bermimpi kalau ia bertemu kakeknya, dan kakeknya itu mengatakan, "Apa yang kau lihat hari ini, apakah setelah melihat kejadian hari ini kau masih mau menjadi elang, harimau. Kalau iya, biar saya ubah kau dengan kekuatan."

"Nggak kek, Keli hanya ingin jadi kelinci." Keli pun terbangun dari tidurnya, keringatnya pun bercucuran. Keesokan harinya Keli memungut wortel dengan semangat. Mamanya pun terheran-heran dengan apa yang dilakukan anaknya. Hanya Keli yang tahu bahwa ia bersyukur ditakdirkan sebagai seekor kelinci yang manis dan menjadi kesayangan si pemburu. Ia pun bersyukur kepada Tuhan atas segala kelebihan yang telah dikaruniakan kepadanya.

Sumber:
Harian Padang Ekspress, Minggu 10 Mei 2015
Penulis: Wetri Rahayu 

Minggu, 30 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Dua Ekor Kambing Yang Congkak

Dua Ekor Kambing Yang Congkak
Ada seekor kambing yang sangat sehat meskipun tubuhnya kecil. Karena tanduknya bagus seperti pisau, teman temannya memanggilnya dengan julukan si Tanduk. Dia sangat bangga dengan panggilan itu. Jika pergi minum air ke sungai bersama teman temannya, dia selalu pulang paling akhir. Teman temannya sudah naik dan kembali ke padang, dia masih tetap di sungai. Apa gerangan yang dia kerjakan di situ ? Dia asyik memandangi bayangan tubuhnya dan bayangan kedua tanduknya yang tergambar di permukaan air.

Pada saat mengagumi dirinya seperti itu, dia berkata dalam hati, "Sungguh indah kedua tandukku. Mungkin akulah kambing tergagah di seluruh dunia. Pantas, semua kawanku segan padaku karena mereka takut akan ketajaman tandukku."

Setelah puas memandangi bayang bayang dirinya, barulah dia menaiki tebing sungai dan berkumpul dengan teman temannya.

Padang tempat si Tanduk makan rumput itu terletak di sebelah timur sungai. Sesekali si Tanduk ingin berjalan jalan ke barat sungai untuk memperluas pengalaman. Selain itu, dia ingin memperlihatkan tanduknya yang bagus kepda bangsa kambing yang tinggal di sebelah barat sungai. Meskipun lebar sungai itu hanya lima meter, bangsa kambing agak sulit menyeberang karena sir sungai cukup dalam.
Jembatan yang dipasang manusia untuk menyeberang sungai itu hanya berupa jembatan bambu yang tidak mungkin dilewati kambing. Oleh karena itu, keinginan si Tanduk untuk berjalan jalan ke barat sungai tinggal impian belaka.

Pada bulan Februari, angin barat di Pulau Madura sangat keras bertiup. Curah hujan juga deras. Angin yang bertiup keras itu merobohkan banyak pohon. Sebtang pohon kelapa yang tumbuh di tebing barat sungai roboh. Batang pohon kelapa itu tepat melintang sungai. Orang orang yang akan melintasi sungai itu kini menggunakan pohon kelapa yang roboh itu sebagai jembatan . Enak sekali mereka berjalan di atas pohon kelapa itu.

Melihat manusia lalu lalang melintasi sungai, si Tanduk ingat akan ke inginannya untuk berjalan jalan ke barat sungai. Pikirnya,"Kini tibalah saatku untuk memperlihatkan tandukku ke barat sungai. Kambing kambing yang ada disana pasti kagum akan keindahan tandukku."

Tanpa bicara kepada teman temannya, si Tanduk cepat melangkah mendekati jembatan yang berasal dari pohon kelapa yang roboh itu. Ketika ia mulai naik dari ujung jembatan sebelah timur, dari tebing sebelah barat naik pula seekor kambing hitam berjenggot lebat.

"Hei, kambing hitam," tegur si Tanduk,. "mau kemana engkau?"

"Jangan seenaknya engkau memanggil aku kambing hitam. Apa engkau tidak melihat jenggotku yang lebat?"

"Ya, aku melihat," jawab si Tanduk.

"Karena itu, panggil aku si Jenggot. Semua kambing kagum akan kehebatan jenggotku yang indah ini. Aku akan berjalan jalan ke timur sungai. Kambing kambing di sana akan kagum pada jenggotku ini. Tolong Kawan, beri aku jalan. Turunlah engkau dari ujung titian sebelah timur itu!" kata si Jenggot.

" Aku yang lebih dulu menginjakkan kaki di atas jembatan ini, " kata si Tanduk bertahan," aku mau ke sebelah  barat sungai. Engkaulah yang harus turun dari jembatan di tebing sebelah barat itu."

" Engkau harus mengalah," kata si Jenggot.

" Engkau yang harus mengalah," desak si Tanduk.

"Apa engkau tidak kenal, siapa aku?"

"Akulah si Tanduk. Lihat tandukku, panjang dan tajam bukan?" kata si Tanduk.

Sambil berdebat, kedua kambing itu terus berjalan.
" Meskipun tandukmu hebat,"kata si Jenggot," aku minta engkau mundur dan memberikan jalan untuk ku."

"Tidak bisa, engkau harus mengalah," kata si Tanduk.

"Semua kambing hormat kepadaku. mentang mentang tandukmu hebat tidak memberikan jalan kepadaku. Ayo mundur!" kata si Jenggot.

"Tidak," jawab si Tanduk," aku tidak akan mundur."

Hati si Jenggot semakin panas. Dia berkata, " Kalau tidak mau mundur, engkau akan ku hantam."

"Baik," sahut si Tanduk," kalau engkau tidak mau mengalah dan tidak mau mundur, kedua matamu akan kutusuk dengan tandukku."

Di atas jembatan itu, si Jenggot menyerang si Tanduk. Si Tanduk pun tidak tinggal diam. Dia segera menanduk si Jenggot sehingga pelipis si Jenggot terluka dan berdarah. Kedua kambing itu terus berlaga dengan hati panas. Mereka lupa bahwa mereka bertarung di atas sungai.

Ketika si Jenggot menyerang dengan seluruh kekuatannya, si Tanduk bertubuh kecil itu tidak mampu bertahan. Akhirnya, dia jatuh ke sungai. Si Jenggot yang menyerang sekuat tenaga terpeleset dan jatuh ke sungai. Kedua kambing yang tidak bisa berenangitu tetap berusaha untuk hidup, tetapi air sungai yang deras menghanyutkan keduanya ke hilir. Beberapa menit kemudian kedua kambing yang malang itu menemui ajalnya.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk fabel, yaitu dongeng tentang binatang yang bisa berbicara seperti manusia. Dalam ceritra ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sifat sombong dan mementingkan diri sendiri bisa mendatangkan malapetaka. Seandainya kedua kambing itu rendah hati, atau salah satu di antaranya ada yang mau mengalah , tentu keduanya akan selamat.,

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

Jumat, 28 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Persahabatan Empat Ekor Binatang

cerita fabel burung gagak, kura-kura, musang dan kijang
Pada suatu hari, burung gagak, kijang, musang, dan kura-kura berjanji bertemu di bawah pohon kesambi besar di kaki bukit. Mereka telah lama menjalin persahabatan dan saling membantu dalam kehidupan. Jika musang menginginkan buah mangga, burung gagak akan mencarikannya. Jika burung gagak memerlukan udang, kura-kura akan mencarikannya di sungai. Jika Kijang ingin makan rumput hijau, burung gagak akan terbang mencari padang dan lembah berumput hijau, kemudian menunjukkan tempat itu kepada sahabatnya. 

Binatang yang pertama datang di bawah pohon kesambi adalah kijang dan musang. Lama sekali mereka menunggu dua temannya yang lain di tempat itu. 

"Heran, biasanya gagak selalu datang lebih dahulu," kata Kijang. 

"Mungkin ia menjemput kura-kura," jawab musang. 

Saat kijang dan musang sedang mempercakapkan kedua temannya, dari kejauhan terdegar suara gagak berkaok-kaok. 

"Nah, gagak telah datang," ujar musang. 

"Ya, tapi suaranya tidak seperti biasanya," kata kijang. 

Beberapa detik kemudian burung gagak telah hinggap di punggung kijang.

"Mengapa terlambat, kawan?" tanya musang. 

"Kura-kura tidak ada di tempat," jawab gagak. 

"Tidak kau cari?" tanya kijang. 

"Telah kucari di sekitar kediamannya, tetapi tidak kutemukan. Aku segera kemari agar kalian tidak menunggu dengan penuh tanda tanya, Sekarang, aku akan kembali mencari kura-kura. Kalian sekarang berangkat juga. Nanti kita bertemu di dekat batu besar di tikungan sungai itu," kata burung gagak. 

"Ya, segeralah kauterbang," ujar kijang. 

Burung gagak segera membuka sayapnya, terbang cepat sambil berkaok-kaok di angkasa. Dia terbang berkeliling ke sana kemari, kemudian menuju sebuah lembah. Dengan mata jeli, dia memperhatikan ke bawah untuk menemukan kura-kura. Hampir satu jam lamanya dia berputar-putar di atas lembah itu, tetapi dia tidak melihat kura-kura. 

