Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Diuji Jin

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Jin
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Jin, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Abu Nawas dikenal juga karena kejujurannya, namun tak semuanya percaya begitu saja. Diantara yang tidak percaya dengan kejujuran Abu Nawas adalah kaum jin. Abu Nawas selalu saja berhasil mematahkan teka-teki dengan sasaran yang tepat serta dapat diterima oleh akal. Sepak terjangnya yang demikian itulah membuat penasaran kaum jin dan ingin mengujinya. Mereka para jin akhirnya sepakat untuk memberi pengujian kepada Abu Nawas, apakah benar-benar jujur atau tidak. Nah, apakah Abu Nawas lulus dalam uji kejujuran itu?

Dahulu Abu Nawas pernah bekerja sebagai tukang kayu di kampungnya. Dengan pekerjaannya tersebut, ia sering menebang kayu di hutan belantara. Dan karena ia teledor, kapak kesukaannya yang ia gunakan untuk menebang kayu malah jatuh masuk ke jurang yang sangat dalam letaknya. Kejadian itu membuat Abu Nawas bersedih hati karena kapak itu adalah satu-satunya peralatan yag dipunyainya dan ia belum mempunyai pengganti. Tanpa kapaknya, otomatis ia tidak bisa bekerja seperti biasanya. Dalam perasaan yang sangat sedih itu, tiba-tiba datanglah jin yang menyamar menjadi seorang laki-laki berbaju putih. Jin itu datang dan menggoda Abu Nawas yang kondisinya mulai labil.

"Hai Abu Nawas, kenapa kamu kelihatan sediah sekali?" tanya jin. "Iya,apak saya sebagai satu-satunya alat untuk bekerja telah jatuh ke jurang. Kalau begini, bagaimana saya bisa bekerja lagi?"jawab Abu Nawas sedih. "Oh begitu, saya akan bantu untuk mengambilkannya untukmu," kata jin.

Tak berapa lama kemudian, sang jin pun turun ke bawah jurang. Ternyata jin tersebut memiliki keinginan untuk menguji kejujuran Abu Nawas yang sering didengarnya. Terbersit di benak jin untuk memberikan kapak yang lain yang terbuat dari ems, apa reaksi Abu Nawas nantinya. "Wahai Abu Nawas, apakah ini kapakmu?" tanya jin. "Bukan, kapak saya jelek kok," jawab Abu nawas.

Sesaat kemudian jin membnerikan kapak kedua yang terbuat dari perak. Namun Abu Nawas tetap saja tak mengakui. "Bukan, bukan itu. Kapak saya sudah jelek kok!" tegasnya. Mendengar jawaban seperti itu, sang jin menjadi senang karena ternyata Abu Nawas benar-benar seorang yang jujur. "Hai Abu Nawas, kenapa kamu ini begitu jujur, apa tidak mau aku barang yang lebih baik?" tanya jin. "Pak, sesungguhnya aku telah bersyukur pada apa yang aku miliki. Aku tidak ingin mendapatkan sesuatu yang bukan hakku. Bagiku, kapak yang jelek itu adalah milikku. Dengan kapak itulah aku bisa bekerja secara halal dan mendapatkan kayu untuk aku jual, "terang Abu Nawas. "Rasa syukur?"tanya jin dengan heran. "Ya, karena rasa syukur itulah yang membuatku tidak mau mengambil barang yang bukan hakku, "tegas Abunawas. "Wahai Abu Nawas, karena rasa syukurmu itu, maka ketiga kapak ini aku berikan kepadamu,"kata jin. Kemudian Abu Nawas pergi sambil membawa ketiga kapak itu. 


Jumat, 15 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Panah Pembawa Rezeki

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Panah Pembawa Rezeki, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Panah Pembawa Rezeki, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Abu Nawas sering tidak punya kemampuan untuk menjalankan perintah Raja. Namun, tugas yang diberikan oleh raja selalu terselesaikan dengan baik olehnya. Wal hasil, rezeki tak disangka pun diperolehnya.

Suatu hari, raja mengundang Abu Nawas untuk ikut makan bersamanya. Maka, Abu Nawas pun dijemput di rumahnya oleh para pengawal kerajaan untuk menghadiri jamuan tersebut. Tidak lama, Abu Nawas pun tiba di istana dengan mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Raja segera mengajak Abu Nawas untuk saling berbincang di sebuah pendapa. Segala jenis makanan lezat dan minuman yang segar tersedia di jamuan tersebut. Abu Nawas yang jarang melihat makanan selezat itu, segera menyantapnya dengan sangat lahap. Apalagi seharian ia belum makan. Sementara sang raja terus bicara tentang kekuasaannya.

Raja Harun Ar-Rasyid bicara mengenai wilayah kerajaannya yang luas dan hal-hal lain menyangkut kerajaannya. Abu Nawas sebagai teman bicara justru asyik dan sibuk dengan makanan di hadapannya. Raja bicara tentang ini dan itu, Abu Nawas cuma manggut-manggut aja. Paling hanya menjawab, "hmm, begitu ya". Setelah panjang lebar bercerita, raja mulai mengajukan pertanyaan kepada Abu Nawas. "Abu Nawas, andai saja semua benda ada nilainya. Berapa harga diriku?" tanya raja kepadanya.

Dalam keadaan perut yang kenyang, Abu nawas menjawab pertanyaan raja sekenanya aja. Tanpa pikir panjang. "Hmm,, Menurut hamba, mungkin sekitar 100 dinar, baginda." jawab Abu Nawas. "Keterlaluan kau ini, Abu Nawas. Harga ikat pinggang ku saja 100 dinar," bentak sang raja. "Tepat sekali, tuan. Yang saya nilai adalah ikat pinggang milik paduka" ujar Abu Nawas. Raja tidak ingin dipermalukan lagi oleh Abu Nawas dengan kecerdikannya. Oleh karenanya, raja tidak mau ambil resiko dengan berdebat.

Kemudian raja mengajak Abu Nawas untuk menuju ke arena latihan para prajurit. Di medan latihan tersebut, nampak para prajurit sedang berlatih beladiri dan ketangkasan. "Wahai, Abu Nawas. Di depan para prajurit, tunjukkan keahlian dan kemampuanmu dalam memanah. Lepaskan anak panahmu sekali saja. Jika tepat mengenai sasaran, aku akan memberimu hadiah. Tapi jika meleset, kau dinyatakan gagal dan menerima hukuman penjara". Kata raja menjelaskan. Tanpa menunggu lama, Abu Nawas segera mengambil anak panah dan busurnya. Karena ia faham bahwa raja akan bersikeras jika ia menolak perintahnya.