Pada saat burung gagak hampir putus asa mencari sahabatnya, tiba-tiba tampak satu titik kecil di tengah sawah. Dia segera membelokkan haluan menuju titik itu. Setelah dekat, ternyata tampak seorang laki-laki sedang menggendong sesuatu. Gagak tertarik pada gendongan orang itu. Setelah diperhatikan dengan cermat, ternyata gendongan itu berupa jaring perangkap. Burung gagak semakin ingin tahu isi jaring yang telah diikat dengan rapi itu. Dia pun terbang rendah mendekati lelaki itu. Alangkah terkejut hatinya setelah melihat kaki kura-kura tersembul dari sela-sela lubang jaring. 

Tanpa pikir panjang, burung gagak segera terbang menemui kedua sahabatnya, kijang dan musang. Mereka telah menunggu di dekat batu besar di tikungan sungai. Gagak hinggap dengan tergopoh-gopoh. 

"Malang sahabat kita," kata gagak dengan napas tersengal-sengal. 

"Apa yang terjadi pada kura-kura? Tanya Kijang. 

"Dia ditangkap seorang pemburu." 

"Di mana kaujumpai dia?" tanya musang. 

"Di tengah sawah yang luas itu. Kura-kura diikat dalam jaring perangkap. Pemburu itu menuju ke arah tenggara. Kira-kira ia akan lewat di jalan sebelah selatan karena tidak ada jalan lain yang bisa melintasi sungai ini." 

"Begitu pemburu itu lewat langsung akan kuserang," kata musang. 

"Pemburu itu biasanya membawa senjata," kata kijang. " Kalau kauserang, enak saja ia memukulmu dengan senjatanya. Apalagi pemburu itu sudah terlatih menggunakan senjatanya. Engkau bisa celaka kalau menyerang tanpa perhitungan." 

"Tidak apa aku mati demi membela sahabatku," jawab musang. 

"Kalau kaucinta kepada kura-kura," kata kijang, "Kita harus kompak, kita atur cara sebaik-baiknya sehingga kura-kura bisa terlepas dari si pemburu." 

"Ya, itu pikiran yang baik," ucap gagak."Ayo sekarang bermusyawarah mencari jalan terbaik untuk menolong kura-kura." 

Ketiga binatang itu bertukar pikiran untuk menolong kura-kura. Setelah bermusyawarah agak lama, mereka bertiga berangkat ke selatan untuk mengatur siasat. 

Kijang dan gagak siap di ladang dekat sungai, sedangkan musang bersembunyi di semak-semak dekat jalan yang akan dilalui si pemburu. 

Beberapa saat lamanya kijang dan gagak menunggu, muncullah si pemburu. Burung gagak berteriak keras-keras lalu pura-pura menyerang kijang. Kijang melompat kesana kemari untuk menghindari serangan gagak. 

Si pemburu sangat tertarik melihat gagak berkelahi dengan kijang. Pikirnya," Wah, kijang yang sedang bertarung dengan gagak itu gemuk sekali. Dagingnya pasti empuk dimakan. Pada saat berkelahi seperti itu dia pasti lalai dan mudah kutangkap." 

Pemburu meletakkan gendongannya ke tanah di tepi jalan. Pelan-pelan ia melewati sela-sela pohon perdu yang tumbuh di situ. Ia mengendap-ngendap mendekati kijang yang sedang berkelahi melawan gagak. Setelah agak dekat, kijang melompat dan gagak terbang agak menjauh. 

Ketika pemburu itu sedang berusaha mendekati kijang, musang pun keluar dari persembunyiannya dan menuju gendongan yang tadi diletakkan si pemburu. Dengan giginya yang tajam, musang cepat memutuskan tali yang mengikat kura-kura. Dalam beberapa menit saja kura-kura sudah bebas. 

"Terima kasih, Sahabatku," kata Kura-kura kepada musang. 

"Cepat ceburkan dirimu ke dalam sungai!" ujar musang."nanti kau tertangkap lagi." 

Dengan cepat, kura-kura berlari dan masuk ke dalam sungai. Sementara itu, musang segera masuk ke dalam rumpun bambu berduri sambil memekik nyaring. 

Mendengar suara musang yang kecil dan nyaring itu, Kijang dan gagak mengerti bahwa kura-kura sudah bebas dan aman. Burung gagak pun terbang ke udara sambil berkaok gembira, sedangkan kijang segera berlari kencang menuju semak belukar. 

Pemburu itu keheranan karena perkelahian kijang dan gagak selesai tanpa ada yang melerai. Kemudian, ia mengambil kura-kura yang tadi ditangkapnya, betapa terkejut hatinya karena ia hanya menemukan jaring perangkapnya yang koyak. 

Kesimpulan
Cerita ini termasuk fabel karena menceritakan kehidupan binatang yang bisa berbicara seperti manusia. Cerita ini menarik karena berisi pelajaran tentang pentingnya persahabatan yang penuh kesetiaan dan kekompakan. Banyak kesulitan hidup yang tidak bisa dipecahkan sendiri, tetapi dapat diselesaikan dengan baik setelah bantuan para sahabat. Oleh karena itu, kita perlu memperbanyak sahabat serta suka menolong orang lain. 

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

Minggu, 16 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Timun Untuk Permintaan Maaf

Timun Untuk Permintaan Maaf
Jiji si anjing sakit. Ia tidak bisa melaksanakan tugasnya, menjaga kebun Pak Tani. Padahal, beberapa hari lagi sayur-sayuran akan siap dipanen. Jiji sangat takut, bagaimana kalau hewan-hewan mencuri sayuran itu. 

Dua hari kemudian, Jiji merasa tubuhnya sudah sehat. Sambil menggonggong riang, ia menuju kebun. Ketika sudah tiba. Ia bernapas lega, melihat terong ungu, kubis dan sawi yang besar-besar. Namun, betapa terkejutnya ia ketika sampai di kebun timun. Tananman yang merambat di bilah-bilah bambu itu dahan-dahannya banyak yang patah dan rusak. Timunnya sudah tidak ada satu pun. 

"Oh, tidak! Siapa yang berani mencuri semua timun? Awas kalau ketemu!" Jiji mengendus-endus tanah, mencari jejak pencurinya. Ia menemukan banyak jejak Pak Kaki Pak Tani. Ia juga menemukan jejak kaki lain. "Ini ... ini pasti jejak kaki kancil! Aku yakin!" 

"Awas kau kancil!" 

Dengan kencang, Jiji berlari ke hutan. Mencari keberadaan si Kancil. Setelah bertanya pada beberapa hewan, ia pun menemukan rumah kancil. Digedornya keras-keras pintu kayu itu, hingga Kaci si Kancil membukanya. 

"Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan, Kaci. 

Kaci tampak bingung. "Memang apa yang aku lakukan?"

"Kau jangan pura-pura tidak tahu!" bentak Jiji. "Dasar pencuri".

"Apa? Pencuri ?" Kaci semakin tampak bingung. 

"Aku tahu, kau yang mencuri timun Pak Tani kan!" 

"Tidak! Aku tidak melakukannya, aku tidak mencuri!" Kaci menggelengkan kepalanya. 

"Mana ada pencuri yang mengaku!" Jiji mendengus kesal. "Kau terkenal suka mencuri timun! Sudah akui saja!" 

"Sungguh aku tidak mencurinya, Jiji. Aku bisa mencari makanan di hutan. Di sana banyak sekali makanan. Aku tidak perlu mencuri di kebun Pak Tani lagi. "Kaci terus mencoba meyakinkan. 

"Alah, berhenti pura-pura! Kau memang pencurinya, aku punya buktinya." 

"Mana? Coba tunjukkan!" 

"Baik, ikut aku!" 

Jiji membawa kaci menuju ke kebun timun dan menunjukkan jejak kai kancil. "Ini jejak kakimu kan?" 

Kaci melihat jejak kaki itu lebih dekat dan membandingkannya dengan telapak kakinya. Kok sama, pikirnya. 

"Betul kan itu jejak kakimu?" tanya Jiji diulang. "Kau pencurinya!" 

"Aku memang pernah melewati kebun ini saat pulang dari sungai. Jujur, saat itu aku memang lapar dan tergiur mengambil timun. Tetapi, tidak jadi. Aku ingat kejadian terakhir aku mencuri. "Aku kapok".

Jiji tertawa mengejek. "Jangan mengarang cerita, Kaci! Sudah akui saja kau mencuri semua timun di kebun ini." 

"Sungguh, aku tidak mencuri! Dan bagaimana mungkin hewan kecil seperti aku bisa mencuri semua timun di kebun yang luas ini?" kata Kaci membela diri. 

"Kau pasti mencuri bersama teman-temanmu ." 

"Kalau seperti itu harusnya banyak jejak kaki kancil di sini?" 

Jiji Bingung menjawab pertanyaan Kaci. Ia hanya menemukan jejak kaki seekor kancil. Tetapi, Jiji ingat, Kancil terkenal sangat licik. 