Abu Nawas memantapkan hati dan fikirannya untuk melepaskan anak panah. Namun, ternyata anak panah yang ia bidikkan tidak mengenai sasaran. Anak panah meleset dari sararan. "Tahukah anda, tuan raja? Berdasar hasil pengamatan saya, Ini adalah gaya memanah para makelar tanah," kata Abu Nawas untuk menutupi kegagalannya. Tanpa menunggu komentar dari raja, Abu Nawas mencabut anak panah lagi, dan membidikkan ke sasaran. Dan ternyata, lagi-lagi jauh dari sasaran. Bahkan kali ini meleset sangat jauh. "Nah, Kalau yang ini adalah gaya memanah para juragan buah.". Ucap Abu Nawas untuk menutupi kegagalannya yang kedua.

Abu Nawas pun kembali mencabut anak panah untuk ketiga kalinya. Dan Akhirnya anak panah pun dilepaskan. Bettt.. Kali ini secara kebetulan anak panah menancap tepat mengenai sasaran. "Sedangkan yang ini, wahai raja. Gaya memanah Abu Nawas. Sekarang hamba sudah siap untuk menerima hadiah yang tuan janjikan" Ucap Abu Nawas dengan penuh harapan gembira. Baginda raja tak kuasa menahan tawanya. Hadiah pun diberikan kepada Abu Nawas. Berbekal kecerdikan memainkan kata yang cukup masuk akal. Abu Nawas pun segera pamit pulang ke rumah. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan hadiah tersebut kepada istri tercinta.



Kamis, 14 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Diusir Raja

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Diusir oleh Raja, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Diusir oleh Raja, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Nasib apalagi kali ini yang dialami oleh Abu Nawas. Gara-gara mimpi buruk raja Harun Ar Rasyid tadi malam, ia diusir dari tanah tempat ia dilahirkan. Sungguh memprihatinkan sekali. Namun, apadaya rakyat biasa seperti Abu Nawas. Bagaimana juga, ia harus pergi meninggalkan kampung halamannya yang ia cintai.

Masih kuat di ingatan Abu Nawas, ucapan baginda raja yang ditujukan kepadanya. Kata-kata raja senantiasa terngiang di telinga, "Semalam, aku bertemu dengan seorang lelaki tua di dalam mimpiku. Kakek itu memakai jubah berwarna putih. Kakek tua itu mengatakan sesuatu yang mencengangkan, bahwa negeri ini akan diterpa bala bencana jika orang dengan nama Abu Nawas masih bercokol di negeri ini. Abu Nawas harus diusir dari negeri ini, karena membawa sial. Ia boleh tinggal lagi di negeri ini dengan syarat tidak boleh dengan jalan kaki, merangkak, berlari, melompat, menaiki keledai atau binatang tunggangan lainnya"

Maka, Abu Nawas pergi meninggalkan rumahnya. Ia melangkah meninggalkan istrinya dengan membawa bekal secukupnya. Sang istri hanya bisa mengiringi kepergian Abu Nawas dengan tangis air mata yang berderai. Tanpa terasa, sudah 2 hari perjalanan Abu Nawas dengan menaiki keledainya. Bekal yang ia bawa pun telah menipis. Sebenarnya, Abu Nawas tidak terlalu sedih atas pengusiran terhadap dirinya. Bahkan, ia tidak meresapinya sama sekali. Justru yang ia rasakan adalah sebaliknya. Abu Nawas semakin bertambah yakin bahwa Alloh, Sang Maha Perkasa akan melepaskannya dari kesulitan yang kini membelenggu dirinya. Bukankah Alloh merupakan sebaik-baik teman? Hal ini sangat dirasakannya, terutama di saat seperti ini.

Sudah beberapa hari ini, Abu Nawas tinggal di negeri orang. Ia tidak bisa mengelak dari rasa rindu yang mendalam kepada kampung halamannya. Rasa rindu yang menyayat hati, menderu-deru laksana dinginnya Jamharir yang sulit untuk dibendung. Jalan keluar harus ia dapatkan dengan jalan berfikir. Namun, dengan cara apa ia harus lepas dari masalah ini? Berbagai tanya ia lontarkan dalam hati. "Sebaiknya aku minta tolong kepada seseorang untuk menggendongku hingga tiba di kampung halaman. Namun, apakah ada yang sanggup dan sudi menolongku dengan cara itu? Hmm, bagaimana pun aku harus mampu menolong diriku tanpa bantuan dari orang lain"

Sekarang adalah hari ke sembilan belas. Di pagi ini, Abu Nawas telah menemukan sebuah cara untuk kembali ke kampung halaman tanpa melanggar larangan baginda raja. Setelah ia siap dengan rencananya itu, ia pun berangkat untuk melakukan perjalanan ke negerinya.

Rindu bercampur bahagia, senang dan haru berbaur jadi satu. Kerinduan yang melecut-lecut kalbu, semakin deras menerpa hati Abu Nawas. Semakin mendekati negerinya, rasa itu makin menjadi-jadi. Mengetahui kedatangan Abu Nawas, seluruh penduduk negeri merasa sangat gembira. Kabar mengenai pulangnya Abu Nawas langsung menyebar ke segala penjuru tak ubah semerbak bunga yang harum menusuk hidung. Kabar ini sampai ke telinga baginda pada akhirnya. Sang raja juga merasa gembira, namun berbeda alasan dengan rakyat.

Rakyat sangat mencintai Abu Nawas, oleh karenanya mereka gembira dengan kedatangannya. Sedangkan raja gembira, karena kesampaian juga menghukum Abu Nawas. Kali ini Abu Nawas tidak dapat mengelak dari hukuman. Namun apa yang terjadi? Baginda sangat kecewa dan terpukul lantaran menyaksikan cara Abu Nawas pulang ke negerinya. Baginda tidak menyangka kalau ternyata Abu Nawas datang dengan bergelayutan di bawah perut keledai. Jadi, Abu Nawas sama sekali tidak melanggar larangannya dan lepas dari sangsi berupa hukuman. Abu Nawas tidak mengendarai keledainya, namun menggelantungkan dirinya.



Rabu, 13 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Menghitung Kematian Tahanan

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Menghitung Kematian Tahanan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Menghitung Kematian Tahanan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Kisah ini dimulai dengan diadakannya hajatan besar-besaran di negeri Seribu Satu Malam. Tersebutlah nama raja Harun Ar-Rasyid yang punya niat untuk merayakan pesta hari jadi kerajaan. Raja berniat untuk merayakan pesta bersama dengan rakyatnya. Dan, hari yang dinanti telah tiba! Rakyat telah berkumpul di depan Pendapa Kerajaan.

Beberapa saat rakyat menunggu, akhirnya sang raja mengeluarkan beberapa patah kata, sambil berdiri,."Wahai rakyatku, dengarkanlah! Aku akan memberikan hadiah kepada fakir miskin. Di hari perayaan ini, aku juga memberi pengampunan bagi para tahanan berupa keringanan hukuman. Mereka yang telah menjalani hukuman penjara, mendapatkan remisi selama setengah dari masa hukuman yang belum ia jalani." Seru raja di hadapan rakyat.