"Jangan mencoba menjebakku, Kaci! Kau memang pencurinya!" Nada suara Jiji semakin keras. "Ikut aku! Kau harus aku adukan kepada Pak Tani." 

Dengan gonggongannya yang seram, Jiji memerintahkan Kaci menuju halaman rumah Pak Tani. Kaci tanpak gemetaran. Ia ingat dulu saat ia hampir dihajar Pak Tani karena ketahuan mencuri timun. Untungnya ia bisa kabur. 

Mereka berhenti, melihat mobil bak terbuka di halaman rumah Pak Tani. Pak Tani dan si sopir keluar dari rumah sambil memikul keranjang dan menaikkannya ke mobil. Ada benda hijau tak sengaja jatuh dari keranjang. Jiji menghampiri dan ternyata benda hijau itu timun. Ia ingat, kalau banyak jejak kaki Pak Petani di kebun Timun. Itu pasti karena Pak Tani sudah memanen timunnya. 

Ia menoleh ke arah Kaci. Jiji merasa bersalah tetapi ia malu mengakuinya. Ia menggigit timun yang terjatuh itu dan mendekati Kaci. 

"Ini untukmu, timun permintaan maaf," kata Jiji sambil meletakkan timun dari mulutnya ke tanah. "Maafkan aku telah menuduhmu mencuri. Aku menyesal." 

"Kau tahu sekali, aku sangat lapar!" seru Kaci riang sambil menggigit timun pemberian Jiji. 
"Terima kasih, Aku sudah memaafkanmu." 

Jiji merasa lega. Kaci tidak marah. Ia janji tidak akan bersikap gegabah dan menuduh sembarang lagi. 

Sumber: Padang Ekspress, Minggu 12 April 2015
Oleh : Diy Ara 



Sabtu, 08 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Pak Jago Sakit

pak jago sakit
Tidak seperti pagi biasanya, hari pak jago tidak berkokok kencang. Apakah Pak Jago lupa? Tidak. Pak Jago bukan ayam pelupa. Ia juga bukan pemalas. Hanya ada satu sebab, Pak Jago Sakit. 

Sakit?" tanya Bella. 

"Ya, sakit tenggorokan," kata Otekotek, istri Pak Jago menjelaskan. 

"Apakah badannya demam?" tanya Weki Bebek. 

"Ya, badannya demam, napasnya berat." 

"Menular?" 

"Aku tidak tahu." 

"Jangan-jangan ..." Bella tidak melanjutkan kata-katanya. Tapi Otekotek sempat melihat sekilas ada kecurigaan di mata Bella dan Weki. Lebih tepatnya takut. Otekotek tahu ke arah mana jalan pikiran teman-temannya. 

"Kalian jangan berpikir seperti itu. Pak Jago tidak mungkin SARS, seperti yang sekarang ramai dibicarakan . Dan kalaupun Pak Jago kena, tidak pantas kalian menjauhinya. Coba bayangkan, Pak Jago bisa tersinggung," kata Otekotek.

"Jadi,Pak Jago memang terkena SARS?"tanya Weki.

"Huh, sulit sekali menjelaskan kalian ini!"

"Lho,tadi katanya sakit tenggorokan, kok sekarang sakit yang menular itu. Mana yang benar?"tanya Bella tak kalah bingung.

"Terserah kalianlah mau bilang apa. Yang jelas aku akan tetap menungguinya sampai sembuh.Titik!"
Otekotek meninggalkan Bella dan Weki yang kebingugan. 

Kabar yang belum pasti biasanya lebih cepat tersebar. Berita tentang penyakit menular yang diderita Pak Jago juga demikian. Akibatnya seluruh isi peternakan menjauhinya. Beberapa hari kemudian, seluruh hewan ternak di desa itu menjauhinya, tidak satupun yang menengok. Hanya Otekotek yang menunggui, itulah yang membuatnya bersedih.

"Oh, sungguh malang nasib kita Pak Jago. Bahkan teman-teman dekat kita sendiri tidak mau menengok. Mereka semua ketakutan sebelum tahu berita sebenarnya," kata Otekotek meratapi nasibnya. 

"Ya, tidak apa-apa. Kan jadi ketahuan siapa teman setia, siapa bukan," kata Pak Jago dengan lemah. 
"Tapi, kan Pak Jago belum tentu kena SARS?" 
"Ya, mungkin saja. Aku juga belum tahu." 
Jawaban Pak Jago makin membuat Otekotek sedih. Ia juga sangat menyayangkan sikap teman-temannya yang menjauh. Ia ingin berkeluh kesah, tapi pada siapa? 

"Saat menunggui orang sakit, sebaiknya kita lebih bersemangat. Kalau terus-terusan sedih lama-lama kita akan ikut sakit, dua kali merepotkan," kata Pak Panjul saat menengok kandang. 

Dengan berderai air mata Otekotek menceritakan semua yang dialaminya. Pak Panjul mendengarkan dengan seksama. 

"Aku sudah mengerti kok. Bella dan Weki hanya salah paham. Mereka boleh saja merasa takut, itu hak mereka. Tapi aku yakin, mereka tidak bermaksud menjauhi kalian," kata Pak Panjul. 

Tak berapa lama setelah Pak Panjul mengatakan hal itu, Bella dan Weki datang menjenguk sambil membawa buah-buahan segar. 

"Kami datang! Cepat sembuh ya, Pak Jago!" Kata Bella dan Weki bersamaan. 

"Awas lho, nanti ketularan!" kata Otekotek sambil melengos. 

"Hihihi, kalau mau ketularan sih sudah dari kemarin!" kata Weki tak mau kalah. 

"Sudah, sudah, kok malam berantem lagi. Tuh, yang sakit jadi nggak bisa tidur," kata Pak Panjul sambil melirik Pak Jago. 

"Aku senang mendengar kalian berantem lagi, itu artinya semua sudah normal," kata Pak Jago sambil tersenyum. 

Keesokan harinya, Pak Jago sudah bisa berkokok lagi. 
"Kukuruyuuuuuk, selamat pagi kalian semua!" 

Sumber: Majalah Bobo Edisi 02 tahun III, 27 Mei - 3 Juni 2003
Penulis : Sony 
Ilustrasi : Andres


Kamis, 06 April 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Akibat Keserakahan Liset

akibat keserakahan liset
Liset, itulah nama seekor kucing yang sangat rakus. Liset mempunyai dua orang adik bernama Meti dan Pulsi. Sebagai anak tertua, Liset sering bertindak sewenang-wenang pada kedua adik-adiknya. Walaupun demikian, adik-adiknya sangat sayang pada Liset. 

Pada Suatu siang yang terik, ketika Ayah mereka sedang pergi, Ibu tampak kebingungan. Sebab hari ini ia hanya mendapatkan tiga ekor ikan. Dua ekor ikan kecil dan satu ekor ikan yang sangat besar. 

"Bagaimana cara membaginya nanti?" pikir ibu sambil berjalan menuju rumah. 

Dari kejauhan, Liset, Meti dan Pulsi berteriak-teriak menyambut kedatangan ibunya. 

"Hore....Ibu sudah pulang!" ujar mereka serempak. 

"Ibu, mana makanan untuk kami hari ini? Aku sudah sangat lapar," ujar Liset tidak sabar. 

Lalu Ibu pun segera menyiapkan makan. Sambil merapikan meja, Ibu terus berpikir. Akhirnya Ibu mendapat akal untuk membagi ikan besar itu menjadi dua bagian. Sekarang kita mempunyai empat potong ikan. Ibu serahkan pada kalian untuk memilihnya," ujar ibu panjang lebar.

"Liset mau yang besar, Bu," ujarnya sambil mengambil ikan yang paling besar tanpa minta persetujuan pada adik-adiknya. 

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Ibu kemudian. 

"Tak apa-apa, Bu. Kami makan ikan yang kecil saja," jawab Meti Singkat. 

"Sekarang mari kita makan!" ajak Liset tak sabar. 

Mereka pun makan dengan lahap. Di tengah keheningan, tiba-tiba saja Liset berteriak-teriak kesakitan. 

"Aduh, tolong...tolong!" ujar Liset sambil memegangi lehernya. 

"Ada apa Liset ?" tanya ibu seraya menghampiri. 

"Ada duri ikan nyangkut di tenggoranku. Aduh, sakit sekali rasanya, Bu!" 

"Coba buka mulutmu!" perintah Ibu. "Wah, besar sekali duri ikan yang nyangkut itu. Seharusnya kamu tidak menelannya. Kamu masih terlalu kecil sehingga belum dapat mencerna duri yang besar," ujar Ibu menasehati. 

Kemudian Ibu pun mengelus-ngelus leher Liset. Meti dan Pulsi memperhatikannya dengan wajah cemas. 

"Kalian tak perlu terlalu cemas, Kakak kalian akan baik-baik saja. Ibu akan menekan-nekan leher Liset sehingga ia dapat memuntahkan duri ikan itu," ujar Ibu kucing. 

Tak lama kemudian dari mulut Liset terdengar suara serak. 

"Huk...huk....huk. Durinya sudah keluar, Bu," ujar Liset dengan gembira,"terima kasih, Bu. Liset berjanji tidak akan rakus lagi. 

Ibu tersenyum bahagia karena akhirnya Liset dapat sadar dengan sendirinya. Jika dia tidak rakus mungkin teman-teman dan adik-adiknya akan lebih sayang padanya. 

Sumber : Bobo Edisi 02 Thn III, 27 Mei - 3 Juni 2003
Penulis (Diceritakan kembali oleh) : Yuniarti 
Ilustrasi : Rudin

Minggu, 05 Maret 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Ujian Akhir Fija

Ujian Akhir Fija
Fija gemetaran memasuki area ujian praktik di pinggir sungai. Tubuhnya berkeringat dingin. Matanya serasa berbintang-bintang memusingkan. Ujian kali ini adalah praktik bekerja menggunakan belalai. Jantung Fija tak henti-hentinya berdebam tak tenang. Bisakah dia ujian tanpa salah? 

Fija mengingat-ingat semua teori yang sudah dipelajari. Dia sudah membaca tuntas buku Tips 1001 Lulus Ujian Akhir. Kepalanya terayun-ayun saat hafalan. Matanya sipit sekali saat ia pejamkan. 

"Belalai gajah memiliki 50.000 otot. Fungsinya untuk menyedot air, mengangkat kayu berat, dan menjumput makanan. Cara menyedot air yang benar adalah.....".

Fiji begitu khawatir tidak lulus ujian akhir sekolah gajah. Jika tidak lulus, dia akan tinggal kelas. Keluarganya pun pasti kecewa. 
****
KREEEEK! Kreek! Kreeek! 
"Fija, stop! lihat jalanmu!" teriak teman-teman Fija dari kejauhan. 

Fija tidak konsentrasi memperhatikan jalan. Dia jalan terlalu jauh sampai menyeberangi sungai. Celakanya dia menginjak-nginjak bendungan keluarga berang-berang. Bendungan itu rusak parah karena injakan kakinya yang besar. Ranting dan pohon bendongan terbawa arus sungai yang deras. Keluarga berang-berang segera menyelamatkan diri ke tepi sungai. 

Fija tercengang dengan tindakan yang dia lakukan. Dia cepat-cepat minta maaf kepada Pak Beri berang-berang yang muncul dari air diikuti 10 anggota keluarganya. Pak Beri menggeleng. Dia menunjuk jauh ke ujung sungai. "Aku lebih khawatir pada keluarga binatang yang tinggal di daerah muara. Rumah mereka pasti kebanjiran karena air sungai tiba-tiba meluap."

****

"ASTAGA, aku harus memberitahu para binatang di daerah hilir. "Fija meniup belalainya keras-keras. Dia mengeluarkan bunyi terompet peringatan. Beberapa binatang terdekat cepat-cepat menyingkir dari tepi sungai. 

Fija membayangkan keluarga binatang di daerah hilir kuyup karena banjir yang tiba-tiba. Dia tidak bisa diam saja. Bendungan baru harus segera dibangun. 

Fija merobohkan dua batang pohon berukuran sedang. Dia memasang pohon melintang di tengah sungai. Dia juga memungut ranting-ranting pohon untuk mengurangi air yang deras. 

Keluarga berang-berang berenang memasang ranting yang tidak bisa dicapai belalai gajah. Mereka terus bekerja sama membangun bendungan. Tak lama, aliran air sungai mengalir tenang seperti sedia kala. 

Pak Beri menyalami belalai Fija sebagai ucapan terima kasih. Keluarga berang-berang sudah mendapat bendungan baru untuk mereka tinggali. Binatang di daerah hilir juga lega sungai tidak meluap lagi. Telinga lebar Fija melambai-lambai karena bangga. 

"Astaga, ujianku!" Fija menepok belalai ke kepalanya yang botak. 

Dia menoleh ke seberang sungai. Pak Harja, guru ujian praktek, melotot padanya. Begitu juga sembilan teman-teman yang mengikuti ujian akhir. Mereka melongo melihat tragedi bendungan rusak tadi. 
****
FIJA segera menyeberang sungai dengan hati-hati. Dia mengingatkan dirinya untuk konsentrasi melihat jalan. Jika menginjak bendungan lagi, bisa-bisa dia tak jadi ujian. 

"Kita pindah agak ke tengah hutan saja. Kasihan keluaga berang-berang terganggu ujian kita," kata Pak Harja saat Fija tiba di area ujian kembali. 

Pak Harja memasuki hutan diikuti Fija dan kesembilan temannya. Fija berusaha fokus melewati jalan yang mereka lalui. Tidak lagi melamunkan isi buku-buku yang sudah dipelajari sebelumnya. 

Setelah menemukan tempat luas, ujian dimulai. Pak Harja memanggil semua murid satu per satu untuk ujian. Fija menunggu giliran dengan cemas. 

Anehnya, Pak Harja tak jua memanggilnya. Bahkan sampai buku daftar ditutup, namanya tidak disebut. Jangan-jangan dia melamun lagi waktu ujian tadi. Atau dia tidak diperbolehkan ujian karena kesalahan tadi pagi ? 

"Ehm, anu..., Pak Harja. Saya belum dipanggil ujian?" Fija mendekati Pak Harja yang sedang mengemas barang-barang dan bersiap pergi. 

Pak Harja memandang Fija dengan tertawa. "Kamu kan sudah ujian paling awal tadi. Mengangkat kayu, menjumput ranting, menyedot air sungai. Bendungan buatanmu tadi sempurna, Fija. Kamu lulus ujian akhir sekolah gajah." 

Fija melongo. Dipandangnya Pak Harja yang beranjak meninggalkan lapangan dengan tak percaya. Kesembilan temannya menerompet dengan gembira dengan kelulusan Fija yang luar biasa. 

Sumber : Kompas Minggu, 1 Maret 2015. 
Penulis : FiFadilla 
Ilustrasi : Alia Putri  

Sabtu, 04 Maret 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Sesama Saudara Harus Berbagi

Sesama Saudara Harus Berbagi
Suatu pagi, di rerimbunan hutan, Jawa Timur, Pak Tua Rusa mengunjungi kediaman keluarga Pip si Tupai.
"Pagi, Ibu Tupai," Salam Pak Tua Rusa kepada Ibu Pip yang baru dari sarang di dalam lubang pohon. Kemarin, keponakanku mengunjungiku. Dia membawakan oleh-oleh yang cukup banyak. Aku ingin membaginya untuk para sahabatku. Ini kacang kenari spesial untuk keluargamu." 

"Terima kasih, Pak Tua Rusa," ucap Ibu Pip. 

Sepeninggal Pak Tua Rusa, Ibu Pip masuk ke dalam sarang dan memanggil anak-anaknya. "Anak-anak, lihat kita punya apa? Kalian harus membaginya sama rata ,ya."

Asyiiik," girang Pip dan adik-adiknya. 

"Ibu taruh sini, ya." 
Setelah itu, ibu tupai mengurus sarang di dalam lubang pohon. Tiba-tiba adik-adik Pip ingin mencicipi kacang itu. 

"Ini aku bagi," kata Pip. Dari sepuluh butir kacang, dia memberi adiknya masing-masing dua butir. "Ini sisanya untukku, Aku kan paling besar." 

"Tapiii...Ibu kan pesan untuk membagi rata," kata Titu, salah satu adik kembar Pip, diiringi tangisan Puti, kembar satunya. 

Mendengar tangisan Puti, ibu Pip keluar dan bertanya. Sambil terisak, Puti menceritakan keserakahan kakaknya. 

"Tak boleh begitu, Pip. Ibu tadi sudah bilang apa," tegur ibu Pip. "Kamu tidak boleh serakah." 

"Tapi Buuu, aku kan lebih besar. Perutku juga lebih besar," sanggah Pip. 

Ibu Pip berpikir sejenak. "Baiklah, Pip. Kamu memang lebih besar. Kebutuhan makanmu juga lebih banyak. Tapi, kalau cuma menurutkan keinginan dan perut, kita akan selalu merasa tidak cukup." 

"Kalau begitu, Ibu saja yang membagi ya? memang tidak akan memuaskan semuanya. Ini, Ibu beri empat untukmu, Pip, karena kau lebih besar. Dan si Kembar kalian masing-masing mendapat tiga." 

"Kalian harus mau berbagi ya, anak-anak. Walau menurut kalian kurang, ini adalah rezeki yang harus disyukuri," lanjut Ibu Pip. 

"Berarti enak dong, Bu, jadi anak yang lebih besar. Selalu mendapat lebih banyak," iri Puti. 

"Ya, tapi perbedaannya tak terlalu banyak, kan?" Lagipula kakakmu memiliki tugas yang lebih banyak darimu. Apa kau mau bertukar tugas dengan Kak Pip?" tanya Ibunya. 

Puti dan Titu membayangkan tugas-tugas Pip. Mereka lalu kompak menggeleng. 