Rakyat sangat gembira mendengar pengumuman yang langsung disampaikan oleh baginda tersebut. Suka ria, gelak tawa, dan sendau gurau sambil menyantap makanan dan minuman yang telah disiapkan untuk acara pesta tersebut. Beberapa saat kemudian, acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah yang dilaksanakan oleh para pegawai kerajaan. Hadiah diberikan kepada fakir miskin. Setelah semua fakir miskin mendapatkan bagiannya, kemudian baginda memanggil para tahanan satu per satu.

Giliran pertama jatuh kepada seorang tahanan yang bernama Sofyan. Maka, raja mengajukan pertanyaan, "Siapa namamu?" tanya raja. "Nama hamba Sofyan, paduka" jawab tahanan tersebut. "Sofyan, berapa lama hukuman yang telah divonis untukmu?" tanya baginda. "Hamba divonis selama 2 tahun penjara, paduka" jawab Sofyan. "Berapa lama kamu sudah melewati hukuman itu?" tanya raja lagi. "Hari ini terhitung satu tahun, baginda," jawab Sofyan. "Ketahuilah, sisa hukuman yang harus kamu jalani mendapatkan remisi sebanyak setengah dari masa yang belum kamu lewati di penjara. Jadi, kamu hanya menjalani hukuman selama 6 bulan saja di penjara" Ucap raja secara Tegas. Selanjutnya.. Tahanan kedua dipanggil menghadap ke depan. "Dengan panggilan apa, aku menyebutmu?" Tanya baginda raja. "Saya dilahirkan dengan nama Ali, paduka" Jawab tahanan kedua. "Berapa tahun hukuman yang telah dijatuhkan kepadamu, Ali?" tanya raja.

Dengan wajah sendu, haru dan sedih, Ali pun menjawab, "Ham.. mba, hamba divonis hukuman seumur hidup hamba, paduka" Jawab Ali penuh ratapan. Sontak saja, raja gelagapan dan bingung untuk memberi keputusan. Dalam kebingungan, raja segera teringat kepada Abu Nawas yang sangat cerdik. Maka, Abu Nawas pun dipanggil untuk maju ke depan. Tidak begitu lama, Abu Nawas yang ikut hadir di acara itu segera maju ke depan untuk menghampiri baginda. "Wahai, Abu Nawas. Aku sebagai raja kalian, harus bertindak adil terhadap keputusanku. Aku harus memberi keringanan hukuman kepada Ali. Namun, bagaimana aku tahu sisa umur Ali? Sekarang, beri aku nasehat terbaikmu. Bagaimana cara mengampuni Ali, terkait sisa masa tahanannya?" Tutur raja. Menghadapi permasalahan ini, Abu Nawas pun ikut bingung. Abu Nawas benar-benar kehilangan akal, kali ini. Ia tidak tahu, berapa sisa umur Ali! "Hamba minta tenggat waktu, untuk menyelesaikan masalah ini, tuanku" Ucap Abu Nawas pada akhirnya.

Raja langsung menyanggupi permintaan Abu Nawas. Raja memberi kesempatan bagi Abu Nawas untuk memikirkan masalah ini. Namun, waktu yang diberikan kepada Abu Nawas tidaklah lama, Cuma sehari semalam saja. Esok pagi, Abu Nawas harus mampu memecahkan masalah ini. Gong pun berbunyi sebagai pertanda bahwa pesta hari ini telah usai. Diumumkan kepada rakyat bahwa besok akan ada lagi pesta hari kedua. Maka, rakyat pun bubar untuk pulang ke rumah masing-masing.

Tiba di rumahnya, Abu Nawas berfikir sangat keras. Hingga larut malam, ia tidak bisa memejamkan mata. Hingga suatu saat.. Ahaa! Abu Nawas pun tersenyum, kemudian memejamkan matanya. Pagi telah tiba. Abu Nawas segera berangkat menuju Pendapa Istana setelah menyelesaikan sholat subuh. Rakyat telah berkumpul lagi di Pendapa istana. Abu Nawas pun maju ke depan untuk menghampiri raja dan tahanannya.

"Abu Nawas, Apakah sudah ditemukan caranya?" Tanya raja kepadanya. "Mudah aja, tuanku. Bebaskan Ali dari hukuman pada hari ini. Esok hari, penjarakan ia. Lusa dan seterusnya demikian juga. Penjarakan lagi, dan bebaskan lagi selama sehari. Hal ini berlaku sepanjang hayat Ali" Tutur Abu Nawas. "Luar biasa, benar sekali engkau. Abu Nawas, karena jasamu kali ini aku akan memberimua hadiah. Pengawal, bawa kemari sekantong keping emas. Berikan kepada Abu Nawas!". Perintah baginda diringi kegembiraan.

Setelah pesta bubar, Abu Nawas dan rakyat pulang ke rumah mereka. Abu Nawas pulang membawa sebagian hadiah yang ia terima, karena sebagian telah ia bagikan kepada yang berhak.



Selasa, 12 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Kecerdikan Abu Nawas sudah diketahui oleh semua orang. Raja Harun Ar Rasyid pun mengakui kepandaian Abu Nawas dalam banyak hal. Raja sering meminta bantuan kepada Abu Nawas dalam menyelesaikan banyak masalah kenegaraan, hingga pribadi. Hingga pada akhirnya, sang raja berkeinginan mengajak Abu Nawas untuk tinggal bersamanya di istana. Abu Nawas diberi kebebasan untuk masuk istana, tanpa prosedur yang rumit. Dengan adanya Abu Nawas di istana, raja tidak bingung lagi ketika hendak meminta pendapat atau pun solusi darinya. Abu Nawas kini dijadikan sebagai penasehat raja.

Sekian lama tinggal di istana, timbul kebosanan di hati Abu Nawas. Ia tidak biasa dengan gaya hidup serba mewah. Berfoya-foya bukanlah kebiasaannya. Meski semua keinginannya disediakan, namun Abu Nawas tidak betah tinggal di istana. Ia ingin berada di luar istana. Abu Nawas rindu terhadap sawah ladangnya, hewan ternak, dan kampong halamannya.

Oleh karenanya, terbersit keinginan di hati sang Mullah untuk meninggalkan istana, dengan segala kemewahannya. Maka, sang Mullah memutar otaknya untuk menemukan cara keluar dari istana.

Hingga larut malam Abu Nawas akhirnya dapat memejamkan mata, mencari cara yang jitu. Mencari alasan yang tepat. Esok harinya, ia menuju ke ruang utama istana. Suasana ruangan masih sepi, hanya ada beberapa orang pengawal raja. Raja masih tidur di kasurnya. Abu nawas bergerak mendekati singgasana raja dan duduk di atas kursi raja. Tidak berhenti disitu. Bahkan, Abu Nawas mengangkat sebelah kakinya untuk ditaruh di atas kaki satunya. Abu Nawas berlagak seolah raja.