"Nah, begitu. Sesama saudara harus akur ya, harus berbagi. Jangan bertengkar hanya karena masalah sepele," kata Ibu Pip. 

"Iya, Bu," angguk Pip. "Yuk, kita makan kacangnya bersama," ajak Pip pada kedua adiknya. Ibu Pip tersenyum melihat anak-anaknya kembali rukun. 

 Hikmah Cerita

Janganlah menjadi anak yang serakah. Berbagi rezeki kepada sesama, jauh lebih baik dan mulia. 

Sumber : Kompas, Minggu, 1 Maret 2015. 
Penulis : A'amrizka Dyan Rahmasari
Ilustrasi : Regina Primalita

Minggu, 26 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Senandung Ulu

Senandung Ulu

Ulu, seekor katak hijau, sedang berdiri di pinggir kolam. Hari itu langit sangat gelap dan hari seperti itulah yang Ulu sukai. Tidak lama kemudian, air mulai menetes perlahan-lahan dari angkasa.
"Hujan telah tiba!" pikir Ulu dengan girang. Ulu pun mulai bersenandung sambil melompat-lompat mengitari kolam. Ia melihat semut yang kecil sedang berteduh di balik bunga matahari.
"Wahai semut, hujan telah tiba!" seru Ulu kepada semut yang sedang berusaha keras menghindari tetesan air hujan.

Semut hanya menatap dengan bingung dan bertanya," Mengapa kau terlihat begitu bahagia Ulu?"

"Aku sangat suka dengan hujan. Hujan membuat tubuhku merasa sejuk," jawab Ulu.

SEMUT Menghela napas dan menatap Ulu dalam-dalam. "Ulu, aku tidak suka dengan hujan. Kamu lihat betapa mungilnya tubuhku? Air hujan akan menyeret dan menenggelamkanku ke kolam! Akut tidak bisa berenang sepertimu, makanya aku berteduh," sahut Semut. 

Makanya semut, kau harus berlatih berenang! Aku sejak berupa perdu sudah bisa berenang, masa kau tidak bisa? Berenang itu sangat mudah, julurkan saja kakimu," Ulu menjulurkan kakinya, "dan tendang ke belakang seperti ini! Ups, maaf, kakimu kan pendek." Sambil tertawa, Ulu melompat meninggalkan semut. 

Semut hanya bisa menatap Ulu dengan kesal. Semut tidak dapat berenang karena ia berjalan. 

Senandung Ulu Ulu kembali berseru, "Hujan telah tiba! Hujan telah tiba! Oh hai Ikan! Aku sangat suka dengan hujan, bagaimana denganmu? Ulu berhenti di pinggir kolam dan berbicara kepada Ikan yang sedang berenang di dalam kolam. 

Ikan mendongakkan kepalanya ke atas dan berbicara kepada Ulu. "Aku tidak dapat merasakan hujan Ulu. Lihatlah, Aku tinggal bersama air. Bagaimana caranya aku dapat menikmati hujan seperti kamu Ulu?" Ikan pun kembali berputar-putar di dalam kolam. 

"Hah! Sedih sekali hidupmu Ikan! Seandainya kamu seperti aku, dapat hidup di dalam dua dunia, darat dan air, mungkin kamu akan dapat merasakan kebahagiaan ini. Nikmati saja air kolammu sebab kamu tidak akan dapat pernah merasakan rintikan hujan di badanmu!" 

Apa yang Ulu katakan sangat menusuk hati Ikan. Ikan menatap ke arah tubuhnya yang bersisik, lalu menatap ke arah tubuh licin Ulu. Ikan yang bersedih hati pun berenang meninggalkan Ulu, ke sisi kolam yang lain. Ulu pun kembali melompat-lompat di sekitar kolam dan kembali bersenandung. 

Senandung UluSAAT Ulu tiba di bawah pohon, ia melihat Burung sedang bertengger di dahan pohon dan membersihkan bulunya. Ulu mengira Burung juga sama seperti Semut dan Ikan yang tidak dapat menikmati hujan. 

"Hai Burung, kenapa kau tidak mau keluar dan menikmati hujan? Apakah kamu takut bulumu basah? Atau apakah kamu takut tenggelam ke dalam kolam seperti semut? Ataukah memang kamu tidak bisa menikmati indahnya hujan seperti Ikan?" Setelah berkata demikian, Ulu tertawa kencang-kencang. 

Suara paraunya terdengar oleh Semut dan Ikan yang penasaran akan reaksi Burung terhadap Ulu. 

Burung menatap ke arah Ulu yang masih tertawa," Hai Ulu, apakah kau bisa naik kemari?" 
Ulu kebingungan." Apa maksudmu burung?" 

"Apakah kau bisa memanjat naik kemari Ulu?" 

"Apa yang kau maksud Burung? Tentu saja aku tidak bisa!" Ulu cemberut dan menatap kearah dua kakinya. 

"Ulu, tidakkah kamu tahu bahwa Sang Pencipta membuat kita dengan keunikan yang berbeda-beda? Aku tidak bisa berenang sepertimu dan ikan, tetapi aku bisa terbang mengitari angkasa. Aku bertanya kepadamu Ulu, apakah kamu pernah melihat awan?" 

Ulu menyahut," tentu saja belum Burung, akan kan tidak bisa terbang sepertimu!" 

Burung kembali berkata dengan bijak, "Itulah yang kumaksud Ulu, Kita masing-masing memiliki kelebihan sendiri, Semut tidak bisa berenang sepertimu, tetapi ia bisa menyusup ke tempat-tempat kecil yang tidak dapat kau lewati. Ikan tidak dapat melompat-lompat sepertimu, tetapi ia bernapas di bawah air. Kamu tidak seharusnya menghina kekurangan mereka!" 

ULU mulai menyesali tindakannya, memang, kalau ia pikir-pikir, tindakannya itu kekanak-kanakan. Ia seharusnya tidak menyombongkan kelebihan dan menghina keunikan teman-temannya. 

"Maafkan aku Burung." ucap Ulu, lalu ia menatap kearah Semut dan Ikan yang sejak tadi memperhatikan pembicaraan mereka. "Maafkan aku Semut, Ikan, aku tidak bermaksud demikian." 

"Jangan diulangi lagi Ulu," sahut mereka bersamaan. Lalu Ulu pun kembali bersenandung sampai hujan berhenti. Sejak saat itu, Ulu mulai menghargai teman-temannya dan mereka pun menyukainya kembali. 

Sumber  : Harian Kompas, Minggu 15 Februari 2015
Oleh : Dian Sari 
Ilustrasi: Yan B

Rabu, 22 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Cerita Kancil dan Siput

Cerita Kancil dan Siput
Pagi itu udara amat cerah. Di pinggir sungai masih tampak kecipak-kecipak air menunjukkan bahwa ikan-ikan masih sibuk bermain dan mencari makan. Setelah itu, air sungai semakin surut dan ikan-ikan mulai menghilang dari permukaan air. Mungkin mereka bersembunyi atau berlindung di balik akar-akar pohon enau.

Di pinggir sungai tampak bermunculan beberapa ekor siput. Mula-mula sedikit jumlahnya, tetapi lambat laun semakin banyak. Menjelang puncak pasang surut, jumlah siput di pinggir sungai itu sudah mencapai ribuan ekor. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Tentunya yang besar adalah para pemimpin dan yang paling besar adalah raja siput.

Suatu ketika, sang raja sangat memerlukan kehadiran dan bantuan para bawahannya. Oleh karena itu, dipanggilnya seluruh bawahannya untuk berkumpul dan rapat di suatu tempat yang sudah ditentukan. Kemudian sang raja siput berujar;
"Saudara-saudaraku, dengarlah seruanku ini! Hari ini aku meminta saudara-saudara bersiap dan berjaga-jaga karena tidak berapa lama lagi seekor makhluk bernama kancil akan melewati daerah perkampungan kita ini."

"Bagaimana rupanya Tuan? Aku belum pernah melihat wajahnya sekalipun," tanya salah seekor siput.

"O, kalau begitu tunggu saja di sini. Jika tidak ada halangan, sebentar lagi binatang itu akan lewat melewati kampung kita ini. Tentu saja engkau dapat menyaksikannya," jawab sang raja.

Seekor siput lain menyela, "Apakah kelebihan binatang itu sehingga kita perlu memperhatikannya?"

"Begini saudara-saudara," sahut sang raja. "Kancil itu binatang yang cerdik, beberapa ekor binatang hutan sudah ia tipu. Sekarang, ia sedang kemari untuk mencari mangsa berikutnya. Tampaknya ia ingin menjadi raja di antara segala binatang yang ada di dunia ini."