Melihat gelagak Abu Nawas yang dianggap tidak sopan ini, para pengawal segera menangkapnya. Tiada seorang pun yang boleh duduk di atas singgasana, kecuali baginda sendiri. Hal ini dianggap kejahatan besar, resiko hukuman mati bagi yang melanggarnya. Para pengawal menyeret Abu Nawas untuk turun dari singgasana tersebut, kemudian mereka memukulinya. Abu Nawas pun berteriak dan mengerang kesakitan, hingga membuat raja terbangun dan datang menghampirinya. "Hai pengawal, ada apa ini? Kenapa kalian memukuli Abu Nawas?" tanya raja. "Ampun, paduka. Abu Nawas telah berbuat lancang dengan duduk di atas singgasana tuanku, kami pun terpaksa memukulinya," jawab salah satu pengawal.

Sesaat kemudian, Abu Nawas mendadak menangis. Ia menangis histeris dan berteriak keras sekali sehingga seluruh penghuni istana mendengarnya. "Benarkah yang dituduhkan oleh pengawal kepadamu, hai Abu Nawas?" tanya Raja Harun. "Benar, tuanku," jawab Abu Nawas. Mendengar jawaban itu, raja terkejut. Menurut peraturan, siapa saja yang duduk di singgasana selain raja, akan diberi hukuman mati. Bagaimana pun, raja tidak tega terhadap Abu Nawas, mengingat jasa yang sangat banyak terhadap kerajaan. "Sudahlah, berhentilah menangis. Aku tidak bakalan menghukum engkau, Abu Nawas" ucap sang raja.

"Wahai, tuanku. Sebenarnya bukan kesakitan atau hukuman yang aku tangisi. Hamba menangis karena iba terhadap engkau, paduka" ucap Abu Nawas, hingga membuat raja tercengang. "Kenapa justru engkau merasa iba terhadapku?" tanya raja. Abu Nawas pun menjawab. "Wahai, tuanku. Hamba hanya duduk di singgasana sekali saja, namun mereka memukuliku dengan sangat keras. Tuanku telah mendudukinya selama 20 tahun. Pukulan sekeras apa, kelak akan paduka terima? Malang sekali nasib engkau, tuanku" jawab Abu Nawas.


Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tercengang dan bengong. Namun, raja faham maksud kata-kata Abu Nawas. Raja tidak menghukum Abu Nawas dengan hukuman mati, cuma mengeluarkannya dari lingkungan istana. "Baiklah, sekarang engkau boleh keluar dari istana ini" Ucap raja. "Terima kasih, tuanku. Akhirnya engkau mengerti keinginanku" sahut Abu Nawas seraya menjabat tangan Raja Harun dan pamit untuk segera keluar dari istana.




Senin, 11 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas dan Telor Onta

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Mengobati Penyakit Raja Menggunakan Telor Onta, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Mengobati Penyakit Raja Menggunakan Telor Onta, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Suatu ketika, raja Harun sedang menderita sakit. Meski para tabib dikerahkan untuk mengobatinya, penyakit beliau tak kunjung sembuh jua. Maka, sayembara berhadiah pun digelar. Siapa yang bisa mengobati raja, berhak mendapatkan hadiah besar. Ternyata Abu Nawas tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam sayembara ini.

Penyakit yang diderita oleh baginda, termasuk aneh. Beliau merasakan tubuhnya kaku dan terasa pegal di seluruh anggota badan. Suhu tubuh beliau panas dan tidak mampu untuk melangkahkan kakinya. Selera makan baginda hilang, dan sakit menjadi semakin parah. Raja Harun bukanlah seseorang yang mudah putus asa dan menyerah. Beliau punya tekad kuat untuk sembuh dari penyakitnya. Abu Nawas yang telah mendengar desas-desus perihal penyakit raja, berfikir keras dan memutar otaknya untuk mendapatkan cara pengobatan yang tepat. Bagaimana pun, akhirnya ia pergi juga ke istana.

Abu Nawas berjalan perlahan dan akhirnya tiba di istana. Raja terkejut melihat kedatangannya. "Abu Nawas, engkau memang seorang sastrawan hebat tapi bukan seorang tabib. Atas dasar apa, engkau hendak menyembuhkan penyakitku ini?" raja menyapa kedatangannya, sekaligus heran. Abu Nawas hanya tersenyum tulus, kemudian berusaha meyakinkan raja atas kemampuannya sebagai tabib. Awalnya sulit bagi raja menerima pengakuan Abu Nawas itu. Namun, bukan Abu Nawas kalau tidak mampu meyakinkan lawan bicara.

Kemudian Abu Nawas melakukan diagnosa, layaknya seorang tabib. "Apa keluhan tuan raja?" Tanya Abu Nawas, meniru gaya seorang tabib. "Aku tidak tahu penyebabnya, sekujur tubuhku terasa sakit dan panas. Aku merasa sangat lesu" tutur baginda. Abu Nawas langsung tertawa seketika, setelah mendengar keluhan baginda. Tentu saja, raja sangat tersinggung dengan sikap Abu Nawas. "Tenangkan diri anda, tuanku. Menurut hamba, penyakit seperti itu mudah sekali mengobatinya" Abu Nawas menjelaskan alasan ketawanya.

Raja menanyakan obat apa untuk menyembuhkan penyakitnya, dimana bisa diperoleh. "Obatnya adalah sebutir telur unta, tuanku. Telur tersebut ada di kota baghdad" Abu Nawas memberi keterangan. Raja yang ingin segera sembuh dari penyakitnya itu, sangat antusias mendengar keterangan yang diberikan oleh Abu Nawas. Esok harinya, raja beserta pengawalnya berangkat untuk mencari obat yang dimaksud. Agar tidak mengundang perhatian rakyat, raja dan para pengawal mengenakan pakaian biasa. Raja dan pasukannya mendatangi seluruh pasar yang ada di kota Baghdad. Sekeras apa pun usaha mereka, telur unta yang dimaksud tidak didapat. Raja tetap bersikeras mencarinya, meski seluruh pasukan mulai merasa kelelahan. Raja kelihatan menggerutu, serta punya rencana memberi hukuman kepada Abu Nawas jika telur unta tidak juga ditemukan.

Akhirnya raja menyerah, dan memutuskan untuk kembali ke istana. Namun, di tengah perjalanan nampak seorang lelaki tua yang sedang membawa ranting kayu. Raja menyapanya. "Sebentar kek, saya ingin menanyakan sesuatu hal" raja mencegah kakek tersebut. Setelah melihat wajah kakek, raja merasa iba. Beliau menawarkan diri untuk membawakan ranting-ranting kayu hingga ke rumah lelaki tua itu. Sesampainya di rumah kakek tua, raja mulai basa-basi. Merasa cukup dengan basa-basi, raja mulai bertanya perihal telur unta. "Mana ada telur unta?" si kakek tertawa lebar, setelah berfikir. Kakek tua memberi penjelasan, tiada telur unta di bagian dunia mana pun. Semua hewan yang punya daun telinga tidak bertelur, tapi beranak. Termasuk unta, karena ia termasuk hewan yang punya daun telinga.