Suasana hening seketika. Sesaat kemudian tampak perbedaan sikap di antara para bawahan terhadap penjelasan yang baru saja disampaikan sang raja siput. Ada yang termenung. Ada yang keheran-heranan seakan-akan tidak mempercayai kebenaran kecerdikan kancil itu. Ada pula yang bersikap menantang, ingin membuktikan sampai dimana kecerdikan akal yang dimiliki kancil, Selanjutnya, raja siput memerintahkan para bawahannya untuk memerintahkan seluruh anak buahnya menyembunyikan diri di dalam lumpur.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar bunyi makhluk aneh. Suaranya seperti suara anak kambing yang sering makan rumput membuntuti ibunya di pinggir sungai. Pemimpin siput memperhatikan keadaan sekitarnya. Memang benar, seekor makhluk kecil bertubuh ramping dan bertelinga panjang melompat dari pinggir sungai ke daratan. Rupanya dia baru saja melepaskan dahaga. Sambil membawa sekuntum bunga, dia berjalan menuju perkampungan siput. Jalannya gagah, bagai panglima pulang dari menang perang.

"Hai, apa kerjamu berkumpul di sini? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa yang berjalan di hadapanmu ini adalah raja paling cerdik di dunia. Yang lebih dikenal dengan sebutan kancil yang cerdik!".  

Siput-siput di pinggir sungai itu berdiam diri, mereka memperhatikan sikap pongah dan takabur dari sang kancil. Tidak lama kemudian, dia berujar lagi, semua jenis binatang di dunia ini sudah mengakui dan menghormati aku sebagai binatang paling cerdik. Oleh karena itu, sewajarnya kalau kalian mengakui dan menghormati aku."

Kemudian raja siput berkata," Hai saudara kancil. Siapakah engkau ini sebenarnya? Berapa ekor hewan hutan yang telah engkau perdaya?"

Sambil berdiri dengan gagah, si kancil menjawab, "Aku bukan penipu, Aku ini binatang yang cerdik. Dengan akalku yang cerdik, aku bisa mengatasi kesulitan hidup. Aku bisa menghindari bahaya yang mengancam. Dan, aku bisa menaklukkan binatang-binatang hutan seperti gajah, harimau, bahkan manusia sekalipun."

"Hai kancil, coba engkau ceritakan bagaimana caranya binatang dan manusia bisa engkau perdaya?" tanya seekor siput.

"Begini caranya, "si kancil mulai bercerita, "Saat harimau hendak menerkam, kuberi hadiah sebuah tabuhan ajaib. Bila Tabuhan itu dipukul akan menimbulkan suara yang merdu. Tabuhan itu juga tabuhan  larangan. Artinya, tabuhan itu tidak boleh dipukul sembarang waktu. Akan tetapi, dasar harimau binatang bodoh. Tanpa perhitungan lantas dipukulnya sarang tabuhan (bintang penyengat seperti lebah) itu, sehingga dia akhirnya mati disengat binatang yang banyak itu."

"Lalu, bagaimana pula cara engkau memperdaya manusia?" sela seekor siput lainnya.

"Itu gampang sekali," jawab si kancil. Sewaktu aku tertangkap oleh seorang pemburu, aku perintahkan sahabatku lalat untuk terbang dan hinggap di sekitar tubuhku. Si pemburu menyangka aku sudah mati. Lalu, aku ditinggalkan begitu saja di pinggir hutan."

"Nah, cukup," kata siput itu. Kemudian, sang raja siput berujar, "Hai kancil, sekarang kami ingin bukti bahwa engkau benar-benar binatang yang cerdik."

"Mau apa engkau?" sergah sang kancil.

"Aku ingin berlomba. Siapa diantara kita yang paling cepat lari dari sini hingga ke hulu sungai," kata raja siput.

"Ah, bukan ukuranmu yang bisa melawan aku. Engkau binatang kecil, jalanmu pun sangat lamban, apalagi di sungai berlumpur. Mana mungkin engkau mampu mengalahkan aku," sahut kancil dengan sombong.

"Mungkin saja, mengapa tidak?" jawab raja siput.

Kalau begitu kehendakmu, baiklah. Bersiap-siaplah engkau besok pagi," kata sang kancil sambil melompat-lompat ke dalam hutan.

Pagi-pagi benar, pada hari berikutnya, raja siput sudah menampakkan diri dari sela-sela lumpur. Tidak berapa lama, tampak pula para bawahannya.

"Saudara-saudara, sesuai dengan rencana bahwa sebentar lagi kita akan mengikuti dan menyaksikan perlombaan lari dengan si kancil. Untuk itu, saya perintahkan saudara membuat barisan memanjang sepanjang sungai ini. Si kancil berlari di daratan, sedangkan kita berbaris di sungai. Apabila si Kancil mulai berlari dan memanggil kita, saudara yang didepannya harus menjawab, Uuuu, Bagaimana, setuju?"

"Setujuuuu!" jawab siput-siput yang lain.

Setelah itu beranjaklah mereka masuk ke dalam sungai, mematuhi perintah sang raja.

Tepat pada waktunya, datanglah si kancil. Dia menuntut agar perlombaan segera dimulai. Raja siput yang sudah lama bersiap segera beringsut ke pinggir sungai. Sementara itu, beberapa ekor siput yang lain berada di pinggir sungai ingin menyaksikan perlombaan itu.

"Satu, dua, tigaaaa!" si kancil memberi komando tanda perlombaan di mulai. Dengan sigap dia melompat, berlari sekencang-kencangnya. Setiap lima puluh langkah, dia berseru, "Di mana engkau siput?"

"Uuuu., uuuu!" jawab siput yang berada di depannya. Si kancil semakin mempercepat larinya. Lalu terdengar lagi si kancil berseru, "Di mana engkau siput?"

"Uuuu, uuuu ...! kembali terdengar jawaban siput telah berada di depannya.

Si kancil menjadi marah dan kian memperkuat larinya. Setiap kali dia berseru, selalu dijawab oleh siput yang telah berada di depannya. Demikian seterusnya. Si kancil tidak dapat mengalahkan siput dalam perlombaan itu. Dia tidak dapat menerka taktik yang dipakai oleh raja siput dan anak buahnya. Akhirnya, dia merasa kelelahan. Sambil menggerutu dengan napas terengah-engah, sang kancil pun berkata, "Hai siput, mulai hari ini aku nyatakan bahwa engkaulah binatang paling cerdik dan dapat mengalahkan aku, selamat tinggal!"

Setelah itu, kancil pun melompat dan lari menghilang dari perkampungan siput. Sekarang, tinggallah siput-siput berbuntut panjang itu bergembira ria, memuji-muji diri mereka yang telah bekerja keras, bergotong royong, serta dapat membina persatuan dan kesatuan. Di setiap tempat, di mana pun siput berada, mereka suka sekali memuji diri. Siput-siput itu menjadi pandir kemenangan dan kelebihannya

Kesimpulan
 Orang yang suka memuji diri sendiri menurut peribahasa Bengkuli dikatakan "Bagai siput memuji buntut". Sifat sombong dan takabur adalah sifat yang tidak baik dan merugikan diri sendiri. Sifat suka bekerja keras, bergotong royong, dan dapat membina persatuan dan kesatuan merupakan modal kekuatan untuk mengalahkan lawan. Jangan terlalu cepat mengatakan "Kita hebat" mungkin masih ada orang lain yang lebih dari kita. 


Sumber: Buku Cerita Rakyat Dari Bengkulu
Oleh: H. Syamsuddin ZA, M. Ikram, Zaharuddin, M. Halimi, Zainuddin Yusuf
Penerbit, PT. Grasindo, Jakarta

Senin, 20 Februari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kancil Yang Jahil Mencuri Mentimun

kancil mencuri mentimun
Pada Zaman dahulu kala, hidup seekor kancil yang cerdik, Akan tetapi perangainya sangat licik. Setiap bertemu dengan binatang-binatang lain, timbul keinginannya untuk menganggu. Baik binatang besar seperti gajah, harimau, babi, ataupun binatang kecil seperti kura-kura, monyet, musang, tidak luput dari usikannya. Dia sangat senang jika binatang yang diganggu mendapat kesusahan ataupun teraniaya akibat ulahnya yang licik. Karena kelakuannya yang sangat jahat dia disebut si Kancil yang jahil.

Pada suatu hari, si Kancil yang jahil pergi mencari makan. Walaupn hari masih pagi, dia sudah merasa sangat lapar. Dia segera berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya untuk mencari makanan. Rumput-rumput muda dan pucuk-pucuk pohon yang dapat dijangkau, dilahapnya dengan rakus. Setelah beberapa saat berjalan melewati beberapa padang rumput dan semak belukar, sampailah dia di sebidang kebun sayur-sayuran. Berbagai tanaman sayuran di dalam kebun itu tumbuh dengan subur. Tanaman kacang panjang dan dan mentimun sudah mulai berbuah agak lebat.

Pak Dul, petani pemilik kebun itu sangat senang hatinya melihat tanamannya tumbuh subur dan segar. Setiap hari ia datang ke kebunnya tanpa merasa lelah sedikitpun. Ia bekerja membersihkan dan menjaga kesegaran tanamannya dari pagi sampai sore.

Pada waktu melihat tanaman Pak Dul yang segar dan subur itu, timbul keinginan si Kancil jahil untuk mencuri. Akan tetapi, pada saat itu dia tidak berani masuk ke kebun karena Pak Dul masih ada di dalam kebun. Setelah berpikir sejenak, dia berkata dalam hati," Sebaiknya saya kembali lagi nanti sore saat pemilik kebun pulang." lalu dia segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke hutan.