Raja beserta pasukannya tersentak kaget. Raja marah besar, karena merasa bahwa Abu Nawas telah mempermainkannya. Esok harinya, Abu Nawas dipanggil untuk menghadap ke istana. "Abu Nawas, alangkah beraninya engkau mempermainkan rajamu! Mana ada unta bertelur?" raja merasa kesal luar biasa. "Benar, tuanku. Unta memang tidak mengeluarkan telur" jawab Abu Nawas, ringan. Mendengar jawaban Abu Nawas, raja segera memerintahkan kepada pengawal untuk menghukum Abu Nawas. Hukuman yang sangat berat! "Tunggu, tuanku raja. Sebelum hamba menerima hukuman, bolehkah say bertanya sesuatu hal?" ucap Abu Nawas. "Apa itu?" tanya raja penasaran. "Bagaimana kondisi kesehatan tuanku?" tanya Abu Nawas. "Tubuhku segar bugar, tidak lemas dan pegal lagi" jawab baginda. "Itu artinya, saya telah berhasil mengobati penyakit paduka. Sesuai yang tuanku janjikan, saya berhak memperoleh hadiah dari sayembara ini" Ucap Abu Nawas dengan gembira.

Raja melongo mendengar ucapan Abu Nawas. Bagaimana pun, beliau menyadari kenyataan ini. Beliau sembuh lantaran mengikuti arahan dari Abu Nawas. Sambil tersenyum, beliau mencabut hukuman kepada Abu Nawas. Tak lupa, beliau memberi hadiah kepada Abu Nawas sesuai janjinya.





Minggu, 10 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Ingin Terbang

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Ingin Terbang, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Ingin Terbang, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Pada saat itu Abu Nawas yang terkenal cerdas sedang di tangkap oleh Raja karena kritikannya terhadap Raja Harun. Namun yang namanya Abu Nawas, selalu saja punya cara cerdas untuk memoloskan diri dari hukuman. Sebelum menjalani hukuman, Ia mengaku kepada pengawal kerajaan bahwa ia memiliki ilmu tinggi dan ia ingin terbang. Kabar Abu Nawas ingin terbang akhirnya terdengar oleh Raja Harun.

“Mana mungkin Abu Nawas ingin terbang, dia tidak punya sayap, tidak punya alat-alat khusus, apakah ia punya ilmu khusus?” kata Raja Harun kepada pengawalnya. “Kami tidak tahu paduka, tetapi Abu Nawas sangat meyakinkan,” jawab pengawal. Penasaran dengan hal itu, Raja akhirnya memerintahkan agar Abu Nawas dibawa menghadap Sang Raja. “Abu Nawas, betulkah kamu ingin terbang?” tanya Raja. “Ya Tuanku, memang saya ingin terbang,” jawab Abu Nawas. “Kapan? dan dimana?” tanya Raja secara beruntun. “Hari Jumat yang akan datang ini, dan dari menara Masjid Baitul Rakhim, tak jauh dari rumah saya, jika Raja mengijinkan,” jawab Abu Nawas.

Akhirnya Sang Raja mengijinkan dan bahkan ia berjanji akan membebaskan Abu Nawas jika hal itu yang terjadi. Akan tetapi jika Abu Nawas tak bisa membuktikan, maka hukumannya akan ditambah 100 lecutan rotan, daun kuping dipotong bahkan hukuman gantung.

Berita tentang Abu Nawas ingin terbang itu pun menyebar begitu cepat, tidak hanya di lingkungan kerajaan bahkan sampai seluruh penjuru kota pun membicarakannya. Apalagi mereka juga mendengar tentang hukuman yang akan diterima Abu Nawas jika tidak dapat menepatinya.

Mendengar berita itu, diantara mereka ada yang kagum, ada juga yang deg-degan apabila ternyata Abu Nawas hanya bohong. Sebagian lagi ada juga yang mengabaikan berita itu. Mereka berkata bahwa sebentar lagi pasti Abu Nawas akan digantung karna ulahnya sendiri. Pro kontra akibat ulah Abu Nawas ini membuat masyarakat tidak henti-hentinyanya membahas soal itu. Seakan-akan tidak ada berita lain yang menarik selain itu.

Pada hari yang sudah dinantikan tiba, Jumat sesudah sholat Jumat, lapangan sekitar masjid Baitul Rakhman sudah penuh orang yang ingin menyaksikan kabar yang tersiar seantero kota. Orang biasa, rakyat, penduduk dan penguasa setempat sudah berjubel mengambil tempat masing-masing. Orang-orang menantikan saat yang paling genting dan mendebarkan. Abu Nawas dengan langkah yang sangat gagah dan tak ragu, menaiki tangga menara tertinggi dan orang-orang melihat dengan mata yang tak berkedip, terpaku dan menyatu mengikuti langkah tubuh Abu Nawas.

Orang-orang pun bertanya: “Benarkah Abu Nawas ingin terbang?Betapa luar biasanya dia”. “Silahkan terbang Abu Nawas,! Meski terbang, kau akan tetap mampus karna jatuh. Dan bila tidak jadi terbang, kau akan mampus ditiang gantungan,” ujar sebagian lainnya.

Setelah Abu Nawas sampai puncak menara, suasana menjadi tegang. Mereka merasa akan menyaksikan suatu kejadian yang mencekam dan mengagumkan. Suasana lengang, semua mata terarah hanya pada satu tujuan. Sementara diatas menara, Abu Nawas berdiri dan mulai beraksi. Ia menggerak-gerakan tangannya seolah-olah ingin terbang. Berulang kali merentangkan tangannya seperti burung serta mengibas-ngibaskannya. Namun tetap saja Abu Nawas tidak terbang. Dan orang-orang yang menyaksikan jantungnya mulai berdegup kencang.

Di Pelataran Masjid, nampak hakim sudah memutuskan hukuman. Ia terus membolak-balik kitab Undang-2nya. Kiranya hukuman apa yang pantas untuk Abu Nawas agar kejadian ini tidak terulang kembali. Orang-orang semakin bingung melihat Abu Nawas selesai beraksi dan turun dari menara. Banyak yang mengira Abu Nawas mungkin sudah gila. Lalu Abu Nawas menghampiri mereka

“Apakah kalian tadi lihat bahwa saya ingin terbang,?” ujar Abu Nawas. “Iya, kamu menggerak-gerakan tanganmu seolah ingin terbang,” jawab banyak orang. “Lalu apakah saya berbohong bahwa saya ingin terbang dari menara Masjid Baitul Rakhim,?” tanyanya.