Kira-kira pukul 5 sore si Kancil jahil telah berada kembali di dekat kebun itu. Dari celah-celah pagar dia mengintip ke dalam kebun. Tampak olehnya Pak Dul sudah bersiap-siap untuk pulang. Tidak lama kemudian, Pak Dul segera keluar meninggalkan kebunnya dan pulang.

Melalui celah pagar yang agak lebar si Kancil Jahil segera menerobos masuk ke dalam kebun itu. Dengan perasaan sangat senang sambil meloncat-loncat kian kemari, dia mulai melampiaskan seleranya. Dengan rakus, Dia memakan kacang panjang dan mentimun yang muda dan segar sepuas-puasnya. Setelah merasa sangat kenyang, dia pun segera keluar meninggalkan kebun itu dan kembali ke persembunyiannya di dalam hutan. Demikian pula pada sore berikutnya, dia memasuki kebun itu lagi.

Setelah berulang kali, si Kancil Jahil mengulangi perbuatannya, Pak Dul semakin merasa susah dan jengkel. Jika dapat ditemukan, ingin rasanya ia segera membunuh penganggu yang telah merusak kebunnya itu.

Keesokan harinya, Pak Dull berusaha menemukan perusak kebunnya. Ia segera menyusuri pagar untuk mencari jalan masuk si penganggu tanaman. Setelah ditemukan, ia segera menggali lubang tepat di tempat bekas jalan masuk, di luar pagar. Setelah lubang itu selesai, ditutupnya dengan bekas potongan kayu-kayu kecil dan dedaunan. Keadaan tutup permukaan lubang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak tampak bahwa di situ ada lubang perangkap.

Seperti biasa menjelang senja, si Kancil Jahil telah berada di sekitar kebun itu. Dia pun segera mengintip suasana di dalam kebun. Tampak olehnya bahwa keadaan di dalam sudah cukup aman dan tidak berbahaya untuk dimasuki karena pemilik kebun tidak terlihat lagi. Dia segera menuju jalan masuknya seperti biasa. Beberapa langkah lagi mencapai celah pagar yang biasa dilewatinya itu, dengan tidak diduga sebelumnya dia langsung terjatuh ke dalam lubang. Sulit dibayangkan, betapa takut dan cemasnya si Kancil Jahil. Semua cara dan upayanya untuk keluar sia-sia belaka. Akhirnya, dia lelah dan terpaksa duduk berdiam diri di dalam lubang sambil merenungi nasib selanjutnya. Kini ia sadar bahwa kejadian ini akibat perbuatannya.

Dalam keadaan yang sangat membingungkan itu, masih sempat terlintas dalam benaknya untuk menipu. Dengan akal busuknya dia akan berusaha mempengaruhi siapa saja yang kebetulan melintas di dekat lubang itu. Dia berharap agar ada binatang lain ikut terperangkap bersamanya di dalam lubang.

Keadaan di dalam lubang saat itu semakin gelap karena hari semakin larut malam. Sementara itu, si Kancil Jahil mulai melaksanakan siasatnya buruknya. Dia segera mengucapkan kata-kata doa palsunya.
Tap teratap daun terentang
Langit gelap tidak berbintang
Besok hari akan kiamat
Di dalam lubang ini aku selamat. 

Dari luar lubang samar-samar terdengar doa itu diucapkan berulang-ulang. Tidak lama kemudian, lewatlah seekor kura-kura di tempat itu. Sayup-sayup ia mendengar suara kancil yang berada di dalam lubang. Dia segera menengok ke dalam lubang dan berkata, "Hai Kancil, apa kerjamu di dalam lubang ini?"

Si Kanci jahil menjawab, "Aku sedang berdoa sebab menurut keterangan ahli nujum di seberang lautan, besok pagi kiamat. Siapa ingin selamat harus masuk ke dalam lubang seperti saya."

Setelah menjawab pertanyaan kura-kura, Kancil kembali mengucapkan doanya berulang-ulang. Kura-kura mulai tertarik setelah mendengar dengan jelas kata-kata doa kancil itu. Akhirnya, dia mulai percaya pada keterangan yang telah disampaikan Kancil tadi. Dia segera menyampaikan harapannya kepada Kancil. Katanya;
"Jika memang benar kata-katamu tadi, bolehkah saya ikut masuk ke dalam lubang ini pula?"

"Boleh," kata si Kancil Jahil, "Tetapi engkau harus menuruti aturanku."

Kura-kura menjawab, "Baiklah, saya bersedia menuruti semua ketentuanmu, asal saya diizinkan masuk."

"Jika demikian jawabmu, masuklah," kata Kancil.

Kura-kura pun langsung terjun ke lubang. Dalam sekejab mata, dia telah berada di dalam lubang itu.
Si Kancil Jahil terus melanjutkan siasatnya jahilnya sambil mengajak kura-kura untuk bersama-sama berdoa.
Beberapa saat kemudian, lewat seekor kijang. Setelah itu datang berturut-turut rusa dan babi. Akhirnya, tiba pula di situ seekor harimau.
Mereka semua mempercayai penjelasan tentang hari kiamat dari si Kancil. Oleh karena itu, mereka meminta agar Kancil mengizinkan mereka ikut bersembunyi bersama di dalam lubang itu.

Setelah mendapat persetujuan dari Kancil, satu per satu mereka menerjunkan diri ke dalam lubang itu.

Kemudian, si Kancil Jahil segera mengatur siasat licik lebih lanjut. Dia berkata, "Wahai kawan-kawan, kita berenam saat ini telah berada di dalam lubang keselamatan. Untuk ketenangan dan kenyamanan kita di sini, saya perlu menyampaikan aturannya."

Semua kawannya serentak menjawab, "Baiklah Kancil, coba jelaskan kepada kami ketentuanmu itu."

"Begini," kata Kancil Jahil, "kita semua harus berjanji dengan sungguh-sungguh, bahwa selama kita berada di dalam lubang ini, tidak boleh ada yang terkentut. Jika salah seorang dari kita ada yang terkentut dia harus kita lempar keluar malam ini juga."

Semua kawan-kawannya serentak menyahut,"Setuju!"

"Baiklah, kalau begitu," kata Kancil, "mari kita semua berjanji dengan sepenuh hati, agar kita selamat besok pagi."

Menjelang dinihari, mereka mencium bau kentut yang sangat menyengat. Si Kancil langsung berteriak, "Siapa yang terkentut! sekarang juga harus kita periksa."

Mendengar perintah Kancil, mereka mulai saling memeriksa. Ternyata, kelima kawan Kancil tidak ada yang terkentut atau merasa terkentut. Pemeriksaan terakhir jatuh pada si Kancil Jahil. Setelah diadakan pemeriksaan terbukti bahwa Kancil yang sesungguhnya terkentut. Melihat keadaan itu, kura-kura langsung berkata, "Sesuai dengan perjanjian yang telah kita sepakati bersama. Kancil harus kita lempar keluar dari lubang ini sekarang."

Kawan-kawan lain pun ikut menyetujuinya. Dengan pura-pura sedih, si Kancil menjawab, "Baiklah kawan-kawan , saya bersedia mematuhi ketentuan kita bersama. Sekarang, silakan lemparkan saya keluar dari lubang ini." Setelah selesai berbicara, Kancil langsung dilempar keluar oleh harimau.

Setelah ada di luar lubang, si Kancil Jahil berkata kepada kawan-kawannya yang masih berada di dalam lubang, "Selamat masuk perangkap kawan-kawan! saya ucapkan terima kasih atas kebaikan hati kalian mengeluarkan saya dari lubang perangkap ini."

"Astaga," kata harimau, "rupanya Kancil keparat itu telah menipu kita."

Mereka ingin keluar dari lubang itu. Akan tetapi, mereka tidak dapat keluar karena lubang itu cukup dalam dan sempit. Mereka pasrah menanggung akibat ulah jahil si Kancil yang terkutuk itu.

Sementara menunggu matahari terbit, si Kancil Jahil masih berada di sekitar lubang. Dia menari-nari kegirangan sambil meloncat kian kemari. Karena keadaan pada saat itu masih agak gelap, dengan tidak disangka-sangka  dia meloncat ke sebuah tunggul kayu yang sangat runcing. Tunggul itu persis menembus bagian lambung sampai ke pangkal tenggorokannya. Tidak berapa lama, dia pun mengembuskan napasnya yang terakhir.

Kesimpulan
Cerita si Kancil ini adalah cerita fiktif yang disajikan sebagai hiburan bagi anak-anak. Cerita ini berkembang dari mulut ke mulut secara turun temurun di Kabupaten Bengkulu Selatan. 
 Kancil di dalam cerita ini dilukiskan sebagai seekor binatang yang lebih cerdik dibandingkan binatang-binatang lainnya. Akan tetapi, kecerdikannya hanya untuk menganggu dan menyakiti pihak lain. 
Secara ringkas, pesan cerita ini adalah setiap perbuatan yang dilakukan pasti ada balasannya secara setimpal. Perbuatan baik akan berbalas baik dan perbuatan buruk akan berbalas buruk pula. 