Orang-orang mulai sadar bahwa ini adalah ulah kecerdasan Abu Nawas. Akhirnya mereka menjawab: “Benar, Abu Nawas. Kamu memang ingin terbang.” “Nah, bagaimana? Saya kan tidak bilang saya bisa terbang, tetapi saya ingin terbang, tapi tidak bisa terbang.” Mata-mata mereka saling bertatapan sembari bergumam: “Dasar si Jambul, ada saja ulahnya.” Tapi memang tidak bisa di bantah. Ia memang ingin terbang, jadi bagaimana menghukumnya? Hakimpun menjadi tak berdaya. “Bagaimana saya akan menjeratnya dengan hukuman. Dia memang tidak berbohong,” ucap hakim pasrah. Sesampainya di kerajaan, sang hakim pun menceritakan kejadian itu pada Raja. Sang Raja malah tertawa terbahak-bahak. “Aku sudah menduga, si Jambul itu pasti ada saja ulahnya. Sudah berulang kali aku dibuatnya tertawa oleh kecerdikannya .”

Sang Raja masih tertawa terbahak-bahak. Sementara sang hakim hanya diam dan wajahnya nampak kesal. Ya, memang ada-ada saja tingkah laku abu nawas. Namun semua itu masuk akal, karena memang ia seorang yang cerdas. Dia melakukan semua yang dia pernah katakan. Tidak berbohong dan selalu menepati janji. 



Sabtu, 09 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Mati

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Mati, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Mati, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita. 

Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah. “Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu.” “Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak.” “Apa?” “Raja kujadikan budak!” “Kenapa kau lakukan itu suamiku.” “Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara.” “Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu.” “Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku.” “Pasti kau akan dihukum berat.” “Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,”

Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang. Tidak berapa alama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit. “Ada apa?” tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh. “Huuuuuu …. suamiku mati….!” “Hah! Abu Nawas mati?” “lyaaaa….!”

Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja. Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.

Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas. “Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?” “Ada Paduka yang mulia.” kata istri Abu Nawas sambil menangis. “Katakanlah.” kata Baginda Raja. “Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat.” kata istri Abu Nawas terbata-bata. “Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas.” kata Baginda Raja menyanggupi.

Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata, “Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya.”

Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, “Syukuuuuuuuur …… !” Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder juga. “Kau… kau…. sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?” tanya Baginda dengan gemetar. “Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku.” “Jadi kau masih hidup?” “Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang.” “Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas? “Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia…” “Ajarkan ilmu itu kepadaku…” “Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri.” “Dasar pelit !” Baginda menggerutu kecewa.



Jumat, 08 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Asmara Memang Aneh

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Asmara Memang Aneh, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Secara tak terduga Pangeran yang menjadi putra marikota jatuh sakit. Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi tak seorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Raja mengadakan sayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.

Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.

Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam
Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkan penyakitnya tidak terlacak. Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya.

Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. la menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya. Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata, “Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri.” Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. “Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan.” perintah Abu Nawas kepada orang tua itu. Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran. “Engkau kuundang ke sini bukan untuk bertamasya.” “Hamba tidak bermaksud berlibur Yang Mulia.” kata Abu Nawas. “Tetapi aku belum paham.” kata Raja. “Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang.” kata Abu Nawas. Abu Nawas pergi selama dua hari.

Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap Raja. “Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?” tanya Abu Nawas. “Apa maksudmu?” Raja balas bertanya. “Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini.” kata Abu Nawas menjelaskan. “Bagaimana kau tahu?” “Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada Baginda.” “Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Raja. “Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu.” “Kalau tidak?” tawar Raja ragu-ragu. “Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akan mati.” Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan.

Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yang amat indah.



Kamis, 07 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas dan Botol Ajaib

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Botol Ajaib, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Botol Ajaib, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana. Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman. “Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.” kata Baginda Raja memulai pembicaraan. “Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.” tanya Abu Nawas. “Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.” kata Baginda.

Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. la tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin. Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat. Sedangkan angin tidak.

Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. la yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya. Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap.

Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda. la berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya. “Bukankah jin itu tidak terlihat?” Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. la berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian menuju istana. Di pintu gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya.

Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas. “Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas?” “Sudah Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu. Baginda menimang-nimang botol itu. “Mana angin itu, hai Abu Nawas?” tanya Baginda. “Di dalam, Tuanku yang mulia.” jawab Abu Nawas penuh takzim. “Aku tak melihat apa-apa.” kata Baginda Raja. “Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu.” kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk. Bau kentut yang begitu menyengat hidung. “Bau apa ini, hai Abu Nawas?!” tanya Baginda marah. “Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol.” kata Abu Nawas ketakutan.

Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. Dan untuk kesekian kali Abu Nawas selamat.



Rabu, 06 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Merayu Tuhan

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Merayu Tuhan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Merayu Tuhan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama. “Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas. “Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar. “Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya. “Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas. “Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi. “Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya. “Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas. “Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi. “Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti. Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas. “Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid. “Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan. “Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas. “Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi. “Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi. “Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya. “Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu. “Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi. “Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas. “Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias. “Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar). Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.



Selasa, 05 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Cara Memilih Jalan

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Cara Memilih Jalan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Cara Memilih Jalan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Kawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisata ke hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasa memenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Abu Nawas tidak keberatan. Mereka berangkat dengan mengendarai keledai masing-masing sambil bercengkrama.

Tak terasa mereka telah menempuh hampir separo perjalanan. Kini mereka tiba di pertigaan jalan yang jauh dari perumahan penduduk. Mereka berhenti karena mereka ragu-ragu. Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju ke hutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yang dihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan jiwa mereka.

Abu Nawas hanya bisa menyarankan untuk tidak meneruskan perjalanan karena bila salah pilih maka mereka semua tak akan pernah bisa kembali. Bukankah lebih bijaksana bila kita meninggalkan sesuatu yang meragukan? Tetapi salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata, “Aku mempunyai dua orang sahabat yang tinggal dekat semak-semak sebelah sana. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisa membedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang satu selalu berkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan mereka adalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan saja.” “Apakah engkau mengenali salah satu dari mereka yang selalu berkata benar?” tanya Abu Nawas. “Tidak.” jawab kawan Abu Nawas singkat. “Baiklah kalau begitu kita beristirahat sejenak.” usul Abu Nawas.

Abu Nawas makan daging dengan madu bersama kawan-kawannya. Seusai makan mereka berangkat menuju ke rumah yang dihuni dua orang kembar bersaudara. Setelah pintu dibuka, maka keluarlah salah seorang dari dua orang kembar bersaudara itu. “Maaf, aku sangat sibuk hari ini. Engkau hanya boleh mengajukan satu pertanyaan saja. Tidak boleh lebih.” katanya. Kemudian Abu Nawas menghampiri orang itu dan berbisik. Orang itu pun juga menjawab dengan cara berbisik pula kepada Abu Nawas. Abu Nawas mengucapkan terima kasih dan segera mohon diri. “Hutan yang kita tuju melewati jalan sebelah kanan.” kata Abu Nawas mantap kepada kawan-kawannya. “Bagaimana kau bisa memutuskan harus menempuh jalan sebelah kanan? Sedangkan kita tidak tahu apakah orang yang kita tanya itu orang yang selalu berkata benar atau yang selalu berkata bohong?” tanya salah seorang dari mereka. “Karena orang yang kutanya menunjukkan jalan yang sebelah kiri.” kata Abu Nawas.

Karena masih belum mengerti juga, maka Abu Nawas menjelaskan. “Tadi aku bertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku bertanya jalan yang mana yang menuju hutan yang indah?” Bila jalan yang benar itu sebelah kanan dan bila orang itu kebetulan yang selalu berkata benar maka ia akan menjawab: Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara Kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berbohong. Bila orang itu kebetulan yang selalu berkata bohong, maka ia akan menjawab: jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berkata benar.



Senin, 04 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Debat Kusir Tentang Ayam

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Debat Kusir Tentang Ayam, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Debat Kusir Tentang Ayam, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.

Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya, “Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?”

“Telur.” jawab peserta pertama. “Apa alasannya?” tanya Baginda. “Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” kata peserta pertama menjelaskan. “Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda.

Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian peserta kedua maju. la berkata, “Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan.” “Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda. “Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila teiur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami.” kata peserta kedua dengan mantap. “Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. la berkata; “Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.” “Sebutkan alasanmu.” kata Baginda. “Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata peserta ketiga meyakinkan. “Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing. “Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusaha menjelaskan. “Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?”

Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara. Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam.” “Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu. “Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat. Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.



Minggu, 03 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Hadiah Bagi Tebakan Jitu

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Hadiah Bagi Tebakan Jitu, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Baginda Raja Harun Al Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak ada yang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Baginda. Bahkan para penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya.

Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu. Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhirakhir ini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.

“Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?” tanya Abu Nawas ingin tahu. “Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku.” kata Baginda. “Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjungan hamba.” “Yang pertama, di manakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?” tanya Baginda. “Di dalam pikiran, wahai Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas tanpa sedikit pun perasaan ragu, “Tuanku yang mulia,” lanjut Abu Nawas ‘ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu di mana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas.”

Baginda mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasan Abu Nawas yang masuk akal. Kemudian Baginda melanjutkan teka-teki yang kedua.

“Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya : bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?” “Ikan-ikan di laut.” jawab Abu Nawas dengan tangkas. “Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernah menghitung jumlah mereka?” tanya Baginda heran. “Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkapi dalam jumlah besar, namun begitu jumlah mereka tetap banyak seolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementara bintang-bintang itu tidak pernah rontok, jumlah mereka juga banyak.” jawab Abu Nawas meyakinkan.

Seketika itu rasa penasaran yang selama ini menghantui Baginda sirna tak berbekas. Baginda Raja Harun Al Rasyid memberi hadiah Abu Nawas dan istrinya uang yang cukup banyak. Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak.

Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu. “Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?”

Ulama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata, “Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?”

Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana.

Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas dipanggil: Setelah menghadap Bagiri “Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?”

“Sanggup Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu. “Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu sarat yang akan hamba ajukan.” “Sebutkan sarat itu.” kata Baginda Raja. “Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya.” “Pintu apa?” tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat.” jawab Abu Nawas. “Apa itu?” tanya Baginda ingin tahu. “Kiamat, wahai Padukayang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota di
surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu.”

Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam. Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi,”Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?” Baginda Raja tidak menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.



Sabtu, 02 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas Hamil dan Hendak Melahirkan

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Hamil dan Hendak Melahirkan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Sultan Harun Al-Rasyid masygul berat, konon, penyebabnya sudah tujuh bulan Abu Nawas tidak menghadap ke Istana. Akibatnya, suasana Balairung jadi lengang, sunyi senyap. Sejak dilarang datang ke Istana, Abu Nawas memang benar-benar tidak pernah muncul di Istana. “Mungkin Abu Nawas marah kepadaku,” pikir Sultan, maka diutuslah seorang punggawa ke rumah Abu Nawas. “Tolong sampaikan kepada Sultan, aku sakit hendak bersalin,” jawab Abu Nawas kepada punggawa yang datang ke rumah Abu Nawas menyampaikan pesan Sultan. “Aku sedang menunggu dukun beranak untuk mengelurkan bayiku ini,” kata Abu Nawas lagi sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.

“Ajaib benar,” kata Baginda dalam hati, setelah mendengar laporan punggawa setianya. “Baru hari ini aku mendengar kabar seorang lelaki bisa hamil dan sekarang hendak bersalin. Dulu mana ada lelaki melahirkan. Aneh, maka timbul keinginan Sultan untuk menengok Abu Nawas. Maka berangkatlah dia diiringi sejumlah mentri dan para punggawa ke rumah Abu Nawas.

Begitu melihat Sultan datang, Abu Nawas pun berlari-lari menyamabut danm menyembah kakinya, seraya berkata, “Ya tuanku Syah Alam, berkenan juga rupanya tuanku datang ke rumah hamba yang hina dina ini.” Sultan dipersilahkan duduk di tempat yang paling terhormat, sementara Abu Nawas duduk bersila di bawahnya. “Ya tuanku Syah Alam, apakah kehendak duli Syah Alam datang ke rumah hamba ini? Rasanya bertahta selama bertahun-tahun baru kali ini tuanku datang ke rumah hamba,” tanya Abu Nawas.

“Aku kemari karena ingin tahu keadaanmu,” jawab Sultan, “Engkau dikabarkan sakit hendak melahirkan dan sedang menunggu dukun beranak, sejak zaman nenek moyangku hingga sekarang, aku belum pernah mendengar ada seorang lelaki mengandung dan melahirkan, itu sebabnya aku datang kemari.”

Abu Nawas tidak menjawab, ia hanya tersenyum. “Coba jelaskan perkatanmu. Siapa lelaki yang hamil dan siapa dukun beranaknya,” tanya Sultan lagi. Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas. “Knon, ada seorang raja mengusir seorang pembesar istana. Tetapi setelah lima bulan berlalu, tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil kembali pembear tersebut ke Istana, ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu saja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri.

Lagi pula apabila seorang mengeluarkan titah, tidak boleh mencabut perintahnya lagi, jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri, itulah tanda-tanda pengecut. Oleh akrena itu harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Itulah tamsil seorang lelaki yang hendak bersalin, adapun dukun beranak yang ditumggu, adalah baginda kemari,” baginda kemari kata Abu Nawas, adapun beranak yang ditunggu kedatangan Baginda kemari, “kata Abu Nawas.” Dengan kedatangan baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, yang dimaksud dengan bersalin adalah hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda.”