Sumber: Buku Cerita Rakyat Dari Bengkulu
Oleh: H. Syamsuddin ZA, M. Ikram, Zaharuddin, M. Halimi, Zainuddin Yusuf
Penerbit, PT. Grasindo, Jakarta

Sabtu, 21 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Koko Kena Batunya

koko kena batunya
Di perkampungan Uluwatu, Bali, hiduplah ratusan monyet yang biasa berkeliaran dengan bebas. Salah satunya Momon. Momon memiliki anak, namanya Koko. Koko sangat aktif. Koko suka mengambil makanan dari orang-orang yang datang.

"Koko, jangan merampas makanan dari orang, itu tidak baik. Nanti orang akan benci dengan kita," Momon menasehati Koko.

"Kalau hanya menunggu, belum tentu orang-orang itu mau memberikan makanannya untuk kita, Ayah," jawab Koko cemberut.

"Kita kan sudah diberi makan oleh penjaga, Koko. Lagipula kita juga bisa mencari makanan sendiri," ujar Momom. Koko hanya mengangguk.

Hari ini teman-teman Koko sudah menunggunya di atas pohon.

"Koko...Hari ini turis yang datang sangat banyak. Pasti mereka membawa makanan yang enak-enak. Cepat Koko!" ucap Rado dari atas pohon.

"Iya aku datang," teriak Koko sambil berlari.

Koko dan teman-temannya pun berlarian hendak menghampiri para turis yang datang ke Uluwatu.

"Koko, lihat itu, banyak sekali makanan yang mereka bawa. Ayo, kita ambil! ajak Rado.

Koko lupa pesan sang Ayah untuk tidak merampas makanan dari orang. Koko pun ikut mengambil makanan dari tangan pengunjung. Rado langsung berlari setelah mendapatkan sebungkus makanan ringan. Koko hanya mendapatkan sebungkus kacang. Tiba-tiba....
Buuuuukkkk.....Buuuukkkk....
"Aduuuhh... Aduuhhh...." Koko dilempari batu oleh seorang anak kecil yang kesal karena kacangya diambil oleh Koko.

Momon, Ayah Koko yang dari tadi mencari Koko ke sana-ke mari akhirnya menemui menemui anaknya yang tengah kesakitan.

"Koko, kamu kenapa?" tanya Momon

"Anak itu melempari aku dengan batu, Ayah. Sakit," Koko merintih kesakitan.

"Hmmm....pasti kamu merampas makanannya, kan?" tanya sang Ayah.

Ii...yaa... Ayah. Aku tidak tahan melihat makanan yang dibawanya," ucap Koko.

"Merampas milik orang namanya mencuri, Nak. Kita dianugerahi Tuhan kemampuan untuk bisa mencari makanan sendiri. Bukan mencuri," Momon menasehati Koko sambil mengusap-ngusap punggung Koko yang memerah dilempari batu.

"Iya...Ayah. Koko jandi tidak akan merampas makanan lagi. Koko tidak mau dilempari batu lagi," Koko menyesali perbuatannya.

"Syukurlah kamu mengerti. Sekarang, mari ikut Ayah. Kita cari makanan bersama," Momon merangkul Koko. Koko menyadari perbuatan buruknya dan berjanji tak akan mengulanginya. Ia akan berusaha mencari makanannya sendiri. Ia ingin jadi anak monyet yang mandiri.

Hikmah Cerita

Mencuri barang milik orang lain adalah perbuatan tercela. Untuk mendapatkan suatu barang yang kita inginkan, haruslah dengan cara-cara yang baik, misalnya dengan bekerja atau berupaya dengan tangan sendiri

Sumber: Harian Kompas, Minggu 18 Januari 2015
Penulis: Risalah Husna (Nominator Lomba Menulis Dongeng Anak Nusantara Bertutur 2014) 
Ilustrasi: Regina Primalita 

Senin, 09 Januari 2017

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Kera Yang Licik

cerita fabel, kera yang licik
Pada zaman dahulu, ada dongeng menarik tentang persahabatan antara kera dan ayam. Nampaknya mereka selalu rukun dan damai. Tapi, kenyataannya tidaklah demikian. Setelah sekian lama mereka bersahabat, barulah terlihat kelakuan buruk si kera.

"Hai, Ayam, sahabatku," panggil kera. "Sore-sore begini enaknya kita jalan-jalan. Maukah kau pergi bersamaku?"

"Memang kita mau pergi ke mana?" tanya ayam.

"Aku akan mengajakmu ke hutan, tempat aku biasa bermain. Di sana tempatnya indah. Pasti kamu suka!" ujar si kera seraya membujuk.

Ayam tertarik dengan ajakan si kera. Tanpa rasa curiga ia mengikuti kera untuk berjalan-jalan di hutan. Hari semakin gelap, perut kera mulai meronta-ronta minta diisi. Saat itulah timbul niat busuk kera untuk mencelakai ayam.

"Hehehe... Untuk apa aku susah-susah mencari makanan. Di depanku saja sudah ada makanan yang sangat lezat." pikir kera.

Dilihatnya Ayam tampak kebingungan masuk ke dalam hutan. Ayam itu tampak besar dan segar. Kera berpikir, jika ayam hendak dimakannya, lebih baik jika tanpa bulu. Oleh karena itu, ia hendak mencabuti bulu ayam terlebih dahulu.

Ayam dan kera semakin jauh masuk ke dalam hutan. Saat itu hari mulai gelap, kera pun melaksanakan niatnya. Ia segera menangkap ayam. Ayam tampak terkejut melihat perlakuan kera. Kera yang jahat itu kemudian mencabuti bulu-bulu si ayam. Dengan sekuat tenaga, ayam meronta-ronta. Ayam mencoba lari dari cengkaraman si kera. Setelah berusaha keras tanpa mengenal lelah, ayam berhasil melarikan diri. Ayam berlari sekencang-kencangnya keluar dari hutan.

Setelah sekian lama ayam berlari, tibalah ia di rumah sahabatnya yang lain. Ayam tiba di rumah kepiting. Kepiting yang melihat ayam tampak kelelahan menjadi penasaran. Ia bertanya," Wahai Ayam, apa gerangan yang terjadi denganmu? Mengapa napasmu terengah-engah? Bulu-bulumu rontok semua?" tanya kepiting.

"Oh Kepiting, aku dicelakai oleh sahabatku sendiri si kera. Ia hendak memakanku," jawab si ayam dengan napasnya yang masih terengah-engah.

"Kurang ajar! betapa teganya kera berbuat seperti ini kepadamu," ucap kepiting tidak percaya.

"Memang kurang ajar tega-teganya dia punya niat jahat seperti itu!" sahut Ayam.

"Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kera harus kita beri pelajaran!" ucap kepiting dengan geram.

Ayam dan kepiting kemudian mengatur siasat untuk memberi pelajaran si Kera.

Beberapa bulan kemudian setelah bulu-bulu di tubuh ayam telah pulih, kepiting dan ayam menemui kera. Ayam masih tampak ketakutan melihat si kera. Kepiting yang berbicara;
"Hai kera, dua hari lagi aku dan ayam hendak pergi berlayar ke pulau seberang. Di pulau itu banyak buah-buahan yang matang dan lezat," ujar kepiting.

" Benarkah? Bolehkah aku ikut berlayar dengan kalian," ucap kera penuh harap.

"Boleh...Boleh saja.....!" kata kepiting.

Sebelumnya perahu dari tanah telah tersedia. Ayam dan kepiting sengaja mempersiapkan jauh-jauh hari. Dua hari kemudian mereka bertiga naik perahu menuju seberang.

Perahu semakin lama semakin menjauh dari tepian. Kera sudah mulai membayangkan betapa lezatnya buah-buahan yang akan disantapnya nanti, sedangkan ayam dan kepiting mulai saling memberi sandi.

"Ayam berkokok,"Aku lubangi kok...!"

Si kepiting menjawab,"Tunggu sampai dalam sekali!"

Setiap kepiting selesai berkata begitu, ayam mematuk matuk perahu itu. Mereka kemudian mengulangi permainan itu lagi. Si kera sama sekali tak mengerti apa sebenarnya yang dilakukan ayam dan kepiting. Lama-kelamaan perahu yang ditumpangi mereka bocor.

Kera mulai panik, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Perahu semakin lama semakin tenggelam. Kepiting dan ayam bisa menyelamatkan diri. Si kepiting menyelam ke dasar laut. Sedangkan si ayam dengan mudah terbang ke darat. Tinggallah si kera yang tampak ketakutan. Pada dasarnya kera paling takut pada air, apalagi air laut. Ia berusaha meronta-meronta minta tolong, tapi siapa yang menolongnya. Ia juga tak bisa berenang, maka tamatlah riwayat si kera yang licik itu.


Sumber: Buku Dongeng Putri Salju 
Diceritakan kembali oleh: Yustitia Angelia
Ilustrasi: Ir. Anam
Penerbit: Bintang Indonesia, Jakarta