“Bukan begitu, kata Sultan. “Ketika aku melarang kamu datang lagi ke istana, itu tidak sungguh-sungguh, melainkan hanya bergurau. Besok datanglah engkau ke istana, aku ingin bicara denganmu. Memang di sana banyak mentri, tetapi tidak seperti kamu. lagipula selama engkau tidak hadir di istana, selama itu pula hilanglah cahaya Balairungku”. “Segala titah baginda, patik junjung tinggi tuanku,” sembah Abu Nawas dengan takdzim. Tetapi Sutan cuma geleng-geleng kepala. Dan tidak seberapa lama kemudian Sultan pun kembali ke Istana dengan perasaan heran bercampur geli….

Air Susu yang Pemalu
Suatu hari Sultan Harun Al-Rasyid berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ia memergoki Abu Nawas tengah memegang botol berisi anggur. Sultan pun menegur san Penyair, “Wahai Abu Nawas, apa yang tengah kau pegang itu?” Dengan gugup Abu Nawas menjawab, “Ini susu Baginda.” “Bagaimana mungkin air susu ini berwarna merah, biasanya susu kan berwarna putih bersih,” kata Sultan keheranan sambil mengambil botol yang di pegang Abu Nawas. “Betul Baginda, semula air susu ini berwarna putih bersih, saat melihat Baginda yang gagah rupawan, ia tersipu-sipu malu, dan merona merah.” Mendengar jawaban Abu Nawas, baginda pun tertawa dan meninggalkannya sambil geleng-geleng kepala.



Jumat, 01 Februari 2019

Ayo Kita Sambut Dan Sukseskan
Gerakan Tagar "2019 GANTI PRESIDEN"
Mari Selamatkan NKRI Tercinta Ini
Dari Makar Jahat Kaum Sepilis Atheis
Serta Intervensi Asing Dan Aseng

Abu Nawas dan Syair Jelek

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Syair Jelek, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Syair Jelek, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Permaisuri Raja Harun Al Rasyid memiliki dua orang putra. Al Amin adalah nama putra pertama, sedangkan putra kedua diberi nama Al Makmun. Al Amin adalah putra yang sangat bodoh dan pemalas. Sedangkan saudaranya, yaitu Al Makmun ternyata seorang anak yang rajin dan pandai di berbagai cabang ilmu, terutama sastra.

Baginda Raja sangat menyayangi Al Makmun. Hal ini dikarenakan kecerdasan dan kepintaran yang dimiliki oleh putranya tersebut. Namun bagi permaisuri, ini dianggap tidak adil. Menurut permaisuri, tidak boleh berat sebelah (pilih kasih). Kedua anak harus mendapat kasih sayang yang sama. Dan lagi, keduanya merupakan putra raja dari ibu yang sama dan dari Ayah yang sama (sekandung).

"Suamiku, mengapa engkau hanya menyayangi Al Makmun saja, tidak kepada Al Amin juga?" tanya Zubaidah, Permaisuri sang Raja. "Sebab ia tidak pandai bersyair dan tidak mahir dalam sastra," jawab sang raja. "Dengarkan suamiku, jika mau, Al Amin dapat lebih menguasai ilmu sastra daripada Al Makmun. Sesungguhnya ia lebih cerdas, cuma malas saja,". Ucap sang Permaisuri "Besok aku akan panggil Abu Nawas untuk membuktikan perkataanku, menguji kepandaian anakku dalam bersyair," Gumam sang Permaisuri dalam hati.

Setelah shalat subuh, Abu Nawas sudah berada di istana untuk memenuhi panggilan sang permaisuri. "Abu Nawas, dengarkan syair putraku ini, apa menurutmu dia mahir?" Ucap sang permaisuri dengan penuh bangga. Kemudian Al Amin membaca beberapa bait syair, "Kami merupakan keturunan Bani Abbas, kami duduk di atas kursi."

Mendengar syair tersebut, Abu Nawas hampir tidak kuat untuk menahan tawa. "Apa syairku bagus, Abu Nawas?" tanya Al Amin kepada Abu Nawas. "Syair macam apa itu?" jawab Abu Nawas sambil menahan tawanya, dan sakit di perutnya. Al Amin sangat marah mendengar cemoohan Abu Nawas tersebut. “Prajurit, jebloskan ia ke dalam penjara!”. Perintah sang pangeran kepada pengawal istana.

Raja tidak mengetahui kejadian tersebut, merasa heran. Kemana Abu Nawas, lama tidak kelihatan di istana? Raja merasa rindu akan kehadiran Abu Nawas. Biasanya ia mampu menghibur hati, dapat melenyapkan penat dengan candaan maupun kecerdikannya. Akhirnya, raja mengetahui keberadaan Abu Nawas. Raja mendengar bahwa ia telah dimasukkan ke dalam penjara oleh salah satu puteranya. Raja mengajak Al Amin untuk pergi ke penjara, menjenguk Abu Nawas. "Kenapa kamu memenjarakan Abu Nawas?" tanya Baginda raja kepada sang putera "Ia telah mencemooh dan menertawakan karyaku, ayahanda," jawab Al Amin. "Itu berarti syairmu memang jelek. Abu Nawas itu ahli sastra, bisa menilai keindahan sebuah syair" kata Raja menasehati putranya. "Baiklah, beri saya kesempatan untuk memperindah syairku," ucap Al Amin sambil beranjak pergi, meninggalkan Ayahnya.

Beberapa hari, Al Amin menyiapkan syair untuk diperdengarkan kepada Raja dan semua orang istana. Setelah merasa siap, Al Amin mengutarakan maksudnya. Ia ingin agar Raja mengadakan pertemuan untuk menguji karyanya. Hari yang ditentukan telah tiba. Raja, Abu Nawas, dan beberapa orang penyair terkenal sudah ada di istana. Permaisuri sudah tidak sabar untuk mendengar syair karya putranya. Sekaligus mendengar komentar Abu Nawas dan para penyair. Al Amin pun mulai membaca syairnya. "Wahai binatang yang sedang duduk bersimpuh, kurasa tidak ada yang setolol engkau, kau seperti hidangan yang diolesi dengan minyak sapi kental, juga seperti warna seekor kuda belang."

Mendengar syair itu, Abu Nawas segera bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari tempatnya. "Mau kemana engkau, wahai Abu Nawas?" tanya raja Harun Al Rasyid. "Aku lebih suka masuk ke penjara saja daripada mendengar syair tadi. “Sama saja kalau ditunda, akhirnya saya akan dimasukkan ke penjara lagi olehnya jika saya berkomentar”. Abu Nawas menambahkan.

Raja tak kuasa untuk tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya, mendengar jawaban Abu Nawas. Bahkan sampai keluar air mata. Sedangkan sang permaisuri, Zubaidah hanya bengong tak mampu mengeluarkan kata-kata.